Bolehkah Seseorang Berkurban Tapi Masih Punya Utang? Ternyata Ini Penjelasan Jangan Sampai Jadi Dosa

Bolehkah orang berkurban tapi masih punya utang? Ternyata begini penjelasan Buya Yahya.

Tak lama lagi umat muslim akan menjalankan hari raya Idul Adha atau yang juga dinamakan dengan Hari Raya Kurban.

Kurban merupakan ibadah yang dilakukan satu tahun sekali pada hari Raya Idul Adha.

Orang yang berkurban ini demi mendekatkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Ada yang rela menabung bertahun-tahun agar dapat membeli hewan kurban ini.

Namun, di dalam kehidupan pastinya selalu ada ujian dan hambatan.

Ada saja hal mendesak yang membuat kita terpaksa untuk meminjam uang kepada kerabat atau sahabat.

Lantas, bolehkah seseorang berkurban Idul Adha tapi masih punya utang?

Mana yang sebaiknya didahulukan, kurban atau utang?

Berikut penjelasan Buya Yahya mengenai berkurban Idul Adha tapi masih punya utang yang dibagikan melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV.

Bolehkah Berkurban Idul Adha tapi masih punya utang?

Pertama, mari lihat kembali apa hukum kurban Idul Adha.

Buya Yahya menjelaskan bahwa menurut jumhur ulama, hukum kurban adalah sunnah. Madzhab Syafii, Maliki, dan Hambali memandang kurban Idul Adha sebagai sunnah yang sangat dikukuhkan.

Karena hukum kurban adalah sunnah, maka Buya Yahya menyebutkan bahwa perlu untuk mendahulukan kewajiban.

Apa saja contoh kewajiban yang harus didahulukan dibanding berkurban?

Misalnya, utang dan zakat. Jika zakat seseorang sudah datang haulnya, maka yang wajib adalah mendahulukan zakat tersebut dibanding melaksanakan kurban.

Sama halnya dalam perkara utang. Buya Yahya menyebutkan bahwa jika utang tersebut sudah jatuh tempo, maka dahulukanlah bayar utang dan bukan berkurban.

Bahkan, menurut Buya Yahya amalan berkurban tersebut bisa menjadi maksiat alias berdosa apabila didahulukan sementara memiliki utang jatuh tempo atau zakat yang sudah datang haul.

Lantas, apakah itu berarti orang yang memiliki utang tidak boleh berkurban sama sekali?

Buya Yahya memberikan cara untuk bisa kurban meski masih punya utang.

Asalkan kurban tersebut dilaksanakan ketika utang belum jatuh tempo atau zakat belum datang haul.

Selain itu, bisa juga dengan meminta izin kepada pemberi utang agar diberi keringanan untuk memundurkan tenggat waktu bayar utang agar bisa berkurban bulan ini.

Perlu diingat bahwa harta seseorang yang memiliki utang itu sesungguhnya merupakan bagian dari harta pemberi utang.

Oleh karena itu, kurban baru boleh dilaksanakan apabila si pemberi utang mengizinkan untuk memundurkan waktu jatuh tempo pembayaran.

Cara ini bisa menghindarkan seseorang dari dosa apabila ingin berkurban sementara masih memiliki utang yang jatuh tempo.

Kesimpulannya, berkurban tidak boleh dilaksanakan apabila masih memiliki utang yang jatuh tempo.

Dahulukan perkara wajib seperti utang, zakat, atau nafkah keluarga dibanding berkurban yang hukumnya sunnah.

Boleh berkurban asalkan utang belum jatuh tempo atau sudah diberi izin oleh pemberi utang.

Bolehkah Kurban dan Aqiqah Digabung? Jangan Keliru, Begini Hukumnya Berdasarkan 4 Mazhab dalam Islam

Sebenarnya mana yang harus didahulukan kurban atau aqiqah? Atau boleh digabung? Begini penjelasan Ustaz Adi Hidayat.

Kurban merupakan suatu kewajiban bagi orang yang mampu.

Sementara aqiqah hukumnya sunnah muakad yang ibadah yang penting dan diutamakan.

Lantas, apabila anak lahir berdekatan dengan hari raya Idul Adha, mana yang harus dilakukan kurban atau aqiqah?

Atau kurban dan aqiqah boleh digabungkan?

Hal ini setiap tahunnya kerap menjadi pertanyaan banyak orang dan cenderung membuat orang bingung karena keduanya sama-sama sangat dianjurkan.

Penjelasan dari Ustaz Adi Hidayat tentang kurban dan aqiqah didasarkan pada empat mahzab dalam Islam.

Permasalahan yang dibahas Ustaz Adi Hidayat ialah tentang penggabungan kurban dan aqiqah.

Hal ini dilansir melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official mengenai apakah kurban bisa digabung dengan aqiqah.

Selama ini banyak masyarakat yang bingung apakah kurban diperbolehkan untuk digabung dengan aqiqah.

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan pendapat pertama dari Imam Hanafi Imam Hambali, Imam Al Hasan Al Basri, dan Ibnu Sirin.

Dalam pendapat pertama tersebut, para ulama memperbolehkan ibadah kurban disatukan dengan aqiqah.

“Jadi apabila ada anak perempuan misalnya belum aqiqah, lalu disatukan dengan kurban boleh, sah-sah saja,” ujar Ustaz Adi Hidayat.

Namun, pendapat berbeda disampaikan oleh dua mahzab yang lain, yakni Safi’iyah dan Malikiyah.

Dalam kitab yang mengandung pendapat dua mahzab Syafi’iyah dan Malikiyah terdapat esensi yang dijelaskan sebelum menetapkan hukumnya.

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, dalam kitab yang dimaksudkan tersebut, esensi dari kurban dan aqiqah berbeda.

Pertama, kurban merupakan ibadah yang ditujukan untuk segala usia, bahkan bisa untuk yang telah meninggal dunia.

Namun, aqiqah ditujukan khusus untuk anak kecil sebelum baligh.

Sehingga, aqiqah dilaksanakan sebelum anak tersebut baligh.

Maka dari kedua perbedaan esensi dalam pendapat tersebut, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan untuk memisahkan kurban dan aqiqah.

“Pendapat ini (Syafi’iyah dan Malikiyah) cenderung memisahkan untuk aqiqah sendiri dan kurban sendiri,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Lalu mana yang harus didahulukan antara kurban atau aqiqah yang belum dilaksanakan?

Merujuk pada pendapat Syafi’iyah dan Malikiyah, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan untuk mendahulukan aqiqah dahulu.

Hal itu karena urgensi waktu pelaksanaan aqiqah yang terbatas, yakni dari anak baru lahir hingga menjelang baligh.

Sementara kurban, bisa dilaksanakan setiap tahun bahkan ketika orang sudah meninggal.

“Dalam konteks ini (Syafi’iyah dan Malikiyah) dan waktunya berdekatan antara anak yang akan baligh dan kurban, maka dahululan aqiqah,” tukasnya.

Tags: #berkurban tapi masih punya hutang #kurban dan aqiqah #kurban dan aqiqah digabung