Berapa Lama Istri Kuat Menahan Tak Dapat Nafkah Batin dari Suami?

511 views


Pembahasan ini penting untuk menjadi pertimbangan para suami yang merantau. Sebagaimana Umar bin Khattab menjadikan hal ini sebagai batas waktu penugasan tentara. (foto cover:ilustrasi, sumber)

Seperti diketahui, tidak sedikit istri yang ditinggal suaminya merantau baik ke luar kota maupun ke luar negeri. Mayoritas karena urusan kerja. Bukan berarti salah karena memang tuntutan ekonomi. Namun kondisi itu jelas tidak ideal. Keluarga yang ideal adalah ketika suami istri tinggal serumah, sekamar, sekasur dan seselimut.

Suatu malam, ketika berkeliling Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mendengar seorang wanita bersyair: — Malam ini panjang, berselimut dingin dan kegelapan; Saya tidur sendiri tanpa teman ; Demi Allah, seandainya bukan karena takut kepada-Nya ; Niscaya ranjang itu sudah bergoyang –.

Setelah menyelidiki, Umar mendapatkan informasi bahwa suami wanita tersebut telah ditugaskan di sebagai tentara untuk waktu yang lama. Umar kemudian bertanya putrinya, Hafsah radhiyallahu ‘anha, janda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berapa lama seorang perempuan dapat bertahan ditinggal pergi suaminya?”

“Empat bulan,” jawab Hafshah. Lantas Umar pun memutuskan bahwa ia tidak akan mengirim pria yang sudah menikah jauh dari istrinya untuk jangka waktu lebih dari empat bulan.

Inilah waktu maksimal rata-rata seorang istri bisa kuat menahan syah-watnya, kuat menahan tidak mendapat “nafkah batin” dari suaminya. Maka seyogyanya, para suami yang merantau berusaha agar pulang minimal empat bulan sekali. Jika bisa sebelum empat bulan, itu lebih baik.

Bagaimana pun juga, suami istri menikah itu pasti membutuhkan “nafkah batin” untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Pada pasangan baru, usia pernikahan sampai lima tahun, rata-rata dibutuhkan 3-4 kali sepekan. Seiring bertambahnya usia, intensitas hubungan suami istri akan menurun. Sedangkan minimalnya adalah empat bulan sekali.

Bagaimana jika selama empat bulan tidak dipenuhi? Pada wanita sholihah yang menjaga kehormatannya, ia akan tetap bertahan lalu Allah memberikan solusi berupa mimpi basah.

Karenanya para suami yang merantau perlu mengupayakan untuk pulang minimal empat bulan sekali. Kalau terpaksa karena tempatnya jauh di luar negeri dan tidak memungkinkan pulang empat bulan sekali, harus ada target kapan ia kembali kepada istrinya alias tidak merantau lagi. Harus ada target.

======

Ketahui Faktor Risiko Diabetes dan Cara Mengendalikannya

Diabetes merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia. Tak hanya lansia, tetapi juga anak muda. Oleh karena itu, penting untuk mengenali faktor risiko diabetes agar Anda dapat mencegah terjadinya penyakit ini dan menjauhi komplikasinya.

Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah dalam tubuh. Kondisi ini terjadi karena tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin atau menggunakannya dengan efektif. Insulin merupakan hormon yang berperan untuk mengatur gula darah.

Sekitar 9,1 juta penduduk Indonesia diperkirakan menderita penyakit diabetes. Berdasarkan kelompok usia, penderita diabetes paling banyak berada pada rentang usia 55–74 tahun. Meski demikian, penyakit ini juga dialami oleh orang muda di usia 20-an hingga 40-an.

Kenapa Orang Usia Muda Berisiko Terkena Diabetes?

Diabetes memang dapat dipengaruhi oleh faktor usia. Semakin bertambah usia Anda, semakin besar pula risiko Anda untuk terkena diabetes. Hal ini diduga terjadi karena tubuh tidak lagi mampu memproduksi insulin dengan jumlah yang sama seperti saat masih muda.

Selain itu, seiring bertambahnya usia, sel-sel tubuh pun mungkin akan menjadi lebih sulit untuk memanfaatkan insulin, sehingga gula darah dapat lebih mudah meningkat. Meski demikian, bukan berarti orang yang usianya masih muda aman dari penyakit diabetes.

Risiko diabetes tetap bisa terjadi pada orang yang usianya masih muda, terutama jika memiliki faktor risiko berikut ini:

Obesitas

Orang dengan berat badan berlebih atau obesitas berisiko terkena diabetes. Hal ini terjadi karena jaringan lemak berlebih di tubuh bisa menyebabkan tubuh sulit menggunakan insulin secara efektif. Kondisi ini disebut resistensi insulin.

Selain itu, orang yang obesitas juga berisiko tinggi mengalami sindrom metabolik, yakni salah satu kondisi yang dapat memicu terjadinya diabetes.

Tidak menjaga pola makan

Setiap orang, baik anak-anak, orang dewasa muda, atau bahkan para lansia, akan berisiko lebih tinggi untuk mengalami diabetes apabila tidak menjaga pola makannya dengan baik.

Kebiasaan sering mengonsumsi minuman atau makanan manis, minuman bersoda, dan jarang mengonsumsi serat, seperti buah dan sayuran, diketahui turut berkontribusi dalam meningkatkan risiko diabetes.

Malas olahraga

Jarang berolahraga juga dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes pada kelompok usia muda. Hal ini dikarenakan tubuh kurang mampu menggunakan glukosa dengan efektif sebagai energi apabila jarang bergerak atau berolahraga. Akibatnya, gula darah pun akan cenderung mudah meningkat dan sulit terkontrol.

Faktor genetik atau keturunan

Faktor genetik atau keturunan merupakan salah satu faktor risiko diabetes. Oleh karena itu, risiko terjadinya diabetes di usia muda juga dapat meningkat bila Anda memiliki anggota keluarga, misalnya orang tua atau saudara kandung, yang juga menderita penyakit kronis ini.

Penyakit tertentu

Anda juga berisiko terkena diabetes jika menderita penyakit tertentu, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, sindrom metabolik, atau sindrom polikistik ovarium (PCOS).

Yuk, Kendalikan Gula Darah Sekarang Juga

Untuk mencegah atau mengurangi risiko diabetes, Anda bisa melakukan beberapa langkah berikut ini untuk mengendalikan kadar gula darah dalam tubuh:

1. Memeriksa kadar gula darah secara rutin

Pemeriksaan gula darah dapat dilakukan setelah berpuasa selama 8–10 jam sebelum makan dan 1–2 jam setelah makan. Tes gula darah bisa dilakukan di laboratorium atau di rumah menggunakan alat pemeriksa gula darah (glukometer). Jangan lupa untuk mencatas hasilnya saat melakukan pemeriksaan.

Pada orang yang memiliki faktor risiko diabetes, tes gula darah ini bisa dilakukan setiap 3–6 bulan. Jika gula darah Anda tinggi, Anda dapat melakukan pemeriksaan gula darah puasa dan pemeriksaan HbA1C untuk memastikan apakah Anda menderita diabetes atau tidak.

2. Menjaga asupan dan pola makan

Pola makan yang baik merupakan salah satu langkah penting untuk mencegah dan mengontrol diabetes. Anda dapat menjaga pola dan asupan makanan dengan berbagai cara berikut ini:

  • Hindari makanan yang tinggi kalori, gula, karbohidrat, lemak jenuh, dan lemak trans, misalnya es krim, kue manis, permen, coklat, daging olahan, dan daging berlemak.
  • Konsumsi makanan tinggi serat, seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian, termasuk gandum atau oatmeal.
  • Perbanyak minum air putih dan hindari minuman manis, soda, atau yang mengandung pemanis tambahan.
    Konsumsi makanan secara perlahan dan kendalikan porsi makan menggunakan piring berukuran kecil saat makan.

3. Berolahraga secara teratur

Tidak hanya baik untuk menurunkan berat badan, olahraga juga dapat membantu Anda mengendalikan kadar gula darah dan mencegah terjadinya resistensi insulin.

Oleh karena itu, luangkan waktu setidaknya 30 menit sehari untuk berolahraga. Anda dapat memilih olahraga yang bersifat ringan, seperti jalan santai, naik turun tangga di rumah, dan yoga. Selama pandemi ini, Anda sebaiknya berolahraga di dalam rumah agar bisa tetap menerapkan physical distancing.

4. Mengurangi stres

Stres bisa membuat tubuh kesulitan mengendalikan gula darah. Untuk mengurangi stres, Anda bisa mencoba meditasi, mendengarkan musik, mengerjakan hobi dan hal lain yang Anda sukai, atau sekadar berbagi cerita dengan teman dan keluarga.

5. Tidak merokok

Kebiasaan merokok dapat menyebabkan masalah kesehatan serius dan meningkatkan risiko komplikasi diabetes, seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, dan retinopati.

Diabetes dan COVID-19

Salah satu dampak yang disebabkan oleh penyakit diabetes adalah melemahnya daya tahan tubuh. Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dapat membuat kerja sistem kekebalan tubuh terganggu, sehingga tubuh kurang kuat untuk melawan berbagai penyebab infeksi, misalnya virus dan bakteri.

Hal inilah yang membuat penderita diabetes termasuk dalam golongan yang lebih rentan terkena COVID-19. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa sekitar 25% pasien COVID-19 dengan gejala berat merupakan penderita diabetes.

Selain itu, penderita diabetes yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona juga disebut bisa berisiko mengalami komplikasi serius, seperti ketoasidosis diabetik dan sepsis.

Apabila Anda memiliki satu atau lebih faktor risiko diabetes, lakukanlah langkah-langkah pencegahan diabetes di atas dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Jangan ragu pula untuk segera menemui dokter apabila Anda mengalami gejala diabetes, seperti sering merasa haus dan sangat lapar, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab, kesemutan atau mati rasa, kelelahan, pandangan kabur, atau jika terdapat luka yang sulit sembuh.

Tags: #batas istri tak dapat nafkah batin dari suami #cara mengendalikan diabetes #faktor resiko diabetes