Kisah Inpiratif: Maukah Kamu Menikah Denganku?

170 views


Dulu ana datang ke suami ana, justru ana yang menawarkan diri ke suami. ”Akhi maukah menikah dengan ana?”, tawarku padanya.

Waktu itu dia masih kuliah smester 8. Dia cuma bengooonggg seribu bahasa, serasa melayang di atas awan, seolah waktu terhenti. Beberapa saat setelah setengah kesadarannya kembali dan setengahnya lagi entah kemana, dia berucap;

”Afwan ukhti, anti pengen mahar apa dari ana?” ucapnya.

“Cukup antum bersedia menikah denganku saja itu sudah lebih dari cukup” jawabku.

Bak orang awam mendaki gunung yang tinggi lagi extreme, eh dianya langsung lemes kayak pingsan! Besoknya datang nazhar, terus khitbah.

Lalu untuk ngumpulin uang buat nikah, dia jual sepeda dan jual komputernya untuk mahar dan biaya nikah.

Di awal pernikahan dia gak punya pendapatan apa-apa. Kita usaha bareng dan ana gak pernah nanya seberapa pendapatnya ataupun dia kerja apa.

Selama ana nikah dengannya ana belum pernah minta uang. Hingga kinipun kalo gak dikasih ya diam. Saat beras habis ana gak masak.

Saat dia nanya, “Koq gak masak beras, Dek?”

“Habis Mas”, jawabku

“Koq gak minta uang?”, lanjutnya.

Ana gak jawab, takut suami gak punya kalo ana minta. Jadi ana takut menyinggung perasaan kekasih hatiku.. weee..

Kalo kita menghormati suami, maka suami akan menyayangi kita lebih dari rasa sayang kita ke dia. Bahkan usaha sekarang dah maju pesat. Alhamdulillah. Ibarat kata uang 50jt dah hal biasa.

Lalu suatu hari ana tawarkan dia nikah lagi namun dia gak mau. Katanya ana itu tidak ada duanya, hehehe, ngalem dewek. Walaupun ortunya dulu gak ridho dengan ana, karena Salafi tapi sekarang sudah baikan.

Rezeki bisa dicari bersama. Bagi ana usaha yang dicari bersama suami susah-payah bersama, setelah sukses maka banyak kenangan manis yang tak terlupa.

Kita jadi saling memahami dan mengerti karakter masing-masing karena kita sering berinteraksi.

“Suamiku adalah temen curhatku…”

“Suamiku adalah patner bisnisku…”

“Suamiku adalah Ustadz tahsinku…”

“Suamiku adalah temen seperjuanganku…”

“Suamiku adalah sahabatku…”

“Suamiku adalah temen mainku…”

“Suamiku adalah temen berantemku…”

Itulah kiranya yang ana rasakan darinya, setelah 12 tahun menikah dan Insya Allah dikaruniai anak 7 semoga semakin menambah keberkahan dalam rumah tangga ana.Dan bukan hal yang hina bagi ana kalo ada seorang akhawat datang menawarkan diri ke ikhwan. Ana dulu hanya melihat dari bacaan Al-Qur’annya yang bagus dan dia sangat menjaga Sholatnya itu aja gak lebih.

Jadi para akhawat yang belum menikah, apa yang menghalangi anda untuk menikah muda? Apa karena melihat pendapatan materi dari ikhwan yang menghalaginya?

Seorang ibu yang menceritakan kisah cintanya Dengan sedikit penyesuaian.

Takut Menikah? Wahai Pemuda, Bersegeralah Jika Engkau Telah Mampu

Saat ini bisa disebut dengan zaman fitnah. Orang yang menikah saja masih bisa tergoda apalagi yang belum menikah. Hanya bedanya yang sudah menikah punya jalan keluar yang bisa menenangkan pikiran dan jiwanya, adapun yang masih lajang, janda ataupun duda maka rajin-rajinlah berpuasa karena itu benteng terakhir Anda.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Ia menuturkan:

“Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami: Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng)’.” (Muttafaq ‘alaih)

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata tentang fenomena menunda-nunda pernikahan, ia menyindir seseorang yang belum menikah padahal ia sudah layak untuk menikah, karena tiada penghalang menikah baginya.

“Tidak ada yang menghalangimu menikah kecuali kelemahan (lemah syahwat) atau kemaksiatan (ahli maksiat).”

Perkataan Umar tersebut akhirnya dijadikan sebagai rujukan oleh generasi setelahnya. Ibrahim bin Maisarah berkata,

“Thawus berkata kepadaku: Engkau benar-benar menikah atau aku mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan ‘Umar kepada Abu Zawaid, “Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau kemaksiatan (ahli maksiat).”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Seandainya aku tahu bahwa ajalku tinggal sepuluh hari lagi, dan aku mempunyai kemampuan menikah, maka aku akan menikah. Karena aku tidak suka bertemu dengan Allah dalam keadaan membujang.”

Wahai kaum Adam, Anda merupakan lelaki hebat, segera temui kedua orangtua calon maupun keluarganya, tanpa perlu menunda-nunda, tidak perlu takut ditolak.

Karena dunia ini begitu luas dan banyak perempuan shalehah, jika lamaran Anda ditolak, maka Anda tinggal mencari lagi. Buktikan kalau Anda memang seorang lelaki sejati.

Teruntuk kaum Hawa, banyaklah bersabar dengan terus memperbaiki diri dan berdoa sepenuh hati agar pangeran berkuda putih segera datang menjemput Anda, adapun dicarikan melalui bantuan orang lain hukumnya boleh-boleh saja.

Anda bisa memulai melakukan proses pencarian belahan jiwa terlebih dahulu, sebagaimana hal ini pernah dilakukan Khadijah kepada Rasulullah dengan mengutarakan maksud dan tujuannya melalui perantara orang lain. Andapun bisa melakukannya dengan orang yang anda percaya.

Jika Ingin Menikah Muda, 3 Bekal Ini yang Harus Kamu Persiapkan

Menikah muda tentu memiliki banyak resiko. Resiko tersebut didominasi oleh faktor tanggapan masyarakat. Pernikahan di usia muda yang mengalami kegagalan adalah gambaran buruk bagi kawula muda lainnya.

Walaupun sebenarnya kegagalan tersebut bukan berada di faktor usia mudanya. Melainkan tingkat ketakwaan dan kesadaran akan hakikat dan tujuan menikah.

Memilih menikah diusia muda tentu memerlukan banyak persiapan, diantaranya seperti yang dikutip dari catatan Ahmad Rifa’i Rifan adalah sebagai berikut,

Bekal Pertama
Jauh-jauh hari, persiapkan bekal pernikahan. Siapkan bekal finansial dengan cara belajar hidup mandiri pada usia semuda mungkin.

Rasanya tak keren jika uang kos dan kuliah saja masih meminta dari orang tua, lalu tiba-tiba meminta izin orang tua untuk menikah. Usahakan untuk mencoba mandiri semuda mungkin. Minimal dapat mengurangi jatah transferan orang tua.

Bekal Kedua
Siapkan bekal intelektual. Dalam Islam, kita mengenal kaidah dahulukan ilmu sebelum amal. Sebelum melangkah ke jenjang pernikahan banyak-banyaklah mencari ilmu. Seperti ilmu berkomunikasi dengan suami, ilmu mendidik anak, ilmu mengurus rumah, dan lain sebagainya.

Bekal Ketiga
Siapkan bekal sosial. Ketika sudah menikah sebaiknya memisahkan diri dari kediaman orang tua. Untuk itu pasangan yang baru menikah sebaiknya banyak-banyak mmepelajari adab bertetangga, bagaimana bersikap di lingkungan masyarakat, dan bekerjasma membangun masyarakat.

Itulah beberapa bekal yang harus dipersiapkan sebelum memutuskan untuk menikah diusia muda. Namun bekal yang paing utama adalah keyakinan.

Bahwa Allah tidak mungkin menyengsarakan umatnya. Umat yang berusaha melaksanakan sunnah Rosul dan bertujuan mulia dalam membina keluarga islami.

Selain itu restu orang tua pun erlu dipikirkan. Jangan memaksakan diri menikah tanpa restu mereka. Tetaplah osisikan diri sebagai anak yang berbakti. Walau pun pemikiran orang tua terkadang berbeda dengan anak muda masa kini.

Apabila seorang muslimah sudah mampu menunjukan kematangannya dalam membina keluarga kepada kedua orang tuanya. Orang tua tidak akan sulit memberika izin.

Maka persiapkan diri sejak saat ini. Agar ketika beberapa waktu kedepan ada yang melamar ukhti, tidak ada keraguan lagi dalam menolak atau pun menerimanya.

Tags: #bekal menikah muda #bersegeralah menikah bila telah mampu #jangan takut menikah #wanita menawarkan diri untuk dinikahi