Bayarlah Hutangmu Meskipun Tidak Ditagih, Karena Ia Akan Jadi Penghalang Masuk Surga


Ketika kita memiliki hutang kepada orang lain, wajib bagi kita untuk segera membayar hutang tersebut. Meski uang yang kita miliki tidak cukup banyak, kita tetap harus menyisihkan sebagian uang untuk mencicil hutang-hutang kita. Jangan sampai menunda-nunda membayar hutang apalagi pura-pura lupa karena ini bisa menjadi penghalang bagi kita untuk masuk surga di akhirat nanti.

Dari Abdullah bin Jahsy, Ra. Rasullullah Muhammad SAW pernah bersabda,

“Demi Allah jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya laki-laki terbunuh fi sabilillah kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh, kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh sementara ia punya hutang, sungguh ia tak akan masuk surga hingga terlunasi hutangnya.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad dan Hakim).

Sedangkan dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Jiwa seorang mukmin tertahan oleh utangnya, maka lunasilah utang yang ia miliki.” (HR. Muslim).

Selain menjadi penghalang untuk masuk surga, tidak segera membayar hutang juga akan memberikan banyak dampak buruk. Dampak tersebut mulai dari kita tidak lagi dipercaya orang lain, secara perlahan tapi pasti kita tidak akan tenang, kebangkrutan berada di depan mata, kita kehilangan saudara juga sahabat kita yang mulai muak dengan kita dan masih banyak dampak buruk lainnya.

Rasullulah SAW bersabda, “Berhati-hatilah kamu dalam berhutang, sesungguhnya hutang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan menyebabkan kehinaan di siang hari.” (HR. Al Baihaqi).

Oleh karena itu jika kita memiliki hutang kepada siapapun segeralah dibayar, mengingat begitu banyak dampak buruk dari berhutang, pastikan untuk meminimalisir hutang. Kerja keraslah untuk memiliki sesuatu, jangan ingin terlihat mewah di depan orang lain sementara di belakangnya kita banyak berhutang dan memaksakan kemampuan kita. Semoga kita semua semakin bijak dalam urusan hutang piutang dan terbebas dari hutang, Aamiin

Heran, Kenapa Iblis Lebih Takut Orang yang Tidur daripada yang sedang Shalat?

Ternyata ini alasan kenapa iblis takut orang tidur

Rasulullah SAW pun dibuat keheranan dengan sikap iblis yang ketakutan dan gemetaran ketika melihat orang sedang tidur. Tetapi jika dengan orang yang se sama sekali tidak takut dengan orang yang sedang shalat. Rasulullah pun berikan alasannya berikut ini

Hari itu sangat cerah. Dalam jangka waktu yang lama, kota tidak pernah ditimpa hujan. Hanya pada tempat-tempat tertentu saja yang dinaungi keteduhan.

Bahkan pohon-pohon pun sering kali tidak cukup untuk dijadikan tempat berteduh dari sengatan sinar matahari.

Dalam cuaca dan kondisi seperti itu, sepertinya banyak orang yang memilih untuk berdiam diri saja di dalam ruangan, daripada keluar.

Bagi Rasulullah SAW, tidak ada lagi tempat yang membuatnya nyaman selain di masjid. Masjid, baginya, sudah seperti halnya rumah sendiri.

Bagaimana tidak, untuk banyak keperluan hidup beliau melakukan dan memulainya dari Masjid. Bahkan Nabi pun merancang semua agenda-agendanya di dalam masjid bersama sahabat-sahabatnya.

Tapi, entah kenapa, siang itu masjid terasa sepi. Belum ada siapa-siapa di masjid. Mungkin para sahabat tengah mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Maka Rasulullah pun bergegas melangkahkan kaki ke dalam masjid.

Tepat ketika Rasulullah akan memasuki pintu masjid, alangkah terkejutnya ia. Sebab, tepat di samping pintu masjid, beliau melihat sesosok tubuh. Membayang dan akhirnya semakin jelas.

Ternyata ia adalah Iblis yang terkutuk. Rasulullah nampak keheranan apakah yang dilakukan iblis di tempat sesuci itu. Ketika Rasululllah melihat ke dalam masjid, tampak ada dua orang di sana.

Seorang tengah melaksanakan shalat dan seorang lagi tampak tengah tertidur pulas dekat pintu.

Rasulullah bergegas menghampiri Iblis. Beliau bertanya dengan penuh keheranan, “Hai Iblis, apa yang sedang kaulakukan di sini?”

Ditanya oleh Rasulullah, Iblis mendelik. Ia tidak kaget sama sekali kalau manusia yang satu ini bisa melihat wujud dan berkomunikasi dengannya.

Ia tampak ketakutan dan menjawab, “Sejujurnya aku hendak masuk ke dalam masjid untuk menggoda dan merusak ibadah orang yang sedang shalat itu.”

Rasulullah mengernyitkan keningnya tanda semakin keheranan. Kalau itu saja yang ingin dilakukan mahluk terkutuk itu, apa sulitnya?

Rasulullah menduga-duga, pasti ada sesuatu yang lain. “Mengapa kauurungkan? Apa yang menghalangimu?”

Iblis tidak menjawab segera. Ia kembali menatap wajah Rasulullah. Tetapi segera tertunduk kembali. “Ada orang itu yang tengah tertidur di dekat pintu”

Rasulullah semakin keheranan, “Ia yang sedang tertidur? Ada ada dengannya?”

“Aku takut kepadanya,” jawabnya gemetar.

Nabi sekarang benar-benar tidak bisa menyembunyikan keheranannya. Bagaimana mungkin seorang Iblis bisa takut kepada manusia yang tengah tertidur pulas?

“Hai Iblis, aneh benar engkau. Aku tidak habis pikir, engkau justru takut kepada orang yang sedang tidur, padahal ia lalai dan lupa. Dan mengapa engkau tidak takut kepada orang yang sedang shalat itu, sedangkan ia berada dalam keadaan ibadah dan munajah kepada Allah?”

Iblis merunduk dan masih gemetaran. Melihat Iblis seperti itu, Rasulullah membiarkannya saja.

“Engkau ingin tahu, Rasulullah?” tanya Iblis.

Rasulullah mengangguk kepalanya segera. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang sangat menarik, mengapa Iblis bisa tak berdaya pada manusia yang tengah tertidur.

Akhirnya dengan masih ketakutan, Iblis berkata terpatah-patah,

“Ketahuilah olehmu, hai Rasulullah. Aku tidak takut pada orang yang shalat itu karena orang itu bodoh. Ia tidak pernah mencari ilmu sehingga ita tidak tahu bagaimana melaksanakan shalat yang benar. Bagiku, mengganggu dan merusak ibadahnya semudah membalikkan telapak tangan. Aku tidak akan bekerja terlalu sulit untuk membuatnya seperti itu”

Rasulullah masih heran mendengar penuturan Iblis, “Lantas, kenapa kautakut kepada orang yang tengah tertidur itu?”

Iblis menjawab “Sedangkan orang yang sedang tertidur lelap itu adalah orang alim. Ia mempunyai banyak ilmu. Bahkan ketika ia tidurpun ia memakai ilmu hingga perlindungan Allah begitu kuat terhadapnya. Itu yang menyebabkan aku menjadi takut masuk ke dalam masjid. Karena jika aku sudah berhasil mengganggu orang yang tengah shalat itu, pasti orang alim tersebut akan bisa mengusir aku dengan doa yang dibacanya sebelum tidur!”

Rasulullah mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar keterangan Iblis yang terbuka itu. Beliau makin sadar bahwa ilmu adalah satu-satunya senjata dan modal bagi umatnya untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan baik di dunia dan di akhirat.

Rasululah teringat ia pernah diberitahu oleh Allah SWT, bahwa ketika Nabi Sulaiman disuruh memilih karunia yang disukainya, apakah harta, tahta, ataukah ilmu, Nabi Sulaiman justru memilih ilmu.

Kalau ia memilih harta, belum tentu tahta dan ilmu didapatnya. Jika ia mengambil tahta maka harta dan ilmu juga belum tentu bisa diraihnya. Tetapi dengan memilih ilmu, harta dan tahta bisa didapatkannya.

Kisah Nyata: Kanker Rahim Sembuh Seketika Lantaran Sedekah

Kisah nyata ini menimpa seorang wanita berumur 23 tahun, sebut saja namanya Nur. Baginya peristiwa ini merupakan sebuah pengalaman sejati yang tak dapat ia lupakan seumur hidup. Sebab sebagaimana yang kebanyakan orang ketahui, penyakit kanker bukanlah penyakit remeh yang dapat semudahnya sembuh hanya dengan obat – obatan biasa yang bisa ditebus di apotek – apotek umum, penyakit kanker hakikatnya merupakan kategori penyakit terganas dalam ranah medis sebab penyakit ini bila sudah menginfeksi tubuh seseorang maka tidaklah mudah untuk menyembuhkannya, dalam banyak kasus memang kanker dapat sembuh dengan menjalankan kemoterapi namun tidak jarang juga penyakit itu meradang lagi di lain waktu.

Suatu ketika Nur mendapati bahwa dirinya telah berbadan dua. Hal ini tak ayal membuat hatinya dirundung bahagia, apalagi ini merupakan kehamilan kali pertamanya. Namun di tengah – tengah kebahagiaannya itu, sebuah musibah datang membelenggu jiwanya. Janin yang dikandungnya tersebut mengalami keguguran, dengan langkah cepat dan cekatan, suaminya lantas membawanya ke seorang dokter langganannya di Balikpapan, rahimnya pun dikuret.

Namun rupanya tidak sampai disitu saja, selepas rahimnya dikuret ia kerap mengalami pendarahan hebat melebihi sekadar menstruasi biasa, yang sering membuatnya bersedih ketika ia bangun tidur, ia harus mendapati spreinya telah berlumuran darah. Hal ini pun membuatnya kembali mendatangi Dr. Yusfa untuk mengobati keadaannya. Dr Yusfa sendiri kebingungan mengenai apa yang menimpa pasiennya itu, diungkapnya ia tak pernah menemukan kasus seperti ini selama ia bekerja sebagai dokter.

Dokter kemudian memutuskan menguretnya kembali untuk yang kedua kalinya, betapa Nur merasakan sakit dan kepedihan yang sangat ketika ia menjalani proses itu. Namun kendati demikian, proses itu tak menjadikan kondisinya berangsur membaik, sebaliknya ia masih sering mengalami pendarahan hebat sebagaimana sebelumnya.

Hal ini tak pelak membuat Nur dilanda stress dan kesedihan, ia tak dapat tidur nyenyak tiap malamnya, wajahnya pun memucat dan badannya mulai kurus kering, urusan rumah tangganya menjadi terbengkalai dan berantahkan. Keadaan serupa juga menimpa suami Nur, pikiran dan pekerjaannya menjadi kacau lantaran memikirkan nasib istrinya itu, ditambah lagi beban materi yang tidak sedikit, sekitan juta telah raib untuk pengobatan istrinya itu. Sebab untuk mendatangi Dr Yusfa langganannya, mereka harus bolak – balik dari Bontang ke Balikpapan naik pesawat dengan ongkos yang tidak sedikit.

Nur akhirnya pasrah dengan semua keadaan yang merundung dirinya itu, agaknya ia berfikir bahwa meratapi tak akan membuat penyakitnya hilang. Maka ia pun memasrahkan segala urusannya kepada Allah subhanahu wata’ala seraya terus berdoa memohon agar Sang Rahman sudi memberikannya jalan keluar.

Di tengah – tengah kepasrahannya itu, tiba – tiba saja menjalar di otaknya sebuah keinginan untuk bersedekah, ia pun mengikrarkan diri untuk bersedekah kepada orang – orang yang membutuhkan di sepanjang perjalannya menuju ke Balikpapan ketika hendak melakukan pemeriksaan lagi. Tatkala sampai di Bandara Sepinggan, Allah mempertemukannya dengan seorang pengemis yang meminta – minta, sebagaimana tekadnya untuk bersedekah, Nur kemudian mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk kemudian ia serahkan kepada pengemis itu, dengan raut muka bahagia, pengemis itu pun berterima kasih atas pemberiannya seraya mendoakan Nur supaya segala hajatnya cepat terkabul, Nur pun mengaminkan doa itu seraya tersenyum. Namun, ketika pengemis itu telah berlalu, suaminya memprotes Nur atas pemberian yang nominalnya tidak sedikit kepada pengemis itu.

“Untuk apa uang sebanyak itu kamu berikan ke pengemis itu, dia kan sudah dapat banyak uang dari orang lain”

“Sttt boleh jadi dengan sedekah itu, Allah menyembuhkan penyakitku pa.” Jawab Nur.

Mendengar akan jawaban Nur, sang suami kemudian bungkam tidak protes lagi karena ia mafhum sedekah itu sebuah kebaikan yang tidak bisa ia larang dengan dalih apapun. Di lain sisi nalarnya juga berfikir bahwa tindakan istrinya itu benar, ia pun kemudian berharap dengan sedekah yang dilontarkan Nur, Allah kemudian sudi memberikan keajaibanNya untuk mengangkat penyakit yang bersarang di dalam jiwa istrinya itu.

Setelah melakukan pemeriksaan, kembali Dr. Yusfa memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya, “Hingga saat ini, saya belum tahu pasti jawabannya.” Mereka pun kembali ke Bontang dengan hasil yang kurang memuaskan.

Sebagaimana biasanya, Nur masih kerap mengalami pendarahan hebat hingga suatu peristiwa di dapur terjadi. Entah mengapa tiba – tiba ia merasakan ingin buang air kecil, ia pun bersegera lari ke kamar mandi. Namun rupanya bukan air kencing yang ia keluarkan melainkan semacam gumpalan daging yang berlumur darah. Ia pun terkejut dan segera memasukkannya ke kantong plastik untuk kemudian ia konsultasikan ke Dr. Yusfa.

Singkat cerita, ia kembali mendatangi Dr. Yusfa untuk memeriksa keadaannya, untuk kesekian kalinya dokter mengatakan bahwa ia masih belum bisa mendiagnosa penyakit apa yang sebenarnya menggerogoti jiwa Nur sebab memang hingga saat ini belum dapat ia temukan sebab – musababnya. Nur kemudian menyerahkan gumpalan daging yang ia bungkus plastik itu kepada Dr. Yusfa, kepadanya ia ceritakan sebuah kejadian yang ia alami di kamar mandi ketika ia mengeluarkan gumpalan daging berdarah itu.

Dr. Yusfa menerima plastik berisi benda aneh itu, dahinya berkerut menunjukkan ia sedang berfikir keras, hingga kemudian ia memutuskan untuk melakukan uji laboraturium terhadap gumpalan daging berdarah itu.

“Ibu dan Bapak mohon tunggu sebentar disini. Saya akan pergi ke laboraturium untuk memeriksakan hal ini.”

Tatkala Dr. Yusfa berlalu meninggalkan ruangan, Nur dan suaminya hanya berharap bahwa dokter akan kembali dengan membawa kabar gembira. Tak berselang lama kemudian, dokter kembali ke ruangannya dengan berlari dan raut muka bahagia, benar, ia berlari dan bukan berjalan. Dengan nafas terengah dokter berteriak, “Alhamdulillah Bu Nur… Alhamdulillah! Saya baru mengerti rupanya pendarahan yang ibu alami selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami dan benda ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya mau bertanya bagaimana bisa kanker ini bisa gugur dengan sendirinya?”

Mendengar akan kabar itu, betapa gembira hati Nur dan suaminya. Tak henti – hentinya mereka mengucap syukur dan menyebut asma agung Allah subhanahu wata’ala atas petunjuk dan kesembuhan yang telah Ia berikan kepada mereka.

Saking bahagianya, Nur dan suaminya tidak langsung menjawab pertanyaan dokter, mereka lantas spontan melakukan sujud syukur seraya terus mengagung – agungkan asma Allah. Nur kemudian memungut satu kesimpulan atas peristiwa itu, bahwa kesembuhan ini pasti ada kaitannya dengan sedekah yang telah ia lakukan sebelumnya di bandara Sepinggan. Wallahua’lam jelasnya sebagaimana janjiNya, Allah akan mengganti nafkah yang seseorang sedekahkan di jalanNya dengan balasan yang setimpal dan bahkan melebihi jumlah yang telah ia keluarkan.

“…Dan terhadap apa – apa yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik – baiknya.” (QS. Saba : 39).

Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,

“ Tiap muslim wajib bersedekah. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi menjawab, “Bekerja dengan ketrampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya lalu bersedekah.” Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?” Nabi menjawab: “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat ma’ruf.” Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?” Nabi menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tags: #iblis takut orang tidur daripada orang sholat #kanker rahim sumbuh karena sedekah #melunasi hutang #tidak bayar hutang terhalang dari masuk surga #tidak mau melunasi hutang meskipun ditagih