Ekspektasi Orangtua Akan Calon Menantu Kadang Tak Selalu Sama denganmu

284 views


Mencari restu orangtua kadang sama susahnya dengan menyelami Palung Mariana, gelap dan penuh misteri. Apa yang kita utarakan kepada mereka pun kadang dimentahkan. Karena apa pun yang terjadi beliau tentunya sudah makan asam garam menghadapi permasalahan soal rumah tangga. Tapi jangan dulu dibawa ke lubuk hati, semua yang orangtuamu lakukan sepenuhnya untuk kebahagiaanmu dan demi hidupmu yang lebih berkualitas.

“Sebelum menjadi bidadari untukmu, sebelum menjadi bidadari untuk anak-anak kita yang lucu, izinkan aku mendapat sepenuh restu sepasang bidadariku dan kau pun dapati sepenuh restu sepasang bidadarimu.” Fufu & Canun

Di antara sekian banyak rintangan yang akan membawamu menuju kata ‘sah’ restu orangtua rasanya jadi yang paling utama. Bagaimana bisa kamu akan menjalani hidup tanpa adanya dukungan dari kedua manusia terbaik dalam hidupmu? Mustahil bukan? Tapi memang beginilah lika-liku mencari restu. Perbedaan harapan atau ekspektasi orangtua denganmu memang ada kalanya sangat terasa. Jika kamu bisa menembus jurang perbedaan ini, maka bersiaplah untuk jadi insan yang bakal sepenuhnya dicinta.

Orangtua sangat berharap calon menantunya mapan, sedangkan anak yang penting bisa berjuang bersama untuk memenuhi kebutuhan finansial

Permasalahan finansial dari zaman Siti Nurbaya saja sudah menjadi sebuah inti dari awal restu menuju pernikahan. Ketahuilah, problematika orang menikah memang banyak, salah satunya adalah problem finansial. Orang tuamu berharap, setidaknya kamu tidak akan menghadapi problem ini kelak. Ini tentunya akan lebih meringankan hidupmu.

Tetapi cara pandang anak muda justru sebaliknya, kebanyakan akan lebih merasakan kebersamaan jika berjuang bersama. Asal kamu tahu konsekuansinya, komunikasikan ini dengan orangtua dan nyatakan kesiapanmu untuk menghadapi apa pun rintangan yang akan menghampiri. Maka percayalah orang tuamu perlahan akan mengerti.

Orangtua berharap calon menantu yang mampu jadi ‘imam’, sedangkan anak yang penting bisa belajar dan berbenah diri bersama

Kepercayaan jadi hal yang paling mendasar di lingkungan kita. Kepercayaan sudah menjadi kebutuhan akan petunjuk dan pedoman hidup. Kebanyakan orangtua menginginkan seorang menantu yang mampu membimbing anak gadisnya menuju hidup yang lebih tertata. Untuk itu, seorang menantu laki-laki yang bisa jadi ‘imam’ bagi anaknya lah yang akan lebih diterima dalam sebuah keluarga.

Beda dengan kebanyakan anak muda dimabuk asmara yang merasa bahwa pemahaman soal agama bisa dipelajari bersama. Dua-duanya sama baik, tapi tidak ada salahnya untuk memberikan pemahaman pada orangtua. Masalah ini kemungkinan jadi masalah yang sensitif karena menyangkut kepercayaan.

Orangtua berharap calon menantu yang matang dan dewasa, sedangkan anak yang penting setia dan menyayanginya

Kematangan dan kedewasaan seseorang dianggap oleh banyak orangtua sebagai karakter mendasar untuk bekal membina rumah tangga. Lagi-lagi, harapan orangtua ini juga demi kebaikanmu. Mereka ingin kamu benar-benar bersama orang yang tepat yang punya karakter luar biasa dan bisa menguatkanmu disaat menghadapi. Tapi kembali lagi, menurut sang anak pasti yang penting adalah rasa sayang serta kesetiaan. Sementara kedewasaan akan mengikuti dengan sendirinya

Orangtua berharap calon menantunya berasal dari keluarga baik-baik, sedangkan menurut sang anak, yang penting pribadinya saja yang baik

Nah beda lagi cara pandang orangtua mengenai latar belakang keluarga calon menantunya. Hampir semua orangtua lebih menyetujui anaknya menikah dengan seseorang yang lahir dari keluarga yang memiliki reputasi baik. Tapi menurut kamu atau anak-anak lain, yang penting karakter orangnya yang baik.

Sebenarnya pendapat keduanya pun tidak salah lho. Mungkin saja orangtua cenderung menilai latar belakang keluarga calon menantu karena orangtua belum mengenal calon menantunya sedekat sang anak mengenalnya. Sehingga penting adanya sebuah pendekatan pada orangtua masing-masing sebelum menuju hubungan yang serius.

Orangtua mempertimbangkan masa lalu calon menantu dan bagaimana dia di mata masyarakat, sedangkan kamu ya bagaimana sikapnya sekarang

Masa lalu memang seharusnya jadi sebuah pelajaran berharga untuk menghadapi masa depan. Namun akibat yang dibuat dari kesalahan di masa lalu seringnya punya dampak yang cukup serius di masa yang akan datang. Para orangtua menilai bahwa sudah seharusnya sang anak mendapatkan jodoh seseorang yang memang memiliki track record yang baik.

Namun, sang anak justru tidak melihat masa lalu pasangannya sebagai masalah besar, dan lebih fokus dengan dirinya sekarang dan pemikirannya di masa depan. Kembali lagi, dibutuhkan komunikasi dari pihak anak dan orangtua untuk saling meyakinkan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Namanya juga beda generasi, beda sudut pandang dan penilaian memang sangat mungkin terjadi. Jangan sampai ini jadi batu kerikil sandungan hubunganmu dengan si dia untuk menuju pelaminan. Sabar dan teruslah berusaha meyakinkan orangtua. Buktikan jika pilihanmu memang jatuh pada orang yang tepat. Sembari terus memperbaiki diri dan belajar jadi lebih baik lagi. Selamat memperjuangkan cintamu.

Menurut Penelitian, Putus Baik-baik Itu Ternyata Justru Nggak Sehat

Tujuan menjalin hubungan pasti bukan karena ingin putus dong. Buat apa mengikat tali komitmen kalau pada akhirnya harus saling melepaskan satu sama lain? Putus seharusnya jadi hal terakhir yang diharapkan dua sejoli yang masih ada dalam tali hubungan asmara. Terlebih saat ada masalah pelik yang menghadang dan tak bisa ditemukan penyelesaiannya, mengakhiri hubungan pun jadi sebuah opsi yang nggak bisa dihindari.

Layaknya manusia pada umumnya yang menginginkan keadaan berjalan baik-baik saja. Saat hendak memutuskan tali asmara pun kebanyakan orang ingin menyelesaikan baik-baik, sebisa mungkin tanpa menyinggung pasangannya. Tapi baru-baru ini, Vice membagikan sebuah penelitian yang mengejutkan. Katanya, putus secara baik-baik itu justru nggak disarankan. Nah lho, kok bisa sih? Ternyata ada argumen masuk akal juga dibalik penelitian ini. Yuk, makanya disimak uraian Hipwee News and Feature berikut ini!

Kata orang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Meskipun aslinya sama-sama sakit, putus cinta itu pasti traumatis, makanya semua ingin putus secara baik-baik

Nggak bisa dimungkiri kalau putus cinta itu menyakitkan. Jadi wajar saja kalau bikin sakit hati. Secara psikologis pun hal ini ada penjelasannya. Hasil penelitian dari seorang psikolog Arthur Aron menjelaskan bahwa ketika menjalin sebuah hubungan dekat, seseorang berusaha mengikatkan jiwanya dengan jiwa orang lain. Dengan kata lain, kita mulai memikirkan pasangan kita layaknya diri kita sendiri. Membuat memori bersama, kesulitan pun ditanggung bersama, dan identitas pun seolah-olah sama. Jika pasangan terluka kita ikut terluka, pun sebaliknya, jika pasangan bahagia kita ikut bahagia.

Sehingga ketika tiba saatnya berpisah dan mengurai ikatan yang pernah terjalin, semua jadi serba sulit. Kita seperti sedang menghadapi diri sendiri. Karena itulah banyak dari kita menginginkan keadaan yang lebih baik dengan putus secara manusiawi, tanpa emosi, dan tanpa ada masalah besar. Ini bikin cewek atau cowok yang minta putus sering mengawali keputusan berpisahnya dengan kalimat pembuka dan memulainya dengan kalimat bertele-tele.

Padahal bertele-tele saat mau bilang putus itu nggak baik lho. Begini nih penelitian ilmiahnya

Lebih mending putus nggak baik-baik ketimbang putus baik-baik, yang justru berkemungkinan meninggalkan luka mengganjal. Penelitian oleh Brigham Young University ini menunjukkan kalau saat menerima berita buruk, termasuk keinginan putus dari pasangan, mayoritas orang justru ingin semua dikatakan to the point.

Penelitian ini melibatkan 145 responden yang masing-masing diberi kasus skenario buruk, salah satunya adalah gimana kalau pasangannya minta putus. Di setiap skenario mereka diberi pilihan, pertama berita buruk itu disampaikan secara bertele-tele, sedangkan kedua, penyampaiannya lebih to the point. Hasilnya 74% partisipan memilih penyampaian tanpa basa-basi.

Secara umum penelitian ini juga mengungkapkan, semakin buruk berita yang ingin disampaikan, semakin minim kalimat-kalimat pengantar yang sebaiknya kamu sampaikan sebelum menyampaikan inti informasi tersebut. Misalnya, kalau rumah kamu kebakaran, tentu kamu ingin orang langsung memberitahumu, alih-alih pakai kalimat basa-basi: “Eh, anu, jadi tadi aku lewat rumahmu, terus aku curiga kok ada asap…” bla bla bla. Ya, nggak?

Intinya nggak usah basa-basi untuk mengakhiri hubungan, karena justru bahaya dan berpotensi jadi masalah jangka panjang. Mulai gagal move on, sampai terus menerus ingin balikan

Logikanya begini, jika kamu didiagnosa mengidap kanker, maka kamu ingin segera dokter menyembuhkannya daripada memedulikan bagaimana penjelasan ilmiah tentang kanker yang berkembang di tubuhmu. Intinya makin to the point dalam penyelesaiannya justru makin baik. Sayangnya anggapan ini kadang berbeda dengan anggapan orang kebanyakan. Seperti pendapat dari beberapa responden Hipwee yang tetap menganggap putus secara baik-baik itu lebih mudah dilalui.

“Aku lebih memilih putus baik-baik dong. Meski sebenernya nggak ada orang yang baik-baik aja saat putus. Pasti ada aja berantemnya. Tapi sebaiknya keduanya saling nerima dan menganggap kisahnya sudah masa lalu.” Yulia, 24th.

Namun ada juga yang menganggap putus secara baik-baik itu meninggalkan suatu rasa yang masih mengganjal. Mungkin saja karena masalah yang menimpa pasangan ini datang tidak secara sporadis dan salah satu pasangan memprediksikan bahwa menjalani hidup masing-masing akan lebih baik.

“Pernah si putus baik-baik. Tapi masih ngerasa ada yang ngeganjel kayak ada sesuatu yg menurut kita belum terselesaikan sih jujur aja aku mengalaminya.” Tami, 24th.

Jadi, kamu masih ingin putus baik-baik tapi sakit hatinya awet atau percaya dengan penelitian ini?

Penelitian secara ilmiah memang menggunakan prosedur-prosedur tertentu sesuai dengan standar ilmu yang berlaku agar hasilnya bisa valid. Kalau dari hasil penelitian yang pernah dilakukan sih putus secara baik-baik justru nggak sehat. Tetapi kalau menurut kalian gimana nih? Apakah putus secara baik-baik merupakan solusi dari bagaimana kita mengakhiri hubungan asmara? Sebenarnya kalau baik-baik sih nggak mungkin putus.

Kalau kamu sedang atau dalam perencanaan mengakhiri hubungan dengan pasanganmu, coba pikirkan lagi. Apakah masalahnya memang cukup besar dan cukup kuat untuk membuatmu berpisah dengannya? Kalau kamu memilih putus baik-baik dan meninggalkan tanda tanya, nggak menutup kemungkinan salah satu dari kalian justru bakalan gagal move on. Makanya, coba pertimbangkan dengan kepala dingin deh!

Tags: #agar rumah tangga tak seret rezeki #ekpetasi mertua terhadap calon menantu #ekspetasi yang tidak selalu sama antara mertua dan calon menantu #harapan mertua terhadap calon menantu