Hukum Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga

304 views


Salah satu permasalahan yang kerap terjadi terhadap pasangan suami istri pada kehidupan setelah menikah adalah keterlibatan mertua dalam rumah tangga mereka. (foto cover: ilustrasi, sumber:shutterstock)

Hal ini memang sulit dihindari. Sekalipun memutuskan ngontrak atau membeli rumah sendiri, tapi itu tak menjadi jaminan. Mertua tetap bisa mengawasi. Bahkan berusaha selalu terlibat dalam setiap masalah yang terjadi.

Nah, kira-kira bagaimana islam memandang hal tersebut? Sebenarnya bolehkah mertua ikut campur dalam rumah tangga ataukah tidak diperbolehkan? Berikut ulasannya.

Sebelum memutuskan boleh atau tidaknya, hendaknya kita mengkaji dulu tentang masalahnya. Mengapa mertua tersebut ikut campur? Apakah untuk kebaikan atau malah berunsur kebencian?

Terkadang keterlibatan mertua dalam rumah tangga bisa diartikan menjadi nasehat, bisapula sebagai rasa iri. Ini bergantung pada presepsi masing-masing.

Apabila mertua ikut campur dalam hal kebaikan, misalnya:

  • Menasehati menantunya tentang ilmu agama
  • Mengajari cara memasak atau mengurus anak
  • Menjelasakan tentang kewajiban suami terhadap istri dalam Islam tanpa menggurui
  • Menjelaskan peran wanita dalam Islam, fungsi ibu rumah tangga dalam Islam dan kewajiban wanita setelah menikah.
  • Sekedar memberikan saran atas masalah yang terjadi, tapi tidak memaksa
  • Serta menjadi tempat keluh kesah

Maka tindakan-tindakan tersebut diperbolehkan. Sebab pasangan yang baru menikah juga belum terlalu mengerti tentang kehidupan rumah tangga, jadi mereka butuh bimbingan untuk menghindari perceraian.

Sebaliknya, jika mertua ikut campur secara berlebihan. Misalnya saja setiap hari datang ker rumah anaknya, merasa berkuasa atas anaknya, merendahkan dan menganggap menantunya tidak becus, atau bahkan selalu terlibat dalam setiap masalah maka itu hukumnya tidak diperbolehkan.

Di dalam ajaran islam, pasangan yang telah menikah lebih dianjurkan untuk tinggal di rumah sendiri guna menghindari konflik dengan mertua. Tidak apa-apa walau hanya ngontrak rumah kecil, yang terpenting istri tidak tertekan.

Dengan ngontrak rumah maka pasangan bisa belajar hidup mandiri, berjuang dari awal secara bersama-sama dan menciptakan kehidupan yang islami. Tapi demikian anak tetap wajib berbakti pada orang tua.

Jadi walau telah menikah tidak boleh melupakan orang tua. kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah dan kewajiban anak perempuan terhadap orang tua setelah menikah adalah tetap harus sering mengunjungi dan memperhatikan kedua orang tuanya ataupun mertua.

Batasan Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga

Beberapa pendapat mengatakan bahwa tidak mengapa mertua ikut campur dalam rumah tangga asalkan itu dalam hal kebaikan. Apabila mertua memang punya niat baik, pasti beliau tidak akan memihak. Entah itu anaknya atau menantu, mana yang benar pasti dibela. Mertua harus bersikap adil.

Begitupun dengan menantu, hendaknya menyayangi mertua sebagaimana kasih sayangnya terhadap orang tua. Menyenangkan hati mertua sama halnya dengan membahagiakan suami. Dan dalam islam, istri yang dapat membuat suami bahagia maka akan diberikan pahala berlipat ganda. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist shahih:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah wanita yang paling baik? Jawab beliau, ‘Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai)

Cara Menyikapi Mertua yang Selalu Ikut Campur

Sebenanarnya perilaku mertua ikut campur dalam rumah tangga bukanlah hal baru. Ini sudah sering terjadi dan bisa dikatakan cukup wajar. Lalu bagaimana sikap kita sebagai menantu untuk menghadapinya? Berikut ini ulasannya!

1. Jangan Dibalas dengan Kejahatan

Apabila mertua melakukan hal-hal yang membuat hati kita jadi sakit, misalnya selalu mengeluh terhadap perbuatan kita, memerintahkan ini itu tiada henti, banyak menuntut dan sejenisnya. Maka jangan dibalas dengan kejahatan juga.

Islam memerintahkan agar kejahatan dibalas dengan kebaikan. Mintalah petunjuk kepada Allah ta’ala. Perbanyak berdoa dan Anda bisa mendiskusikan baik-baik dengan suami. Namun bila sudah tidak tahan, Anda boleh bercerita kepada orang tua.

2. Tinggal Terpisah

Tinggal di rumah terpisah adalah cara terbaik untuk menghindari konflik dengan mertua. Setidaknya jika Anda berumah tangga sendiri, kemungkinan mertua ikut campur lebih minim. Selain itu, Anda juga lebih bebas mengatur kehidupan Anda sendiri tanpa ada rasa sungkan.

Sekali lagi, tindakan ini bukan berarti memisahkan suami dari orang tuanya. Toh, Anda juga sudah berani meninggalkan rumah. Kalian bisa mencari kontrakan atau kos-kosan yang letaknya berdekatan dengan orang tua. Jadi bisa sering-sering berkunjung.

3. Berusaha Memahami Keinginan Mertua

Daripada terus mengeluh atas tindakan mertua, mengapa Anda tidak mencoba memahami keinginannya? Cobalah memposisikan diri Anda sebagai anaknya. Bayangkan beliau adalah orang tua Anda. Dengan begitu akan terjalin ikatan yang kuat dari hati ke hati.

Apabila beliau melakukan sedikit kesalahan, misal ucapannya menyakiti hati Anda maka maklumi saja. Cari tahu apa yang diinginkan beliau. Coba dekati secara perlahan, curi perhatiannya dan berusahalah menjadi pribadi yang ramah.

4. Berbicara Dengan Suami

Apabila Anda masih bingung apa yang diinginkan mertua atau mungkin Anda merasa tidak nyaman, maka cobalah berdiskusi dengan suami.

Ceritakan tentang apa yang terjadi, perasaan Anda, dan apa yang Anda mau. Cobalah membuat keputusan yang adil dan tidak mendzolimi salah satu pihak.

Sebagai suami, tentunya punya tanggung jawab yang besar atas kebahagiaan istri. Suami harus bisa melindungi istrinya sekaligus berbakti pada orang tua. Suami juga tidak boleh memihak. Mana yang benar itulah yang harus dibela.

5. Mengajak Mertua Sama-Sama Belajar Agama

Tak ada salahnya sesekali mengajak mertua untuk ikut kajian agama. Anda bisa berbicara dengan sopan dan santun. Bilang saja Anda ingin jalan-jalan bareng selagi ada waktu senggang.

Aktivitas ini bisa mendekatkan hubungan Anda dengan mertua. Selain itu, dengan belajar ilmu agama maka mertua juga akan lebih mengerti tentang bersikap sesuai syariat islam. InsyaAllah berkah sebab tujuan Anda juga baik.

6. Berbicara dengan Orang Tua

Apabila masalah sudah terlalu runyam, dan Anda tidak mampu menyelesaikannya sendiri. Sementara suami juga berpihak pada mertua. Maka tak ada jalan lain kecuali Anda meminta bantuan kepada orang tua.

Saat menjelaskan masalahnya kepada orang tua jangan sambil marah-marah, karena itu bisa menyulut emosi mereka. Ujung-ujungnya malah bertengkar. Jadi lebih baik ceritakan dengan baik-baik, gunakan bahasa yang sopan. Sebisa mungkin cobalah menyelesaikan masalah dengan cara yang damai.

Oiya, Anda juga perlu tahu bahwa menikah itu perjuangan dan pengorbanan. Tidak ada pernikahan yang cuma senang-senang aja. Pastilah ada masalah.

Namun bila kedua pasangan bisa tetap berkomitmen, memegang teguh agama dan bersikap saling percaya maka insyaAllah segala permasalahan bisa dilalui dengan baik.

Jangan takut menikah sebab menikah itu ibadah. Selain itu, setiap manusia memang sudah diciptakan berpasangan. Menikah bisa membuat hati lebih tenang dan menghindarkan dari perbuatan zina. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui.” (QS. an-Nuur: 32).

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik …” (Qs. an-Nahl: 72).

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pernah Terlibat Dalam Masalah Rumah Tangga Anaknya

Adanya batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya, bukan berarti mereka tidak boleh ikut campur sama sekali. Kita bisa melihat dari kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang pernah terlibat dalam pertikaian anaknya, Siti Aisyah radiyaallahu anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Diceritakan bahwa suatu hari Aisyah radiyaallahu anha bertikai dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sebab tertentu. Nabi pun mengusulkan untuk memanggil Abu Bakar sebagai penengah atas konflik yang terjadi. Dan Aisyah menyetujuinya.

Saat Abu Bakar tiba, ia mengetahui bahwa Aisyah telah berbicara dengan nada keras kepada Rasulullah SAW. Hal itu membuat Abu Bakar murka dan hendak menampar muka Aisyah.

Hal itu membuat Aisyah merasa ketakutan, lalu bersembunyi di balik tubuh Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi pun memaafkan Aisyah. Beliau malah tersenyum dan berbicara baik-baik dengan Abu Bakar agar memaklumi Aisyah.

Selang beberapa hari, Abu Bakar datang kembali ke rumah Aisyah. Beliau merasa khawatir atas pertikaian yang telah terjadi, namun tampaknya Aisyah dan Nabi telah berbaikan bahkan bercanda bersama. Hal itu lantas membuat Abu Bakar menjadi senang.

======

5 Manfaat Belut untuk MPASI Anak

Meski daging belut tidak setenar daging sapi, ikan, dan ayam, ada banyak manfaat belut untuk MPASI anak yang sayang untuk dilewatkan, lho, Bun. Selain baik untuk kesehatan anak, belut juga memiliki aneka nutrisi dan rasa yang lezat.

Bila dilihat sepintas, belut memang hampir mirip dengan ular, ya, Bun. Namun, Bunda perlu tahu, bahwa hewan licin ini masih termasuk ke dalam golongan ikan. Sama seperti ikan, belut memiliki segudang nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh anak.

Kandungan Nutrisi Belut

Dalam 100 gram daging belut, terdapat sekitar 185 kalori dan beragam nutrisi berikut:

  • 18,5 gram protein
  • 11,5–12 gram lemak
  • 270 miligram kalium
  • 20 miligram kalsium
  • 4 miligram vitamin E
  • 500 IU vitamin A
  • 900 IU vitamin D
  • 15 mikrogram folat
  • 6,5 mikrogram selenium
  • 1,5 miligram zinc

Tak hanya itu, belut juga mengandung nutrisi lain, seperti kolin, magnesium, fosfor, dan vitamin B. Belut juga mengandung asam lemak omega-3, tapi jumlahnya lebih sedikit daripada jenis ikan lain. Meski demikian, kandungan merkuri pada belut tergolong rendah, sehingga aman dan sehat bagi anak-anak.

Manfaat Belut untuk MPASI Anak

Sejak berusia 6 bulan, anak sudah bisa diberikan makanan pendamping ASI atau MPASI. Saat memberikan MPASI, Bunda sangat dianjurkan untuk memberikan makanan yang bergizi seimbang. Salah satunya adalah belut.

Berkat kandungan nutrisinya yang melimpah, mengonsumsi belut bisa memberikan beragam manfaat kesehatan, di antaranya:

1. Meningkatkan daya tahan tubuh

Kandungan protein, folat, vitamin A, vitamin D, dan vitamin E, serta beberapa mineral, seperti zinc dan selenium, pada belut memiliki peranan besar dalam meningkatkan daya tahan tubuh anak. Dengan memberikan Si Kecil makanan bergizi seperti belut, daya tahan tubuhnya akan lebih kuat, sehingga ia pun akan lebih jarang sakit.

Imunitas tubuh yang kuat pada anak juga penting untuk dijaga, agar ia dapat terhindar dari berbagai virus dan kuman penyebab penyakit, seperti flu atau virus Corona.

2. Memperkuat kesehatan tulang dan gigi

Manfaat belut untuk MPASI anak selanjutnya adalah bisa memperkuat kesehatan tulang dan giginya, Bun. Ini karena belut mengandung nutrisi yang baik untuk kesehatan dan pembentukan jaringan tulang serta gigi anak, seperti vitamin D, kalsium, kalium, fosfor, dan protein.

Selain mengonsumsi belut, agar kesehatan tulang dan gigi buah hati tetap terjaga dengan baik, Bunda juga dianjurkan untuk rutin memberikan susu, keju, sayuran berdaun hijau, serta beragam jenis ikan. Dengan asupan nutrisi yang tercukupi, Si Kecil juga akan berisiko lebih rendah untuk mengalami stunting.

3. Mencegah anemia

Anemia atau kurang darah merupakan salah satu penyakit yang bisa menghambat proses tumbuh kembang anak, terlebih jika penyakit ini tidak diobati dengan baik. Agar terhindar dari anemia, anak-anak perlu diberikan makanan yang mengandung zat besi, folat, dan vitamin B12. Salah satunya adalah belut.

Zat besi, folat, dan vitamin B12 yang terdapat pada belut memiliki peran penting dalam proses pembentukan hemoglobin dan sel darah merah. Jika jumlah sel darah merah dan hemoglobin dalam tubuh Si Kecil tercukupi, ia tidak akan mudah terkena anemia.

4. Memelihara kesehatan mata

Belut merupakan salah satu sumber vitamin A dan kolin yang sangat baik untuk kesehatan mata. Dengan tercukupinya kedua asupan nutrisi tersebut, pertumbuhan dan fungsi mata anak akan terjaga.

Selain itu, vitamin A juga berperan cukup besar pada proses pertumbuhan sel dan jaringan tubuh, terutama dalam menjaga kesehatan rambut, kuku, dan kulit.

5. Mendukung proses tumbuh kembang

Karena kandungan gizinya yang melimpah, belut juga baik diolah menjadi MPASI yang dapat mendukung proses tumbuh kembang anak. Kandungan nutrisi pada hewan ini juga bisa mencukupi asupan nutrisi harian yang dibutuhkan oleh Si Kecil.

Bahkan, asupan protein, kolin, folat, dan omega-3 dari belut baik untuk mendukung perkembangan otak. Selain itu, belut bisa menjadi sumber energi untuk mendukung Si Kecil beraktivitas setiap hari.

Itulah beragam manfaat belut untuk MPASI anak. Sumber protein hewani ini juga bisa diolah menjadi aneka hidangan, seperti sushi, rendang, belut goreng kriuk, abon, atau dibuat menjadi tumisan, yang tentunya akan disukai Si Kecil.

Namun, sebelum memasukkan belut ke dalam menu MPASI anak, pastikan Bunda mengolahnya hingga benar-benar matang, ya. Selain itu, pastikan pula bahwa Si Kecil tidak mengalami alergi belut.

Jika Si Kecil mengalami gejala tertentu setelah makan belut, misalnya gatal-gatal dan ruam di kulit, mual, muntah, sakit perut, diare, atau sesak napas, segera bawa ia ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Tags: #manfaat belut untuk MPASI anak #mertua ikut campur urusan rumah tangga