Menyentuh Hati, Bayi Tuli Ini Menahan Tangis ketika Mendengar Suara Ibu untuk Pertama Kalinya dengan Alat Bantu Dengar


Menyentuh Hati, Bayi Tuli Ini Menahan Tangis ketika Mendengar Suara Ibu untuk Pertama Kalinya dengan Alat Bantu Dengar. Dia mungkin baru berusia dua bulan, tetapi ekspresinya mengatakan lebih dari segalanya; seolah dia ingin menyampaikan padanya bahwa dia juga mencintai ibunya!

Charly bahkan mencoba menahan air matanya setelah mendengar suara ibunya untuk pertama kalinya. Charly dikatakan normal saat ia pertama kali lahir. Dia adalah bayi perempuan yang sehat, tetapi kekhawatiran terjadi saat dia tidak merespon suara.

Setelah menyadari ini, orangtuanya membawanya untuk tes pendengaran dan hasilnya sangat menghancurkan hatinya; pendengarannya terganggu dan dia perlu menggunakan alat bantu dengar.

Christy Keane mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan pendengaran. Namun demikian, dia bersyukur bahwa Charly adalah bayi perempuan yang cantik dan sehat.

Walau Charly tuli, itu tidak akan menghentikan langkah mereka untuk membantu Charly mencapai yang terbaik dalam hidupnya.

“Ini adalah berita yang mengejutkan, tapi ini bukan berita yang menyedihkan.”

“Bayi manis ini cantik dan sehat, dia sangat mampu mencapai semua yang dia inginkan dalam hidup dan kami akan memastikan itu terjadi.” tulis Christy di akun Instagram-nya. Sumber Artikel: grid.id

Benarkah bayi sudah bisa mendengar sejak dalam kandungan?

Orangtua mana yang tidak khawatir saat mengetahui anaknya tidak merespon ketika dipanggil, atau saat diberikan mainan yang bisa merangsang pendengarnya. Oleh karena itu penting bagi Parents untuk mengetahui tahapan proses mendengar bayi.

Faktanya, kemampuan mendengar bayi sudah terbentuk sejak masih di dalam kandungan, dimulai sejak berusia janin berusia 23-27 minggu. Maka tak mengherankan jika orangtua dianjurkan untuk menjalin komunikasi dengan janin sedini mungkin,

Ketika usia kandungan 20 minggu, ternyata janin sudah bisa memberikan reaksi pada nada rendah. Lalu, saat memasuki usia 35 minggu, janin akan mulai memberikan reaksi pada nada menengah dan tinggi.

Sementara itu, saat bayi sudah dilahirkan, proses mendengar pada bayi juga akan dipengaruhi oleh usia serta tahap perkembangan dan tingkat gangguan pendengaran.

Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri untuk bayi baru lahir, yaitu dalam dua bulan pertama kehidupan, sulit bagi orangtua untuk mengetahui bagaimana kondisi pendengaran bayi. Pasalnya, bayi cenderung belum bisa memberikan respons apa pun pada suara.

Kalaupun memberikan respons, itu sangat sulit untuk terdeteksi. Misalnya, bayi mungkin hanya melebarkan mata atau bergerak dalam tidurnya ketika ia mendengar suara.

Patut diketahui, jenis suara yang justru dapat didengar baik oleh bayi adalah suara dengan nada lembut. Sehingga, bayi akan lebih memberikan respons suara pada tingkat yang lebih lembut daripada menanggapi suara-suara lain di sekitar rumah.

Bayi juga lebih tertarik pada suara-suara kompleks seperti mainan kerincingan atau musik. Namun, jika bunyi itu diulang terlalu sering, bayi justru akan kehilangan minat dan mungkin berhenti untuk memberikan respons.

Proses Mendengar : Respons bayi saat mendengar suara sesuai dengan usia proses mendengar

Berdasarkan informasi dari Australian Hearing, terdapat respons yang berbeda pada setiap bayi jika mendengar suara. Perbedaan itu berdasarkan dengan usia bayi.

1. Bayi usia 0 – 28 hari

  • Merespons terbaik untuk suara terdekat.
  • Terkejut mendengar suara yang dirasa keras untuknya.
  • Memperluas mata atau berkedip saat ada suara tiba-tiba. Bahkan mungkin bayi juga bisa menjadi merasa tertekan.
  • Bangun dari tidurnya sebagai respons terhadap suara.
  • Gerakan mata. Misalnya, bayi baru lahir dapat mengarahkan mata mereka ke arah suara yang terus menerus di dekatnya.
  • Untuk suara-suara tertentu, tubuh bayi mungkin saja menegang.

2. Bayi berusia 1 – 4 bulan

  • Memperluas atau mengedipkan mata dan mungkin mengerutkan alis sebagai respons terhadap suara.
  • Mata akan melirik ke arah sumber suara.
  • Diam dan tegang, khususnya apabila suara itu mengejutkan.
  • Mulai bisa memutar kepala ke arah suara, khususnya untuk bayi yang berusia 4 bulan.

3. Bayi berusia 4 – 7 bulan

Memutarkan kepala ke arah suara, tapi hanya dapat menemukan suara secara langsung jika berada pada tingkat yang sama dengan telinga. Muncul ketertarikan untuk mendengarkan.

Proses Mendengar : Jenis pendeteksian dini terhadap pendengaran bayi

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebelum orangtua mendeteksi sendiri bagaimana pendengaran bayi, idealnya juga melakukan deteksi dini gangguan pendengaran terlebih dahulu. Hal ini perlu dilakukan sebagai antisipasi terjadinya gangguan pendengaran dan wicara.

Ada 2 deteksi dini yang umum dilakukan yaitu, skrining pendengaran dan pemeriksaan otoaccoustic emission (OAE) diagnostik dan brainsteam evoked response audiometry (BERA). Waktu pemeriksaannya pun berbeda, yaitu pada 48 jam pertama kehidupan dan saat bayi menjelang 3 bulan.

Skrining pendengaran dilakukan untuk mengetahui kondisi rumah siput (koklea) yang berperan sebagai sensor terhadap bunyi dari sekitarnya. Sedangkan pemeriksaan OAE diagnostik dan BERA untuk mengetahui kondisi saraf atau yang dikenal sebagai gangguan sensorineural.

Sementara itu, agar fungsi pendengaran bayi dapat berkembang dengan baik, idealnya perlu melakukan kontrol sesuai jadwal selama masa kehamilan. Sehingga perkembangan janin, termasuk perkembangan indera pendengaran bisa dapat diketahui dengan baik.

Selain itu, pemeriksaan TORCHS juga disarankan dan sebaiknya menghindari pemakaian obat-obatan yang bersifat toksik bagi telinga, terutama di trimester pertama kehamilan.

Itulah informasi terkait proses mendengar pada bayi yang wajib Parents perhatikan. Semoga bermanfaat, ya.

Faktanya, Orang yang Pernah Selingkuh, Akan Kembali Selingkuh di Lain Waktu

Menurut para pakar cinta di Kelas C*nta, orang yang sekali selingkuh akan selamanya tukang selingkuh.

Sebab, semua orang memiliki potensi untuk selingkuh walaupun tidak merasa demikian. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa si dia yang sudah berjanji tidak akan pernah selingkuh lagi tetap mengulang perbuatannya?

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam Nature Neuroscience, hal ini ada hubungannya dengan bagaimana tanggapan otak dan perasaan manusia terhadap tindakan berbohong.

Untuk mendeteksi hal ini, para peneliti di University College meminta para partisipan untuk membantu pasangan mereka menebak isi koin dalam gambar sebuah kaleng yang diburamkan.

Akan tetapi, bila tebakan pasangan tersebut melebihi jumlah koin yang ada, partisipan akan mendapatkan hadiah uang. Alhasil, para partisipan pun berbohong dan melebih-lebihkan isi kaleng tersebut.

Para peneliti kemudian mengamati amygdala, bagian dari otak yang mengatur emosi, selama partisipan berbohong.
Ternyata, semakin sering partisipan berbohong, reaksi amygdala semakin menurun yang berarti rasa penyesalan juga semakin berkurang.

Hal ini sama dengan ketika pasangan Anda berbohong mengenai ke mana dia pergi dan siapa yang dia temui. Penulis studi tersebut dan peneliti dari Princeton Neuroscience Institute, Neil Garrett, mengatakan, mungkin pada saat pertama kali Anda selingkuh, Anda merasa tidak enak dan bersalah.

Namun, di kali berikutnya, rasa bersalah berkurang dan perselingkuhan menjadi lebih besar.

  • Tak Hanya Bikin Retak Hubungan, Selingkuh Juga Bisa Bikin P*nis Patah
  • Tak hanya membuat sakit hati, tak hanya membuat retak hubungan, selingkuh juga bisa membuat p*nis patah.

Menurut Dr. Andrew Kramer dari Pusat Medis Universitas Maryland, AS, selingkuh, dan hubungan s*ks yang dilakukan di lingkungan yang tak biasa, boleh jadi meningkatkan risiko tersebut.

Dari keterangan Kramer, responden lelaki yang mengalami penis patah itu umumnya melakukan hubungan s*ks di tempat yang tak umum, termasuk di toilet atau di tempat kerja.

Sebagian besar mereka melakukan itu bukan dengan pasangan resmi mereka. Dalam kondisi itu, mereka melakukan hubungan s*ks dengan tergesa-gesa dan dalam posisi yang tak umum.

“Semua faktor itu dapat membuat lelaki kurang bisa melindungi p*nisnya dari gerakan yang menyebabkan patah penis,” kata Kramer.

Patah penis merupakan luka yang terjadi saat penis er*ksi. Sebenarnya tidak ada tulang di p*nis. Jadi, patah di sini merujuk ke robeknya atau tercabiknya membran serabut yang disebut tunica albuginea. Membran ini mengelilingi jaringan spon yang berada di bagian tengah p*nis.

“Patahan” diikuti oleh pendarahan, pembengkakan, dan hilangnya er*ksi.

Jika penelitian sebelumnya fokus kepada mekanisme fisiologis dari patahan, dan bagaimana mengatasi ini secara pembedahan, tak ada penelitian yang mencari tahu secara pasti apa yang lelaki lakukan sampai p*nisnya patah.

Penelitian Kramer ini mengamati 16 kasus patah p*nis yang “direparasi” di RS Universitas Maryland antara tahun 2004 dan 2011.

Separuh dari pasien itu memiliki affair. Kebanyakan mereka melakukan hubungan s*ks di tempat yang tak lazim, seperti kamar mandi kantor, mobil, atau tangga darurat.

Hanya tiga pasien yang melakukan ML dengan istri mereka di tempat tidur.

Hal lain yang harus diperhatikan, hubungan s*ks adalah mirip berolahraga, yang berisiko terluka.

“Oleh karena itu, jika Anda melakukan ‘akrobat s*ks’, melakukan hubungan s*ks dengan posisi yang tak umum atau aneh, berhati-hatilah. Jika tidak berhati-hati Anda bisa terkena patah p*nis,” nasihat Kramer yang menerbitkan penelitiannya itu di Journal of S*xual Medicine.

Tags: #akan kembali selingkuh dilain waktu #bayi tuli menangis ketika mendengar suara ibu pertama kali #bayi tuli menggunakan alat bantu dengar #bayi yang tuli menangis #fakta orang yang selingkuh