Maaf, Saya Ijin Silent Member di Grup WA Keluarga.

398 views


Cerita keluarga, Silent Member di Grup WA Keluarga.

Namaku Yudi, aku seorang guru honorer di sebuah SD. Gajiku sebulan hanya satu juta lebih sedikit. Sementara istriku Intan adalah seorang ibu rumah tangga yang menyambi berjualan kue kering secara online.

Kehidupan kami amat sederhana tapi Alhamdulillah kami bahagia, tak pernah merepotkan oranglain apalagi sampai berhutang. Kami memiliki dua orang putri 8 tahun dan 4 tahun usianya.

Keadaanku secara materi sangat berbanding terbalik dengan kedua kakakku. Kakak pertamaku namanya mbak Dewi seorang dosen di universitas terkemuka sedangkan suaminya menjabat sebagai dekan di tempat yang sama dengannya. Kakak keduaku laki-laki namanya Mas Doni dia bekerja di sebuah perusahaan asing dengan gaji fantastis. Mungkin bisa dibilang gajiku setahun pun tak akan ada apa-apanya dengan gajinya sebulan.

Keluarga besarku rata-rata memang berasal dari kalangan terpelajar dan berada. Almarhum ayahku merupakan sulung dari lima bersaudara. Terlebih para sepupuku, pekerjaan mereka rata-rata menghasilkan rupiah yang fantastis. Ada Dela yang menjadi seorang pialang saham. Rudi yang menjabat manager di salah satu perusahaan IT dan masih banyak lagi sepupu-sepupuku yang lain yang memiliki prestasi dalam hal status sosial dan pekerjaannya.

Hanya ada satu orang saja sepupuku yang taraf hidupnya sama sepertiku, hidup sederhana di perumahan 6×6. Namanya mas Irwan dia bekerja sebagai penjual madu dan herbal sementara istrinya memiliki usaha catering. Dari semua sepupuku dialah yang paling dekat denganku. Sering berkunjung ke rumah sambil membawakan aneka lauk masakan istrinya. Begitupun aku terhadap keluarganya juga sangat dekat. Mungkin kedekatan kami juga dipengaruhi dengan latar belakang strata sosial yang sama, tidak ada kesenjangan yang membuat kami merasa saling tak enak hati.

Kami semua tergabung dalam grup WhatsApp keluarga. Bani Soejarwo namanya. Nama kakekku yang merupakan seorang purnawirawan.

Lima saudara dari ayahku hanya bersisa dua orang, yakni adiknya yang nomor tiga namanya tante Lisa dan nomor lima namanya om Agus, sementara yang lainnya tlah berpulang.

Di grup itu aku lebih sering diam, sangat jarang posting. Paling hanya berkomentar ketika para sepupuku memposting sesuatu. Sebisamungkin aku memberikan respon positif penuh apresiasi. Aku turut bahagia dengan kebahagiaan mereka.

Saat mereka memposting foto liburan ke luar negri aku selipkan emoticon jempol dan juga kata penuh apresiasi.

“Wahh MasyaAllah uda sampai ke Jepang aja nih .. disana lagi musim apa? Titip salam ya untuk bunga sakura. Selamat berlibur”

Hingga suatu ketika untuk pertamakalinya aku memposting foto putri sulungku yang sedang mengikuti lomba tahfidz. Bukan atas keinginanku melainkan putriku sendiri yang memintanya agar keluarga besar mengiringi usahanya dengan doa, tidak ada maksud lain selain itu.

Aku beri caption di foto itu

“Oma.. Opa dan Om Tante semuanya doain Alya ya, semoga diberi kelancaran dalam mengikuti lomba”

Selang satu jam berlalu tak ada satu pun yang merespon foto itu, padahal hampir semua anggota grup tlah melihat postinganku itu.

Lalu beberapa menit sebelum Alya naik ke pentas mas Irwan membaca pesan itu dan mengucapkan doa untuk Alya.

“Semoga sukses ya ponakanku yang sholihah..”

Sesaat kemudian kakak kandungku mbak Dewi pun mengucapkan hal yang sama. Mbak Dewi memang sangat baik orangnya, meski kaya raya dan berpendidikan tinggi dialah saudaraku seorang yang tak pernah memandangku rendah.

Selang 10 menit setelah Alya turun dari podium lomba. Tiba-tiba gawaiku berbunyi. Sebuah pesan masuk di grup keluarga. Rudi menampilkan foto kedua putranya yang sedang berseluncur diatas salju tanpa caption apa-apa.

Dan tak perlu menunggu lama, semua anggota grup riuh mereply foto itu dengan penuh pujian.

“Duhh gantengnya cucu Oma”

“Wahh hebatnya ponakanku uda bisa berseluncur”

“Wihh keren liburan ke LN lagi”

“Hebat anak Pak Rudi”

“Dimana nih .. perasaan kemarin masih di Jakarta”

Dan masih banyak lagi..

Semua anggota grup itu hiruk pikuk mengapresiasi, demikianpun aku tak lupa aku sematkan kata

” Masya Allah .. barakallah jagoannya Pak Rudi”

Putriku Alya mengintip gawaiku sambil bertanya.

” Om dan tante semuanya uda doain kesuksesan untuk Alya ya Yah?”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil buru-buru kumasukkan gawai itu ke saku.

“Iya sayang .. Alhamdulillah semuanya mensupport Alya”

Putriku tersenyum bahagia, sementara aku berusaha menarik nafas panjang agar rongga dadaku mengembang.

Sebenarnya ini bukan kali pertama terjadi di grup itu. Kejadian serupa pun begitu sering terjadi meski bukan aku yang alami.

Seringkali ketika mas Irwan, sepupuku yang memiliki kehidupan sederhana sepertiku memposting sesuatu di grup itu maka grup akan hening tak ada yang mengapresiasi, hanya aku seorang yang mereply tiap postingannya. Padahal mas Irwan ini tipe orang yang baik pribadinya, tutur katanya sopan dan seringkali pula mengingatkan hal-hal penuh kebaikan.

Mungkin karena kemuliaan akhlaknya itu sekalipun dia tak pernah dianggap di grup keluarga dia tak pernah sakit hati walau acapkali dicuekin tak pernah kecewa. Tak pernah berhenti menebar salam, sapa dan manfaat.

Lain halnya jika yang memposting adalah mereka yang ‘berada’ maka yang lain akan berbondong-bondong mereply dan berbalas komentar dengan begitu renyahnya.

Saat aku menyadari bahwa grup itu memang tak sehat, sebenarnya aku malas tergabung di dalamnya, sebenarnya ingin keluar dari grup tapi aku sungkan pada mbak Dewi yang tlah membuat dan memasukkan aku kedalamnya. Mas Irwan saja yang seringkali ngga dianggap masih selalu berdamai dengan keadaan dan tak henti menebar salam serta manfaat.

Realita itu membuatku sadar diri, aku hanya menjadi silent reader disitu. Silent reader dalam artian tidak pernah memposting apa-apa, kecuali mereply kalimat apresiasi pada mereka yang memposting aktifitasnya. Bukan bermaksud bermuka dua, aku hanya berusaha menjaga hubungan sesama anggota keluarga. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga dari ayahku dan aku memiliki kewajiban untuk terus menyambung silaturahmi bersama mereka.

Pernah suatu ketika aku berkunjung ke rumah Dela sepupuku yang merupakan anak tante Lisa.

Aku datang mengendarai motor supra bersama istriku dan kedua putriku. Kami menempuh jarak sekitar 3,5 jam perjalanan. Istriku sangat antusias dan senang sampai-sampai semalaman dia begadang membuat pai buah, nastar dan stik keju untuk buah tangan. Ini adalah kali pertama aku dan keluargaku datang berkunjung ke rumah Dela sebab sebelumnya dia tinggal di luar negri baru beberapa bulan ini dia pindah dan menetap disini.

Rumahnya begitu besar persis istana. Disamping rumah megahnya itu berjajar 3 mobil sedan mewah.

Sesaat setelah mengetuk pintu seorang wanita muda membukakannya. Ternyata itu pembantu Dela dan dia bertanya siapa kami ini, setelah kami jelaskan bahwa kami sepupu Dela wanita muda itu menyuruh kami menunggu di kursi teras.

Kami menunggu cukup lama, hampir satu jam. Putri bungsuku hingga merengek tak sabar minta pulang. Aku hibur dia supaya bersabar. Dan akhirnya Dela dan tante Lisa pun keluar. Aku suruh kedua putriku mencium tangan mereka.

Istriku menjabat tangan mereka sambil mengulurkan tas karton berisi buah tangan yang tlah dia siapkan semalaman, Dela raih tas itu kemudian meletakkannya di samping pot bunga. Tak lama setelah kami mengobrol tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah memasuki halaman rumah Dela. Sesaat kemudian Rudi sepupuku anak sulung Om Agus keluar dari dalamnya. Ia tak datang sendiri tapi ditemani istri dan kedua putranya.

Dela dan Tante Lisa menyambut mereka dengan begitu hangat. Memeluk istri Rudi dengan erat dan menciumi kedua putranya. Sejenak Rudi menghampiriku dan kujabat tangannya. Kami mengobrol sebentar sambil berdiri di teras itu. Sementara kulihat tante Lisa dan Dela telah mengajak istri Rudi dan kedua putranya masuk ke dalam rumah. Kulirik istri dan kedua putriku masih terdiam mematung di kursi teras tanpa ada seorangpun yang mengajak mereka turut serta masuk ke dalam.

Setelah mengobrol ringan Rudi berpamitan untuk mengambil barang bawaannya dari mobil. Nampaknya dia membawa sebuah parsel berisi coklat mahal dari New Zealand. Dela meraih parsel itu dengan sumringah

“Duhh kok repot-repot sihh bawain oleh-oleh sebanyak ini.. aduhh ini kesukaan anakku loh… Ayo Mas Rud masuk… Ntar lagi suamiku pulang kok dia masih ada meeting”

Aku terdiam sambil menatap wajah istriku yang nampak tertunduk penuh kesedihan. Dia berusaha menyembunyikan kekecewaannya tapi aku bisa menangkap raut kecewa itu.

Kami menunggu di teras barangkali si tuan rumah lupa bahwa masih ada kami ‘tamu yang lainnya’ yang belum sempat mereka persilahkan untuk masuk.

Selang 20 menit kemudian nyatanya mereka tak ada keluar. Kami mendengar mereka sedang asyik mengobrol dan tertawa begitu hangat di dalam.

Akhirnya kami memutuskan untuk berpamitan, saat ada pembantu Dela lewat kami panggil dia untuk menyampaikan kepada majikannya.

Dela pun keluar sendirian tanpa tante Lisa. Aku pamit kepadanya dan istriku menjabat tangannya.

Aku starter motor supraku yang terlihat butut itu. Sebuah motor yang rasanya tak pantas terparkir di depan rumah mewah berpilar bak istana.

Saat kami hendak berlalu pergi dari halaman itu, aku sempatkan melirik dari spion motorku tas karton berwarna coklat dari istriku masih tergeletak di atas lantai samping pot bunga. Sedangkan Dela telah berlalu pergi masuk ke dalam istananya. Aku menghela nafas panjang sambil beristighfar dan berharap semoga Intan istriku tidak melihatnya.

Selang beberapa kilometer dari rumah Dela. Putri bungsuku berkata

“Ayah dedek haus sekali, tadi tante yang punya rumah kok ngga kasih kita minum ya? Apa di rumahnya ngga ada air?”

Deg.. teriris rasanya dadaku

Bahkan segelas air pun tak mereka suguhkan pada kami yang nyaris 4 jam kepanasan naik motor di perjalanan.

Akhirnya kutepikan motor bututku di sebuah minimarket. Aku belikan anak-anakku sebotol minuman dingin dan beberapa bungkus snack.

Saat duduk di depam minimarket tiba-tiba gawaiku bergetar.

Sebuah pesan WA dilengkapi beberapa foto tertampil di grup keluarga.

Tante Lisa menuliskan

“Ayo yang lain dimana nihh .. di rumah tante ada Rudi lagi nikmatin masakan tante, Dewi, Doni, Indah, Yona pada kemana nih?”

Yang dipanggil hanya mereka yang ‘hebat’ pastinya.

Aku tutup gawaiku takut jika istriku mengetahui akan hal itu.

Semenjak saat itu aku semakin sadar diri bahwa mengakrabkan diri pada orang-orang yang salah hanya akan membuat dada terasa sesak.

Adakalanya kita butuh jarak agar tetap bisa bernafas dengan lega. Terkadang kita tidak perlu melihat pemandangan diluar jendela sekalipun pemandangan itu begitu indah.

Aku tidak keluar dari grup WA keluarga tapi aku nonaktifkan segala pemberitahuan darinya. Agar tak ada lagi celah dalam hatiku untuk merasakan sakit hati. Agar aku lebih menikmati hari-hariku yang indah dengan istri dan kedua putriku tanpa bayang-bayang rendah diri karena berada di tempat yang tak semestinya yakni grup WA keluarga.

======

Cara Mengatasi Bayi Suka Menggigit Saat Menyusu

Salah satu tantangan yang sering dialami ibu menyusui adalah bayi suka menggigit saat menyusu. Rasa nyeri dan lecet yang ditimbulkan sering kali membuat ibu menyusui kesulitan memberikan ASI. Untuk mengatasinya, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Bayi suka menggigit saat menyusu biasanya terjadi ketika ia sedang atau sudah tumbuh gigi. Meski normal terjadi, kebiasaan bayi tersebut tentu membuat banyak ibu menyusui merasa tidak nyaman. Namun, kendala ini bisa diatasi dengan mengenali terlebih dulu penyebab bayi suka menggigit saat menyusu.

Penyebab Bayi Suka Menggigit Saat Menyusu

Ada beberapa penyebab bayi suka menggigit saat menyusu, di antaranya:

Proses tumbuh gigi

Saat bayi mengalami tumbuh gigi, gusinya akan terasa gatal. Hal ini membuat bayi mencari cara agar nyeri dan gatal pada gusinya dapat berkurang. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan menggigit puting saat menyusu.

Pelekatan yang salah

Pelekatan yang salah ditandai ketika puting berada di antara gusi atau gigi bayi, tanpa tertutupi oleh lidah. Hal ini membuat puting rentan tergigit saat bayi melonggarkan isapannya atau mengubah posisi.

Perhatiannya teralihkan

Seiring usianya bertambah, fokus perhatian bayi akan semakin mudah teralihkan. Ketika ada sesuatu yang menarik perhatiannya, bayi akan refleks menoleh sehingga tidak sengaja mengigit puting.

Sedang sakit

Saat sedang demam atau menderita infeksi saluran telinga, bayi menjadi lebih sulit mengisap dan menelan. Hal ini bisa membuat bayi tidak sengaja menggigit puting.

Aliran ASI terlalu pelan

Bayi suka menggigit saat menyusu bisa disebabkan oleh aliran ASI yang lambat, sehingga membuatnya tidak sabar, terutama jika sedang lapar.

Selain beberapa alasan di atas, bayi menggigit saat menyusu juga bisa terjadi ketika bayi merasa bosan, mengantuk, ingin diperhatikan, atau sekedar ingin bermain.

Cara Mengatasi Bayi Suka Menggigit Saat Menyusu

Ada beberapa cara untuk mengatasi bayi suka menggigit saat menyusu, di antaranya:

1. Tidak bereaksi berlebihan

Saat puting tergigit, Anda mungkin akan kaget dan tiba-tiba menjerit. Reaksi ini juga bisa membuat Si Kecil kaget, kemudian menangis dan menolak menyusu kembali.

Cara menyikapinya adalah tarik napas dan tetap tenang. Katakan secara perlahan bahwa mengiggit membuat Anda kesakitan dan ia sebaiknya tidak melakukannya lagi. Meski Si Kecil belum tentu mengerti perkataan Anda, tetapi ia akan memahami dari gerakan yang Anda lakukan.

2. Melepas pay*dara

Saat puting tergigit, Anda pasti ingin menarik pay*dara sesegera mungkin. Akan tetapi, hal ini justru dapat membuat puting semakin tertarik.

Untuk melepaskan pay*dara, selipkan jari Anda di sudut mulut bayi, lalu lepaskan puting secara perlahan. Anda juga bisa mendorong Si Kecil ke dada, menekan sebentar wajahnya ke pay*dara yang menutupi hidung dan mulutnya. Cara ini otomatis membuatnya membuka mulut dan melepaskan isapan.

3. Memijat gusi bayi

Jika Si Kecil menggigit karena sedang tumbuh gigi, pijat gusinya dengan jari yang bersih. Anda juga bisa memberikan Si Kecil mainan teether sebelum atau sesudah menyusui untuk meredakan rasa gatal pada gusi.

4. Menyusui di tempat tenang

Menyusui di tempat tenang dapat mengurangi berbagai hal yang dapat mengalihkan perhatian Si Kecil saat menyusu. Saat memberikan ASI, Anda bisa memberikan perhatian penuh dengan melakukan kontak mata dan mengajaknya berbicara.

Saat Si Kecil mulai terlelap, Anda bisa mencoba melepaskan payudara secara perlahan dari mulutnya.

5. Memerah sebelum disusui

Jika Si Kecil menggigit karena aliran ASI kurang lancar, Anda bisa mencoba untuk memijat payudara sebelum memberikan ASI. Anda juga bisa memerah sebentar agar ASI mengalir, sehingga Si Kecil tidak perlu bersusah payah saat menyusu.

Bayi suka menggigit saat menyusu merupakan hal yang normal terjadi. Namun, langkah-langkah untuk mengatasinya penting dilakukan agar tidak menjadi kebiasaan dan Anda pun lebih nyaman saat memberikan ASI.

Akan tetapi, bila Anda terlanjur mengalami lecet atau nyeri pada puting, Anda dapat mengatasinya dengan mengoleskan krim khusus, menggunakan kompres dingin, atau menyusui di bagian payudara yang tidak nyeri.

Bila nyeri pada puting akibat bayi suka menggigit saat menyusu tidak kunjung hilang atau bayi masih terus menggigit ketika diberi ASI, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter atau konsultan laktasi untuk mengetahui penyebab dan solusinya.

Tags: #meninggalkan grup WA