Curhatan Seorang Suami, Gaji Rp 6,5 Juta Sebulan Separuhnya Habis Untuk Bayar Cicilan Mobil Istri Kebagian Rp 1 Juta


Dalam video yang dibagikan kreator @aby_jay, terlihat pria berkaos biru curhat tentang kondisi keuangan keluarganya. Kerja banting tulang tapi hidup begitu-begitu saja.

Pria itu dibikin pusing gara-gara cicilan mobil yang cukup besar. Belum lagi dia juga harus membayar keperluan lainnya.

Awalnya, dia bercerita kalau gaji yang didapat perbulannya sebesar Rp 6,5 juta. Meski cukup besar, gaji tersebut tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Bagaimana tidak? Dari gaji Rp6,5 juta tersebut, terdapat cicilan mobil yang besarnya hampir separuh dari gajinya.

Di video terlihat cicilan mobil yang harus dibayar tiap bulan mencapai Rp3,1 juta. Setelah dikeluarkan untuk cicilan mobil, dia memberikan jatah Rp1 juta untuk istrinya.

Dia juga memberikan uang untuk orangtuanya sebesar Rp800 ribu setiap bulannya. Dia kemudian harus membayar cicilan rumah, listrik serta air yang totalnya mencapai Rp1,3 juta.

Akhirnya, uang gajinya hanya tersisa Rp300 ribu untuk dirinya sendiri. Tentu saja, uang Rp6,5 juta tidak cukup jika ada cicilan mobil yang mencapai separuh gajinya.

Pria itu mengaku menghadapi dilema. Tidak utang, dia mungkin tidak akan punya apa-apa. Tapi kalau ada utang, hidup jadi sengsara.

Akhirnya dia pun mengambil hikmah bahwa hidup bahagia itu jika kita tidak punya utang atau cicilan.

ideo yang diunggah ulang di Instagram @top_world.idn ini pun mendapat respons beragam dari netizen.

Banyak juga yang menasehati pria itu agar tidak menuruti gengsi. Ada juga yang kasihan dengan para istri karena satu bulan cuma dijatah Rp1 juta.

” Salah konsep sih, seharusnya yg di butuhkan aja dlu gausah mikirin gengsi. tapi apalah manusia jaman sekarang gengsian.”

” Hidup banyakin syukur.. jangan kufur ya temen² semua..”

” Sebenernya itu nyicil mobil gak terlalu penting bgt sih.. mungkin si cowok nurutin istrinya utk beli mobil.”

” 1jt buat istri? mana cukup jaman sekarang. ujung2nya istri cari sendiri buat nutupin kebutuhan lainnya.”

Jangan Suudzon, Allah Janjikan Pahala yang Besar bagi Mereka yang Berbaik Sangka

Terkadang dalam melihat suatu hal, sering muncul prasangka buruk terhadap orang lain. Alhasil menimbulkan kebencian dan kedengkian pada sesama.

Oleh sebab itu Allah SWT melarang kita berprasangka buruk dan janjikan pahala besar bagi mereka yang berbaik sangka.

Di dalam sejumlah literatur hadits, disebutkan bahwa pahala berbaik sangka kepada sesama adalah surga.

Sedangkan pahala berbaik sangka kepada Allah SWT, terurai seperti dalam hadits Qudsi berikut ini,

“Aku tergantung sangka hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat Aku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku.

Kalau dia mengingat Aku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka.

Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhari).

Namun sebaliknya, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berburuk sangka kepada Tuhannya, sehingga dia melakukan amal keburukan.” (HR. Ahmad).

Maka tak ada pilihan, manusia harus berbaik sangka kepada Allah SWT. Tentang berbaik sangka kepada manusia, Anas bin Malik bercerita,

“Pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah SAW. Lalu beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga. Tiba-tiba muncul orang Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhu. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri”.

Kesokan harinya, Rasulullah SAW berkata hal yang serupa, “Akan datang seorang laki-laki penghuni surga”

Dan muncul laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali. Seusai majelis tersebut, Abdullah bin Amr bin Ash mencoba mengikuti laki-laki itu yang disebut Rasulullah SAW sebagai penghuni surga.

Lalu Abdullah berkata kepadanya,

“Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu?”

Abdullah mengikuti orang tersebut ke rumahnya dan menginap selama tiga malam berturut-turut.

Selama menginap, Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa saja yang dilakukan orang itu sehingga Rasulullah SAW menyebutnya sebagai penghuni surga.

Namun ternyata selama menginap, Abdullah tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa dalam ibadah orang tersebut. Lalu Abdullah bertanya tentang perbuatan yang membuatnya bisa masuk ke Syrfa.

Orang Anshar itu menjawab, “Demi Allah, amal ibadahku tidak lebih dari yang kamu saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk (bersangka buruk) terhadap sesama muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka terhadap kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka”.

Kemudian Abdullah bin Amr bin Ash berkata,

“Alangkah bersihnya hatimu dari perasaan jelek kepada kaum muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah sepertinya yang menyebabkan kamu sampai ke tempat terpuji itu (surga) yang ternyata kami tidak bisa melakukannya.” (HR. Ahmad dan Nasa’i).

Kesimpulannya, maka mari kita biasakan diri untuk berbaik sangka pada Allah SWT dan juga sesama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Janganlah seorang di antara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah” (HR. Muslim).

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak berburuk sangka, karena sebagian dari berburuk sangka itu dosa.” (QS. al-Hujurat/49: 12).

Dan juga sebisa mungkin menjauhi berburuk sangka pada orang lain. Ketika kita berbaik sangka maka hubungan sosial dengan orang lain akan cenderung lebih mudah dan lancar.

Sebab di dalam hati kita tidak tersimpan kebencian dan kedengkian sedikitpun.

Percaya, Rejeki Setelah Menikah Muda?

DULU, saat masih gadis dan bekerja di sebuah toko, aku heran dengan teman kerjaku. Bagaimana ia mengatur uangnya, hingga bisa mencukupi biaya hidup sebulan?

Bukan hanya menghidupi dirinya sendiri. Ia sudah berkeluarga dan dikaruniai dua orang putra. Istrinya pun di rumah saja, tak bekerja.

Gaji yang diperoleh besarnya tak berbeda dengan yang kudapat. Aku yang masih sendiri saja, harus mengencangkan ikat pinggang bila inginkan sesuatu.

Rasa penasaran membuatku bertanya pada sahabat yang mengetahui tentang dirinya. Bagaimana caranya ia bisa punya rumah sendiri? Pertanyaan terlontar ketika kami, semua karyawan toko diajak olehnya, mampir ke rumah baru yang masih setengah jadi.

Menurut sahabatku, ia diberi bantuan pinjaman oleh majikan untuk membangun rumah. Namun bukankah hutang tetap harus dibayar? Kuyakin gajinya kena potongan setiap bulan.

Bila ingat itu, aku menertawakan diri sendiri. Betapa “kepo”nya aku saat itu. Terheran-heran … rejeki yang sama denganku, bisa menghidupi empat nyawa.

Dan setelah menikah, bingungku tak berubah. Bukan …, bukan bingung. Lebih tepatnya memang takjub dengan kebesaran Allah. Apalagi sejatinya rejeki tak hanya berupa materi.

Namun bila bicara soal materi, inilah yang kuceritakan. Suamiku hanya karyawan biasa dengan gaji yang pas-pasan. Sementara aku bukan lagi seorang pekerja. Rutinitasku setiap hari mengajar TPA dengan bayaran tak seberapa.

Dengan niat ingin mandiri, setahun menikah, suami mengajakku tak lagi huni “Perumahan Mertua Indah”. Masih kuingat, setelah akad pembayaran kontrak rumah, uang di dompet hanya tersisa seribu rupiah.

Tapi semenjak itu, kemurahanNya luas terbentang. Aku yang biasa mengajar mengaji, dipercaya memberikan les privat pelajaran sekolah, di beberapa tempat. Permintaan kerja sampingan suami pun semakin padat.

Belum lagi berjualan apa saja disesuaikan dengan musim dan modal yang ada. Alhamdulillah … Allah lancarkan. Entah keberanian dari mana … selanjutnya aku daftar kuliah. Bagiku jika Allah ijinkan, Insya Allah terlaksana.

Tak melulu bahagia memang. Ada tantangan, hambatan maupun rasa lelah lebih dari biasa. Tapi yang tak dapat kupungkiri, rejeki dariNya begitu nyata, mengalir dengan indahnya. Bak aliran air sungai jernih di antara bebatuan.

Bagiku terasa beda rejeki sebelum dan sesudah menikah. Kemudahan pun tetap berjalan sesuai fitrah. Bukan tiba-tiba muncul sekarung uang atau emas permata di atas meja.

Campur tanganNya dapat kurasa. Allah bukakan pintu rejeki yang sebelumnya tak terpikirkan. Berikan keberanian dalam memutuskan. Luaskan cara pandang. Dimana satu sama lain saling berhubungan.

Begitulah aku percaya, rejeki setelah menikah menjadi mudah. Aku berharap semoga menjadi berkah.

Seperti yang disampaikan Allah dalam firmanNya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan, jika mereka miskin maka Allah akan menjadikannya kaya dari kurniaNya karena Allah itu adalah Maha Luas PemberianNya lagi Maha Mengetahui” (Q.S.An Nur : 32).