Pengantin Pria Gendong Istri yang Tak Punya Kaki Duduk di Pelaminan, Cinta Tak Pandang Fisik.


Orang bilang cinta itu buta, sebagian yang lainnya mengatakan bahwa cinta tak memandang umur, status, jabatan, maupun fisik. Selama cinta itu tulus dan murni, kekurangan apapun yang dimiliki pasangan pastilah tak menjadi halangan.

Cinta yang tulus dan tak pandang fisik juga ditunjukkan oleh seorang pria asal negeri Jiran yang satu ini. Melalui ikatan pernikahan, pria tersebut menikahi kekasihnya yang memiliki kekurangan fisik. Mempelai wanita tersebut bernama Ayda Lavenda, perempuan asal Malaysia ini diketahui tidak memiliki sepasang kaki layaknya orang biasa.

Momen haru yang diunggah oleh akun TikTok @83suka itu seketika ramai ditonton dan menjadi viral. Hingga berita ini dibuat, video itu sudah ditonton lebih dari 8,3 juta kali.

Digendong oleh kakaknya, Ayda Lavenda bersiap untuk menemui suaminya yang sudah datang. Pada hari istimewa itu Ayda nampak cantik dan memesona layaknya ratu. Dia mengenakan gaun pengantin bernuansa krem dengan hiasan mahkota di kepalanya.

Begitu pun sang suami, ia datang bersama keluarganya untuk menyambut sang pengantin wanita. Ia mengenakan baju pengantin khas melayu bernuansa senada dengan mempelai wanita.

Sesampainya Ayda di hadapan kekasihnya, ia langsung digendong. Ayda pun langsung berada di dekapan suaminya. Raut wajah bahagia tak bisa disembunyikan dari pasangan baru itu. Mereka pun sempat berfoto sejenak sebelum akhirnya memasuki ruangan.

pria nikahi kekasihnya tanpa kaki © 2021 TikTok

Melansir dari Media Malaysia, Ayda memiliki kondisi dengan kekurangan fisik sejak lahir. Sang kakak pun menceritakan bahwa dirinya sejak kecil kerap merasa rendah diri. Kendati demikian, keluarga Ayda Lavenda selalu memberikan support kepadanya sampai saat ini.

“Dulu kecik2 dia selalu merasa rendah diri dan malu,” kata Aidatul Saliza, sang kakak.

Video viral itu mendapat respons beragam dari warganet lain di kolom komentar.

“Wanita akan jadi Ratu apabila dapat pasangan yang tepat dan Tulus menerima segala kekurangannya dan kelebihannya, semoga samawa, Aamiin,” komentar @Fitrah

“seribu satu laki laki yang mau menerima pasangan dgn segala kekurangan pasa fisiknya,, smoga langgeng ya mas nya hatimu bagai malaikat,” tulis @zahhraa80.

“terharu ya Allah, ternyata ada juga lelaki yang mau nemenin apa adanya,gak jadi insecure lah” kata @FebriArmania991

“cinta sejati tak akan memandang fisik melainkan tulus menerima apa ada nya dan akan sepenuh nya bertanggung jawab ,” timpal @WahyuAsih.

Masya Allah, Kisah Ibu yang Mampu Lahirkan 10 Anak Penghafal Al-Quran

BEBERAPA orang mengatakan bahwa wanita itu mudah rapuh, namun sebagian yang lain bilang wanita lebih tegar dan tangguh daripada laki-laki.

Karena tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, ia perlu penanganan khusus. Jika dipaksa untuk lurus, dia akan patah.Namun jika tidak diluruskan, ia akan selalu seperti itu. Unik memang. Seiring dengan munculnya peradaban, sosok wanita tetap memegang peranan utama dalam segala sendi kehidupan.

Sejarah mengenal Siti Khadijah dan Siti Aisyah di belakang pembawa risalah Islam terakhir. Saat itulah puncak kehormatan wanita berada pada puncaknya, dibebaskan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya setara dengan kaum laki-lakinya, dibebaskan untuk tidak melaksanakan syariat saat sedang halangan, diberi hak waris saat suami atau orang tuanya meninggal, disebutkan Rasulullah bahwa surga pun berada di bawah telapak kaki ibu

Sama dengan istri kang Tamim yang mampu mendidik 10 anak-anaknya menjadi penghafal Al-Quran .Sosok sang suami yang sekaligus sebagai salah satu anngota DPR-RI, anggota dewan yang terhormat Mutammimul Ula (Kang Tamim).

Seperti dalam pola keluarga islami, tidak ada keluarga yang sukses tanpa kehadiran sesosok istri shalihah di belakang kepala keluarga. Shalihah bukanlah istri yang hanya mengenal shalat, puasa, atau bahkan haji sekalipun (bergelar hajjah) sebagaimana mindset masyarakat kita.

Shalihah dalam pengertian sebenarnya adalah sesuatu yang tidak ada batasnya seiring perkembangan zaman tanpa meninggalkan norma-norma keislaman. Siapa yang tidak ingin mempunyai istri tahu seluk-beluk teknologi, fasih berselancar di internet (untuk hal positif), menyenangkan ketika dipandang suami, segera datang saat dipanggil, berpuasa sunnah dengan kesepakatan bersama, sering mengucap kata-kata mesra untuk seluruh anggota keluarga, atau ibu utama bagi anak-anaknya dengan tidak pelit memberi ASI.

Inilah beberapa contoh shalihah di era sekarang. Di balik kesuksesan Kang Tamim ternyata ada satu sosok wanita yang telah melahirkan sebelas keturunannya. Siapa lagi kalau bukan istrinya, Wirianingsih. Memang siapa dia? Sosok besar yang bertitel lengkap Dra. Wirianingsih, Bc.Hk. lahir di Jakarta, 11 September 1962 (48 tahun).

Selain ibu rumah tangga, banyak aktivitas yang dia lakukan diantaranya menjadi dosen, kuliah pasca sarjana, dan aktivis perempuan. Terkini adalah menjadi anggota Dewan Pertimbangan PP Persaudaraan Muslimah (Salimah) bersama Ustazah Yoyoh Yusroh, Nursanita Nasution, dll dimana sebelumnya dia menjadi Ketua Umum. Mereka adalah anggota DPR dari fraksi yang sama dengan Mutammimul Ula.

Lalu, metode apa yang Kang Tamim dan Mbak Wiwi terapkan dalam mendidik putra-putrinya? Kuncinya adalah keseimbangan proses. Begitu simpulan dari metode pendidikan anak-anak sebagaimana tertulis dalam buku “10 Bersaudara Bintang Al-Quran.“

Walapun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Maghrib jadwal mereka yaitu berinteraksi dengan Al-Quran. Guna mendukung kesuksesan program ini, mereka mencanangkan kebijakan sederhana, yakni: menyingkirkan televisi dari rumah, tidak memasang gambar-gambar selain kaligrafi, tidak membunyikan musik yang melalaikan, dan tidak ada perkataan kotor di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang Al-Quran adalah visi dan konsep yang jelas. Pertama adalah menjadikan putra-putri seluruhnya hafal Al-Quran.

Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. Setelah salat Subuh dan Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Quran yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih batita, Wirianingsih konsisten membaca Al-Quran di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya.

Ketiga, mengkomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun awalnya merasa terpaksa, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Quran sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Quran, mereka diberi hadiah.

Barangkali semacam reward atas pencapaian mereka, mengenai punishment tidak dijelaskan secara rinci. Penulis buku itu juga membahas urgentitas menjadi hafiz Al-Quran. Penulis mengklasifikasikannya menjadi dua bagian: keutamaan dunia dan keutamaan akhirat.

Abdul Qadir al Jazairi, Pahlawan Muslim yang Dihormati Para Pemimpin Dunia

Fadhail dunia antara lain: hifzul Al-Quran merupakan nikmat rabbani, mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Al-Quran mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), dihormati umat manusia, dan menjadi keluarga Allah di muka bumi.

Sedangkan fadhail akhirat meliputi: Al-Quran menjadi penolong (syafaat) penghafalnya, meninggikan derajat di surga.