Pemerintah Singapura Tuduh Ustadz Abdul Somad Menyebarkan Ekstremisme

83 views


Pemerintah Singapura menolak Ustadz Abdul Somad masuk ke negaranya, pada Senin 16 Mei 2022.

Berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA), penolakan terhadap Ustadz Abdul Somad dilakukan karena ulama asal Riau itu menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi.

Hal itu tidak dapat diterima dalam masyarakat multi-ras dan multi-agama Singapura.

MHA mencontohkan satu di antara khutbah UAS yang menyatakan bom bunuh diri dibolehkan dalam konteks konflik Israel-Palestina.

Menurut MHA, UAS berpandangan bahwa hal itu termasuk sebagai Syahid.

“Dia juga membuat komentar yang merendahkan anggota komunitas agama lain, seperti Kristen, dengan menggambarkan salib Kristen sebagai tempat tinggal “jin (roh/setan) kafir”.

Selain itu, Ustadz Abdul Somad secara terbuka menyebut non-Muslim sebagai kafir.

MHA menegaskan, pihaknya menganggap kedatangan UAS ke negaranya tak sekadar kunjungan sosial biasa.

Oleh karena itu, Pemerintah Singapura memandang serius setiap orang yang menganjurkan kekerasan dan/atau mendukung ajaran ekstremis dan segregasi.

Hingga akhirnya menolak Ustadz Abdul Somad dan rombongannya masuk ke Singapura.

Berikut pernyataan lengkap Kementerian Dalam Negeri Singapura terkait penolakan kedatangan Ustadz Abdul Somad:

1. The Ministry of Home Affairs (MHA) confirms that Indonesian preacher Abdul Somad Batubara (Somad) arrived at Singapore’s Tanah Merah Ferry Terminal on 16 May 2022 from Batam with six travel companions.

Somad was interviewed, following which the group was denied entry into Singapore and placed on a ferry back to Batam on the same day.

2. Somad has been known to preach extremist and segregationist teachings, which are unacceptable in Singapore’s multi-racial and multi-religious society.

For example, Somad has preached that suicide bombings are legitimate in the context of the Israel-Palestine conflict, and are considered “martyrdom” operations.

He has also made comments denigrating members of other faith communities, such as Christians, by describing the Christian crucifix as the dwelling place of an “infidel jinn (spirit/demon)”.

In addition, Somad has publicly referred to non-Muslims as “kafirs” (infidels).

3. A visitor’s entry into Singapore is neither automatic nor a right.

Each case is assessed on its own merits.

While Somad had attempted to enter Singapore ostensibly for a social visit, the Singapore Government takes a serious view of any persons who advocate violence and/or espouse extremist and segregationist teachings.

Somad and his travel companions were denied entry into Singapore.

Pantas UAS diblacklist Singapura, Abu Janda singgung karma : Makanya jangan suka kafir-kafirkan orang

Kontroversi pelarangan masuk Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Singapura direspon Permadi Arya atau Abu Janda secara monohok.

Abu Janda menilai pelarangan masuk bagi UAS ke Singapura oleh pemerintah setempat adalah agar yang bersangkutan evaluasi diri.

Bagi Abu Janda, tindakan pemerintah Singapura kepada itu tergolong buah simalakama bagi diri UAS sendiri.

Mengingat selama ini, UAS menurut Abu Janda kerap memberi cap kafir pada sejumlah pihak alias mengkafir-kafirkan orang.

“Makanya jangan suka kafir-kafirin orang,” ujar Abu Janda, dikutip Hops.ID dari Instagramnya @permadiaktivis2, 18 Mei 2022.

Abu Janda juga singgung soal cara berpikir UAS yang dalam beberapa kesempatan menyematkan kafir bagi negara-negara minoritas muslim.

“Giliran liburan pengen ke negara kafir. Ente sehat? ditolak baru nyaho kannn,” katanya.

Abu Janda justru usil supaya UAS jika mau liburan hendaknya ke Afganistan saja. Sebab dianggap negara tersebut satu pemikiran dengan pendakwah lulusan Mesir itu.

“Liburan ke afganistan sono, kan sealiran pengen dirikan kilapah,” imbuhnya.

Selain itu, Abu Janda juga berpikir, bagi UAS segeralah sadar diri dan evaluasi diri. Mengingat setiap orang wajib untuk menghormati kebijakan pemerintah negara lain jika ingin masuk ke wilayahnya.

Lagipula kata Abu Janda, pemerintah Singapura memang diketahui ketat untuk urusan aktivitas dakwah.

“Singapura itu negara paling ketat urusan penceramah,” ujarnya di postingan sebelumnya.

Sebelumnya, pendakwah kondang, Ustaz Abdul Somad atau UAS telah dideportasi oleh imigrasi Singapura.

Kabar tersebut muncul usai UAS membagikan pengalaman buruknya itu setelah sampai di Indonesia.

UAS menceritakan, jika dirinya sempat ditahan dalam ruangan kecil 1×2 meter seperti penjara imigrasi oleh pemerintah Singapura.

Selanjutnya setelah dilakukan proses introgasi oleh petugas kemudian UAS dinyatakan dilarang masuk ke Singapura.

UAS membagikan pengalaman itu pada akun Instagram pribadinya @ustadzabdulsomad_official pada, Senin 16 Mei 2022

Namun, berdasarkan penelusuran, UAS bukan dideportasi melainkan tidak diizinkan memasuki negara Singapura dengan alasan belum memenuhi syarat.***

UAS bikin heboh satu negara, Permadi Arya ngamuk : Lu siapa, sejak kapan negara urus satu warga dideportasi?

Kontroversi pelarangan masuk Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Singapura banyak mendapat respon banyak pihak, apalagi kabar yang tersiar adalah UAS telah dideportasi.

Permadi Arya alias Abu Janda juga angkat suara untuk menanggapi kabar tentang deportasi UAS oleh pemerintah Singapura.

Permadi Arya tak mau ambil pusing soal kehebohan berita tentang UAS, hanya saja ada beberapa hal yang menggelitik baginya.

Awalnya Permadi Arya menjelaskan, pentingnya menghormati kebijakan Pemerintah Singapura. Dikatakan, aturan dalam negara tetangga Indonesia itu memang sangat ketat untuk urusan penceramah.

“Singapura itu negara paling ketat urusan penceramah,” ujar Permadi, dikutip Hops.ID dari instagramnya, @permadiaktivis2 pada Selasa, 18 Mei 2022.

Permadi meminta agar para ‘korban’ yang merasa dideportasi atau dilarang masuk agar melakukan evaluasi diri.

Hal itu, menurut Permadi, bukan hal yang ujug-ujug keputusan serampangan pemerintah Singapura, melainkan ada aturan baku dan matang.

“Jadi introspeksi saja lah,” tutur Permadi.

Malah yang membuat Permadi heran, kasus UAS ini sampai membuat satu negara heboh, terlebih telah mendorong sejumlah piak terlibat.

“Tidak usah juga kait-kaitkan dengan negara sampe dubes RI harus menjelaskan,” terangnya.

Saking kesalnya, Permadi justru sindir sejumlah pihak bahwa kasus yang dialami UAS itu bukan sesuatu yang urgen dan bahkan tidak penting sama sekali.

”Woi emang elu siapa?? Sejak kapan negara ngurusin satu warga dideportasi? Gak penting banget keles,” katanya.

Seperti diketahui, Ustaz Abdul Somad atau UAS telah dideportasi oleh imigrasi Singapura. UAS membagikan pengalaman buruk itu selama di sana.

Berdasarkan ceritanya, ia menunjukkan foto dan video, dirinya tengah ditahan dalam ruangan kecil 1×2 meter seperti penjara imigrasi oleh pemerintah Singapura. UAS diintrogasi oleh petugas kemudian UAS dilarang masuk ke Singapura.

UAS membagikan pengalaman itu pada akun Instagram pribadinya @ustadzabdulsomad_official pada Senin, 16 Mei 2022.

Namun, berdasarkan penjelasan dari Kementerian Dalam Negeri Singapura untuk Indonesia, mengungkapkan alasan Ustaz Abdul Somad dideportasi. Singapura menganggap sosok penyiar agama itu pro ekstremisme dan bom bunuh diri.

Mengutip situs resmi Kemendagri Singapura, Somad dianggap tidak bisa diterima oleh masyarakat Singapura yang cenderung multiras dan multiagama. UAS bukan dideportasi melainkan tidak diizinkan memasuki negara Singapura.***

UAS dideportasi, Shamsi Ali: Dubes RI kurang terhormat, menyerah begitu saja

Pegiat interfaith atau antariman, Shamsi Ali prihatin dengan respons Dubes Indonesia untuk Singapura soal deportasi Ustaz Abdul Somad atau UAS.

Menurut Shamli Ali, sudah seharusnya pemerintah membela warganya yang diperlakukan semena-mena di negeri orang. Lha ini kok malah nggak ngotot ke Singapura soal deportasi UAS.

Makanya Shamsi Ali heran, sikap Dubes Indonesia merespons deportasi UAS kok malah terkesan lemah begitu saja.

Dubes kita kurang terhomat
Shamsi Ali merespons imigrasi Singapura yang deportasi UAS. Ulama yang dihormati diperlakukan semena-mena oleh Singapura, pemerintah malah sikapnya terkesan nggak bela UAS banget.

“Harusnya ketika warganya, apalagi warga yang dikenal seperti UAS, diperlakukan tidak terhormat, pemerintah perlu meminta klarifikasi,” cuit Shamsi Ali soal deportasi UAS, dikutip Hops.ID dari Twitter @ShamsiAli2, Selasa 17 Mei 2022.

Shamsi Ali menyoroti soal komentar Dubes Indonesia untuk Singapura, Suryo Pratomo yang menegaskan berdasarkan keterangan Singapura, UAS tidak dideportasi tapi tidak diizinkan masuk Singapura.

“Sikap Dubes seperti di bawah ini sikap yang kurang terhormat. Menyerah begitu saja…negara besar menjaga warganya,” tulisnya.

Komentar UAS
UAS nggak tinggal diam begitu saja usai dia dideportasi dari Singapura tanpa alasan dan penjelasan yang jelas.

Makanya UAS minta parlemen untuk klarifikasi ke Dubes Singapura, apa alasan dia dan rombongan kena deportasi.

“Saya minta DPR RI supaya tanya itu Dubes Singapura di Jakarta, suruh dia klarifikasi kasih penjelasan, tunjukkan kenapa, apakah UAS teroris kah dia, ISIS kah dia,” kata UAS dalam wawancara TV One dikutip Hops.ID, Selasa 17 Mei 2022.

UAS mengegaskan, Singapura perlu kasih penjelasan, sebab kalau nggak diprotes begini, UAS khawatir Singapura makin angkuh memperlakukan orang Indonesia yang masuk ke negeri mereka.

“Bagi saya sendiri tak masalah (dideportasi) saya sudah biasa keluar masuk hutan. Nanti tokoh kita (diperlakukan) sesuka dia saja. Dia suruh nunggu sekian jam tanpa ada penjelasan, sesuka hati dia saja,” ujar UAS.

Pendakwah yang banyak pengikutnya ini mengingatkan kepada Singapura untuk jangan sewenang-wenang memperlakukan warga Indonesia.

“Saya berharap pemerintah singapura tak perlakukan warga Indonesia seenak otaknya, dia harus berikan penjelasan, (misalnya) Anda tidak bisa masuk negara saya karena tidak memenuh syarat, karena Anda masuk dalam daftar orang radikal, supaya orang bisa intropeksi, supaya bisa memperbaiki diri,” katanya.***