Pasangan Suami Istri Seperti Ini yang Dianggap Berz*na Sepanjang Pernikahannya


Menikah sejatinya adalah menjaga kesucian diri, namun pernikahan bisa mengandung zina dika dalam beberapa kasus terjadi pelanggaran.

Dalam hal ini adalah nikah saat wanita sudah hamil duluan.

Mengenai persoalan ini. Ada dua pendapat tentang menikahi wanita hamil diluar nikah, ada pendapat yang membolehkan, ada yang mengharamkannya.

Adapun yang membolehkan tetap dengan aturan-aturan yang wajib dipahami.

Berikut pendapat yang mengharamkan nikah saat wanita sedang hamil:

Perkahwinan seumpama ini, Hari ini memang sudah biasa karena keluarga biasanya memilih jalan untuk menutup malu.

Sehingga jika anaknya ketahuan hamil di luar nikah, maka cepat-cepat dikahwinkan.

Berdasarkan kenyataan tersebut, nikah dianggap TIDAK SAH, maka pasangan itu kelak hidup dalam zina sampai mereka menyadari kesalahan dan bertaubat.

Persoalan ini telah diajukan kepada seorang Imam, di mana banyak persoalan lain timbul dari persoalan pokok tersebut.

Berikut pasangan suami isteri dianggap berzina sepanjang perkahwinan mereka:

Apakah langkah yang sewajarnya sekiranya seorang gadis belum berkahwin didapati hamil anak luar nikah?

Gadis itu tidak boleh berkahwin sebelum bayi itu dilahirkan.

Sekiranya lelaki yang bertanggungjawab itu bersedia mengahwini gadis itu, bolehkah mereka menikah?

Tidak. Mereka tidak boleh menikah sebelum bayi itu dilahirkan.

Adakah pernikahannya itu sah sekiranya mereka menikah?

Tidak. Pernikahannya itu TIDAK SAH. Seorang lelaki tidak boleh mengahwini seorang wanita hamil, walaupun lelaki itu merupakan ayah dari bayi yang dikandung itu.

Sekiranya mereka menikah, apakah tindakan mereka itu membenarkan keadaan?

Mereka tetap harus berpisah. Perempuan itu mestinya menunggu setelah melahirkan, barulah mereka boleh menikah sekali lagi,secara sah.

Bagaimana kalau keadaan itu tidak dibenarkan?

Maka mereka akan hidup di dalam zina karena pernikahannya itu tidak sah.

Apakah hak seorang anak luar nikah?

Kebanyakan pendapat mengatakan bahwa anak itu TIDAK MEMILIKI HAK untuk menuntut apa-apa dari ayahnya.

Sekiranya hukum mengatakan lelaki itu bukan ayah DARI anak tersebut, adakah itu berarti dia bukan mahram anak perempuannya sendiri?

Ya. Dia tidak boleh menjadi mahram.

Sekiranya seorang lelaki Muslim Dan seorang wanita Muslim (atau bukan Muslim) ingin bernikah setelah bersekedudukan, apakah tindakan yang semestinya

Mereka tidak boleh menikah, dan menunggu setelah perempuan itu haid satu kali sebelum mereka boleh bernikah.

Sekiranya saya kenal/tahu seseorang di dalam keadaan ini, apakah saya perlu memberitahu kepadanya, atau lebih baik menjaga tepi kain sendiri?

Anda wajib memberitahu, kerana itu sebahagian tanggungjawab anda sebagai saudaranya. Mereka harus diberi peluang untuk meluruskan keadaan mereka, kalau tidak semua keturunan yang lahir dari pernikahan tidak sah itu adalah anak-anak yang tidak sah taraf.

Katakanlah: ‘Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam

======

Diabetes Gestasional, Apa Bahayanya bagi Ibu Hamil dan Bayi?

Ibu hamil yang gemar mengonsumsi makanan dan minuman manis harus waspada dengan penyakit diabetes gestasional. Penyakit ini tidak hanya membahayakan kesehatan ibu hamil saja, tapi juga kesehatan bayi selama di kandungan dan di kemudian hari.

Diabetes gestational merupakan jenis penyakit diabetes pada ibu hamil yang umumnya terjadi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Diabetes gestasional biasanya akan menghilang setelah melahirkan, tapi ibu hamil yang menderita penyakit ini berisiko lebih tinggi untuk terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Penyebab Diabetes Gestasional

Terjadinya diabetes gestasional diduga berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan. Pasalnya, perubahan hormon tersebut bisa membuat kinerja tubuh dalam mengelola insulin berubah sehingga memicu terjadinya resistensi insulin.

Hal inilah yang menyebabkan gula darah dalam tubuh akan meningkat dan menyebabkan diabetes gestasional.

Selain dipicu oleh perubahan hormon kehamilan, ibu hamil yang memiliki riwayat obesitas atau berat badan berlebih, kurang memiliki aktivitas fisik, menderita PCOS, pernah melahirkan bayi besar, atau memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, juga berisiko lebih tinggi untuk terkena diabetes gestasional.

Risiko ini tentu akan semakin meningkat jika ibu hamil suka mengonsumsi makanan atau minuman manis secara berlebih.

Jangan Sepelekan, Ini Bahaya Diabetes Gestasional

Diabetes gestasional kerap kali tidak menimbulkan gejala. Namun, jika Bumil merasa sering haus dan lebih sering buang air kecil, ada baiknya untuk membicarakan keluhan ini kepada dokter kandungan ketika melakukan pemeriksaan kehamilan guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Diabetes gestasional tidak boleh disepelekan, karena kondisi ini bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan preeklampsia. Risiko untuk melahirkan secara caesar juga cenderung menjadi lebih besar. Bahkan, ibu hamil juga berisiko lebih tinggi untuk menderita diabetes tipe 2 setelah melahirkan.

Bahaya diabetes gestasional tak hanya mengintai ibu hamil, sang bayi juga berisiko mengalami kondisi-kondisi berikut ini:

1. Lahir besar

Pada ibu dengan diabetes gestasional, bayi dalam kandungan dapat tumbuh terlalu besar akibat kelebihan glukosa dalam pembuluh darah yang masuk ke plasenta. Ukuran bayi yang terlalu besar dapat mempersulit proses persalinan, meningkatkan risiko komplikasi persalinan, serta meningkatkan risiko melahirkan secara caesar.

2. Lahir prematur

Tingginya kadar gula darah bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur. Persalinan sebelum hari perkiraan lahir (HPL) ini juga mungkin akan disarankan jika Bumil mengandung bayi besar. Padahal, bayi prematur berisiko mengalami sindrom gangguan pernapasan karena paru-parunya yang belum matang.

3. Mengalami hipoglikemia

Bayi yang terlahir dari ibu dengan diabetes gestasional berisiko untuk mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah yang terlalu rendah setelah lahir. Hipoglikemia yang parah dapat memicu kejang pada bayi.

4. Menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari

Setelah lahir, bayi juga lebih berisiko mengalami obesitas dan diabetes tipe 2 di kemudian hari. Kondisi ini akan meningkatkan risiko anak terhadap berbagai macam penyakit kronis lainnya, seperti penyakit jantung dan stroke, yang dapat menurunkan kualitas hidupnya.

5. Lahir mati atau meninggal

Akibat paling parah jika diabetes gestasional tidak ditangani dengan tepat adalah bayi dapat meninggal sebelum atau sesaat setelah dilahirkan. Hal ini bisa terjadi akibat kegagalan pertumbuhan selama di dalam kandungan.

Tips Mencegah Diabetes Gestasional

Agar terhindar dari diabetes gestasional, Bumil disarankan untuk melakukan hal-hal berikut:

Mengontrol berat badan

Mengontrol berat badan sebenarnya lebih baik dilakukan sejak sebelum hamil. Namun, jika kelebihan berat badan terjadi saat hamil, dokter kandungan mungkin akan menyarankan Bumil untuk menjalani diet sehat guna menurunkan berat badan.

Mengonsumsi makanan sehat

Dokter akan menyarankan Bumil untuk mengonsumsi makanan sehat, termasuk porsi dan waktu makan yang ideal.

Secara umum, Bumil disarankan untuk membatasi konsumsi makanan atau minuman manis, termasuk makanan yang tinggi karbohidrat. Sebaliknya, konsumsi makanan berserat, seperti sayur dan buah, perlu ditingkatkan karena dapat membantu mengontrol kadar gula darah.

Berolahraga secara rutin

Olahraga rutin juga dapat membantu menurunkan risiko terkena diabetes gestasional. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa aktif secara fisik atau berolahraga dengan durasi kira-kira 30–45 menit setiap harinya dapat menurunkan risiko diabetes gestasional hingga 70%.

Meski diabetes gestasional umumnya akan hilang setelah melahirkan, jangan sepelekan dampaknya terhadap kesehatan Bumil dan bayi di kemudian hari. Jadi, tetap terapkan pola hidup sehat selama kehamilan. Tak hanya menurunkan risiko terkena diabetes gestasional, pola hidup sehat juga akan membantu menjaga kesehatan Bumil secara menyeluruh.

======

Benarkah Ludah Basi Bisa Melentikkan Bulu Mata Bayi?

Menjilat bulu mata bayi dengan ludah basi dianggap bisa membuat bulu matanya menjadi lebat dan lentik. Karena alasan inilah, sudah sejak lama, banyak orang tua yang melakukan kebiasaan tersebut. Namun, apakah hal ini efektif dan aman untuk dilakukan?

Ludah basi adalah air liur di pagi hari sebelum seseorang minum, makan, atau menggosok gigi. Ludah ini dipercaya memiliki khasiat untuk melentikkan bulu mata bayi. Karena dalih ini, sebagian orang tua menjilati bulu mata bayi mereka dengan harapan bulu mata sang buah hati akan lebih panjang, melengkung, dan lebat.

Fakta di Balik Ludah Basi Bisa Melentikkan Bulu Mata Bayi

Bulu mata memiliki peranan penting pada organ penglihatan, yaitu untuk melindungi mata dari paparan benda asing, seperti debu dan air. Selain memiliki fungsi tersebut, bulu mata yang panjang dan lebat juga dinilai lebih mempesona dan indah dipandang.

Karena anggapan ini, tidak sedikit orang tua yang mendambakan buah hatinya memiliki bulu mata yang lebat dan lentik. Bahkan mungkin ada orang tua yang sampai berupaya untuk melentikkan bulu mata bayinya dengan berbagai cara, termasuk dengan menggunakan ludah basi.

Perlu Bunda ketahui, tingkat ketebalan bulu mata seseorang berbeda-beda dan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, terutama faktor genetik. Selain itu, mitos terkait penggunaan ludah basi untuk membuat bulu mata menjadi lentik juga belum terbukti efektif secara ilmiah.

Hal ini sebaiknya tidak Bunda lakukan karena berisiko menimbulkan ketidaknyamanan, baik bagi Si Kecil maupun Bunda sendiri. Ini dikarenakan ludah basi umumnya memiliki bau yang tidak sedap karena mengandung urea dan ammonia.

Risiko Penggunaan Ludah Basi pada Bulu Mata Bayi

Selain terkesan tidak higienis, pemakaian ludah basi pada mata bayi juga bisa mendatangkan beberapa risiko, lho. Air ludah mengandung berbagai jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi Bunda.

Saat Bunda menjilat bulu mata Si Kecil, bakteri tersebut dapat dengan mudah masuk ke matanya dan menyebabkan infeksi. Hal ini bisa menyebabkan Si kecil terkena mata merah atau konjungtivitis.

Selain itu, air liur atau ludah juga bisa mengandung virus, seperti virus Corona, herpes, dan influenza. Kontak terhadap ludah basi yang mengandung virus tersebut bisa menyebabkan Si Kecil terkena berbagai penyakit, seperti herpes simpleks dan COVID-19.

Melihat penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa penggunaan ludah basi untuk melentikkan bulu mata bayi adalah mitos belaka. Jadi, Bunda tidak perlu mempercayai sepenuhnya.

Di samping itu, menjilat bulu mata Si Kecil dengan ludah basi tidak memberikan keuntungan apa pun, Bun, dan malah bisa membahayakan kesehatannya.

Lagi pula, lentik atau tidaknya bulu mata tidak akan memberikan pengaruh besar pada fungsi mata Si Kecil. Daripada pusing memikirkan cara melentikkan bulu mata bayi, lebih baik Bunda fokus pada kesehatan mata Si Kecil dengan rutin membersihkan area matanya dan memberikan ia asupan nutrisi yang cukup.

Sebagian bayi, khususnya bayi baru lahir, biasanya akan mengalami mata belekan yang membuatnya kesulitan membuka mata. Untuk membersihkannya, Bunda bisa mengusapkan cotton bud atau kapas yang telah dibasahi dengan air hangat secara perlahan di mata Si Kecil.

Bila saat ini Bunda sudah terlanjur menjilat bulu mata Si Kecil atau mengoleskan ludah basi pada bulu matanya, sebaiknya segera bersihkan bulu mata Si Kecil.

Apabila mata Si Kecil tampak merah, bengkak, berair, atau ia kelihatan rewel setelah diberikan ludah basi, sebaiknya Bunda membawanya ke dokter mata agar dapat diperiksa dan diobati.

Tags: #bahaya diabetes gestisional #ludah basi bisa melentikkan bulu mata bayi #pasangan suami istri tetap dianggap berzina