Jual Rumah Mewah Rp30 Miliar Peninggalan Suami Pertama, Muzdalifah Kini Pindah ke Rumah Lebih Kecil, Dapurnya Biasa Banget!


Muzdalifah menjual rumah mewah peninggalan suami pertamanya yang sempat dia tempati bersama pasangan barunya, Fadel Islami juga kelima buah hatinya.

Dalam proses penjualan rumah barunya itu, Muzdalifah memasarkan secara online.

Diketahui bahwa rumah mewah dengan 14 kamar tidur itu dihargai dengan nominal Rp30 miliar.

Dikutip Grid.ID dari Surya.co.id, Kabar Muzdalifah menjual rumah mewahnya pertama kali beredar di sebuah forum jual-beli yang ada di Facebook.

Forum yang bernama Jaringan Property Indonesia tersebut menampilkan rumah Muzdalifah yang dijual.

Namun, saat mempromosikan rumahnya untuk dijual, Muzdalifah tidak menggunakan akun Facebooknya sendiri, melainkan melalui akun orang lain yang bernama Bima Putra.

Muzdalifah pun membantah kabar bangkrut yang membuatnya harus menjual rumah tersebut.

Rumah mewah Muzdalifah berlapis emas

Menurut Muzdalifah, dirinya tak akan memakan uang dari hasil penjualan rumah peninggalan suami pertamanya itu.

Uang hasil penjualan dari rumah tersebut akan dibagikan kepada kelima buah hatinya.

Bahkan, Muzdalifah sudah berpikir panjang mengenai pembagian warisan untuk anak-anaknya yang terbilang masih kecil.

Muzdalifah justru sudah membayangkan jika dirinya meninggal dalam waktu dekat.

Dia tidak ingin jika anak-anaknya kelak berebut warisan.

Dikutip Grid.ID dari Sajian Sedap, meski saat itu belum terjual, namun Muzdalifah sudah pindah ke rumah barunya.

Jika dibandingkan dengan rumah lamanya, hunian baru Muzdalifah ini tampak jauh lebih sederhana.

Terlebih, penampakan area dapur Muzdalifah yang terlihat terlalu biasa.

Kondisi rumah baru Muzdalifah pun sempat dibagikan Fadel Islami dalam Insta Storiesnya.

Rumah 2 lantai ini akan menjadi tempat bernaung Muzdalifah, Fadel, dan keliman anak muzdalifah.

Berkreasi dengan Pipa Besi di Dapur Mungil

Potret rumah sederhana Muzdalifah

Perbedaan yang mencolok antara rumah lama dan baru Muzdalifah mulai terlihat dari area ruang tamu.

Jika sebelumnya ruang tamu mantan istri Nassar ini mengusung tema klasik, di rumah baru tersebut ruang tamu tampak minimalis dengan sofa kecil.

Rumah Muzdalifah dan Fadel Islami yang jauh dari kesan mewah

Tak seperti tangga rumah lama Muzdalifah yang berlapis emas, di rumah barunya tangga terlihat lebih sederhana.

Di dekat tangga, terlihat beberapa 3 guci hijau berukuran kecil hingga sedang.

Bahkan, masih ada beberapa koper tanda mereka baru saja pindah rumah.

dapur rumah Muzdalifah

Kesan mewah tak lagi terlihat dari dapur Muzdalifah di rumah barunya.

Pasalnya, berbeda dari rumah lamanya, dapur di kediaman baru Muzdalifah mengusung tema minimalis.

Meskipun terlihat sederhana tanpa aksen mewah, namun dapur milik Muzdalifah terlihat tetap nyaman.

Hukum Suami Menyuruh Istri Bekerja Dalam Islam, Apakah Boleh ?

Assalamualaikum. Pak Ustadz, berdosakah seorang istri bila tidak mau membantu suami mencari nafkah dengan alasan katanya suami-istri itu harus saling membantu, walaupun hanya diminta untuk berdagang kecil-kecilan secara online? Saya sebagai istri sudah cape ngurus anak, ngurus kerjaan rumah, dan segala persoalan rumah saya pegang. Ini suami masih menyuruh saya untuk usaha melalui online, lalu kalau saya tidak taat apakah saya berdosa atau dianggap durhaka?. Mohon nasihatnya ( Nia via email) (foto cover: ilustrasi kerja, sumber)

Wa’alaikumsalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat sekalian yang dirahmati Allah. Perlu dipahami khususnya kaum laki-laki dan juga wanita bahwa yang berkewajiban mencari nafkah dalam keluarga adalah suami. Kewajian pokoh seorang istri adalah mengatur rumah tangga berikut mengasuh anak-anak. Namun baik suami maupun istri akan dimintai pertanggung jawaban dalam memimpin di rumah.

Di antara hak terbesar wanita yang menjadi kewajiban suaminya adalah memberi nafkah. Nafkah, secara bahasa adalah, harta atau semacamnya yang diinfaqkan (dibelanjakan) oleh seseorang. Adapun secara istilah, nafkah adalah, apa yang diwajibkan atas suami untuk isterinya dan anak-anaknya, yang berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan, dan semacamnya. Hal ini sebagaimana yang Allah perintahkan dalam Alquran,

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” (QS.Al Baqarah: 233)

Para mufasirin (ahli tafsir) sepakat bahwa yang dimaksud dengan “ayah” adalah seorang “suami” bagi istrinya dan “ayah” bagi anak-anaknya. Dengan demikian seorang harus menafkahi keluarganya yang layak sesuai dengan kemampuannya. Maksud sesuai dengan kemampuannya adalah tentu tidak bisa disamakan antara suami atau ayah A dengan penghasil X dengan suami B dengan penghasilan Y. Besar atau kecil itu relative, yang pokok adalah kewajiban suami menafkahi istri dan keluarga.

Mengenai bolehkah seorang istri bekerja membantu suami? Tentu itu dibolehkan, dengan catatan sekedar suami meminta bantuan untuk menambah penghasilan keluarga dan tidak begitu mengganggu kewajiban mengurus anak dan tanggung jawab istri lainnya. Yang tidak boleh itu bahkan bisa jatuh haram, jika Anda menjadi pencari nafkah utama dan suami leha-leha tidak bekerja. Dosa hukumnya ketika suami mengekploitasi istrinya.

Lalu apakah kalau istri tidak mau bekerja atau membantu suami mencari nafkah berdosa atau durhaka? Menurut hemat saya, Anda perlu menceritakan pada suami aktivitas harian Anda selama di rumah dari bangun tidur hingga menjelang tidur malam. Kadang suami itu tidak mengerti kondisi dan situasi di rumah. Kadang suami itu tidak tahu betapa sibuknya mengurus anak, sebab istri tidak cerita sehingga suami dianggap istri hanya duduk santai menonton tivi.

Kalau Anda sudah merasa all out mengurus anak dan rumah kemudian Anda masih diminta bekerja oleh suami meski hanya jualan online di rumah, menurut saya suami Anda tidak punya rasa empati. Anda tidak berdosa dan tidak durhaka menolak keinginan suami untuk bekerja.

Bekerja atau mengerjakan sesuatu tentunya jika ingin sukses maka harus dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh. Meski hanya jualan online dan duduk di depan computer atau handphone tapi itu juga butuh konsentrasi. Jadi jangan sepelekan hal ini. Apalagi ketika istri kita mengurus anak-anak yang kecil-kecil itu, ribet itu, capek itu.

Kecuali jika Anda di rumah itu hanya menonton tivi sementara anak-anak sudah besar yang tidak begitu repot lagi. Anda boleh atau bisa bekerja membantu suami. Intinya istri bekerja juga harus mendatangkan kebaikan atau manfaat bukan sebaliknya mendatangkan mudlorot.

Istri bekerja atau mempunyai usaha (bisnis online), penghasilan bertambah namun anak-anak terlantar tidak ada yang mengurus, rumah berantakan dan terbengkalai, menurut saya itu bukan manfaat tapi mudlorot. Jadi coba pikirkan manfaat dan mudlorot jika istri bekerja.

Ini juga sekaligus nasihat buat para suami agar selalu bisa menghargai pekerjaan istri. Suami jangan menyepelekan pekerjaan istri sekecil apa pun itu. Kelihatannya di rumah enak dan santai namun sesungguhnya para istri telah bekerja sekuat tenaga mengurus anak dan rumah.

Satu, bagi suami yang istrinya masih memegang anak yang kecil-kecil, sebenarnya mengurus anak saja sudah menguras energi. Dan kalau kita bapak-bapak bedanya dengan istri, kalau kita laki-laki di kantor variatif kerjaannya. Ketemu si A, ketemu si B, tapi istri kerjaannya hanya di dapur, ke ruang tengah, lalu ke kamar, lalu ke dapur lagi. Jadi sebenarnya, kaum suami harus empati. Berterima kasih kepada istri, memberikan penghargaan. Suami jangan meminta istri bekerja sementara suami tidak mengerti pekerjaan istri di rumah

Kalau penghasilan suami dianggap masih kurang maka bisa dicari solusi yang lain, misalnya pengeluran dikurangi sesuai kebutuhan saja, jangan kredit atau mencicil kebutuhan yang tidak urgent atau coba suami mencari tambahan penghasilan di luar kerja rutin.

Intinya coba komunikasikan dengan suami dengan bahasa yang lemah lembut, santun dan tidak marah-marah. Puji dan hargailah suami yang telah bekerja dengan keras yang dengan segala kekurangannya dan kemampuannya telah berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Kemudian istri memberikan solusi melalui diskusi dan komunikasi yang baik. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab.