Lagi Tugas Buru T*roris di Hutan, Polisi ini Dapat Kabar Istri Melahirkan dan Harus Azani Bayinya Lewat Hape


Lagi Tugas Buru Teroris di Hutan, Polisi ini Dapat Kabar Istri Melahirkan dan Harus Azani Bayinya Lewat Hape

Sekeras, setegas, dan segagahnya penampilan seorang polisi, mereka tetap memiliki hati yang lembut, yang akan mudah tersentuh bila dihadapkan pada kondisi tertentu.

Seperti contohnya personel Brimob Polri Sat Brimob Polda Lampung bernama Ipda Rano Aprilianto ini.

Imagenya sebagai anggota Brimob seketika sirna sementara saat dirinya tak kuasa menahan haru karena harus mengadzani buah hatinya yang baru saja dilahirkan oleh istri tercinta pada 15 Oktober 2021.

Seperti dilansir TribunJakarta.com, Ipda Rano yang ditugaskan dalam Satgas Madago Raya dalam memburu sisa teroris yang bergabung dalam kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di dalam hutan Parigi Moutong di wilayah Poso, Sulawesi Tengah pun terhenti begitu mendapat kabar istrinya melahirkan anak ketiganya dengan selamat.

“Anaknya laki apa perempuan,” tanya Ipda Rano kepada sang istri melalui sambungan telepon sebelum akhirnya melantunkan adzan untuk buah hati tercinta.

Selama mengadzani bayinya, air mata mengalir membasahi pipi Ipda Rano. Sementara rekan-rekannya tetap bersiaga menenteng senjata untuk memonitor apakah adanya pergerakan musuh.

Punya Anak Bikin Pasangan Suami Istri Lebih Bahagia, Benarkah?

Beberapa pasangan memilih untuk segera memiliki anak setelah menikah. Alasannya karena mempunyai anak di tengah keluarga akan membuat kehidupan pasangan suami istri.

Tapi, benarkah memutuskan untuk memiliki anak dan menjadi orang tua akan membuat seseorang lebih bahagia? Moms, simak penjelasan studi berikut ini.
Riset: Kebahagiaan Suami Istri Setelah Punya Anak

Dilansir Live Science, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Princeton University, menunjukkan hasil yang imbang bahwa keluarga–baik yang memiliki anak segera setelah menikah atau memutuskan untuk menunda memiliki anak, ternyata sama bahagianya.

“Orang yang punya anak memutuskan memiliki anak karena memang ingin. Sedangkan yang tidak, juga itu atas keinginan mereka sendiri. Lalu mengapa Anda berharap keluarga dengan anak akan lebih bahagia dari yang lain?” kata Angus Deaton, peneliti studi tersebut.

Namun studi lain menunjukkan hasil yang berbeda, Moms. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menjadi orang tua di usia relatif muda, akan menurunkan kebahagiaan mereka. Tapi, ketika mereka di usia paruh baya dan memiliki anak, itu akan memberikan banyak kebahagiaan. Penelitian lainnya mengatakan, menjadi orang tua akan lebih bahagia daripada yang memutuskan tidak jadi orang tua.

Deaton dan koleganya, Arthur Stone, seorang peneliti psikiatri dari Stony Brook University di New York, AS melakukan penelitian kepada pasangan yang sudah memiliki anak di rumah. Mereka ditanya tentang bagaimana kebahagiaan kehidupan mereka setelah memiliki anak dari skala 0-10.

Secara keseluruhan, pasangan dengan anak-anak di rumah cenderung menilai kehidupan mereka lebih baik daripada yang tidak memiliki anak. Namun hasil tersebut tidak bisa menjadi patokan apakah menjadi orang tua lebih bahagia daripada yang memutuskan belum memiliki anak.

Meski begitu, menurut Andrew Oswald, seorang ekonom di University of Warwick, Inggris, di zaman sekarang memutuskan memiliki anak sebagian besar adalah karena sebuah pilihan. “Memilih salah satunya (menjadi orang tua dan tidak) bisa membuat kebahagiaan. Dan setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda,” kata Oswald.

Sementara menurut Carol Graham, ekonom dari Brookings Institutio, AS, mengatakan bagi mereka yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, mungkin saja mereka mempunyai hal-hal dalam hidup yang bisa memuaskan mereka. Namun memang, kehadiran cucu dalam kehidupan orang tua Anda akan memiliki manfaat yang besar.

“Ada banyak bukti bahwa cucu memang membuat orang tua Anda bahagia. Kakek nenek bisa mendapatkan kebahagiaan bersama cucu tanpa harus bangun di tengah malam,” tutup Oswald.

Jadi, Moms, mempunyai anak adalah sebuah pilihan masing-masing pasangan. Bila ada pasangan suami istri yang belum atau tidak ingin memiliki anak, belum tentu hidup mereka tidak bahagia, begitu pula sebaliknya.

======

Bikin Satu Rumah Sakit-sakitan, Tolong Stop Menyimpan Bawang Putih di Kulkas Mulai Sekarang, Efek Sampingnya Nggak Main-main

awang putih adalah salah satu bumbu dapur yang umum digunakan.

Bukan hanya jadi penyedap makanan, tapi bawang putih juga bisa diandalkan untuk pengobatan.

Mengutip Kompas.com, bawang putih bisa mengatasi masalah kesehatan yang berkaitan tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan pengerasan pembuluh darah.

Diwartakan WebMD, adapun berbagai manfaat bawang putih untuk kesehatan mungkin disebabkan oleh adanya kandungan allicin.

Allicin yang membuat bawang putih memiliki aroma menyengat.

Punya banyak manfaat kesehatan, sekarang coba ingat-ingat, seperti apa biasanya kamu menyimpan bawang putih?

Kalau masih menyimpan bawang putih di kulkas, sebaiknya stop mulai sekarang.

Dilansir Grid.ID dari Sajian Sedap, ternyata sangat bahaya menyimpan bawang putih di kulkas karena akan memperburuk kualitas bahan dapur itu.

Apabila kualitas bawang putih buruk, maka akan berpengaruh pada gizi dan nutrisi yang ada di dalamnya.

Bahkan, kandungan allicin pada bawang putih pasti berkurang atau bisa hilang.

Bawang putih yang disimpan di kulkas juga akan jadi mudah berjamur.

Kemudian, bagian daging bawang putih juga akan berubah warna dan teksturnya akan menjadi seperti karet.

Jika hal ini terus dilakukan, jangan heran kalau kesehatan juga terdampak akibat mengomsumsi bawang putih yang tidak berkualitas baik.

Lantas, bagaimana cara yang tepat untuk menyimpan bawang putih?

Kita bisa menyimpan bawang putih di tempat terbuka dengan suhu ruang saja.

Jangan menyimpan bawang putih di dalam plastik yang tertutup atau dalam wadah kedap udara.

Letakkan bawang putih dalam wadah terbuka dan jauhkan dari panas seperti kompor, microwave, atau sinar matahari langsung.

======

Bolehkah Ibu Menyusui Melakukan Diet?

Kenaikan berat badan saat hamil adalah hal yang normal terjadi. Walau begitu, tidak sedikit ibu baru yang kurang percaya diri dengan perubahan bentuk tubuh mereka, dan alhasil beberapa di antaranya segera berdiet setelah melahirkan. Pertanyaannya, apakah ibu menyusui boleh melakukan diet?

Setelah melahirkan, selain merawat bayi, tugas seorang ibu adalah menyusui bayinya kapan pun dibutuhkan. Umumnya, bayi baru lahir akan sering menyusu setiap 1−2 jam sekali. Karena alasan inilah payudara Busui akan terpancing untuk terus memproduksi dan mengeluarkan ASI.

Ketika sedang menyusui siang malam, tubuh Busui tentu membutuhkan banyak energi. Jadi, jangan heran bila tubuh Busui seakan-akan menuntut lebih banyak pasokan makanan dan cairan, alias jadi mudah lapar dan haus.

Ibu Menyusui Tidak Dianjurkan untuk Melakukan Diet Ketat

Karena alasan di atas, wajar saja bila saat menyusui Busui akan makan lebih banyak. Hal ini tentu bisa membuat Busui kesulitan untuk menurunkan bobot tubuh pascamelahirkan atau bahkan malah membuat berat badan Busui meningkat.

Nah, bila pada masa ini Busui ingin diet, pastikan Busui tidak melakukannya dengan berlebihan, ya. Diet saat menyusui sebenarnya boleh-boleh saja, kok. Hanya saja, Busui tidak dianjurkan untuk menerapkan diet ketat, yakni diet yang dilakukan dengan cara memangkas waktu makan atau perubahan porsi makan secara drastis.

Misalnya, Busui sengaja melewatkan waktu sarapan dan makan malam, mengganti menu makan lengkap dengan menu yang tanpa lemak atau karbohidrat, atau hanya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari.

Memang, diet seperti itu dipercaya mampu menurunkan berat badan dalam waktu yang singkat. Akan tetapi, diet tersebut tidak menyehatkan dan akan membuat Bumil mendapatkan sangat sedikit kalori dan nutrisi dari makanan.

Padahal, saat menyusui Busui membutuhkan ekstra kalori dan nutrisi, lho. Selain sebagai sumber energi Busui, segala yang Busui konsumsi akan berperan penting untuk menunjang nutrisi yang terkandung pada ASI dan meningkatkan jumlah ASI.

Bila Busui tetap melakukan diet ketat, dikhawatirkan kebutuhan gizi bayi dari ASI tidak akan tercukupi dengan baik. Hal tersebut tentu bisa berdampak pada proses tumbuh kembangnya.

Selain itu, Busui juga akan kekurangan energi yang dibutuhkan untuk memproduksi ASI, sehingga ASI jadi sedikit. Kekurangan energi juga akan membuat Busui lemas, dan ini tentunya akan menyebabkan Busui kesulitan untuk merawat Si Kecil dan menyusuinya, kan?

Tips Menurunkan Berat Badan Setelah Melahirkan

Sebenarnya Busui masih bisa, kok, menurunkan berat badan setelah melahirkan, tapi dengan cara yang aman dan sehat. Berikut ini adalah panduannya:

  • Jangan melewatkan waktu makan.
  • Makanlah dengan porsi kecil, tapi sering.
  • Konsumsilah makanan yang sehat.
  • Pilih camilan seperti buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan.
  • Hindari minuman manis berkalori, seperti jus, minuman bersoda, ataupun teh dan kopi yang bergula.
  • Jauhi makanan yang digoreng dan pilihlah makanan yang direbus, tumis, atau panggang.
  • Perbanyak mengonsumsi makanan sumber serat dan berprotein tinggi.
  • Jauhi makanan cepat saji.
  • Usahakan untuk tetap aktif bergerak dan berolahraga yang cocok dengan kondisi tubuh Busui.

Dengan mengetahui informasi di atas, selain tahu bahaya di balik diet ketat, kini Busui tidak perlu bingung dalam menurunkan berat badan setelah melahirkan, ya. Jika tips di atas dilakukan dengan konsisten setiap hari, bobot tubuh berlebih pun perlahan akan berkurang dan bentuk tubuh Busui bisa kembali seperti sedia kala.

Selain itu, penting untuk selalu menyusui buah hati sesering mungkin. Menyusui juga mampu mempercepat pembakaran lemak dan penurunan berat badan, lho. Jika selama menyusui Busui memiliki keluhan atau gangguan seputar ASI, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan konsultan laktasi.

Tags: #azankan anak saat masih dihutan menggunakan handphone #ibu menyusui melakukan diet #jangan menyimpan bawang putih dikulkas