Gede Pasek Beberkan Kejanggalan Kasus Mas Bechi

76 views


I Gede Pasek Suardika, penasihat hukum terdakwa Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Mas Bechi, mengungkapkan bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam perkara pencabulan yang menjerat kliennya sumir. Karena itu dia akan mengajukan nota keberatan atau eksepsi dalam sidang lanjutan pada Senin pekan depan

Hal itu disampaikan Gede Pasek usai sidang Mas Bechi di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 18 Juli 2022. Ketidakjelasan yang pertama, kata dia, ialah soal jumlah korban. Di pemberitaan yang beredar, jumlah santri yang jadi korban disebutkan lima orang. Nyatanya di surat dakwaan korban hanya satu orang yang saat kejadian berusia 20 tahun. “Jadi kaget juga,” katanya.

Kedua, lanjut Gede Pasek, sampai hari ini pihaknya belum menerima Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari penyidik kepolisian maupun kejaksaan. “Sampai sekarang enggak ada BAP, kami minta kesulitan. Makanya kami lewat majelis hakim [meminta], teman-teman ingin peradilan berimbang, artinya pengin tahu tahapan demi tahapan makanya buka saja lah, apakah ini peristiwa nyata atau enggak nyata yang dinyatakan,” ucapnya.

Ketiga, terkait sidang yang digelar secara online. Menurut Gede Pasek, karena digelar di PN Surabaya seharusnya sidang digelar secara offline. Terdakwa Mas Bechi maupun saksi korban harus dihadirkan secara langsung di muka persidangan. Dengan begitu pembuktian bisa dilaksanakan secara maksimal sehingga duduk perkara pencabulan ini terkuak secara terang-benderang.

Advokat yang juga aktif sebagai politikus itu mengatakan bahwa pengacara dan jaksa sama-sama penegak hukum dan harus memiliki kesempatan yang sama dalam mencari keadilan. Karena itu menurutnya semua pihak harus terbuka dalam menyidangkan perkara ini. “Nanti akan saya tanggapi [dakwaan jaksa] dalam eksepsi,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Kejati Jatim Mia Amiati yang juga tergabung dalam tim JPU mengatakan bahwa pihaknya mendakwa Mas Bechi dengan pasal berlapis dengan dakwaan alternatif. Terdakwa dijerat dengan Pasal 285 KUHP tentang Pemerkosaan dan atau Pasal 289 KUHP tentang Pencabulan dan atau Pasal 294 KUHP ayat (2) Juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP. Ancaman hukuman tertinggi dari pasal-pasal itu maksimal 12 tahun penjara.

Mas Bechi terjerat perkara setelah dilaporkan ke Polres Jombang atas dugaan pencabulan pada Oktober 2019 silam. Pelapor adalah perempuan asal Jawa Tengah. Mas Bechi kemudian ditetapkan tersangka pada Desember 2019. Namun, kasus yang menarik perhatian publik tak kunjung selesai.

Polda Jatim akhirnya mengambil alih kasus itu dan Mas Bechi ditetapkan sebagai tersangka pada 2020 lalu. Tak terima, Mas Bechi mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Surabaya atas penetapan tersangkanya, namun ditolak hakim. Kasus terus bergulir dan penyidik menyerahkan berkas tahap pertama ke Kejaksaan Tinggi Jatim dan dinyatakan lengkap atau P21.

Pada Januari 2022 lalu, Mas Bechi dipanggil oleh Polda Jatim untuk menjalani proses penyerahan tahap kedua dari penyidik Polda Jatim ke Kejati Jatim. Namun, dia mangkir. Polda Jatim pun akhirnya memasukkan dirinya ke dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buronan. Dia akhirnya menyerahkan diri setelah polisi melakukan upaya penjemputan paksa di pesantren dia sembunyi, Pesantren Shiddiqiyyah, di Jombang, yang berlangsung dramatis.

Mas Bechi Minta Disidang Secara Offline, Apa Alasannya?

Pihak terdakwa Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Mas Bechi meminta sidang perkara pencabulan yang digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, dilaksanakan secara offline. Dalam sidang perdana yang digelar pada Senin, 18 Juli 2022, sidang dilaksanakan secara online dan terdakwa Mas Bechi dihadirkan secara daring dari Rumah Tahanan Klas I Surabaya di Medaeng, Kabupaten Sidoarjo.

Permintaan itu disampaikan tim kuasa hukum terdakwa Mas Bechi, I Gede Pasek Suardika dkk, kepada majelis hakim yang diketuai Sutrisno. Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Mia Amiati yang juga bergabung sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengatakan, permohonan sidang digelar secara offline itu belum dikabulkan oleh hakim. “Permintaan sidang offline disampaikan langsung [tim kuasa hukum terdakwa] di sidang tadi,” ujarnya.

I Gede Pasek Suardika mengakui soal itu. “Yang kami sesalkan kenapa harus online. Hari gini masih online, buat apa sidang dipindahkan dari Jombang ke Surabaya kalau sidang online. Kalau online tetap di Jombang, kalau di Surabaya hadirkan dong biar kita sama-sama [memperoleh] keadilan, apakah peristiwa yang didakwakan fakta atau peristiwa yang didakwakan fiktif. Kan, bisa diuji,” katanya.

Bukan hanya kliennya, Pasek juga meminta agar saksi-saksi, termasuk saksi korban, dihadirkan secara langsung ke persidangan, bukan secara daring. Apalagi, lanjut dia, sidang digelar tertutup untuk umum yang itu artinya apa yang disampaikan oleh saksi korban tidak akan diketahui publik luas. Soal itu sempat jadi perdebatan antara tim penasihat hukum dengan JPU. “Akhirnya majelis hakim menengahi masing-masing mengajukan surat dengan argumentasinya,” ujarnya.

Pasek juga mengaku keberatan dengan dakwaan jaksa. Dia menyebut dakwaan jaksa sumir. Salah satunya yang dia soroti ialah terkait jumlah korban yang di dalam surat dakwaan ternyata hanya satu orang. Hal itu, kata dia, berkebalikan dengan kehebohan di pemberitaan yang menurutnya menyebut korban lebih dari satu orang. “Nanti akan saya tanggapi [dakwaan jaksa] dalam eksepsi,” kata advokat yang juga berkecimpung di dunia politik itu.

Mas Bechi terjerat perkara setelah dilaporkan ke Polres Jombang atas dugaan pencabulan pada Oktober 2019 silam. Pelapor adalah perempuan asal Jawa Tengah. Mas Bechi kemudian ditetapkan tersangka pada Desember 2019. Namun, kasus yang menarik perhatian publik tak kunjung selesai.

Polda Jatim akhirnya mengambil alih kasus itu dan Mas Bechi ditetapkan sebagai tersangka pada 2020 lalu. Tak terima, Mas Bechi mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Surabaya atas penetapan tersangkanya, namun ditolak hakim. Kasus terus bergulir dan penyidik menyerahkan berkas tahap pertama ke Kejaksaan Tinggi Jatim dan dinyatakan lengkap atau P21.

Pada Januari 2022 lalu, Mas Bechi dipanggil oleh Polda Jatim untuk menjalani proses penyerahan tahap kedua dari penyidik Polda Jatim ke Kejati Jatim. Namun, dia mangkir. Polda Jatim pun akhirnya memasukkan dirinya ke dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buronan. Dia akhirnya menyerahkan diri setelah polisi melakukan upaya penjemputan paksa di pesantren dia sembunyi, Pesantren Shiddiqiyyah, di Jombang, yang berlangsung dramatis.

Sidang Mas Bechi Digelar di PN Surabaya, Ini Perjalanan Perkaranya

Sidang perdana untuk tersangka pencabulan Moch Subchi Azal Tsani atau Mas Bechi dijadwalkan digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, pada Senin, 18 Juli 2022. Meski digelar secara virtual, pihak pengadilan tetap meminta bantuan pengamanan dari kepolisian.

Pengamanan ekstra diperlukan karena perkara ini jadi sorotan luas dan berpotensi mengundang massa simpatisan Mas Bechi. Perkara pencabulan dengan tersangka Mas Bechi terdaftar di PN Surabaya dengan nomor perkara 1361/Pid.B/2022/PN Sby.

Tiga hakim ditunjuk untuk menangani perkara itu, yaitu Sutrisno sebagai hakim ketua dan Titik Budi Winarti serta Khadwanto sebagai hakim anggota. “Sidang tertutup untuk umum,” kata Humas PN Surabaya AA Gede Agung Parnata kepada VIVA.

Mas Bechi terjerat kasus setelah dilaporkan ke Polres Jombang atas dugaan pencabulan pada Oktober 2019 silam. Pelapor adalah perempuan asal Jawa Tengah.

Mas Bechi kemudian ditetapkan tersangka pada Desember 2019. Namun, kasus yang menarik perhatian publik tak kunjung selesai.

Polda Jatim akhirnya mengambil alih kasus itu dan Mas Bechi ditetapkan sebagai tersangka pada 2020 lalu. Tak terima, Mas Bechi mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Surabaya atas penetapan tersangkanya, namun ditolak hakim.

Kasus terus bergulir dan penyidik menyerahkan berkas tahap pertama ke Kejaksaan Tinggi Jatim dan dinyatakan lengkap atau P21.

Pada Januari 2022 lalu, Mas Bechi dipanggil oleh Polda Jatim untuk menjalani proses penyerahan tahap kedua dari penyidik Polda Jatim ke Kejati Jatim. Namun, dia mangkir. Polda Jatim pun akhirnya memasukkan dirinya ke dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buronan.

Upaya penjemputan paksa Mas Bechi dilakukan pihak kepolisian beberapa kali. Namun selalu gagal. Musabab utamanya, Mas Bechi berlindung di pesantren yang diasuh ayahnya di Ploso, Kabupaten Jombang. Pendukungnya di pesantren tersebut juga acapkali mengadang.

Pada Minggu, 3 Juli 2022, polisi yang mengendus keberadaan Mas Bechi berada di salah satu dari iring-iringan tiga mobil berusaha menghentikan dan menangkapnya di Jalan Ploso-Babat.

Namun, upaya itu dihalang-halangi oleh simpatisannya yang menumpangi Isuzu Panther. Si pengadang akhirnya bisa ditangkap, sementara Mas Bechi berhasil kabur.

Kamis, 7 Juli 2022, kepolisian lalu mengerahkan ratusan personel untuk mencari keberadaan Mas Bechi yang bersembunyi di pesantren yang diasuh ayahnya di Jombang. Lingkungan pesantren tersebut diobok-obok.

Pun, sempat terjadi gesekan karena diadang ratusan simpatisan, akhirnya Mas Bechi menyerahkan diri pada malamnya. Dia kini ditahan di Rutan Medaeng, Surabaya.