Hukum Shalat Orang Bertato yang Sudah Bertaubat

508 views


Tentang hukum mentato badan, semua ulama sepakat bahwa itu haram. Alasannya karena itu adalah upaya merubah ciptaan Allah dan merupakan akitifitas tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir). Lantas bagaimana jika seseorang sudah terlanjur ditato badannya, kemudian ia bertaubat dan ingin melaksanakan shalat, apakah shalatnya sah?

Di dalam sebuah hadits rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan dari ummatku, kesalahan, kelupaan dan segala sesuatu yang dipaksakan atasnya.” (HR. Hakim dari Ibnu Abas).

Menato badan hukumnya memang haram, bukan berarti orang yang bertato tidak wajib shalat. Mungkin ada yang beralasan tidak sah shalat orang yang bertato karena tato dianggap menghalangi air ke kulit ketika bersuci (wudhu dan mandi junub), sehingga bersucinya tidak sah. Sekilas memang pernyataan ini benar, padahal tidak tepat.

Sebab,

Allah maha menerima taubat hambanya,
Shalat lima waktu hukumnya wajib,
Kalau menghapus tato itu mudah dan tanpa menyakiti badan maka harus dihapus, tetapi kalau menghapusnya harus dengan menyakiti badan, dengan disetrika misalnya, atau dengan memberikan cairan yang menimbulkan rasa sangat sakit, tentu ini justru perbuatan yang dilarang dalam islam, karena Allah berfirman “Dan janganlah kalian melemparkan diri kalian dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah:195).

Ada beberapa kaidah ushul yang membenarkannya, diantaranya;
Meninggalkan syarat lebih baik daripada meninggalkan kewajiban,
Apabila terdapat dua bahaya dalam dua pilihan, maka pilihlah bahaya yang lebih ringan.

Berdasarkan beberapa alasan diatas, maka orang yang terlanjur bertato kemudian ia bertaubat dengan taubatan nashuha lalu melaksanakan shalat maka insayaAllah taubat dan shalatnya diterima oleh Allah swt.

Di samping itu semua bahwa islam adalah agama rahmatan lil alamin, agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan tidak ada ajarannya yang bertentangan dengan akal sehat. Betapa sulitnya manusia, sekiranya keinginan kuatnya ingin bertaqarrub kepada Allah tidak bisa tercapai hanya gara-gara tato yang sulit dihapus. Padahal Allah maha pengampun, maha pemaaf dan maha menerima taubat.

Wallahu A’lam

======

Cara Mengganti Sholat yang Ditinggalkan Dengan Sengaja Puluhan Tahun

Shalat dalam sebuah hadis diibaratkan sebagai tiang agama, artinya orang yang mendirikan shalat berarti ia telah mendirikan agama, begitu pula orang yang meninggalkannya berarti ia merobohkan tiang itu. (foto cover: ilustrasi, sumber)

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Sungguh hal yang pertama dimintai pertanggungjawaban dari seorang hamba kelak di hari kiamat adalah shalat, jika salatnya bagus beruntunglah ia, jika tidak, merugilah ia”

Maka sebagai seorang muslim kita harus memperhatikan betul perihal shalat.

Seseorang mulai berkewajiban salat sejak ia baligh. Maka dia wajib mengganti (qadha’) shalat yang ia tinggalkan setelah baligh.

Namun banyak sekali orang yang kurang memperhatikan shalatnya ketika awal masa baligh, dan baru menyadari kesalahannya tersebut setelah beranjak dewasa. Bahkan ada juga yang baru tahu bahwa shalat yang ditinggalkan wajib diganti. Disengaja atau tidak, shalat yang ditinggalkan tetap diwajibkan untuk menggantinya. Lalu, bagaimana cara men-qadha’-nya?

Dalam hal ini ada tiga pokok pembahasan. Pertama, terkait jumlah shalat yang wajib dia qadha’. Dia wajib men-qadha’ semua shalat yang pernah ia tinggalkan, bagaimana jika lupa jumlahnya? Ia wajib men-qadha’ atau melakukan shalat lagi sebagai pengganti shalat yang ditinggal, hingga ia yakin sudah tidak ada lagi shalat yang belum ia qadha’. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib Al-Arba’ah:

“Seseorang yang mempunyai tanggungan salat dan dia tidak tahu jumlahnya, dia wajib meng-qadha’ hingga yakin tanggungannya sudah terpenuhi, ini menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan menurut mazhab Maliki dan Hanafi cukup dengan adanya dugaan kuiat, meski tidak sampai taraf yakin”

Kedua, waktu men-qadha’. Banyak ulama’ yang berpendapat bahwa seseorang yang meninggalkan shalat tanpa udzur tidak boleh melakukan apapun selain meng-qadha’ shalat, ia hanya diperbolehkan melakukan aktifitas lain untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Hal ini sangat berat dilakukan kebanyakan orang. Namun, ada pendapat dari Al-Imam Abdullah Al-Haddad yang bisa dijadikan solusi. Sebagaimana dikutip dalam Bughyah al-Musytarsyidin:

“Sebagian dawuh Al-Habib Abdullah Al-haddad: seseorang yang taubat wajib meng-qadha’ kewajiban shalat, puasa, zakat yang pernah ia tinggalkan. Kewajiban ini dilakukan semampunya. sehingga ia tidak merasa sulit dan keberatan, namun juga tidak boleh sampai menganggap sepele. Pendapat ini -seperti yang anda lihat- lebih utama dari pendapat ulama yang mengatakan tidak boleh melakukan apapun selain men-qadha’ shalat, ia hanya diperbolehkan melakukan aktifitas lain untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Karena sulit diamalkan”

Maka berdasarkan pendapat ini, ia tidak harus menghabiskan seluruh waktunya untuk men-qadha’, ia cukup men-qadha’ semampunya, namun tidak sampai mengangap sepele tanggungan tersebut.

Jika lelah, ia boleh beristirahat dan melanjutkannya ketika sudah segar kembali.

Ketiga, cara men-qadha’. Cara men-qadha’ shalat adalah dengan melakukan shalat seperti biasa, namun ada sedikit perbedaan dalam niat, tergantung shalat apa yang akan di-qadha‘. Contoh niat shalat qadha’ adalah sebagaimana berikut:

Keempat, waktu men-qadha’ tidak terikat waktu. Men-qadha’ salat ashar dapat dilakukan di waktu dzuhur atau waktu yang lain.

======

Ada yang Pura-pura Bahagia di Depan Orang Lain, Tapi Saat Sendiri Dia Menangis Sejadi-jadinya

Jangan kamu pikir dia yang begitu sumringah menampakkan senyum bahagia adalah benar orang paling bahagia dalam hidup ini, karena terkadang semua itu hanyalah polesan.

Sebab tidak jarang orang yang memilih untuk bahagia di depan orang lain, dengan sekedar tak ingin membagi kesedihannya, dia tidak ingin orang lain khawatir, tapi saat dia sendirian maka tangispun menjadi teman paling setia.

Ada yang Berusaha Berdamai Dengan Keadaan Hati yang Kalut, Padahal Hati Terasa Menyesakkan

Iya, ada yang berusaha berdamai dengan keadaan hati yang kalut, dia menampakkan senyum terbaiknya, padahal sebenarnya dalam hatinya terasa sangat menyesakkan.

Ada yang Berusaha Tertawa di Depan Ornag Lain, Sekedar Melindungi Dirinya Agar Tak Dianggap Lemah

Ada juga yang berusaha baik-baik saja, tertawa di depan orang lain dengan begitu hebatnya, seakan tak ada beban, seakan benar-benar tenang, tapi hanya sekedar melindungi dirinya dari padangan lemah.

Ada yang Berusaha Menampakkan Senyum Bahagianya, Padahal Kadang Dia Sedang Sangat Tidak Ingin Tersenyum

Ada yang berusaha menampakkan senyum bahagianya, seakan-seakan benar tak adabeban, padahal kadang dia sedang sangat tidak ingin tersenyum, namun harus dipaksa.

Ada yang Berusaha Baik-baik Saja Meski Menyakitkan, Padahal Hatinya Ingin Sekali Berteriak Lantang

Ada juga yang berusaha baik-baik saja meski sangat menyakitkan, padahal hatinya ingin sekali berteriak lantang, ingin sekali memaki sakit, dan benar sangat tersiksa

Tetapi Saat Dia Sendirian, Hanya Berteman Dengan Sujud, Dia Menangis Sebanyak-Banyaknya Meminta Kekuatan Pada Allah

Akan tetapi dikehidupan nyatanya, saat sudah sendirian, hanya berteman dengan sujud, hanya berteman dengan sepi, dia menangis sejadi-jadinya kepada Allah, dia menangis sebanyak-banyaknya meminta untuk tetap dikuatkan dalam masalahnya.

Tags: #bertato tapi sudah bertaubat #hukum sholat bertato #mengganti sholat yang ditinggalkan #pura pura bahagia didepan orang lain