Jangan Pernah Tinggalkan Doa Berkah yang Biasa Dibaca Nabi di Waktu Pagi

403 views


Tak ada yang ampuh dari sebuah senjata spritual orang islam kecuali dengan doa. Doa adalah intisari ibadah.

Kita di ajarkan untuk selalu berdoa oleh baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jika pada waktu pagi nabi kita Muhammad tidak pernah meninggalkan doa ini.

Diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa apabila datang pagi beliau senantiasa memanjatkan doa berikut.

Doa ini sangat berkah karena mencakup banyak hal.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا ، وَعَمَلا مُتَقَبَّلا

Allahumma Innii As Aluka ‘Ilman Nafi’an wa Rizqon Thoyyiban wa ‘Amalan Mutaqabbala

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Terdapat Hikmah dari Doa ini yang harus kita ketahui antara lain adalah:

1. ‘Ilman Nafi’an (ilmu manfaat).
Sebab ilmu manfaat, kita bisa membedakan perkara yang baik dan yang buruk, sehingga menjadi pribadi soleh akan menajdi karakter kita.

Ilmu yang manfaat dapat memudahkan seseorang memasuki surga-Nya Allah dan mendapat derajat yang tinggi.

2. Rizqon Thayyiban (rezeki yang baik).
Nabi bukan memohon rezeki yang banyak, tetapi rezeki thayyib yang membawa keberkahan untuk kebaikan dunia dan akhirat.

3. Amalan Mutaqobbala (amalan yang diterima)
Orang muslim hendaknya memiliki sikap khauf (rasa takut) dan Roja (berharap) kepada Allah terkait amalannya.

Orang yang amalnya diterima oleh Allah akan mendapatkan ganjaran pahala dan ridho Allah.

Bukan hanya doa di atas, Rasulullah juga mengajarkan doa ini di waktu Subuh.

Sebagaimana dinukil dari Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa Doa ini biasa dibaca Nabi dan keluarga beliau setelah sholat sunnah Qabliyah Subuh

اَللَّهُمَ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِيْ بِهَا قَلْبِيْ وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلِيْ وَتَلُمُّ بِهَا شَعْثِيْ وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِيْ تُصْلِحُ بِهَا دِيْنِيْ وَتَحْفَظُ بِهَا غَائِبِيْ وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِيْ وَتُزَكِّيْ بِهَا عَمَلِيْ وتُبَيِّضْ بِهَا وَجْهِيْ وَتُلْهِمُنِيْ بِهَا رُشْدِيْ وَتَعْصِمُنِيْ بِهَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu rahmat dari sisi-Mu yang dengannya Engkau menunjuki hatiku, mengumpulkan yang terserak dariku, memperbaiki apa yang kusut padaku,

mengembalikan padaku kesenanganku, memperbaiki agamaku, menjaga batinku (dari sifat-sifat buruk dan menghiasinya dengan sifat-sifat baik), mengangkat lahiriahku (dengan amal yang baik),

mensucikan amalku (dari hala-hal yang dapat merusaknya), memutihkan wajahku, mengilhamkan kepadaku petunjukku, dan menjagaku dari segala

5 Keberkahan Ini yang Akan Hilang Jika Tujuan Pernikahan Anda Bukan Karena Ibadah

Ada yang menikah karena harta? Ada! Banyak mungkin!

Karena cantik/tampan? Banyak!

Padahal manfaat menikah yang bertujuan untuk ibadah itu lebih indah dari bahagia lho. Nggak percaya, ini buktinya.

Menikah itu memang suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh semua pasangan.

Karena dengan menikah dapat menghindari yang namanya ‘zina’.

Selain itu, Perkawinan dalam hukum islam bukan hanya merupakan sesuatu yang sakral, namun juga merupakan ibadah dan penyempurna agama.

Oleh karena itu perlu bagi setiap muslim yang sudah siap menikah untuk meluruskan tujuan nikah atau niat menikah agar rumah tangga harmonis.

Apalagi menikah dengan bertujuan ibadah, maka kalian akan mendapat hal yang melebihi dari kebahagiaan.

Apa saja itu?

Berikut 5 hal yang akan kalian dapat jika menikah dengan tujuan semata-mata ibadah

1. Menikahlah Dengan Niatan Benar-Benar Untuk Menyempurnakan Separuh Agamamu

Maka, menikahlah dengan naiatan benar-benar untuk menyempuranakan separuh agamamu.

Karena bila agama yang menjadi rujukannya maka sudah pasti dalam memperjuangkan kebersamaan yang ada kau takkan tanggung-tanggung untuk senantiasa bersama menjemput kasih sayang-Nya dengan kesungguhan hati yang mendalam.

2. Alangkah Lebih Baiknya Bila Niat Menikahmu Bukan Hanya Sekedar Untuk Memastikan Bahwa Dia Benar-Benar Telah Diperuntukkan Untukmu

Karena memang alangkah lebih baiknya bila niat menikahmu bukan hanya sekedar untuk memastikan bahwa dia benar-ebanr telah Allah peruntukkan untukmu.

Sebab bila hanya pikiran yang demikian yang bersemayam dihati dan pikiranmu, maka ketika Allah memberimu cobaan tentu kau akan menjadi peribadi yang mudah mengeluh dan menyalahkan takdir Allah.

3. Bila Tujuan Menikahmu Karena Ingin Mendapat Kasih Sayang Allah, Maka Allah Akan Sempurnakan Kebersamaan Yang Tercipta Dengan Segala Berkah-Nya

Tapi bila tujuanmu menikah karena ingin mendapat kasih sayang Allah, amka Allah akan sempurnakan kebersamaan yang tercipta dengan segala berkah-Nya.

Iya, berkah yang semua orang tetu harapkan didunia ini, karena dengan keberkahan Allah tentu kita akan selalu disanding akan kebaikan dan kebahagiaan setiap saatnya.

4. Kau Akan Benar-Benar Bersyukur Atas Segala Moment Yang Ada, Bila Niatmu Menikah Memang Telah Diniati Ibadah

Kau akan benar-benar bersyukur atas segala moment yang ada, bila niatmu menikah memang telah diniati ibadah.

Sebab akhirnya bila telah bersama yang akan kau tahu hanya bagaimana caranya kau memaknai semuanya dengan kebaikan demi kebaikan, hingga akhirnya suasana yang tercipta selalu damai akan kasih sayang-Nya.

5. Semuanya Hanya Tentang Niat, Termasuk Bahagia Yang Akan Kau Peroleh Nantinya Setelah Satu Atap Dengannya Dalam Menjemput Keridlaan Allah

Semuanya hanya tentang niat, termasuk bahagia yang akan kau peroleh nantinya setelah satu atap dengannya dalam menjemput keridlaan Allah.

Bahagiamu akan benar-benar Elegan bila kau tak hanya tahu bahwa bersama itu indah, tetapi berjuang untuk terus berpegangan tangan dalam meraih jannah-Nya.

Naudzubillah Jangan Sampai Zina Seumur Hidup Karena Melakukan Pernikahan Semacam Ini!

Hati-hati… Meski sudah sah menurut hukum negara, ternyata ada 13 macam pernikahan yang tidak sah menurut syari’at.

Secara otomatis, pernikahan semacam itu dihukumi sebagai perbuatan zina!

Jadi, jangan sampai melakukan perbuatan zina seumur hidup gara-gara nikah yang seperti ini! Nauzubillah…

Sebagai seorang muslim kita harus tahu hukum-hukum islam, agar kehidupan kita selalu terjaga dari segala perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah SWT.

Allah tidak membiarkan para hamba-Nya hidup tanpa aturan. Bahkan dalam masalah pernikahan, Allah dan Rasul-Nya menjelaskan berbagai pernikahan yang boleh dan dilarang dilakukan.

Oleh karenanya, wajib bagi seluruh kaum muslimin untuk mengetahuinya.

Berikut adalah 13 nikah yang dilarang dalam islam, jika dilanggar maka hukumnya adalah zina.

1. Nikah Syighar
Definisi nikah ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

وَالشِّغَارُ أَنْ يَقُوْلَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: زَوِّجْنِي ابْنَتَكَ وَأُزَوِّجُكَ ابْنَتِي أَوْ زَوِّجْنِي أُخْتَكَ وَأُزَوِّجُكَ أُخْتِي.

“Nikah syighar adalah seseorang yang berkata kepada orang lain, ‘Nikahkanlah aku dengan puterimu, maka aku akan nikahkan puteriku dengan dirimu.’ Atau berkata, ‘Nikahkanlah aku dengan saudara perempuanmu, maka aku akan nikahkan saudara perempuanku dengan dirimu.”

Dalam hadits lain, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ شِغَارَ فِي اْلإِسْلاَمِ.

“Tidak ada nikah syighar dalam Islam.”

Hadits-hadits shahih di atas menjadi dalil atas haram dan tidak sahnya nikah syighar.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan, apakah nikah tersebut disebutkan mas kawin ataukah tidak.

2. Nikah Muhallil
Yaitu menikahnya seorang laki-laki dengan seorang wanita yang sudah ditalak tiga oleh suami sebelumnya. Lalu laki-laki tersebut mentalaknya.

Hal ini bertujuan agar wanita tersebut dapat dinikahi kembali oleh suami sebelumnya (yang telah mentalaknya tiga kali) setelah masa ‘iddah wanita itu selesai.

Nikah semacam ini haram hukumnya dan termasuk dalam perbuatan dosa besar.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ.

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaknat muhallil dan muhallala lahu.” (H.R. Muslim)

3. Nikah Mut’ah
Nikah mut’ah disebut juga nikah sementara atau nikah terputus.

Yaitu menikahnya seorang laki-laki dengan seorang wanita dalam jangka waktu tertentu; satu hari, tiga hari, sepekan, sebulan, atau lebih.

Para ulama kaum muslimin telah sepakat tentang haram dan tidak sahnya nikah mut’ah. Apabilah telah terjadi, maka nikahnya batal!

Telah diriwayatkan dari Sabrah al-Juhani radhiyal-laahu ‘anhu, ia berkata,

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ حِيْنَ دَخَلْنَا مَكَّةَ، ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ مِنْهَا حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا.

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kami untuk melakukan nikah mut’ah pada saat Fat-hul Makkah ketika memasuki kota Makkah. Kemudian sebelum kami mening-galkan Makkah, beliau pun telah melarang kami darinya (melakukan nikah mut’ah).”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ! إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي اْلاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ، وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku pernah mengijinkan kalian untuk bersenang-senang dengan wanita (nikah mut’ah selama tiga hari). Dan sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal tersebut (nikah mut’ah) selama-lamanya hingga hari Kiamat.”

4. Nikah Dalam Masa ‘Iddah.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

“Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa ‘iddahnya.” [Al-Baqarah : 235]

5. Nikah Dengan Wanita Kafir yang belum masuk islam.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kaum nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedangkan Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” [Al-Baqarah : 221]

6. Nikah Dengan Wanita-Wanita Yang Diharamkan Karena Senasab Atau Hubungan Kekeluargaan Karena Pernikahan, termasuk saudara persusuan.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan ayahmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara perem-puanmu, ibu-ibu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan yang satu susuan denganmu, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa atasmu (jika menikahinya), (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [An-Nisaa’ : 23]

7. Nikah Yang Menghimpun Wanita Dengan Bibinya, Baik Dari Pihak Ayahnya Maupun Dari Pihak ibunya.
Berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَلاَ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا.

“Tidak boleh dikumpulkan antara wanita dengan bibinya (dari pihak ayah), tidak juga antara wanitadengan bibinya (dari pihak ibu).”

8. Nikah Dengan Isteri Yang Telah Ditalak Tiga / rujuk sebelum dinikahi orang lain.
Wanita diharamkan bagi suaminya setelah talak tiga. Tidak dihalalkan bagi suami untuk menikahinya hingga wanitu itu menikah dengan orang lain dengan pernikahan yang wajar (bukan nikah tahlil), lalu terjadi cerai antara keduanya.

Maka suami sebelumnya diboleh-kan menikahi wanita itu kembali setelah masa ‘iddahnya selesai.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Kemudian jika ia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum ia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dan bekas isteri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah ketentuan-ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan.” [Al-Baqarah : 230]

Wanita yang telah ditalak tiga kemudian menikah dengan laki-laki lain dan ingin kembali kepada suaminya yang pertama, maka ketententuannya adalah keduanya harus sudah bercampur (bersetubuh) kemudian terjadi perceraian, maka setelah ‘iddah ia boleh kembali kepada suaminya yang pertama.

Dasar harus dicampuri adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ، حَتَّى تَذُوْقِى عُسَيْلَتَهُ وَيَذُوْقِى عُسَيْلَتَكِ.

“Tidak, hingga engkau merasakan madunya (bersetubuh) dan ia merasakan madumu.”

9. Nikah Pada Saat Melaksanakan Ibadah Ihram.
Orang yang sedang melaksanakan ibadah ihram tidak boleh menikah, berdasarkan sabda Nabi shallal-laahu ‘alaihi wa sallam:

اَلْمُحْرِمُ لاَ يَنْكِحُ وَلاَ يَخْطُبُ.

“Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah atau melamar.”

10. Nikah Dengan Wanita Yang Masih Bersuami.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami…” [An-Nisaa’ : 24]

11. Nikah Dengan Wanita Pezina/Pelacur sebelum bertaubat.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” [An-Nuur : 3]

Seorang laki-laki yang menjaga kehormatannya tidak boleh menikah dengan seorang pelacur. Begitu juga wanita yang menjaga kehormatannya tidak boleh menikah dengan laki-laki pezina.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia (Surga).” [An-Nuur : 26]

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma pernah berkata mengenai laki-laki yang berzina kemudian hendak menikah dengan wanita yang dizinainya, beliau berkata, “Yang pertama adalah zina dan yang terakhir adalah nikah. Yang pertama adalah haram sedangkan yang terakhir halal.” seperti dilansir dari almanhaj.or.id.

12. Nikah Dengan Lebih Dari Empat Wanita.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat…” [An-Nisaa’ : 3]

Ketika ada seorang Shahabat bernama Ghailan bin Salamah masuk Islam dengan isteri-isterinya, sedangkan ia memiliki sepuluh orang isteri.

Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memilih empat orang isteri, beliau bersabda,

أَمْسِكْ أَرْبَعًا وَفَارِقْ سَائِرَهُنَّ.

“Tetaplah engkau bersama keempat isterimu dan ceraikanlah selebihnya.”

Juga ketika ada seorang Shahabat bernama Qais bin al-Harits mengatakan bahwa ia akan masuk Islam sedangkan ia memiliki delapan orang isteri.

Maka ia mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan men-ceritakan keadaannya. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا.

“Pilihlah empat orang dari mereka.”

13. Nikah Sirri tanpa wali sah
Pernikahan yang tidak diketahui oleh siapapun dan tidak ada wali dari wanita. Pada hakiktnya ini adalah zina karena tidak memenuhi syarat sahnya nikah.

Al-qur’an dan hadits telah menunjukkan bahwa salah satu syarat sahnya nikah adalah adalah adanya wali. Pernikahan ini tidak sah dan harus dibatalkan.

Demikian, semoga bermanfaat! Wallahu A’lam

Tags: #doa berkah dipagi hari #hilangnya keberkahan pernikahan #jangan tinggalkan doa ini dipagi hari #pernikahan dianggap zina