Jangan Didik Anakmu Menjadi Kaya, Namun Didiklah Ia Menjadi Bertakwa, Sehingga Ketika Dewasa Ia Tahu Bahwa Uang Bukan Segalanya


Ada tiga bekal yang perlu kita miliki dalam mengasuh anak-anak kita agar menjadi seorang anak yang bertaqwa.

Pertama, rasa takut terhadap masa depan mereka. Berbekal rasa takut, kita siapkan mereka agar tidak menjadi generasi yang lemah. Kita pantau perkembangan mereka kalau-kalau ada bagian dari hidup mereka saat ini yang menjadi penyebab datangnya kesulitan di masa mendatang.

Berbekal rasa takut, kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi kehidupan dengan kepala tegak dan iman kokoh.

Sesungguhnya di antara penyebab kelalaian kita menjaga mereka adalah rasa aman. Kita tidak mengkhawatiri mereka sedikit pun, sehingga mudah sekali kita mengizinkan mereka untuk asyik-masyuk dengan TV atau hiburan lainnya.

Kita lupa bahwa hiburan sesungguhnya dibutuhkan oleh mereka yang telah penat bekerja keras. Kita lupa bahwa hiburan hanyalah untuk menjaga agar tidak mengalami kejenuhan.

Hari ini, banyak orang berhibur bahkan ketika belum mengerjakan sesuatu yang produktif. Sama sekali!

Kedua, taqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Andaikata tak ada bekal pengetahuan yang kita miliki tentang bagaimana mengasuh anak-anak kita, maka sungguh cukuplah ketaqwaan itu mengendalikan diri kita.

Berbekal taqwa, ucapan kita akan terkendali dan tindakan kita tidak melampaui batas. Seorang yang pemarah dan mudah meledak emosinya, akan mudah luluh kalau jika ia bertaqwa. Ia luluh bukan karena lemahnya hati, tetapi ia amat takut kepada Allah Ta’ala. Ia menundukkan dirinya terhadap perintah Allah dan rasul-Nya seraya menjaga dirinya agar tidak melanggar larangan-larangan-Nya.

Ketiga, berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan). Boleh jadi banyak kebiasaan yang masih mengenaskan dalam diri kita. Tetapi berbekal taqwa, berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan) akan mendorong kita untuk terus berbenah.

Sebaliknya, tanpa dilandasi taqwa, berbicara dengan perkataan yang benar dapat menjadikan diri kita terbiasa mendengar perkara yang buruk dan pada akhirnya membuat kita lebih permisif terhadapnya. Kita lebih terbiasa terhadap hal-hal yang kurang patut.

Karenanya, dua hal ini harus kita perjuangkan agar melekat dalam diri kita. Dua perkara ini, taqwa dan berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan) kita upayakan agar semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sekiranya keduanya ada dalam diri kita, maka Allah akan baguskan diri kita dan amal-amal kita.

Rumah yang Selalu Berantakan Oleh Ulah Anak Itu Tanda Ibunya Baik dan Istimewa

Tidak perlu heran, memang inilah perkataan para ahli pendidikan anak. Jika Anda punya anak-anak, tapi rumah Anda selalu rapi, tertata, bersih, dan segala sesuatunya di tempatnya, maka itu pertanda bahwa Anda adalah ayah atau ibu yg tidak baik.

Karena rumah yg selalu rapi padahal ada anak-anak, itu berarti ada tindakan melarang, memaksa, dan tangan besi yang diterapkan kepada anak-anak.

Rumah yang selalu rapi itu menunjukkan masa kanak-kanak yang dirampas, daya khayal yg terpenjara, dan jiwa yang terinjak-injak.

Anak-anak kita itu lebih penting daripada kursi, meja, bunga, hiasan dinding, dan karpet yang ada di rumah kita.

Lalu memangnya kenapa kalau rumah menjadi kotor, pensil-pensil pewarna berceceran, dan kertas-kertas berserakan.. daripada kita melarang mereka sama sekali.. bukankah kita bisa membuat janji dengan mereka agar setelah bermain mereka membersihkan dan menata kembali ruangannya?!

Kertas-kertas yang berceceran dan tersobek-sobek adalah pertanda hidupnya masa kanak-kanak mereka.. itu pertanda bahwa Anda adalah ayah atau ibu yang baik dan hebat.. Anda mau membiarkan mereka tumbuh besar dengan selamat dan damai.

Rumah yang tidak ada anak-anaknya adalah kuburan yg berbentuk rumah.

Ajarilah mereka tentang aturan, dan didiklah mereka untuk tertib dg aturan itu… Jangan Anda putus sayap mereka, tapi biarkan mereka beterbangan dg baik dan indah.

Suami Pelit dan Suka Sembunyikan Gajinya dari Sang Istri Gimana Hukumnya? Simak Penjelasannya berikut ini

Dengarkan wahai para suami.. Salah satu kewajiban suami terhadap istri yang paling utama adalah menafkahi istri. Namun bagaimana jika suami justru pelit atau suka sembunyikan gaji dari istri? Bagaimana hukumnya dalam Islam? Perhatikan berikut nasihat dari Ustadz Somad berserta dalilnya

Dalam Islam, sebuah pernikahan bertujuan untuk membangun rumah tangga dan keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Dalam menjalani bahtera rumah tangga, baik suami maupun istri sama-sama mempunyai hak dan kewajiban masing-masing

Ustadz Abd. Somad, LC. menjelaskan hal ini dalam salah video ceramahnya yang diunggah di Youtube. Dalam video tersebut terlihat Ustadz Abd. Somad membacakan pertanyaan dari salah satu jamaahnya. “Apa hukumnya suami yang menyembunyikan uang gajinya, kadang memberi isteri hanya sedikit padahal gajinya besar?”

Mengawali jawabannya Ustadz Abd. Somad menjelaskan bahwa isteri memiliki 5 hak terhadap suami, yakni makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan perhatian. Jika 5 hak tersebut ada yang kurang, maka suami akan dituntut di hadapan Allah SWT, ujar Ustadz Abd. Somad.

Ustadz Abd. Somad juga menjelaskan sebuah dalil yang membolehkan seorang isteri mengambil uang suaminya. Sebagaimana diceritakan oleh Ustadz Abd. Somad riwayat Hindun binti ‘Utbah’ mengadukan suaminya Abu Sufyan. Bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW saat sedang duduk di Bukit Shafa lalu datang Hindun dan ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengarkan wahai para suami.. Salah satu kewajiban suami terhadap istri yang paling utama adalah menafkahi istri. Namun bagaimana jika suami justru pelit atau suka sembunyikan gaji dari istri? Bagaimana hukumnya dalam Islam? Perhatikan berikut nasihat dari Ustadz Somad berserta dalilnya

Dalam Islam, sebuah pernikahan bertujuan untuk membangun rumah tangga dan keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Dalam menjalani bahtera rumah tangga, baik suami maupun istri sama-sama mempunyai hak dan kewajiban masing-masing

Ustadz Abd. Somad, LC. menjelaskan hal ini dalam salah video ceramahnya yang diunggah di Youtube. Dalam video tersebut terlihat Ustadz Abd. Somad membacakan pertanyaan dari salah satu jamaahnya.

“Apa hukumnya suami yang menyembunyikan uang gajinya, kadang memberi isteri hanya sedikit padahal gajinya besar?”

Mengawali jawabannya Ustadz Abd. Somad menjelaskan bahwa isteri memiliki 5 hak terhadap suami, yakni makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan perhatian. Jika 5 hak tersebut ada yang kurang, maka suami akan dituntut di hadapan Allah SWT, ujar Ustadz Abd. Somad.

Ustadz Abd. Somad juga menjelaskan sebuah dalil yang membolehkan seorang isteri mengambil uang suaminya. Sebagaimana diceritakan oleh Ustadz Abd. Somad riwayat Hindun binti ‘Utbah’ mengadukan suaminya Abu Sufyan. Bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW saat sedang duduk di Bukit Shafa lalu datang Hindun dan ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Rasulullah, Abu Sufyan itu seorang yang bakhil (pelit), dia tidak memberikan kecukupan padaku dan anakku kecuali apa yang kuambil dari hartanya dengan diam-diam”. Rasulullah pun menasihatkan padanya, “Ambillah apa yang bisa mencukupimu dan anakmu”.

Demikianlah pokok bahasan Artikel ini yang dapat kami paparkan, Besar harapan kami Artikel ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari Artikel ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar Artikel ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang