Ayah 92 Tahun Memiliki 8 Anak yang Semuanya Dokter, Ketika Dia Tua, Dia Dilempar ke Panti Jompo dan Meninggal dalam Kesedihan


Anak berbakti kepada orangtua, adalah hal yang umum, itu adalah tugas hidup, dan juga tanggung jawab sebagai seorang anak.Ketika orangtua mereka tua dan membutuhkan mereka, mereka harus merawatnya dengan hati-hati seperti ketika mereka masih kecil, dan membalas kebaikan orangtua mereka.

Di dunia ini, hanya orangtua yang dapat mendedikasikan cinta tanpa pamrih kepada anak-anaknya. Tanpa pengasuhan yang hati-hati dari orangtua kita, kita tidak akan berkembang. Tanpa kerja keras orangtua kita, kita tidak akan memiliki kehidupan bahagia yang kita miliki saat ini.

Dapat dikatakan bahwa selama anak menginginkannya, orangtua dapat memberi kita seluruh dunia. Di hati orangtua, hanya ada anak, bukan diri mereka sendiri. Berapapun usia seorang anak, di mata orangtua, mereka akan tetap menjadi anak-anak.

Di Kabupaten Taipei, udaranya selalu lembab ketika musim dingin. Dalam cuaca dingin, saya dikirim oleh supervisor untuk mewawancarai juru bicara panti jompo, karena ada seorang pria berusia 92 tahun di sini, dalam 8 bulan terakhir, anak-anaknya belum membayar biaya perawatan.

Pria tua itu mengenakan topi wol dengan benang longgar di kepalanya, dan tubuhnya yang lemah meringkuk di dalam selimut. Dia tidak tahu kami sedang merekam. Saya menyentuh selimutnya. Saya tidak tahu apakah udaranya lembab atau apakah selimutnya basah dan belum diganti.

Pusat perawatan memilih untuk mengambil inisiatif untuk memberitahu media untuk wawancara, berharap melalui kekuatan penyebaran laporan, 8 anak orua tua itu dapat memiliki “hati nurani” dan dengan cepat menghubungi pusat perawatan untuk membayar.

Orang tua itu adalah pensiunan profesor universitas, dan istrinya meninggal lebih awal. Dia membesarkan 8 anak seorang diri.

Pria tua itu sangat bangga dengan 8 anaknya. Putra tertuanya ingin memulai bisnis, dan sang ayah selalu mengirimkan uang pensiunnya kepada putra tertua. Melihat bahwa kakak lelaki tertua mengambil uang ayah, anak-anak lain kemudian menemukan alasan untuk meminta uang kepada ayahnya.

Orang tua itu memberikan semua hartanya kepada anak-anaknya. Setelah kesehatannya memburuk, putra tertua kembali ke Taiwan untuk melihat dan memutuskan untuk mengirim ayah tua itu ke pusat perawatan.

Dalam beberapa tahun pertama, pusat perawatan masih menerima uang dari Amerika Serikat, tetapi pada tahun wawancara, tidak peduli bagaimana pusat perawatan membuat panggilan telepon, mereka tidak bisa menghubungi putra sulungnya. Setelah memanggil anak-anak lain, tidak ada yang mau membayar, dan semuanya menunjuk ke kakak sulungnya.

Ketika semua orang menerima telepon dari pusat perawatan, mereka memiliki alasan dan argumen yang berbeda, dan beberapa bahkan menjawab langsung: “Kakak tertua yang bertanggung jawab atas biaya hidupnya.”

Melangkah ke kamar orang tua, ada bau urin yang tidak enak, karena kelembaban di dalam terlalu berat, dan juga ada bau apek, yang sungguh tidak enak!

Panti jompo berharap anak-anak mau berinisiatif untuk menghubungi dan menanggapi melalui paparan media, mereka dengan enggan mengatakan: “Kami tidak bisa merawatnya secara gratis. Ini ultimatum kami. Jika anak-anaknya tidak membayar dalam waktu sebulan, orang tua itu akan pergi dari sini”

Setelah dia selesai berbicara, dia berkata dengan marah: “Dokter, saya tidak tahu di mana Anda belajar sampai Anda tidak memiliki bakti sama sekali !”

Kemudian, batas waktu satu bulan datang, dan mereka juga tidak ada yang datang.

Sebaliknya, itu adalah situasi tragis orang tua sebelum kematiannya, yang membuat orang merasa tertekan dan menghela nafas! Tak satupun dari anak-anaknya yang datang. Orang tua itu meninggal dengan tenang di malam hari. Ketika mereka menerima pemberitahuan itu, mereka hanya berkata : “Saya tahu,” dan tidak mengatakan apa-apa untuk mengurus pemakaman orang tua itu.

Orangtua bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya, kita harus bertanggung jawab untuk merawat mereka di masa tua. Setiap orang harus menjadi orang yang benar-benar berbakti kepada orangtua, selalu menaruh hati pada orangtua, memahami orangtua, perhatian kepada orangtua, dan peduli terhadap orangtua.

Semua orang akan menjadi tua. Bagaimana Anda memperlakukan orangtua Anda sekarang akan diperlakukan oleh anak-anak Anda di masa depan. Kesalehan berbakti diturunkan dari generasi ke generasi.

Kakak Perempuanmu Adalah Anugerah Terbaik Yang Kamu Punya, Ia Perempuan Hebat Setelah Ibu

Punya kakak perempuan itu adalah sebuah anugrah yang juga patut kita syukuri keberadaannya. Karena darinya kita bisa belajar banyak hal dan kakak perempuan itu juga bisa menjadi teman dan kadang bisa menggantikan peran ibu.

Bukankah kakak perempuan itu hebat dan luar biasa? Dia punya tanggung jawab untuk hidupnya sendiri dan kadang harus bertanggung jawab untuk hidup adik-adiknya.

Kakak Perempuan Juga Termasuk Anugrah, Kalau Ibu Tak Ada Dialah Yang Akan Menggantikan Peran Ibu Untuk Adik-Adiknya

Punya kakak perempuan itu termasuk anugrah, bagaimana tidak padahal dia juga seorang anak sama seperti kita tapi kadang harus menggantikan peran ibu untuk adik-adiknya.

Entah urusan menjaga kita atau mengurus hidup kita, saat sudah dewasa atau hidup masing-masing perannya memang sudah tak lagi terasa, tapi ketika masih sama-sama masih anak-anak perannya sangat terasa.

Kakak Yang Baik Pasti Akan Menjadi Teladan Yang Baik Untuk Adik-Adiknya, Bersyukurlah Dan Jagalah Hubungan Persaudaraanmu

Kakak yang baik pasti akan selalu berusaha menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya, pasti punya naluri untuk selalu melindungi dan bertanggung jawab pada adik-adiknya.

Terkadang dia harus menggambil peran seorang ibu, menjadi sahabat demi adik-adiknya, jagalah persaudaraanmu dengan kakak perempuanmu, maafkan salahnya karena bukan tidak mungkin dia tidak menyakitimu.

Kakak Perempuan Itu Dituntut Untuk Meberikan Teladan Yang Baik Untuk Adik-Adiknya, Padahal Itu Tidaklah Mudah

Menjadi kakak perempuan itu berat, tidak mudah, maka sayangilah kakak perempuanmu. Sedari kecil dia dituintut untuk menjadi tleadan yang baik untuk adik-adiknya padahal itu bukanlah perkara mudah.

Sedari kecil kakak perempuanmu sudah belajar untuk bertanggung jawab menjaga dan melindungi adik-adiknya dari hal-hal yang buruk, dari hal-hal yang dapat menyakiti atau menjerumuskan adik-adiknya pada sesuatu yang dapat menyakiti atau merugikan adik-adiknya.

Tak Jarang Kakak Perempuanmu Harus Bersabar Dan Mengalah Demi Adik-Adiknya

Yang paling menyakitkan bagi seorang kakak perempuan itu adalah ketika mereka harus mengalah hanya demi kebahagiaan adik-adiknya. Harus bersabar demi membimbing adiknya agar dapat hidup yang lebih baik dari dirinya.

Padahal mereka juga sebenarnya ingin bahagia, ingin memikirkan hidupnya sendiri, tapi mereka harus mengalah dan besabar demi kebahagiaan adik-adiknya, yang mungkin saja bakalan melupakan dirinya saat sudah sukses.

Beban Pikiran Kakak Perempuan Itu Berat, Dia Harus Bertanggung Jawab Atas Dirinya Sendiri Dan Juga Adik-Adiknya

Beban pikiran seorang kakak perempuan itu berat, tak jauh berbeda dengan beban pikiran seorang ibu, apalagi kalau kakka perempuan harus menggantikan peran ibu yang tiada.

Ia bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri dan hidup adik-adiknya, dimana dia dituntut untuk tidak egois atau bahkan dituntut untuk mengutamakan kepentingan adik-adik-adiknya ketimbang dirinya.

Lebih Utama Mana, Sedekah Pada Orang Miskin Atau Pada Kerabat Sendiri?
Lebih utama mana, sedekah kepaada orang miskin atau kada kerabat sendir? Pertanyaan ini mungkin dirasa sepele namun kenyataannya, kebanyakan muslim yang belum tahu lebih memilih untuk bersedekah pada fakir miskin daripada bersedekah terhadap keluarga atau kerabatnya sendiri.

Padahal, Setiap perintah sedekah dan infak di dalam al Qur’an, selalu yang pertama kali disebutkan adalah untuk karib kerabat. Seperti yang termaktub dalam ayat berikut ini: “….dan memberikan harta yang ia cintai kepada karib-kerabat…..” (QS. Al Baqarah 177)

“Dan berikanlah kepada karib-kerabat akan haknya dan orang miskin….” (QS. Al Isra 26)

Dan banyak lagi ayat lain yang senada dengan itu. Jika kita cermati, ada satu pesan yang sangat penting untuk kita amalkan. Yaitu mendahulukan karib kerabat atau orang terdekat untuk menerima infak atau apapun bentuk kebaikan.

Sebelum kita memberi kepada orang lain, kita harus perhatikan apakah ada di antara orang terdekat yang masih membutuhkan atau semua sudah makmur, tidak perlu disantuni lagi.

Amat disayangkan bila seseorang memiliki kekayaan yang membuat ia mampu menyantuni orang lain, dan ia sangat peduli dengan dengan masalah sosial di lingkungannya, mudah memberi kepada fakir miskin, anak yatim dan berbagai bentuk amal sosial lainnya.

Namun sayang beribu sayang ia sangat cuek dan pelit kepada saudara kandungnya sendiri. Barangkali ia merasa pemberian kepada keluarga terdekat tidak mendapatkan pahala. Padahal justru itulah yang lebih besar pahalanya di sisi Allah. Oleh karena itu pemahaman yang salah ini perdu diluruskan.

Tidakkah memilukan, bila seseorang tinggal di rumah yang bagaikan istana, sementara saudara kandungnya tinggal di rumah RSSS (rumah sangat sederhana sekali).

Tidakkah kita mengangkat alis bila seseorang mempunyai kekayaan besar, turun dari satu mobil mewah dengan dibukakan pintu oleh para ajudan, berpindah dari satu gedung mewah ke gedung mewah berikutnya.

Namun saudara kandungnya menjadi kuli atau babu yang siap diperintah-perintah dengan suara tinggi sambil diacungi telunjuk kiri, wajahnya penuh ketakutan dengan kepala tertunduk serta badan yang membungkuk.

Ingatlah.. Rasulullah SAW bersabda:

“….Wahai umat Muhammad, demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran, Allah tidak akan menerima sedekah seseorang yang mempunyai kerabat yang membutuhkan bantuannya, sementara ia memberikan sedekah atau bantuan itu kepada orang lain. Dan demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamannya, Allah tidak akan memandangnya di hari kiamat nanti”. (HR. Thabrani)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda:

“Sedekah kepada orang miskin dinilai satu sedekah, sedangkan kepada karib (saudara dekat) nilainya sama dengan dua, nilai sedekah dan nilai menghubungkan persaudaraan”.

Ada pesan penting yang sangat jelas disini:

“Jika anda menjadi orang yang kaya, jadikanlah orang terdekat anda yang pertama sekali merasakan kekayaan itu. Ibu-bapak, anak-istri, saudara kandung, baru yang lainnya. Jangan sampai masyarakat anda memuji kedermawanan anda, sementara orang terdekat mengurut dada karena kebakhilan anda, padahal mereka dianggap kaya oleh orang lain karena anda sebagai saudaranya”