Calon Mertua Minta Mahar Rp100 Juta, Pria Ini Rela Lepas Kekasih: Saya Cuma Kuli


Menikah merupakan sebuah ibadah. Tapi saat berlangsung proses lamaran, tidak sedikit para pemuda yang langsung mundur begitu mendengar jumlah maskawin yang diminta keluarga wanita.

Padahal dalam Islam, mas kawin sebaiknya tidak memberatkan mempelai pria. Namun di satu sisi, tidak boleh merendahkan derajat mempelai wanita. Baru-baru ini seorang pemuda terpaksa membatalkan lamaran karena tak bisa memenuhi mas kawin yang diminta calon ibu mertua.

Menyadari dirinya tidak mampu memenuhi sejumlah uang yang diminta, pemuda tersebut terpaksa mengorbankan kebahagiaannya. Dia memutuskan berpisah dari kekasihnya, dan tidak jadi menikah dengan wanita yang dicintainya itu.

Pemuda Ini Rela Lepas Calon Istri Karena Mas Kawin yang Terlalu Mahal

Melalui video yang dibagikan di TikTok baru-baru ini, Ahmad Syahriman mengaku hanya memiliki penghasilan seadanya. Pemuda Malaysia ini mengatakan dia tidak mampu memenuhi permintaan calon ibu mertua yang meminta mas kawin 30.000 ringgit (Rp103,7 juta).

Video berdurasi 17 detik itu memperlihatkan Syahriman yang bekerja sebagai petugas pemeriksa kesehatan sedang berpatroli dan juga berbagi foto dengan ibunda tercinta.

Selain Memberatkan Dirinya, Tak Mau Ibunya Menderita

” Ibumu minta mas kawin 30.000 ringgit.. tapi aku hanyalah seorang kuli. Maka dari itu, aku terpaksa melepaskanmu.

” Semoga kamu dipertemukan jodoh yang jauh lebih baik,” tulis pemuda berusia 26 tahun itu di video yang viral tersebut.

Selain memberatkan dirinya, Syahriman juga tidak mau membuat ibunya menderita karena pernikahannya.

Namun kejadian ini tidak mematahkan semangat Syahriman. Sebaliknya, dia akan terus bekerja mengumpulkan uang demi menghadapi tantangan di masa depan.

Banjir Dukungan dari Netizen

Video ini pun mendapat berbagai reaksi dari netizen. Namun rata-rata merasa terkejut dengan mahar yang diminta calon ibu mertua.

Sebagian merasa geram dengan calon ibu mertua Syahriman yang meminta mas kawin yang dianggap berlebihan. Tidak sedikit juga yang mendoakan agar pemuda dari Kelantan itu segera mendapat jodoh dan calon mertua yang tak memandang harta.

” Waduh, mahal betul mas kawin 30k.. emang calon istrinya sangat cantik? Tak habis pikir aku.”
” Mintalah mas kawin yang tidak merendahkan wanita dan tidak membebankan pihak lelaki, semua ada hikmahnya. Allah sebaik-baik perencana.”
” Semoga kamu dipertemukan dengan jodoh yang lebih baik, bang.”

Di Antara Rezekimu, Ada Rezeki Orangtuamu

Sore itu Ummu Hamid pulang dengan gelisah. Ia baru ingat. Hari itu tanggal 18, hari terakhir jatuh tempo pembayaran cicilan rumahnya. Ia tau pasti, dana yang terkumpul dari pendapatannya dan suami sangat terbatas.

Meskipun “hanya” kurang dua ratus ribu rupiah, tetap saja Ummu Hamid pening dibuatnya. Sebab dana yang lain tidak bisa diganggu lagi dengan keperluan berbeda.

Sambil menunggu kepulangan suami, Ummu Hamid menelpon ibunya. Sudah menjadi kebiasaannya rutin menghubungi orangtua sejak ia masih kuliah dahulu.

Mendadak ia terkejut. Kiriman dana bulanan untuk orangtuanya ternyata belum ditunaikan juga.

Selama ini, Ummu Hamid ikut menanggung pemakaian listrik, air dan berbagai keperluan orangtuanya. Ia merasa ada sejumlah pengeluaran tak terduga yang melampaui keuangan keluarganya.

Sempat terbetik untuk acuh. Toh ia masih memiliki saudara lain yang bisa memenuhi kebutuhan orangtua mereka.

Anehnya, justru muncul rasa sombong. Merasa diri paling berjasa pada keluarga khususnya kepada ibunya selama ini.

Syukur, secepat itupula ia beristighfar. Usai menelepon, Ummu Hamid segera mentransfer sejumlah dana kepada ibunya.

Kali ini ia bahkan sengaja melebihkan dari biasanya. Selepas transaksi, kembali Ummu hamid mengecek saldo rekeningnya.

Dana yang sedianya untuk membayar cicilan rumah kini tampak makin berkurang. Lagi-lagi otaknya berpikir keras. Ke mana ia mencari tambahan dana untuk cicilan tersebut.

Ummu Hamid tak ingin menyesal karena telah meringankan kebutuhan ibunya. Sebaliknya ia juga tidak bisa menunda pembayaran cicilan karena terancam denda cukup besar.

Saat ini Ummu Hamid hanya bisa menyicil rumah, sebuah keinginan yang sudah lama terpendam. Memiliki rumah sendiri bersama keluarganya.

Masih dengan perasaan gulana, Ummu Hamid segera mengambil air wudhu. Ia merasa tak punya pelarian lagi kecuali shalat dua rakaat, bersimpuh di hadapan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt).

Baru selesai salam, tiba-tiba suaminya datang mengetuk pintu rumah. Ada lara yang membuncah, ingin segera ia mengadu kepada suaminya.

Tapi Ummu Hamid berusaha menahan sekuat tenaga. Ia tidak mau menambah letih suaminya yang baru pulang dari pekerjaannya di kantor.

“Dinda, alhamdulillah ada rezeki tidak disangka di kantor tadi,” ujar suaminya membuka percakapan sambil tersenyum.

“Pak Rahman datang melunasi pinjamannya yang tiga tahun lalu itu. Entahlah, tiba-tiba saja ia datang ke kantor tadi,” imbuh suaminya sambil menyerahkan sebuah amplop tebal.

“Allahu Akbar…!”

Ummu Hamid tanpa sadar berpekik takbir. Ia sendiri sudah lupa perihal uang piutang itu. Waktu itu mereka hanya berniat menolong Pak Rahman, karib suaminya itu.

Dengan gemetar Ummu Hamid segera membuka amplop itu. Lembar demi lembar terlihat dari dalam amplop. Lembaran itu bahkan masih lengkap dengan ikatan penanda dari bank.

Subhanallah, lagi-lagi ia hampir berteriak. Uang tersebut ternyata persis 200 kali lipat dari jumlah yang baru saja ia transfer kepada ibunya tadi. Masih dalam sujud syukurnya, sebuah pesan singkat masuk atas nama ibunya.

“Nak, terima kasih ya. Kata adikmu ada uang masuk ke rekening ibu. Semoga rezekimu berkah dan berlimpah. Maafkan ibu yang selalu merepotkanmu.”

Ayah, Hadirlah Untuk Anakmu di 7 Waktu Ini Agar Tidak Menyesal Ketika Sudah Tua

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.”

Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain.

Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.

Saat ini banyak keluarga di Indonesia yang kehilangan figur ayah. Ayah sudah berangkat kerja saat pagi buta, ketika si kecil masih tidur. Ketika ayah pulang malam hari, sering kali anak sudah tertidur. (foto cover: ilustrasi, sumber)

“Tak heran jika anak ditanya, ‘Bagaimana ayahmu?’, jawabnya, ‘Auk, ah gelap’. Karena memang mereka hanya bertemu waktu gelap, saat dini hari dan tengah malam,” kata Bendri Jaisyurahman, salah satu penggagas Komunitas Sahabat Ayah.

Minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan membuat anak mengalami beberapa masalah psikologis.

Di antaranya, anak yang rendah harga dirinya, anak laki-laki yang cenderung feminin dan anak perempuan yang cenderung tomboy, anak yang lambat dalam mengambil keputusan, serta anak yang cenderung reaktif. Termasuk juga, maraknya generasi alay.

Lalu bagaimana idealnya peran seorang ayah dalam pendidikan anak? Menurut Bendri setidaknya ada 7 waktu yang perlu diluangkan ayah untuk anaknya.

1. Pagi Hari
Ayah bisa memulai dengan membangunkan anak. Luangkan 5 menit untuk bermain atau mendengar cerita anak mengenai mimpinya.

2. Siang Hari
Luangkan 5 menit saja untuk menelepon anak di siang hari. Mulailah dengan cerita ringan mengenai aktivitas ayah di kantor dan pancing anak untuk bercerita mengenai kegiatannya hari itu.

3. Malam Hari
Sediakan waktu untuk bermain serta mendengar cerita anak mengenai aktivitasnya seharian. Beri komentar dan arahkan anak secara positif. Malam hari merupakan waktu yang efektif untuk menanamkan budi pekerti dan sikap-sikap yang baik.

4. Liburan
Saat hari libur, ayah bisa secara total melakukan aktivitas bersama anak. Tidak harus pergi berlibur, bisa juga dengan mencuci mobil bersama, memancing, pergi ke toko buku. Aktivitas tersebut akan menciptakan ikatan yang kuat antara ayah dan anak.

5. Di Kendaraan
Saat mengantar anak ke sekolah atau ke tempat lain, terutama jika menggunakan mobil, tersedia kesempatan untuk ngobrol dengan buah hati.

Selipkan nasihat, misalnya mengenai pentingnya berkendara dengan santun, menghormati hak orang lain, mengikuti aturan lalu lintas, dan lain-lain.

6. Saat Anak Sedih
Saat anak mengalami kesedihan, ia membutuhkan tempat untuk curhat dan menyampaikan keresahan hatinya. Jika ayah mampu hadir dalam situasi ini, anak tidak akan melabuhkan kepercayaan pada orang yang salah.

Karena pahlawan bagi anak adalah mereka yang ada di dekat mereka, menghibur, mendukung dan menguatkan ketika mereka sedih dan mengalami masalah.

7. Saat Anak Unjuk Prestasi
Luangkan waktu untuk hadir saat anak mengikuti lomba atau tampil di panggung. Kehadiran ayah dan ibu dalam momen itu merupakan bentuk pengakuan akan kemampuan anak.

Tepuk tangan, foto, dan rekaman yang dibuat ayah atau ibu akan menjadi kenangan yang terus mereka bawa hingga besar nanti.

Hal yang perlu diperhatikan, anak tidak hanya butuh ayah, namun juga ibu. Sebagaimana pepatah Arab, al-umm madrasatun, ibu adalah sekolah bagi anak. Maka, ayah kepala sekolahnya.

Ayahlah yang bertanggung jawab agar ‘sekolah’ tersebut berjalan dengan baik dengan menyediakan sarana dan prasarana, mengambil peran, serta membuat instrumen evaluasi. Sedangkan ibu menjadi sumber ilmu, hikmah, dan inspirasi bagi anak dalam proses tumbuh dan berkembang.

Jika masing-masing fungsi tersebut tidak dijalankan dengan baik, pengasuhan anak akan menjadi ‘pincang’. Minimnya keterlibatan ayah, membuat anak cenderung penakut dan lambat mengambil keputusan.

Sementara jika peran ibu yang hilang dalam rumah tangga, anak cenderung mengedepankan logika, tapi tidak memiliki kepekaan.

Tags: #diantara rezekimu ada rezeki orangtua #mertua minta mahar 100 juta #pria ini rela lepas kekasihnya #waktu ayah harus hadir untuk anaknya