Kata Muhammadiyah soal Fenomena Adopsi Boneka Arwah

163 views


Adopsi boneka arwah sedang menjadi tren di kalangan selebriti. Muhammadiyah buka suara terkait hal ini.
“Umat Islam itu segala sesuatu harus bersandar kepada tauhid kepada Allah SWT, menyembah (dan) meminta kepada Allah,” ujar Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, ketika dihubungi detikcom, Senin (3/1/2022).

“Tidak boleh meminta kepada selain Allah dalam hal kekayaan atau apapun,” jelasnya.

Dadang kemudian membahas terkait arwah yang disebut-sebut berada dalam boneka tersebut. Ia menepis hal itu.

“Soal arwah menurut ajaran Islam, keyakinan saya, itu sudah disimpan oleh Allah di alam barzah, jadi tidak bisa dipanggil-panggil atau tidak bisa dimintai pertolongan karena mereka sedang istirahat baik orang baik atau orang buruk,” jelasnya.

‘Bagi kajian perkembangan ilmu pengetahuan itu (arwah dalam boneka) sesuatu yang tidak mungkin,” sambungnya.

MUI Buka Suara

Seperti diketahui, fenomena spirit doll atau boneka arwah semakin ramai dibahas masyarakat setelah beberapa selebriti mengaku merawatnya seperti anak sendiri. Mereka juga mulai memamerkannya ke publik melalui media sosial. Salah satunya yang kerap memamerkan boneka arwah ini adalah artis, Ivan Gunawan.

Sementara itu, Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Muhammad Cholil Nafis bicara soal boneka arwah ini. Dia menyebut tidak boleh memelihara makhluk halus.

“Punya boneka mainan itu boleh, tapi kalau itu diisi atau dipersepsikan tempat arwah hukumnya tidak boleh memelihara makhluk halus. Kalau disembah musyrik tapi kalau berteman saja berarti berteman dengan jin,” kata Cholil kepada wartawan, Senin (3/1/2021).

Fenomena Pesohor Adopsi Boneka Arwah tapi Bukan untuk Horor

Fenomena spirit doll atau boneka arwah belakangan ramai diperbincangkan. Sejumlah selebriti mengaku mengasuh boneka arwah seperti anak sendiri, dengan diberi makan dan minum.

Para selebriti juga mulai mempamerkannya ke publik melalui media sosial. Tetapi, tak jarang sebagian masyarakat melihat seseorang yang merawat spirit doll ini memiliki gangguan jiwa. Sebab, para pemilik spirit doll memperlakukan boneka mereka layaknya anak atau bayi manusia.

Asal-usul Boneka Arwah

Dilansir dari BBC, fenomena boneka arwah bermula di Thailand pada 2016. Orang-orang ramai mengadopsi boneka yang dinilai memiliki aura supranatural ini.

Di Thailand, boneka arwah ini punya sebutan ‘luk thep’, secara harfiah artinya adalah malaikat anak. Mereka percaya bahwa boneka ini membawa keberuntungan. Boneka ini dimanjakan oleh pemiliknya seolah-olah anaknya sendiri.

Didoakan oleh biksu

Selain dimanjakan, biasanya setelah membeli boneka arwah ini, pemiliknya akan membawanya ke seorang biksu untuk dibacakan doa. Doa ini dimaksudkan untuk mendatangkan keberuntungan. Namun ada juga yang menganggap doa ini untuk mengundang arwah masuk ke boneka.

Uniknya, tren boneka arwah di Thailand ini justru ditanggapi positif oleh industri penerbangan di sana. Misalnya, Thai Smile Airways yang membolehkan boneka mendapatkan kursi, makanan ringan, dan minuman mereka sendiri. Kendati demikian, tren ini sempat mendapat protes dari Otoritas Penerbangan Thailand.

Tren ini juga ditanggapi oleh restoran mewah di Thailand. Boneka arwah juga bisa mendapatkan tempat duduk dan makanannya sendiri.

MUI Buka Suara

Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Muhammad Cholil Nafis bicara soal boneka arwah ini. Dia menyebut tidak boleh memelihara makhluk halus.

“Punya boneka mainan itu boleh, tapi kalau itu diisi atau dipersepsikan tempat arwah hukumnya tidak boleh memelihara makhluk halus. Kalau disembah musyrik tapi kalau berteman saja berarti berteman dengan jin,” kata Cholil kepada wartawan, Senin (3/1/2022).

Dia menilai tidak seharusnya memperlakukan boneka layaknya anak karena boneka adalah benda mati. Cholil menyarankan umat Islam tidak terjebak hal mistis dan menuhankan selain Allah SWT.

“Baiknya uang yang dimiliki disumbangkan kepada anak yatim dan duafa dari pada memelihara boneka yang mistis itu,” ucapnya

Pandangan Sosiolog

Adopsi spirit doll atau boneka arwah menjadi tren di kalangan selebriti. Sosiolog dari Universitas Nasional, Sigit Rohadi mengatakan bahwa fenomena ini merupakan cerminan masyarakat yang kesepian.

“Meskipun tinggal di kota yang hiruk pikuk, masyarakat kota yang memelihara boneka dan memperlakukannya seperti manusia, mencerminkan masyarakat yang kesepian (kesepian dalam keramaian). Gejala ini juga menunjukkan warga yang kian individualis. Peran media sosial menyumbang besar dalam pembentukan individualitas dan kesepian ini,” kata Rohadi kepada wartawan, Senin (3/1).

Menurutnya, selama ini orang-orang sibuk di dunia maya, namun interaksinya di dunia nyata justru kering. Hal ini ditambah dengan pembatas fisik yang sukar dikontrol tetangga.

Meningkatnya interaksi di dunia maya inilah yang membuat orang memilih binatang peliharaan atau boneka. Manusia, kata dia, kehilangan kemanusiaannya.

“Inilah yang mendorong warga kota akrab dengan binatang peliharaan, boneka dan manekin yang dijadikan kekasih. Maraknya layanan dari rumah ke rumah atau kamar ke kamar seperti hantaran makanan oleh penyedia jasa transportasi online, turut juga menyumbang kesepian. Manusia-manusia teknologi kehilangan kemanusiaannya,” imbuhnya.

Membedah Fenomena Adopsi Boneka Arwah dari Sisi Psikologi

Fenomena mengadopsi boneka arwah atau spirit doll sebagai ‘anak’ menjadi tren di kalangan selebriti. Boneka tersebut diberi makan dan minum layaknya anak sungguhan. Apa kata psikolog?
Psikolog Klinis Ciputra Medical Center, Christina Tedja angkat bicara terkait fenomena ini. Christina mulanya menyinggung fenomena di Jepang terkait pernikahan dengan benda mati seperti boneka.

Ia menganggap fenomena di Jepang itu seperti fenomena adopsi boneka arwah yang saat ini sedang tren di Indonesia. Christina menilai orang yang mengadopsi boneka arwah menjadi ‘anak’ merasa tidak nyaman dengan lingkungannya.

“Sama halnya dengan mengasuh boneka sebagai anak sendiri, biasa orang yang menggunakan benda mati sebagai pasangan hidup atau dianggap sebagai individu yang hidup bersama merasa kurang nyaman degan orang di sekitarnya, merasa tidak dapat menjadi diri sendiri, atau merasa ingin diterima sepenuhnya namun tidak ia dapatkan,” ujar Christina kepada detikcom, Senin (3/1/2022).

Sehingga para pengadopsi, terang Christina, merasa dapat diterima sepenuhnya jika memiliki boneka arwah tersebut. “Dengan memelihara benda mati sebagai pendamping hidup, mereka dapat merasakan perasaan diterima sepenuhnya tanpa dikritik,” tuturnya.

Christina menambahkan para pengadopsi selayaknya mengetahui bahwa yang dirawatnya adalah benda mati. Namun, mereka merasa nyaman karena hal itu sehingga tidak mempermasalahkannya.

“Berbeda dengan kasus-kasus yang ‘memaksa’ atau mempercayai bahwa benda mati yang mereka asuh atau mereka jadikan pasangan adalah benda bernyawa. Biasanya kalau sudah seperti itu ya kita bisa anggap sebagai delusi ya. Memiliki pemahaman yang salah,” imbuh Christina.

Meski begitu, Christina tak menampik kemungkinan adanya maksud tertentu para selebriti mengadopsi boneka arwah. “Tapi kalau dalam dunia entertainment, mungkin ada metode-metode seperti itu untuk mempromosikan sesuatu,” pungkasnya.

MUI Buka Suara

Seperti diketahui, fenomena spirit doll atau boneka arwah semakin ramai dibahas masyarakat setelah beberapa selebriti mengaku merawatnya seperti anak sendiri. Mereka juga mulai memamerkannya ke publik melalui media sosial. Salah satunya yang kerap memamerkan boneka arwah ini adalah artis, Ivan Gunawan.

“Punya boneka mainan itu boleh, tapi kalau itu diisi atau dipersepsikan tempat arwah hukumnya tidak boleh memelihara makhluk halus. Kalau disembah musyrik tapi kalau berteman saja berarti berteman dengan jin,” kata Cholil kepada wartawan, Senin (3/1/2021).Sementara itu, Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Muhammad Cholil Nafis bicara soal boneka arwah ini. Dia menyebut tidak boleh memelihara makhluk halus.