Karena Hal Sepele Ini Sholat Tidak Diterima Selama Puluhan Tahun, Syekh Ali Jaber Beberkan Penyebabnya


Sebagai seorang muslim tentu kita dituntut untuk selalu berbuat baik dan patuh menjalankan amalan ibadah.

Salah satu amalan ibadah yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim dalam kesehariannya, yaitu sholat wajib lima waktu.

Namun, apa jadinya jika sholat yang selama ini kita laksanakan tidak diterima oleh Allah SWT. Tentu hal itu hanya akan menjadi amalan sia-sia.

Dilansir PortalJember.com dari ceramah Syekh Ali Jaber yang diunggah YouTube Love Islam pada 7 Februari 2021, ada satu riwayat menjelaskan penyebab sholat tidak diterima selama puluhan tahun bisa dari hal-hal sepele yang tidak kita sadari.

“Ada orang sholat 60 tahun, tak satupun diterima Allah SWT,” kata Syekh Ali Jaber.

Kemudian, ulama kelahiran Madinah itu menjelaskan penyebabnya, yaitu dia hanya asal sholat tanpa dilandasi dengan ilmu.

“Apa sebabnya dia tidak diterima? Karena dia menghadap Allah saat Sholat hanya menggerakkan badan, dia tidak mengerti apa-apa tentang sholat,” sambungnya.

Di sinilah pentingnya ilmu pengetahuan sebelum menjalankan ibadah, Rasulullah SAW bersabda:

“Keutamaan orang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang yang ahli ibadah adalah seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.”

Tak hanya itu, tidurnya orang berilmu pun lebih baik daripada ibadahnya seseorang yang dijalankan tanpa landasan pengetahuan.

وقال النبي صلى الله عليه وسلم نَوْمُ العَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ

Nabi SAW bersabda, “Tidurnya seorang yang berilmu (yakni orang alim yang memelihara adab ilmu) lebih utama daripada ibadahnya orang yang bodoh (yang tidak memperhatikan adabnya beribadah).”

Syekh Ali Jaber juga mewanti-wanti saat sudah memiliki ilmu kukuhkan niat dalam menjalankan amalan ibadah karena Allah semata.

Pasalnya, niat yang salah juga bisa menjadi salah satu faktor tidak diterimanya ibadah manusia di dunia.

“Sudah berilmu, sudah menjadi ulama tapi niatnya salah, dan itulah yang pertama masuk neraka meskipun dia seorang ulama,” terang Syekh Ali Jaber

======

Seputar Donor Organ dan Hal-Hal yang Penting untuk Diketahui

Tak hanya donor darah, donor organ juga dapat dilakukan untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Namun, sebelum Anda memutuskan untuk menjadi pendonor, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Hal ini karena tidak semua orang bisa mendonorkan organnya.

Donor organ merupakan proses pengambilan organ atau jaringan tubuh dari orang yang sehat untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan organ baru. Penerima organ bisa saja anggota keluarga, teman, atau orang lain yang tidak dikenal.

Donor organ bisa menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan dan memperbaiki hidup seseorang yang mengalami gagal fungsi pada salah satu atau beberapa organnya.

Hal-Hal Seputar Donor Organ

Jika Anda memutuskan untuk mendonorkan organ, ada beberapa hal penting yang perlu Anda ketahui terlebih dahulu, yaitu:

1. Organ yang bisa didonorkan

Pada dasarnya, hampir seluruh organ tubuh bisa didonorkan ke orang lain yang membutuhkan. Beberapa organ tubuh yang dimaksud meliputi:

  • Organ vital, seperti jantung, ginjal, pankreas, paru-paru, hati, dan usus
  • Jaringan tubuh, termasuk kornea, kulit, katup jantung, tulang, pembuluh darah, dan jaringan ikat
  • Sumsum tulang dan sel induk

Di beberapa negara, bagian tubuh tertentu, seperti tangan dan wajah, juga bisa didonorkan. Sayangnya, prosedur donor bagian tubuh belum bisa dilakukan di Indonesia.

2. Usia pendonor

Semua orang yang sehat, baik anak-anak maupun orang dewasa, bisa menjadi pendonor organ. Namun, pendonor yang masih berusia di bawah 18 tahun membutuhkan surat izin tertulis dan persetujuan dari orang tua atau wali saat hendak mendonorkan organnya.

3. Kondisi dan riwayat kesehatan pendonor

Idealnya, orang yang ingin mendonorkan organnya harus memiliki kondisi kesehatan yang baik dan tidak memiliki gangguan fungsi pada organ tertentu, khususnya organ yang hendak didonorkan.

Selain itu, syarat lain untuk menjadi seorang pendonor organ adalah tidak ada unsur paksaan. Anda berhak menolak untuk mendonorkan organ apabila prosedur ini bertentangan dengan keinginan Anda, sekalipun yang meminta adalah orang tua, pasangan, atau atasan Anda.

Seseorang dikatakan tidak layak menjadi pendonor organ apabila menderita kondisi atau penyakit tertentu, seperti:

  • Infeksi, misalnya HIV, hepatitis B, hepatitis C, ebola, toksoplasmosis, dan malaria
  • Diabetes, khususnya yang tidak terkontrol dan sudah parah
  • Gagal ginjal
  • Penyakit jantung
  • Kanker, terutama pada pasien kanker stadium lanjut atau yang sedang menjalani pengobatan kanker

Sebelum mendonorkan organ, seseorang akan menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap terlebih dahulu. Setelah dinyatakan layak menjadi donor organ, orang tersebut baru bisa menyumbangkan organ atau jaringan tubuhnya.

4. Jenis donor organ

Berdasarkan kondisi pendonor, prosedur donor organ bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

Donor hidup

Donor organ disebut donor hidup jika pemberi donor masih dalam keadaan hidup saat organnya diambil dan disumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan. Organ yang bisa didonorkan saat kondisi seseorang masih hidup meliputi ginjal, hati, paru-paru, pankreas, usus, jantung, dan darah.

Donor mati

Disebut donor mati jika pemberi donor sudah meninggal ketika pengambilan dan pemberian organ dilakukan. Seseorang bisa menjadi donor mati apabila meninggal karena kondisi tertentu, seperti cedera kepala yang parah, aneurisma otak, mati otak, atau stroke.

5. Risiko menjadi pendonor

Jika Anda mempertimbangkan untuk menjadi donor organ hidup, sebaiknya pikirkan baik-baik mengenai manfaat dan risikonya. Mengetahui bahwa Anda dapat menyelamatkan nyawa seseorang, mungkin menjadi salah satu motivasi atau alasan Anda untuk mendonorkan organ.

Namun, prosedur donor organ memerlukan operasi besar. Tindakan ini berisiko menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti pendarahan, nyeri, infeksi, pembekuan darah, atau kerusakan pada organ dan jaringan.

Selain itu, Anda juga perlu membutuhkan waktu untuk bisa pulih total setelah menjalani operasi donor organ. Setelah pulih, kondisi kesehatan Anda pun mungkin bisa berubah dan tidak seperti kondisi sebelumnya.

Misalnya, jika Anda mendonorkan salah satu ginjal, kini hanya akan ada satu ginjal yang bekerja dalam tubuh. Dengan demikian, Anda harus lebih cermat dalam mengonsumsi makanan dan menjaga kesehatan tubuh.

Meski memiliki tujuan yang mulia, mendonorkan organ bukanlah keputusan yang mudah. Anda perlu dinyatakan sehat dan layak menjadi donor organ oleh dokter, serta menyadari risiko dan kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi setelah Anda menyumbangkan organ tubuh Anda.

Jika Anda hendak memutuskan untuk menjadi donor organ, coba konsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Tanyakan dengan jelas kepada dokter mengenai hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan dan risiko yang mungkin dialami.

======

Hati-Hati! Mengolah Makanan Beku Tidak Bisa Sembarangan

Cara mengolah makanan beku tidak boleh asal-asalan. Makanan beku harus dicairkan terlebih dahulu dengan benar agar aman dikonsumsi. Meski terlihat sepele, hal ini sangatlah penting dilakukan untuk mencegah pertumbuhan bakteri penyebab penyakit pada makanan yang akan dikonsumsi.

Sebelum dimasak, makanan beku yang disimpan di dalam freezer atau kulkas tentu harus dicairkan dan diolah terlebih dahulu. Hal ini juga berlaku untuk makanan sisa yang hendak dibekukan.

Namun, masih banyak orang belum mengetahui cara yang benar untuk mengolah makanan beku. Jika makanan beku diolah sembarangan, berbagai masalah kesehatan pun bisa terjadi, termasuk keracunan makanan.

Cara Mencairkan dan Mengolah Makanan Beku

Ada berbagai cara untuk mencairkan makanan beku agar siap diolah menjadi hidangan yang lezat, antara lain:

1. Direndam di air dingin

Bungkus makanan beku dengan plastik bersih hingga rapat agar tidak ada bakteri yang masuk. Selanjutnya, rendam di dalam mangkuk atau panci berisi air dingin atau air biasa hingga benar-benar terendam sepenuhnya.

Ganti air setiap 30 menit hingga makanan beku tersebut mencair atau melunak dan siap untuk diolah. Makanan beku yang dilunakkan dengan metode ini harus segera dimasak.

2. Disimpan di kulkas seharian

Cara ini merupakan cara termudah dan paling higienis untuk melunakkan makanan beku, tetapi membutuhkan waktu lama hingga 24 jam atau lebih.

Setelah dikeluarkan dari freezer, letakkan makanan beku di atas wadah bersih dan taruh di rak bawah kulkas. Wadah digunakan untuk menampung cairan yang keluar dari makanan agar tidak mengenai makanan lainnya.

3. Dilunakkan dengan microwave

Cara mencairkan makanan beku dengan microwave sangat mudah. Anda hanya perlu menempatkan makanan beku di wadah plastik yang tahan panas, lalu memasukkannya ke dalam microwave. Panaskan selama beberapa menit.

Melunakkan makanan beku dengan microwave memang lebih cepat, tetapi hasilnya kurang merata, terutama bila makanan tersebut berukuran besar dan tebal. Hal ini berpotensi memicu pertumbuhan bakteri pada makanan. Oleh karena itu, makanan beku yang dicairkan dengan cara ini harus segera dimasak

Batas Waktu Penyimpanan

Membekukan makanan di dalam freezer bersuhu -18o Celsius merupakan cara alami dan aman untuk mengawetkan makanan. Namun, agar kualitas makanan beku tetap terjaga, ada batas waktu penyimpanan makanan beku yang perlu Anda perhatikan, yaitu:

  • Daging merah giling mentah: 2–3 bulan
  • Daging merah mentah: 8–12 bulan
  • Daging merah yang telah dimasak: 2–3 bulan
  • Daging unggas mentah: sekitar 12 bulan
  • Daging unggas yang telah dimasak: 4–6 bulan
  • Ikan: 2–5 bulan
  • Kerang dan udang: 2–4 bulan
  • Sosis: 1–2 bulan

Beberapa Tips Penting Saat Membeli dan Menyimpan Makanan Beku

Perhatikan hal-hal berikut ini saat membeli dan menyimpan makanan beku:

  • Kunjungi konter makanan beku paling akhir ketika berbelanja di supermarket agar makanan beku yang dibeli tetap dingin dan tahan lebih lama.
  • Masukkan makanan beku di dalam wadah tertutup dan simpan di dalam freezer bersuhu -18 derajat Celsius.
  • Hindari membekukan kembali makanan sisa yang sudah dicairkan untuk mencegah keracunan makanan.
  • Hindari membuka pintu freezer saat mati listrik dan biarkan pintu tertutup agar makanan beku bisa bertahan 1–2 hari.
  • Bersihkan freezer setiap 3–4 bulan sekali menggunakan cairan pembersih khusus dan air. Lap dan keringkan cairan atau makanan yang tercecer pada freezer atau kulkas secepatnya agar makanan terhindar dari kontaminasi bakteri.

Mencairkan dan mengolah makanan beku memang tidak boleh sembarangan. Jika Anda mengalami gejala tertentu, seperti diare, sakit perut, mual, muntah, atau demam, setelah mengonsumsi makanan beku yang telah diolah, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Tags: #cara mengolah makanan beku #donor organ yang perlu diketahui #sholat tidak diterima puluhan tahun