7 Pantangan yang Nggak Boleh Dilanggar Setelah Operasi Caesar. Ini Demi Keselamatan!


Ibu yang pernah melahirkan dengan cara operasi caesar pasti tahu banget dengan rasa sakit yang dialami setelah tindakan persalinan. Meski sudah diberi obat penghilang nyeri, tapi mau menggerakkan badan aja rasanya sulit dan sakit. Mau berjalan aja butuh latihan. Tubuh rasanya nggak enak ditambah rasa mual akibat obat bius. Karena ada otot yang dibedah, maka ibu akan kesulitan untuk buang gas sehingga perut terasa kembung.

Rasa nyeri setelah operasi caesar memang terjadi karena luka bedah. Meski jahitan operasi akan sembuh dalam waktu beberapa hari, tapi pertumbuhan otot dan juga jaringan saraf kan nggak cepat. Makanya banyak ibu-ibu yang harus membatasi kegiatannya setelah operasi caesar. Manfaatnya supaya perut ibu nggak kesakitan dan luka juga cepat sembuhnya. Yuk baca apa saja yang sebenarnya jangan dilakukan ibu setelah operasi caesar~

1. Ibu dilarang mengangkat barang berat karena bisa bikin pendarahan. Pokoknya hal paling berat yang boleh diangkat dan digendong oleh ibu cuma si kecil

Mengangkat barang yang berat bisa bikin jahitan di perut terlepas hingga terjadi pendarahan. Ini bahaya banget lo. Apalagi jika dilakukan saat luka sayatan dan jahitan belum benar-benar kering. Ibu hanya boleh menggendong dan mengangkat bayi aja.

2. Selain itu, ibu juga jangan terlalu banyak naik serta turun tangga. Naik dan turun tangga kan menggunakan otot perut padahal setelah operasi belum sembuh benar

Kalau rumah terdiri atas dua lantai atau lebih, sebaiknya ibu berada di lantai bawah saja biar nggak banyak melakukan aktivitas naik dan turun tangga. Saat naik dan turun tangga, otot perut kan ikut bergerak padahal baru saja disayat dan dijahit. Meski nyeri, ibu harus berlatih berjalan, asal jangan naik dan turun tangga.

3. Kurang pekerjaan rumah seperti mencuci, mengepel, menyapu, dan sebagainya. Pekerjaan berat yang membutuhkan aktivitas fisik sebaiknya dihindari

Pekerjaan rumah yang berat dan membutuhkan banyak gerakan harus dikurangi dahulu. Kondisi fisik setelah operasi caesar nggak memungkinkan buat ibu melakukan semua itu. Biarkan orang lain melakukan itu sehingga ibu bisa fokus merawat anak dan pemulihan diri.

4. Ibu harus lebih berhati-hati saat bergerak. Hindari gerakan yang terlalu cepat serta goncangan kuat seperti ketika naik mobil melalui jalanan yang nggak rata

Buat ibu yang biasanya bergerak dengan cepat, setelah operasi caesar harus menguranginya. Perut rasanya akan sangat sakit kalau terlalu cepat. Saat naik mobil di jalanan yang nggak rata, minta agar pengemudinya mengemudikan dengan perlahan. Goncangannya bisa bikin nyeri!

5. Pilih makanan yang nggak bikin perut jadi banyak gasnya atau bikin sembelit. Setelah operasi bakal susah buang gas dan buang air besar lo

Setelah operasi ibu akan sulit buang gas dan juga buang air besar. Ini karena otot perut yang habis disayat belum sempurna untuk mengejan/mengeluarkan kotoran. Maka dari itu, jangan memperparah keadaan dengan makan makanan yang bikin perut makin banyak gasnya atau makanan yang bikin sulit buang air besar.

6. Ibu nggak boleh mandi terlalu lama yang membuat luka jahitan jadi susah kering. Jangan lupa keringkan perlahan bagian jahitan setelah mandi ya

Memang beberapa hari setelah operasi, ibu nggak disarankan buat mandi dulu karena jahitannya yang belum kering. Nah, setelah boleh pulang dari rumah sakit, jahitan juga jangan sampai sering basah kena air ya. Jadi, ibu jangan mandi terlalu lama dahulu. Setelah mandi, pastikan daerah perut di bagian jahitan juga kering agar cepat pulih.

7. Sebaiknya, ibu harus selalu menjaga diri dan kesehatan. Jangan sampai sakit flu yang membuat sering bersin atau batuk karena luka akan terus nyeri

Ini juga penting. Ibu wajib menjaga kesehatan diri terutama dari penyakit seperti batuk dan juga bersin-bersin. Saat batuk, perut akan terasa sangat sakit lo. Selain itu, ibu juga jangan tertawa terlalu keras ya karena itu juga punya dampak yang sama seperti saat bersin dan batuk.

Meski operasi caesar sudah lama dilakukan, nggak jarang rasa nyerinya masih ada jika Moms terlalu lelah atau melakukan kegiatan fisik berat. Pokoknya Moms harus selalu jaga diri ya, ya!

Siap-Siap! Ini 4 Tantangan yang Akan para Ibu Hadapi di Tahun Pertama Anak

Menjadi seorang ibu merupakan anugerah terindah bagi setiap wanita. Apalagi ketika perkembangan anak berjalan dengan lancar, maka rasa bahagia akan dirasakan para ibu dan nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Khususnya di tahun pertama anak, akan ada banyak sekali ‘tantangan’ yang pasti dihadapi para ibu, baik dalam hal pengasuhan sampai omongan dari kanan-kiri yang nggak jarang menyakitkan telinga. Untuk itu, para ibu harus tetap semangat!

Bersama Hipwee Young Mom, simak yuk tantangan apa saja yang kemungkinan besar akan dihadapi para ibu di tahun pertama anak. Ini dia!

Perkembangan anak di tahun pertama sedang pesat-pesatnya, terutama pada berat dan tinggi badan. Para ibu dituntut aktif rutin mengecek hal ini agar nggak ada kendalan ke depannya

Meski terlihat ribet, rutin mengecek pertumbuhan anak yang meliputi tinggi dan berat badan sebenarnya sangat sederhana. Para ibu bisa datang ke Posyandu atau bidan untuk mengukur tinggi dan menimbang berat badan anak tiap bulannya. Jangan lupa untuk mencatatnya di buku KIA agar bisa menjadi tolok ukur pertumbuhan anak. Banyak sekali kasus para ibu yang lengah mengecek pertumbuhan anak, sehingga tinggi dan berat badan anak nggak terkontrol. Imbasnya, keteledoran ini bisa menimbulkan permasalahan seperti diagnosa stunting dan lain-lain.

Saat anak mulai mengenal makanan dimulai sejak usia 6 bulan, para ibu tentu membutuhan banyak referensi mulai dari menu makanan hingga berbagai tantangan dalam proses memberi MPASI

Sesuai peraturan dari WHO, usia 6 bulan adalah saat yang ideal untuk mulai mengenalkan makanan ke anak. Di dalam fase ini, para ibu biasanya akan mencari banyak referensi terkait menu makanan berikut nutrisi yang terkandung di dalamnya, hingga tantangan apa saja yang mungkin akan didapatkan dalam proses pemberian MPASI. Risiko anak akan melepeh makanan dan kebingungan memilih menu akan dihadapi para ibu pada fase ini, sehingga harus bersiap jauh-jauh hari. Yang nggak kalah penting, nutrisi dalam makanan yang disajikan pun harus mencukupi!

Omongan dari lingkungan sekitar tentang pertumbuhan anak akan mulai sering terdengar di tahun pertama anak. Gini nih misalnya….

Anakmu kok belum bisa duduk sih? Padahal anakku di usia 5 bulan udah pintar duduknya!

Duh, doyan banget ya anakmu melepeh makanan, bakalan kurus tuh karena nggak doyan makan!

Serius anakmu belum bisa jalan? Udah mau setahun, lo!

Tantangan yang nggak kalah ‘seram’ adalah menguatkan hati dari omongan lingkungan sekitar tentang pertumbuhan anak. Di dalamnya pun mungkin akan ada perbandingan demi perbandingan yang terucap, sehingga makin menyakitkan hati. Padahal seperti yang kita tahu, pertumbuhan anak itu berbeda-beda, tergantung dari banyak faktor seperti genetik.

Yang terpenting adalah, para ibu wajib mengontrol anaknya sehingga pertumbuhannya tetap terjaga. Apabila ditemukan kejanggalan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter supaya mendapatkan solusi yang pasti, ya!

Di tahun pertamanya, anak sudah mengenal kedua orang tuanya dengan baik sehingga kemungkinan untuk manja berlebihan, cranky dan tantrum akan mulai nampak

Hal ini mungkin akan sangat terasa dan berpengaruh bagi para ibu yang bekerja, sehingga harus meninggalkan anaknya dengan orang tua, kerabat atau daycare. Namun, di tahun pertamanya ini anak sudah sangat mengenal siapa ibu dan ayahnya, jadi akan lebih manja dan cranky ketika ditinggal bekerja, sehingga butuh treatment khusus agar ia mampu secara sukarela tinggal sementara dengan pengasuhnya. Rasa nggak tega tentu akan menghantui para ibu, namun hal ini tetap harus dijalani.

Apapun tantangannya, semangat terus, ya! Yakinlah kalau jalan yang para ibu tempuh saat ini bertujuan demi kebaikan anak dan keluarga. Semangat!

Tags: #pantangan setelah operasi caesar #tantangan ibu ditahun pertama anak