Dulu hanya Punya Uang Rp35 Ribu, Kini Hartanya Mencapai Rp50 Triliun

193 views


Perjalanan pria ini sungguh berliku. Pernah mengalami pahit kegir kehidupan, kini dia punya harta puluhan triliun.

Kisah pengusaha teknologi sekaligus miliuner ini bisa menjadi inspirasi Sahabat Dream. Dia adalah Romesh Wadhwani, pria yang pernah memiliki uang hanya US$2,5 atau sekitar Rp35.000 dalam kantongnya. Kini, dia punya kekayaan mencapai US$3,5 miliar atau sekitar Rp50 triliun.

Wadhwani merupakan miliuner lulusan Universitas Carnegie Mellon dengan gelar Ph.D. Ketika datang ke Amerika Serikat untuk meraih gelar Ph.D di Carnegie Mellon, Wadhwani hanya mengantongi uang kurang dari US$2,50 di sakunya.

” Mahasiswa asing seperti saya masih dipandang sebagai individu yang selalu ingin tahu,” kata miliuner keturunan India itu dalam sebuah wawancara video dengan Forbes.com, Selasa 11 Januari 2022.

” Itu bukanlah perjalanan yang mudah. Saya telah melewati ratusan rintangan dalam karier dan bisnis saya,” tambah dia.

Dengan usaha yang pantang menyerahnya, Wadhwani mulai mengumpulkan kekayaannya ketika dia menjual perusahaan perangkat lunak, B2B Aspect Development, seharga US$9,3 miliar dalam bentuk saham ke i2 Technologies pada tahun 1999.

Kemudian, Wadhwani juga membangun perusahaan ekuitas swasta, Symphony Technology Group menjadi portofolio pembangkit tenaga listrik.

Namun di tahun 2017, setelah mengundurkan diri sebagai CEO Symphony Technology Group, dia memutuskan untuk memulai SymphonyAI yang berbasis di Los Altos, California.

Pada saat itu, terobosan dalam komputasi dan kumpulan data yang sangat besar telah mendorong ide untuk membentuk startup dan aplikasi kecerdasan buatan.

Wadhwani secara terbuka berkomitmen untuk menginvestasikan uang sebesar US$1 miliar dari kekayaannya untuk meningkatkan skala bisnis, meskipun ia belum memasukkan dana sebanyak itu.

Wadhwani mengatakan bahwa pendapatan SymphonyAI tahun lalu mencapai US$220 juta (dengan ConcertAI menambahkan keuntungan lagi US$130 juta) dan diperkirakan akan mencapai US$300 juta tahun ini, dengan pendapatan USD 200 juta lagi untuk ConcertAI.

” Perusahaan yang bergerak dalam pemanfaatan Kecerdasan Buatan masih dalam masa pertumbuhan,” kata Wadhwani.

Romesh Wadhwani, mengundurkan diri sebagai CEO perusahaan yang bergerak di pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI), SymphonyAI, dan posisinya digantikan oleh Sanjay Dhawan, yang merupakan CEO perusahaan AI otomotif, Cerence hingga bulan lalu.

Pria 75 tahun ini mengatakan bahwa pergeseran di puncak membatasi serangkaian perubahan manajemen, termasuk CFO baru dan CTO baru datang sebagai bagian dari pertimbangan untuk penawaran umum potensial di masa depan.

” Secara langsung, kemunculan perusahaan di publik itu adalah peluang yang ingin kami pertimbangkan, 18 bulan, 24 bulan dari sekarang,” kata Wadhwani.

” Banyak tergantung pada kondisi pasar. Ini adalah kesempatan yang ingin kami pertimbangkan dan siapkan,” imbuhnya.

Crazy Rich Sembunyikan Uang Rp15,4 Miliar di Tangki Air, Petugas Pajak yang Gerebek Harus Menyetrika Lembar Demi Lembar

Pengusaha bernama Shankar Rai ini juga menyimpan 3 kilogram emas bersama dengan uang tunai yang berjumlah milyaran rupiah di ruang bawah tanah kediamannya.

Rumah pengusaha asal India, Shankar Rai, didatangi petugas Departemen Pajak Penghasilan pada Kamis pekan lalu. Dalam penggerebekan di Distrik Damoh itu, petugas pajak menyita uang tunai Rs 8 crore atau sekitar Rp15,4 miliar dan 3 kilogram emas.

Menariknya, uang tunai itu terlihat tersembunyi di dalam tas yang disimpan di tangki air bawah tanah. Menurut laman India.com, ada sebuah video beredar di media sosial yang memperlihatkan petugas pajak sedang mengeringkan uang kertas tersebut dengan bantuan setrika dan hairdryer atau pengering rambut.

“ Departemen Pajak Penghasilan telah menyita Rs 8 crore tunai dari keluarga Rai yang juga termasuk tas berisi Rs 1 crore uang tunai yang dimasukkan ke dalam wadah air. Selain itu, tiga kilogram emas juga disita,” kata Munmun Sharma, Komisaris Gabungan Departemen Pajak Penghasilan Jabalpur, yang memimpin penggerebekan.

Setelah penggrebekan selesai, Munmun Sharma mengatakan, “ Penyelidikan akan dilanjutkan berdasarkan dokumen yang disita dari keluarga Rai yang akan dilakukan di Bhopal.”

Petugas Departemen Pajak Penghasilan juga akan menyelidiki beberapa properti milik Rai yang tidak disebutkan jenisnya.

Penggerebekan yang dimulai pukul 06.00 pada hari Kamis berlangsung selama 39 jam. Petugas Pajak menggerebek lebih dari sepuluh tempat milik keluarga Shankar Rai.

Pengusaha Shankar Rai adalah pemimpin Kongres dan mantan Presiden Kotamadya, sementara saudaranya, Kamal Rai, adalah pemimpin BJP yang pernah menjadi Wakil Presiden Kotamadya.

Menurut Departemen Pajak, keluarga Rai menjalankan sekitar tiga lusin bus atas nama karyawan.

Departemen Pajak telah mengumumkan hadiah 10.000 rupee untuk siapa saja yang memberikan lebih banyak informasi tentang aset keluarga Rai di Madhya Pradesh atau lokasi lainnya.

Kisah Anak Juragan Sapi Sukses Kelola PO Limousine di Usia Belia

Mengelola bisnisnya, pria bernama Dzikry Rohman ini melakukan berbagai inovasi dan melakukan adaptasi sesuai kebutuhan zaman.

Di Indonesia ada banyak pengusaha sukses yang berhasil menjalankan bisnisnya meskipun usianya masih muda. Seperti pemuda bernama Dzikry Rohman yang berhasil mengelola sebuah perusahaan otobus di usia yang masih begitu belia.

Selepas pendidikan, ia langsung menjadi bos PT. Limousine Putra Jaya. Kini, perusahaan otobus miliknya tersebut terus berkembang hingga mencapai kesuksesan. Berikut kisah selengkapnya, melansir kanal YouTube Aprilia D Lestari_Official, Minggu, 2 Januari 2022.

Dzikry menceritakan awal mula bisnis PO Limousine asal Gresik, Jawa Timur ini tak muncul begitu saja. Hal itu tak lain justru bermula dari tahun 2008 silam.

Disebutnya, ada salah satu tetangga yang mengeluh telah berhenti dari pekerjaan sebelumnya sebagai seorang sopir bus. Sang ayah tercinta pun lantas luluh dan berniat membantu dengan membeli satu unit bus.

” Waktu 2008, kebetulan tetangga rumah kerja sebagai driver terus dia keluar. Dia minta ke Abah, pengennya driver dan gak bisa kerja di peternakan sapi, akhirnya minta dibelikan unit,” terangnya.

Pada awalnya, PO Limousine berada di tangan sang ibunda. Tak butuh waktu lama bagi PO Limousine untuk terus berkembang. Pemasukan yang terus membaik itu lantas membawa angin segar bagi keluarga. Keluarga pun lalu memilih untuk menambah bus hingga berjumlah 9 unit.

” Peminat big bus bagus kok, pemasukannya juga bagus, akhirnya perlu penambahan unit. Sejak 2010 itu sampai 2013, kurang lebih ada 9 unit,” ungkapnya.

Hingga barulah pada tahun 2017, bisnis PO Limousine jatuh ke tangan sosok pemuda yang satu ini. Situasi yang begitu tepat pun membuatnya semakin yakin untuk memimpin bisnis keluarga.

Terbukti, di bawah kepemimpinannya, bisnis tersebut terus berkembang hingga mencapai kesuksesan. Kini, bisnis otobus miliknya telah beradaptasi sesuai kebutuhan zaman, untuk berwisata, dan lain sebagainya.

” Umi itu mengurus sampai 2017, waktu itu pas saya selesai pendidikan. Dari situ saya dan kakak yang mengurus. Kakak di manajemen, saya di operasional,” ucapnya.

Ternyata ada satu hal unik yang diungkap sang bos. Hal itu yakni berkaitan dengan nama usaha yang sengaja didirikan dengan nama yang unik.

Perusahaan otobus miliknya tersebut tak lain terinspirasi dari usaha peternakan sapi yang telah berjalan jauh-jauh hari. Modal yang berasal dari peternakan sapi milik keluarga itulah yang lantas memberikannya inspirasi untuk memberi nama perusahaan otobus dengan salah satu jenis sapi berkualitas baik.

” Modalnya dari peternakan sapi. Makanya kenapa kok ada namanya Limousine? Ya nama itu adalah namanya sapi,” ungkapnya.