Penjelasan Lengkap Profesor Zubairi Djoerban Soal Virus Hepatitis Misterius Yang Mengancam Anak-Anak


Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban memberikan update terbaru kasus hepatitis misterius yang sudah mulai masuk ke Indonesia dan menewaskan tiga pasien anak pada bulan April 2022 lalu.

Profesor Zubairi Djoerban mengungkap, setidaknya sudah ada total ratusan laporan kasus hepatitis misterius yang menyerang anak-anak dari 20 negara, dan 50 kasus tambahan yang sedang diselidiki.

“Ada 228 kasus dugaan hepatitis misterius pada anak dari 20 negara. Dengan 50 kasus tambahan sedang diselidiki,” tulis Profesor Zubairi Djoerban dilansir Hops.ID dari cuitannya @ProfesorZubairi pada 4 Mei 2022.

Zubair juga menambahkan bahwa virus hepatitis ini tidak ada hubungannya dengan vaksin Covid-19 sebagaimana isu yang beredar sebelumnya.

“Hipotesis ini tidak didukung data, karena sebagian besar anak-anak yang terkena hepatitis misterius ini justru belum menerima vaksinasi Covid-19,” kata Zubair.

Lebih lanjut, dugaan sementara mengarah pada Adenovirus 41 (CDC), yang berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan telah terdeteksi pada 74 kasus dil luar negeri setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41.

Gejala virus hepatitis misterius
Profesor Zubairi Djoerban memberikan penjelasan mengenai gejala yang timbul apabila seorang pasien anak terinfeksi virus hepatitis misterius ini.

Perlu diketahui bahwa anak yang terinfeksi justru sebagian besarnya tidak mengalami demam, namun diawali dengan masalah pencernaan (gastrointestinal) yang diikuti penyakit kuning.

“Sebagian besar anak-anak ini mengalami masalah gastrointestinal terlebih dahulu, diikuti penyakit kuning. Tes laboratoriumnya juga menunjukkan tanda-tanda peradangan hati parah. Sebagian besar anak tidak mengalami demam,” tulis Zubair dalam cuitannya.

Siapa yang terinfeksi?
Virus hepatitis misterius ini menyerang anak-anak dengan rentan usia satu bulan (bayi) hingga remaja berusia 16 tahun, hal ini diungkapkan Profesor Zubairi Djoerban berdasarkan informasi yang diberikan oleh WHO.

Sementara itu, untuk mendiagnosis virus hepatitis mesterius ini, pasien yang terjangkit harus sudah negatif terhadap virus hepatitis A, B, C, D, E.

“Belum ada tes yang memastikan. Tapi syaratnya adalah pasien harus negatif terhadap virus hepatitis A, B, C, D, E dan dengan kadar enzim transaminase lebih dari 500 unit per liter,” jelasnya

Disisi lain, Kementerian Kesehatan juga menghimbau supaya masyarakat tidak panik dan tetap berhati-hati serta selalu menjaga kebersihan, terlebih hindari kontak dengan orang sakit.

“Selama masa investigasi, kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tetap tenang,” himbau Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dikutip Hops.ID dari laman resmi sehatnegeriku.kemkes.go.id pada Rabu, 4 Mei 2022.

“Lakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian alat makan, menghindari kontak dengan orang sakit serta tetap melaksanakan protokol kesehatan,” pungkas Siti ***

Hepatitis akut misterius yang tewaskan anak Indonesia diduga karena vaksin Covid-19, ini penjelasannya

Wabah hepatitis akut misterius telah mempengaruhi setidaknya 172 anak di 14 negara, termasuk Indonesia.

Disebut hepaptitis akut misterius karena penyebabnya belum diketahui secara pasti. Sementara itu, petugas kesehatan di Madrid, Spanyol mengklaim bahwa kasus hepatitis yang dilaporkan pada anak kecil mungkin berhubungan dengan vaksin COVID.

Klaim hepatitis akut tersebut mendapat banyak keraguan. Pasalnya, hingga kini tak jelas siapa sosok yang mengatakan hal tersebut. Sebuah keterangan hanya melampirkan profesinya saja.

Adapun sosok petugas kesehatan tersebut juga menyalahkan vaksin Covid-19 sebagai penyebab wabah hepatitis. Padahal laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tertanggal 23 April 2022 menyatakan dengan jelas bahwa hipotesis terkait efek samping dari vaksin Covid-19 saat ini tidak terbukti karena sebagian besar anak-anak yang terkena hepatitis sebelumnya tidak menerima vaksinasi Covid-19.

“Lantas bagaimana sebenarnya seorang anak bisa terkena hepatitis dari vaksin Covid-19 padahal anak itu belum juga mendapatkan vaksin Covid-19? Itu sama saja dengan menyalahkan Madonna karena membuat Anda terlambat bekerja padahal Anda belum pernah bertemu Madonna,” kata staff WHO sebagaimana dilansir dari Forbes pada Selasa, 3 Mei 2022.

Oleh karena itu, berita mengenai hepatitis akut setelah vaksin Covid-19 seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghindari vaksin Covid-19. Sejauh ini, tidak ada bukti bahwa hepatitis akut berasal dari vaksin Covid-19.

Adapun di Indonesia sendiri telah dilaporkan kematian tiga orang anak yang dirawat di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia mengambil tindakan pencegahan atas kasus hepapatis misterius ini. Melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pemerintah mengeluarkan surat edaran yang mengajak masyarakat untuk waspada terhadap penyakit ini.

“Surat edaran ini dimaksudkan untuk meningkatkan dukungan Pemerintah Daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, SDM Kesehatan, dan para pemangku kepentingan terkait kewaspadaan dini penemuan kasus hepatitis akut yang tidak diketahui etiologinya,” tulis Kemenkes.

Untuk diketahui, hepatitis akut adalah istilah yang sangat luas untuk peradangan hati yang terjadi secara tiba-tiba. Sekali lagi, klaim hepatitis akut karena vaksin Covid-19 adalah berlebihan.***

Bisa sebabkan kematian pada anak, begini pencegahan hepatitis akut misterius menurut Kemenkes

Sejak 15 April, hepatitis akut misterius telah menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus hepatitis akut tersebut.

Di Indonesia sendiri, sudah ada tiga kasus hepatitis akut misterius.

Tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya telah meninggal dunia.

“Mereka meninggal dunia dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga Sabtu, 30 April 2022,” kata drg. Widyawati, MKM, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik melalui siaran pers Kementerian Kesehatan pada Selasa, 3 Mei 2022.

Sebelumnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis misterius atau hepatitis akut karena banyaknya kasus di tiga benua.

Sayangnya, hingga saat ini, belum diketahui apa penyebab kasus ini.

Sejak dipublikasikan sebagai KLB oleh WHO, jumlah laporan kasus hepatitis misterius terus bertambah.

Hingga Rabu, 3 Mei 2022, lebih dari 170 kasus hepatitis misterius dilaporkan lebih dari 12 negara.

Untuk pertama kalinya, WHO menerima laporan dari Inggris mengenai 10 kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya pada Selasa, 5 April 2022.

Kasus tersebut menyerang anak-anak berusia 11 bulan hingga 5 tahun pada periode Januari sampai Maret 2022 di Skotlandia Tengah.

“Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan hingga 16 tahun. Tujuh belas memerlukan transplantasi hati dan satu kasus dilaporkan meninggal,” jelas Widyawati.

Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, penyakit kuning akut dan gejala gastrointestinal meliputi nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah.

“Namun, di sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam,” imbuhnya.

Menurut laman WHO, hepatitis merupakan peradangan hati atau liver yang disebabkan oleh berbagai virus menular atau gaya hidup seseorang.

Hepatitis bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, yang dapat berdampak pada kematian.

Ada lima jenis utama virus hepatitis, disebut sebagai tipe A, B, C, D dan E. Meskipun semua tipe tersebut menyebabkan penyakit hati, namun ada yang berbeda.

Termasuk cara penularan, tingkat keparahan penyakit, penularan dan pencegahannya.

Secara khusus, hepatitis B dan C menyebabkan penyakit kronis pada ratusan juta orang di seluruh dunia.

Merupakan penyebab paling umum dari sirosis hati, kanker hati dan kematian terkait virus hepatitis.

Diperkirakan, ada 354 juta orang di seluruh dunia yang hidup dengan hepatitis B atau C.

Sebagian besar dari mereka harus mengonsumsi obat-obatan dan tes laboratorium.
Apabila disebabkan oleh infeksi virus, hepatitis bisa menular ke orang lain. ***