Istri Ungkap Keinginan Terakhir Ameer Azzikra

283 views


Istri Ameer Azzikra, Nadzira Shafa mengungkap keinginan terakhir sang suami sebelum meninggal dunia. Nadzira menyebut Ameer sangat ingin istrinya menguasai terapi bekam.

“Dia suruh aku belajar (terapi bekam),” ujar Nadzira Shafa, usai acara pemakaman Ameer Azzikra di Pondok Pesantren Az-Zikra, Gunung Sindur, Bogor, Senin (29/11/2021).

Nadzira Shafa menceritakan, Ameer Azzikra senang bila istrinya bisa menguasai teknik terapi bekam. Sayangnya, tidak dijelaskan Nadzira kenapa Ameer mendambakan hal itu.

“Pokoknya Bang Ameer bangga kalau aku bisa ngebekam,” kata Nadzira Shafa.

Yang pasti, Nadzira Shafa ingin menghidupkan keinginan Ameer Azzikra yang belum tercapai hingga akhir hayat. Hanya dengan cara itu Nadzira merasa bisa menyenangkan Ameer, yang kini tak bisa lagi ia sentuh.

“Insya Allah aku belajar, biar Bang Ameer bangga di sana,” tutur Nadzira Shafa.

Ameer Azzikra meninggal dunia, Senin (29/11/2021) sekitar pukul 01.05 WIB di RS EMC, Sentul, Jawa Barat. Ameer berpulang di usia 20 tahun usai dirawat sejak 24 November 2021 akibat infeksi liver dan paru-paru.

“Awalnya radang, tapi enggak sembuh-sembuh,” ucap Nadzira Shafa.

Masih yakin suaminya tidak mengidap penyakit serius, Nadzira Shafa ternyata harus menghadapi kenyataan berbeda. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Ameer mengalami gangguan kesehatan yang butuh penanganan lanjutan.

“Habis itu ya sudah, mulai trombosit-nya. Waktu pertama masuk, itu sekitar 300 ribu. Tapi pas masuk ICU, cuma 30 ribu,” imbuh Nadzira Shafa.

Oleh keluarga, jenazah Ameer Azzikra dimakamkan berdekatan dengan mendiang ayahnya, Ustaz Arifin Ilham di Pondok Pesantren Az-Zikra, Gunung Sindur, Bogor.

Bikin Nangis, Istri Akui Sudah Ikhlaskan Kematian Ameer Azzikra

Nadzira Shafa mengeluarkan isi hatinya setelah ditinggal sang suami, Ameer Azzikra untuk selama-lamanya.

Lewat unggahan di Instagram pada Senin (29/11/2021), dia memposting foto saat pernikahan sampai bulan madu bareng almarhum.

Di bagian caption, Nadzira Shafa menyebut kalau adik Alvin Faiz itu adalah hadiah terindah dalam hidupnya.

“Sayang, kamu hadiah terindah dalam hidupku, seperti kataku bahwa hidupku selalu banyak kejutan,” ujar Nadzira Shafa.

Dia tidak memungkiri kalau sangat terpukul atas kematian Ameer Azzikra. Hanya saja, Nadzira Shafa mengaku sudah ikhlas melepas kepergian sang suami.

“Dan kepergianmu sungguh itu menyakitkan. Tapi aku ikhlas Allah kirim aku untuk membuatmu bahagia sebelum kamu pulang,” tutur Nadzira Shafa.

“Dan Allah kirim kamu untuk aku terus belajar untuk ikhlas, dan selalu tabah,” sambungnya lagi.

Meskipun terbilang singkat, Nadzira Shafa tetap menikmati merajut rumah tangga bersama anak Ustaz Arifin Ilham tersebut.

“Enam bulan yang cukup singkat tapi sunggguh aku bahagia. Selamat jalan suamiku. Sampai bertemu disisi yang lain,” terangnya.

Ameer Azzikra meninggal dunia dini hari tadi di RS EMC, Sentul, Jawa Barat pada pukul 01.05 WIB. Dia wafat di umur 20 tahun usai dirawat sejak 24 November 2021 akibat infeksi liver dan paru-paru.

Jenazah Ameer Azzikra sudah dimakamkan di Pondok Pesantren Az-Zikra, Gunung Sindur, Bogor berdekatan dengan mendiang ayahnya, Ustaz Arifin Ilham.

Ameer Azzikra Juga Sempat Sakit Paru-Paru, Ini Hubungannya dengan Penyakit Hati!

Ameer Azzikra meninggal dunia karena penyakit liver pada Senin (29/11/2021) sekitar pukul 01.05 WIB di RS EMC, Sentul, Jawa Barat. Selain liver, mantan manajer Ameer Azzikra, Adit mengatakan anak ustad Arifin Ilham itu juga menderita penyakit paru-paru.

“Yang saya dapat, juga ada masalah paru-paru,” ujar Adit usai acara pemakaman Ameer Azzikra di Pondok Pesantren Az-Zikra, Gunung Sindur, Bogor, Senin (29/11/2021).

Adit mengatakan penyakit paru-paru ini membuat kesehatan Ameer Azzikra semakin terganggu. Kondisi tubuhnya yang besar membuat Ameer Azzikra susah bernapas.

“Ini sudah tiga kali masuk rumah sakit. Sebelumnya masuk tanggal 17, terus masuk lagi Rabu kemarin,” ucap Adit.

Banyak orang mungkin belum menyadari hubungan antara liver dan penyakit paru-paru. Beberapa kondisi paru terjadi terkait dengan penyakit hati yang mendasarinya.

Karena, asites meningkatkan diafragma dan menyebabkan atelektasis basilar, yang berkontribusi terhadap dispnea dan hipoksia ringan. Beberapa pasien dengan asites memiliki defek diafragma yang memungkinkan cairan asites mengalir ke dada, menyebabkan efusi pleura yang disebut hidrotoraks.

Namun dilansir dari Pulmonology Advisor, komplikasi paru yang lebih serius dari penyakit hati, yakni sindrom hepatopulmoner (HPS) dan sindrom portopulmoner (PPH) yang mempengaruhi pembuluh darah paru.

HPS ditandai dengan gangguan oksigenasi dalam penyakit hati kronis dan akut. Kondisi ini didefinisikan oleh kombinasi penyakit hati, peningkatan gradien alveolar-arteri dengan gangguan oksigenasi arteri, dan dilatasi pembuluh darah intrapulmoner pada tingkat kapiler dan pra-kapiler.

HPS terjadi pada 4-47 persen pasien dengan penyakit hati yang dirujuk ke pusat transplantasi hati dan terjadi pada berbagai etiologi penyakit hati, terlepas dari ada atau tidak adanya hipertensi portal. Tapi, tingkat keparahan penyakit hati yang mendasari tidak bisa memprediksi adanya HPS atau tingkat hipoksemia terkait.

Pasien HPS juga biasanya mengalami dyspnea, platypnea, hipoksemia istirahat, sianosis progresif, dan ortodeoksia. Platypnea dan orthodeoxia mengacu pada dispnea dan desaturasi oksigen arteri.

Sementara itu, PPH didefinisikan dengan adanya hipertensi pulmonal dan peningkatan resistensi pembuluh darah paru pada pasien yang memiliki penyakit hati dan hipertensi.

Kebanyakan pasien didiagnosis dengan PPH pada pemeriksaan ekokardiografi selama evaluasi untuk transplantasi hati. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan komponen pulmonal yang keras dari bunyi jantung kedua dan tanda-tanda lain dari hipertensi pulmonal pada kasus yang parah.

Hipertensi pulmonal ini dapat membaik atau sembuh setelah transplantasi hati, tetapi beberapa pasien mungkin masih memerlukan terapi vasodilator pasca transplantasi.

Tanpa transplantasi hati, hanya 60 persen pasien yang mampu mencapai kelangsungan hidup lima tahun jika kondisinya berhasil dikelola dengan obat vasodilator. Tanpa terapi medis, prognosisnya sangat buruk.