Ibu Indah Permatasari Masih Kecewa dengan Anaknya dan Arie Kriting, Ingin Masukkan Dalam Perut Lagi


Aktris Indah Permatasari sampai saat ini masih belum memperoleh restu dari ibunya, Nursyah Mustamim meski sudah menikah dengan Arie Kriting sejak 2021. Indah seakan tidak mengindahkan keberadaan Nursyah sehingga sang ibu merasa sangat kecewa.

Terbaru, Nursyah enggan menyambut kedatangan Indah saat pulang ke kampung halamannya. Nursyah bahkan tak segan menyampaikan kata-kata tajam sebagai seorang ibu yang dibuat sakit hati oleh anaknya.

Seperti apa ungkapan kekecewaan Nursyah Mustamim terhadap Indah Permatasari yang memilih menikah dengan komedian Arie Kriting? Simak sampai habis berita ini ya guys.

Nursyah Ingin Masukkan Indah Permatasari ke Perutnya Lagi

Sebagai seorang ibu yang telah mengandung Indah Permatasari selama sembilan bulan, kemudian membesarkannya, Nursyah Mustamim begitu kecewa dengan anaknya. Sebab Indah tetap melangsungkan pernikahan dengan Arie Kriting meski tidak direstuinya.

Sejak pernikahannya dengan Arie Kriting 12 Januari 2021 silam, sampai saat ini hubungan Indah dengan sang ibu masih merenggang. Terbaru, sang ibu mengungkapkan kalimat sakit hati sambil menahan tangis.

“Kalau mau ditarik kembali ya kepingin saya itu tarik masuk kembali di perut itu anak,” kata Nursyah Mustamim dikutip Zigi.id dari akun YouTube Indosiar, Rabu, 23 Februari 2022.

Nursyah menambahkan, ia cukup menyesali keputusannya mendukung Indah Permatasari pindah ke Jakarta. Dia menyebut, anaknya sebenarnya bisa berkarier di Makassar, Sulawesi Selatan, tempat ia dilahirkan.

“Saya itu sakit, anak baik dia itu (Indah Permatasari). Kok dikasih begini ini saya dengan anak saya,” tambah Nusyah Mustamim.

Ingin Anaknya Dirukiah

Selain ingin Indah Permatasari ditarik lagi ke perutnya, Nursyah juga menyampaikan bahwa masih ada keinginannya yang sampai kini belum dipenuhi. Ia ingin segera merukiah Indah Permatasari namun hal itu terhalang dengan keputusan Arie Kriting.

“Permintaan saya kan Indah di rukiah. Awalnya Indah sudah mau dirukiah, Indah dirukiah kalau laki-laki itu tidak berbuat seperti yang saya tuduh saya curigai. Kan tidak diiyakan, malah dipercepat kawinnya kan,” ujar Nursyah Mustamim.

Nursyah melanjutkan, ia sangat rindu dengan Indah Permatasari yang dulu ia rawat dan besarkan. Saking kecewanya, Nursyah kini enggan menyambut kepulangan Indah ke kampung halaman meski sudah lama tidak bersua.

Ia saat ini lebih memilih sibuk mengurusi tanaman di rumahnya daripada memikirkan sang anak yang sudah pergi dengan Arie Kriting. Bahkan ketika Indah mengirim beberapa tukang untuk memasang kitchen set, Nursyah tidak mempedulikannya.

“Saya lihat, karena ada berapa orang (tukang). Saya duduk di situ di samping itu, tidak ditanya mau apa, saya lihat saja orang wara-wiri saya tidak ditanya juga, mengukur-mengukur ya saya lihat saja, karena memang tidak ditanya,” ucap Nusryah Mustamim.

Muliakan Orang Tuamu Sebelum Terlambat

Di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan.

Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun.

Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata: “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah”

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah.

Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

‘Orang tua’ bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat usang atau tidak berdaya. Segenap jiwa orang tua adalah untuk melihat anaknya mendapatkan kebahagiaan yang layak mwskipun mereka yang harus menderita.

Bagi mereka, kesuksesan seorang anak adalah kesuksesan orang tua dalam mendidik anaknya dan kegagalan anaknya adalah kegagalan mereka dalam mendidik anaknya. setiap seluk beluk kehidupan orang tua berpusat pada bagaimana sang anak bisa sukses.

Ridho Ibu merupakan Ridho Allah

Ibu adalah sosok yang sangat penting dalam hidup kita. Ia yang mengandung dan melahirkan kita. Sehingga, kita bisa berada di dunia ini, itu melalui pengorbanannya. Maka, tak heran jika kita mendengar ungkapan bahwa ridho Allah merupakan ridho Ibu. Maka, meski kita beriman, jika taka da ridho ibu, hanya sia-sia belaka. Sebagaimana kebenaran ini telah dibuktikan oleh lelaki pada masa Rasulullah SAW ni.

Ada satu cerita di zaman Rasulullah yang menceritakan betapa dahsyatnya doa seorang ibu bagi anaknya. Cerita ini menceritakan Al-Qamah yang sedang sakit dan dalam keadaan sekarat. Istri Al-Qamah mendatangi Rasulullah dan mengabarkan bahwa suaminya sakit keras. Rasulullah mengutus ketiga sahabatnya untuk menjenguknya dan melihat keadaannya.

Al-Qomah dalam keadaan koma dan meskipun sahabat Rasululllah telah membacakan ayat-ayat suci Al-Quran tetapi keadaannya tetap tidak ada perubahan. Dan mulut Al-Qomah seakan terkunci tidak dapat menyebut asma Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketiga sahabat Nabi pun mendatangi Rasulullah dan mengabarkan akan keadaan Al-Qomah yang semakin memprihatinkan karena kesakitan sekarat dan tidak kunjung meninggal juga.

Rasulullah akhirnya menemui Al-Qomah dan bertanya kepada istrinya apakah ibu Al-Qomah masih hidup. Istri Al-Qomah menjelaskan bahwa ibunya masih hidup dan tinggal jauh dari mereka. Rasulullah akhirnya mengajak para sahabat untuk menemui ibu Al-Qomah untuk mengabarkan keadaan anaknya saat ini.

Sesampainya di rumah ibu Al-Qomah, Rasulullah menceritakan keadaan Al-Qomah kepada ibunya tetapi sang ibu seakan tidak peduli dengan keadaan anaknya tersebut. Ibu Al-Qomah ternyata telah dikecewakan oleh anaknya semenjak dirinya memiliki seorang istri dan Al-Qomah selalu menyakiti hatinya. Rasa sakit hati dan kecewa yang dirasakan ibu Al-Qomah membuatnya tidak ingin memaafkan anaknya tersebut.

Rasulullah menasihati ibu Al-Qomah untuk memaafkan anaknya karena jika tidak mendapatkan maaf maka Al-Qomah akan terus kesakitan dan tidak akan meninggal dengan tenang. Jika ibu Al-Qomah tetap bersikeras tidak ingin memaafkan anaknya maka Rasululllah akan membakar Al-Qomah dengan kayu bakar agar cepat meninggal dan terbebas dari semua penderitaannya saat ini.

Mendengar penuturan Rasulullah, akhirnya ibu Al-Qomah bersedia untuk memaafkan semua kesalahan dan dosa anaknya. Sehingga Al-Qomah dapat meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dengan menyebut asma Allah. Inilah keajaiban doa seorang ibu.

Cerita di atas merupakan cerminan dan gambaran bagaimana dahsyatnya keridhoan ibu terhadap anaknya. Ridho seorang ibu merupakan ridho Allah. Dan kemurkaannya merupakan murka Allah. Jadi sebagai seorang anak, janganlah sekali-kali menyakiti hati seorang ibu dan teruslah menghormati serta menyayangi mereka dengan sepenuh hati.