Kehamilan itu Menular, Ternyata Bukan Cuma Mitos

394 views


Banyak perempuan yang sudah menikah kemudian mengeluhkan nasibnya yang belum juga diberi momongan. Padahal sudah bertahun-tahun menjalin rumah tangga. Soal mendapatkan momongan memang jadi dambaan setiap pasangan yang sudah menikah ya Bun. Tapi percayakah Bunda kalau ternyata kehamilan itu bisa menular? Bahkan di luar sana ada lho perempuan yang meminta jempol kakinya diinjak oleh sahabatnya yang sedang hamil lantaran meyakini kehamilan itu bisa ditularkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dari Bocconi University, Italia berusaha melihat efek pertemanan pada perilaku kesuburan seseorang dan transisi saat menjadi orangtua. Penelitian ini melibatkan 1,720 perempuan.

Mereka melakukan survei sejak para partisipanmasih di bangku sekolah menengah pada tahun 1990-2009. Ketika para wanita tersebut sudah menginjak usia 26-33 tahun, mereka diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan mereka, termasuk soal pertemanan.

Dari 820 wanita yang menjadi orangtua, rata-rata mereka melahirkan anak pertama di atas 27 tahun dan lebih dari separuhnya menyatakan bahwa kehamilan mereka tak direncanakan. Para ahli menyimpulkan bahwa mereka yang merencanakan kehamilannya dipicu oleh teman-teman ternyata sudah memiliki anak.

Jadi, bila Bunda memiliki teman SMA yang sudah memiliki anak, maka akan lebih mungkin “tertular”, dalam arti, lebih termotivasi untuk hamil. Seorang peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut mengatakan, penularan kehamilan yang dimaksud bukan terjadi melalui kontak fisik, namun melalui kontak emosional

Efek Kontak Emosional yang Bekerja

Jadi Bun, ketika seorang perempuan melihat teman sebayanya hamil dan melahirkan, maka pikiran positifnya juga akan mempengaruhi keinginannya untuk memiliki keturunan juga. Mungkin Bunda masih bertanya-tanya, kenapa peranan teman begitu penting dalam memengaruhi keputusan untuk memiliki keturunan?

Begini Bun, pengalaman melahirkan seorang teman merupakan sumber pembelajaran yang penting lantaran akan memberikan informasi yang relevan dan berguna mengenai bagaimana menhadapi transisi menjadi orangtua. Di lain sisi, kita cenderung menyamakan diri atau bahkan membandingkan dengan teman sebaya dengan berpikir: “Wah, di umurnya yang sekarang, dia sudah punya momongan, sementara saya belum.” Bila hal ini dijadikan motivasi yang positif, lambat laun keinginan untuk memiliki anak akan terasa begitu kuat.

Disadari atau tidak, rencana memiliki anak memang seharusnya menjadi keputusan yang sangat pribadi, nyatanya bisa dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan, terutama teman SMA yang masih sebaya dan akrab. Inilah sebabnya, cukup lazim bagi sekelompok perempuan yang bersahabat untuk hamil dalam waktu yang berdekatan, karena masing-masing saling menginspirasi dan memotivasi. Namun perlu dipahami bahwa hasil penelitian ini bukan menjadi patokan bagi perempuan untuk bisa hamil dan memiliki anak, beberapa faktor lain baik yang bisa dijelaskan maupun yang sifatnya misteri, juga perlu dijadikan evaluasi ya Bun.

Yang Lebih Penting, Jangan Sampai Perempuan Ingin Hamil Hanya Karena Melihat Temannya Hamil

Bun, jangan memutuskan memiliki anak hanya karena melihat teman yang sudah menjadi orangtua ya. Ingat, menjadi orang tua itu merupakan tanggung jawab yang berat dan tidak bisa dilakukan hanya demi memenuhi tuntutan sosial. Jika Bunda ingin memiliki momongan, pastikan Bunda dan pasangan sudah siap. Salah satunya dalam hal kesiapan emosional. Berikut tanda Bunda sudah siap secara emosional.

  • Sudah siap waktu Bunda terbagi. Ketika memiliki momongan, bisa dibilang waktu Bunda adalah milik si kecil.
  • Senang dengan anak kecil. Saat ada anak kecil Anda langsung gembira dan ingin mengajaknya bermain.
  • Tidak begitu berambisi dalam urusan karier. Apalagi Bunda sudah tidak bisa lagi seenaknya lembur dan pulang hingga larut malam karena ada makhluk kecil yang membutuhkan Bunda di rumah.
  • Rumah tangga Bunda berjalan harmonis. Tidak perlu pernikahan yang sempurna untuk memiliki anak.
  • Namun, harmonis berarti rumah tangga Bunda dalam kondisi yang baik. Misalnya, tidak ada masalah serius dalam rumah tangga seperti perselingkuhan, kekerasan rumah tangga, masalah komunikasi dengan pasangan, dan masalah pernikahan lainnya.

======

Ini 7 Bahaya Makan Pedas Bagi Kesehatan

Makanan pedas hampir selalu menggoda untuk dinikmati. Bbagi para pecinta pedas, makanan tanpa sensasi pedas bisa dianggap hambar dan membosankan.

Padahal di balik kelezatannya, terdapat bahaya makan pedas yang mengintai Anda

Bahaya Makan Pedas
Banyak orang yang percaya bahwa makanan pedas memiliki manfaat seperti mempercepat metabolisme tubuh, antiinflamasi, melawan bakteri dan sel kanker, hingga membuat panjang umur.

Dilansir Doktersehat, hal ini bisa saja terjadi mengingat sumber makanan pedas seperti cabai dan rempah lainnya memang memiliki beberapa kandungan yang baik untuk tubuh.

Manfaatnya memang banyak, tapi konsumsi makanan yang terlalu pedas dan terlalu sering juga bisa berbahaya bagi tubuh.

Berikut adalah bahaya sering makan pedas yang harus diwaspadai:

1. Diare

Bahaya makan pedas yang pertama adalah dapat menyebabkan diare. Toleransi setiap orang terhadap sensasi pedas berbeda-beda.

Ada yang bisa mengonsumsi makanan sangat pedas dan tidak terkena diare, namun ada juga yang mengonsumsi makanan yang sama dan dengan mudah terkena diare.

Cabai memiliki kandungan capsaicin yang berpotensi untuk menimbulkan rasa terbakar. Ini lah yang menyebabkan kita merasakan sensasi panas di tangan ketika menyentuh cabai.

Sebenarnya sensasi pedas tidak melukai sistem pencernaan secara langsung, melainkan memicu serabut saraf yang pada akhirnya memicu sensasi lainnya, termasuk pergerakan usus yang menjadi semakin cepat dan menyebabkan diare.

2. Gastritis akut

Gastritis atau yang dikenal juga dengan maag adalah kondisi meradangnya mukosa lambung. Maag ditandai dengan gejala seperti sakit perut, mual, muntah, sendawa, hingga kehilangan nafsu makan.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, makanan pedas akan menicu saraf tertentu untuk bereaksi, termasuk menghasilkan rasa nyeri.

Jika makanan pedas lebih banyak dan lebih sering dikonsumsi, maka rasa nyeri akibat peradangan pada mukosa lambung juga dapat semakin memburuk.

3. Meningkatkan gejala GERD

Makan pedas pada dasarnya tidak secara langsung dapat menyebabkan GERD atau yang biasa dikenal dengan penyakti asam lambung. Bahaya makan pedas sebenarnya adalah dapat memperburuk gejala penyakit asam lambung.

Makanan pedas dapat menyebabkan refluks asam, yaitu kondisi naiknya asam lambung hingga ke esofagus. Kondisi ini merupakan salah satu gejala GERD. Refluks asam dapat menyebabkan nyeri dan sensasi panas pada dada.

4. Memperburuk tukak saluran pencernaan

Bahaya makan pedas selanjutnya adalah dapat memperburuk kondisi tukak saluran pencernaan. Tukak saluran pencernaan adalah luka yang terjadi pada lapisan usus kecil, lambung, hingga esofafus.

Penyebab tukak saluran pencernaan yang paling umum adalah karena efek samping obat atau akibat infeksi bakteri H. Pylori.

Gejala tukak lambung meliputi rasa nyeri pada perut bagian atas atau dada, gangguan pencernaan, produksi gas berlebihan, mual, dan muntah.

Penderita tukak saluran pencernaan atau yang memiliki riwayat tukak saluran pencernaan sebaiknya tidak mengonsumsi makanan pedas.

5. Menurunkan sensitivitas lidah

Menurunnya sensitivitas lidah juga bisa merupakan bahaya sering makan pedas. Setelah mencoba makanan dengan tingkat pedas tertentu, lidah mungkin akan menginginkan makanan yang lebih pedas lagi.

Padahal, semakin pedas makanan, maka akan semakin menyebabkan luka yang lebih para di lidah.

Jika kebiasaan ini dibiarkan, bukan tidak mungkin sensitivitas lidah terhadap rasa akan berkurang. Perlu diketahui bahwa pedas bukan termasuk ke dalam rasa, melainkan sebuah sensasi.

Kerusakan lidah akibat sensasi pedas ini bisa terjadi pada seluruh lidah dan menurunkan sensitivitas kita terhadap rasa manis, asam, asin, gurih, dan pahit.

6. Menurunkan nafsu makan

Banyak yang berpendapat bahwa makanan pedas cocok untuk menurunkan berat badan. Hal ini mungkin ada benarnya karena makanan pedas memang dapat menekan nafsu makan.

Jika konsumsinya terlalu berlebihan tentunya tidak akan baik karena dapat menimbulkan hilangnya nafsu makan secara berlebihan juga.

7. Insomnia

Makanan pedas juga bisa menyababkan insomnia. Bahaya makan pedas yang satu ini sering dikaitkan dengan kemampuan makanan pedas untuk meningkatkan suhu tubuh.

Makanan pedas dapat meningkatkan waktu terjaga dan sleep onset latency yang merupakan waktu antara bangun penuh hingga tertidur

Tags: #bahaya makanan pedas bagi kesehatan #kehamilan itu menular