Dilarang Agama!! Pantesan Rasulullah Melarang Cabut Uban, Ternyata ini Alasannya


Uban merupakan rambut berwarna putih yang biasanya tumbuh pada orang-orang berusia lanjut namun beberapa orang memiliki kemungkinan tumbuh uban pada usia muda hal ini berkaitan dengan tingkat melamin pada folikel rambut yang dapat berubah Seiring berjalannya waktu terdapat banyak faktor yang menyebabkan munculnya uban seperti faktor usia kinetik hingga kondisi kesehatan tubuh

Nabi Muhammad SAW melarang umatnya untuk mencabut uban, karena islam sendiri memandang uban sebagai sebuah peringatan, agar bisa lebih giat dalam beribadah dan beramal.Tumbuhnya uban di kepala tidak menjadi persoalan bagi orang-orang yang usianya sudah tua, akan tetapi lain halnya pada mereka yang masih muda.Ternyata tumbuhnya uban di kepala bukan semata-mata disebabkan oleh usia, namun hal ini sudah dijelaskan oleh Allah SWT di dalam Alquran.

Lantas, Apa penyebab Nabi Muhammad SAW melarang umatnya mencabut uban, simak penjelasannya di bawah ini.Alquran jelaskan tumbuhnya uban ditandai dengan adanya helai rambut yang berwarna putih.

Perlu diketahui bahwa tumbuhnya uban bukan semata-mata karena usia yang sudah tua, mereka yang masih muda pun ada yang sudah memilikinya, penyebab tumbuhnya rambut putih di kepala sudah dijelaskan di dalam Alquran.

Allah SWT berfirman

Allah Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat,

kemudian Dia menjadikan kamu sudah kuat itu lemah kembali dan beruban ia menciptakan apa yang dikehendakinya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Qs. Ar-rum : 54)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa penyebab tumbuhnya uban disebabkan oleh emosi, hal ini pun diperkuat dengan penjelasan ilmiah dari para ahli.

Para ahli menjelaskan penyebab uban bersumber dari saraf emosi, hal ini yang menyebabkan kurangnya suplai darah yang mengandung gizi rambut-rambut yang ada di kepala jumlahnya ditaksir 200 juta helai.

Kemudian dari setiap rambut memiliki 1 pembuluh darah, 1 saraf otot kelenjar dan umbi masing-masing rambut hidup sekitar 3 tahun dengan demikian rambut akan terus memperbaiki diri dalam 2 ribu hari.

Hikmah Tumbuhnya Uban

Tumbuhnya uban bisa saja dapat mengganggu penampilan seseorang, akan tetapi ada hikmah dibalik tumbuhnya uban.

Islam sendiri memandang uban sebagai sebuah peringatan terhadap usia yang sudah tidak muda lagi sehingga bisa demikian dalam beribadah dan beramal Islam juga melarang seorang muslim untuk menjeda buku bannya hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits riwayat Ibnu Hibban

Janganlah mencabut uban karena Uban adalah cahaya pada hari kiamat Siapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam dia muslim maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahannya juga dengannya akan ditinggikan 1°

meski uban akan membuat seseorang lebih berwibawa Tetapi beberapa orang merasa tidak percaya diri dengan adanya uban di rambutnya secara medis pun obat ini tidak dapat diobati sehingga sebagai jalan pintasnya pantai tersebut memilih mencabutnya namun sebaiknya hal ini dihindari karena berdampak negatif pada kesehatan ia mencabut uban dapat menyebabkan infeksi pada bekas cabutan dan kerusakan pada folikel rambut hingga yang paling fatal adalah kerusakan saraf pada kulit kepala akibatnya pertumbuhan rambut menjadi terganggu dan semakin berjalannya waktu rambut akan semakin tipis Adapun hukum mencabut uban ini adalah makruh seperti yang dikatakan oleh an-nawawi dimakruhkan mencabut uban sebagaimana dalam hadits Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda Janganlah mencoba Tuban karena Uban adalah cahaya pada hari kiamat hal ini berlaku tak hanya uban pada rambut kepala akan tetapi juga uban pada jenggot jambang dan juga tumis terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi tanpa mencabutnya salah satunya dengan mewarnai rambut dengan warna selain hitam Ubahlah umat ini dengan sesuatu tetapi hindarilah warna hitam Hadits Riwayat Muslim itulah penjelasan Kenapa dilarang oleh agama Islam untuk mencabut uban ternyata itulah tadi alasannya

Kenapa Anak Masih Bandel ? Mungkin Bunda Belum Terapkan 5 Mantra Ajaib Agar Anak Mau Mendengarkan Perkataan Anda

Memasuki usia 3 tahun, anak akan memiliki kempuan baru yang sedikit banyak akan memusingkan Mama. Di usia ini ia sudah mulai bisa memilih apa yang disukai dan tidak disukainya, termasuk dalam urusan mainan, pakaian sampai pada perkataan yang Anda sampaikan padanya.

Jika sudah seperti ini, rumah akan berubah menjadi arena pertempuran antara orang tua dan anak. Ia bisa dengan mudah menolak atau bahkan pura-pura tidak mendengar apa yang Anda katakan jika ia tidak menginginkannya.

Contoh kecilnya, ketika hari sudah larut Anda mulai memintanya untuk merapikan mainan dan bersiap tidur. Jika dalam bayangan Anda si kecil akan langsung menuruti perkataan Anda, mulai usia 3 tahun ini akan jarang terjadi. Faktanya Anda harus memaksanya melepaskan mainan atau bahkan mengejarnya untuk menuruti perkataan Anda. Semakin keras memaksa, akan semakin keras pula si kecil menolak.

Mengapa demikian? Ternyata ada komponen yang Anda lewatkan terutama dalam hal memilih kata yang dapat membuat ikatan antara Anda dan anak. Bagaimana membangun ikatan ketika anak mulai “berperang” melawan Anda.

Seperti yang dilansir dari ParentingINA, berikut ini 5 kata yang dapat membantu orang tua membangun ikatan dan membuat anak mau mendengarkan perkataan Anda:

1. “Kamu mau, kamu bisa…”

Contoh:

Ketika anak lebih memilih bermain dari pada tidur.

Yang harus Anda lakukan:

Dekati dia dan katakan “Kalau kamu mau bermain sepanjang malam kamu bisa, tapi nanti kamu tidak akan punya waktu untuk tidur”

Saat Anda mendekatinya, maka terjalinlah ikatan yang membuat Anda dan si kecil saling mengerti. Ia akan tahu konsekuensi yang ia dapatkan jika memilih terus bermain sepanjang malam. Dengan mengatakan “Kamu berharap kamu bisa……..” membuat si kecil mau mendengarkan Anda melalui pemahaman dan alasan yang Anda berikan.

2. “Ini berat untukmu….”

Contoh:

Ketika anak tidak mau pergi ke sekolah.

Yang harus Anda lakukan:

Berusahalah untuk memberikan empati pada hal yang diinginkan si kecil dengan mengatakan “Mama tahu ini berat untuk kamu. Kamu tidak ingin pergi sekolah karena sedang ingin bersama Mama seharian. Menyebalkan ya kalau ada hal yang tidak sesuai keinginanmu”.

Mendengar perkataan Anda, si kecil akan mulai luluh dan memutuskan untuk pergi sekolah meski dengan wajah cemberut. Dengan mengatakan hal itu pula Anda akan terhindar dari “drama” pagi hari.

3. “Lakukan apa yang kamu mau”

Contohnya:

Ketika upaya Anda menyuruh anak tidak berhasil dan justru ia malah menangis sejadinya.

Yang harus Anda lakukan:

Biarkan ia melakukan hal yang diinginkannya dan katakan “Tidak apa-apa kalau tidak mau tidur, tapi coba tenangkan diri kamu. Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau yang asal setelahnya kamu bisa tidur”

Cara ini akan berhasil terutama saat anak selesai tantrum. Bantu si kecil setiap kali ia mencoba mengendalikan dirinya dengan menyuruhnya tarik napas dalam-dalam.

4. “Kamu bisa atasi ini!”

Contoh:

Saat Anda menjemput si kecil di sekolah dan melihat ekpresi wajahnya sangat berbeda dengan pagi hari, kini ia sudah ceria.

Yang harus Anda lakukan:

Jangan lantas diam karena mood si kecil sudah kembali membaik, tapi cobalah menambah semangatnya sekolah esok hari dengan katakana, “Nah, kamu bisa atasi ini kan? Tadi pagi kamu cemberut, tidak mau sekolah, tapi sekarang Mama lihat kamu sangat ceria. Mama tahu seberat apapun masalah yang kamu punya kamu pasti bisa menghadapinya.”

Perhatian dan perkatan yang Anda berikan akan membuat si kecil lebih percaya diri jka suatu hari permasalahan yang sama kembali terulang.

5. “Kendalikan dirimu”

Contoh:

Saat anak mengamuk sejadinya sampai ia memukul-mukul atau bahkan ingin menggit Anda.

Yang harus Anda lakukan:

Tarik napas dalam dan tahanlah emosi Anda, Ma. Kondisi ini pasti sangat memicu amarah, namun tangisan si kecil tidak akan berhenti jika Anda hanya terus berteriak padanya. Coba katakan ”Kamu tidak boleh begini. Walaupun kamu marah kamu tidak boleh memukul Mama. Pergilah ke kamar, kamu boleh pukul bantal sampai kesalmu hilang”.

Mengajarkan pengendalian diri pada anak adalah hal yang membutuhkan konsistensi dan banyak latihan. Keterampilan ini bukan saja baik untuk anak saat amarahnya meluap tapi juga untuk Mama dalam menyikapi perilaku si kecil.