Ramai Tentang Wanita Dicek Virgin Tiap Bulan, Rodri Tanoto: Uji Keperawanan Adalah Kekerasan Seksual


Ramai perihal seorang wanita yang dicek virgin setiap bulan oleh orangtuanya. Rodri Tanoto berikan tanggapan bahwa uji keperawanan adalah kekerasan seksual.

Baru-baru ini viral di jagat media sosial seorang wanita yang menceritakan kisahnya yang bukannya disuruh pulang sama orangtuanya setiap kali keluar bersama teman. Namun justru dicek keperawanan setiap bulannya.

Pengakuan dari seorang wanita yang diduga berasal dari media sosial TikTok tersebut akhirnya sampai di Twitter.

Melalui sebuah akun Twitter, tangkapan layar dari video tersebut pun diunggah hingga viral dan mendapatkan tanggapan dari Rodri Tanoto.

Dalam tangkapan layar tersebut tertulis pengakuan seorang wanita yang tiap bulan harus melakukan cek keperawanan karena diminta oleh orangtuanya.

“Disuruh pulang sama ortu pas main keluar (emot silang), Di cek keprawanan setiap sebulan sekali (emot ceklis),” dikutip Hops.id dari akun Twitter @fairygoth0m pada Kamis, 5 Mei 2022.

Rodri Tanoto: uji keperawanan adalah kekerasan seksual

Kendati begitu, Rodri Tanoto yang merupakan seorang ahli kesehatan global mengungkap bahwa keperawanan seseorang tak dapat diuji.

Pasalnya, Rodri Tanoto mengungkap bahwa yang selama ini dilakukan untuk menguji keperawanan seorang wanita yaitu hanya dengan mengamati hymennya.

Sementara itu, menurutnya, perlu diketahui bahwa hymen dapat sobek meski seorang wanita belum pernah melakukan penetrasi pada vaginanya.

“Keperawanan tak bisa diuji. Yg selama ini dilakukan hanya mengamati hymen, namun perlu ditegaskan bahwa hymen bisa robek tanpa penetrasi vagina,” tegas Rodri Tanoto dikutip dari Twitter @RodriChen.

Begitu pun sebaliknya, penetrasi vagina pun menurut Rodri Tanoto tak selalu dapat menjadi sebab hilangnya keperawanan seorang wanita.

Rodri Tanoto dalam penutupnya, menegaskan bahwa melakukan uji keperawanan adalah sebuah kekerasan seksual pada perempuan.

“Sebaliknya, penetrasi vaginal tidak selalu menyebabkan robeknya hymen. Uji keperawanan adalah kekerasan seksual pada perempuan,” pungkas Rodri Tanoto.***

Perawan bukan kondisi medis, stop cari pembuktian keperawanan wanita!

Masalah keperawanan sering kali masih jadi pembahasan di kalangan masyarakat Indonesia. Padahal, perawan hanyalah konsep yang terbentuk dalam norma sosial, bukan kondisi medis.

Namun, konsep sosial ini bisa jadi bahaya jika dipercayai dan dijadikan patokan untuk berbagai hal krusial. Salah satu yang menggemparkan adalah saat ada uji keperawanan bagi calon anggota kepolisian dan angkatan bersenjata.

Masyarakat memang masih sangat berpegang teguh pada prinsip bahwa wanita yang belum menikah berarti masih perawan. Hal tersebut yang membuat banyak orang, terutama wanita cemas dan khawatir soal keperawanan.

Tidak hanya itu, akibatnya tumbuhlah mitos bahwa keperawanan bisa diuji secara medis, yakni melalui selaput dara. Padahal, tak semua wanita di dunia ini terlahir dengan memiliki selaput dara.

Kepercayaan masyarakat pada konsep sosial ini yang menyebabkan banyak wanita yang merasa rendah dan tidak berharga. Entah karena tidak mempunyai selaput dara atau sudah berhubungan seksual sebelum menikah walaupun dengan aman.

Lalu, sebenarnya bagaimana pandangan medis mengenai kata perawan?

Konsep perawan dalam dunia medis

Seperti yang sudah disebut di awal, perawan hanya konsep sosial. Keperawanan bukan soal kondisi medis. Sebab, tidak ada definisi secara spesifik yang bisa menggambarkan apa itu keperawanan.

Hal ini yang membuat arti perawan berbeda-beda untuk setiap orang. Sebab, dilansir dari Hellosehat, tak ada definisi medis yang bisa menggambarkannya. Namun, pemahaman masyarakat adalah perawan merupakan label bagi perempuan yang belum pernah berhubungan seksual.

Hubungan seksual mempunyai makna ambigu karena bisa bermacam-macam. Sebagian orang menganggap bahwa hubungan seks terjadi jika adanya penetrasi oleh penis pada vagina.

Namun, ada pula yang menganggap bawah aktivitas seksual seperti masturbasi, memasukkan jari ke dalam vagina untuk memunculkan rangsangan seksual (fingering), dan menggesekan alat kelamin (petting) juga termasuk ke dalam hubungan seks.

Keambiguan makna dan kontekstual inilah yang menjadi alasan tak ada seorang pun yang bisa menguji keperawanan seorang wanita. Bahkan dokter atau tenaga kesehatan pun tidak dapat menentukan perawan tidaknya wanita.

Maka, jika kamu pernah mendengar tes keperawanan yang dilihat dari tanda-tanda fisik, itu hanya mitos belaka. Tidak ada tanda-tanda fisik yang dapat dilihat orang lain apakah seorang wanita pernah berhubungan seksual atau tidak. Obsesi masyarakatlah yang menciptakan mitos tes keperawanan tersebut.

Oleh karena itu, stop cari pembuktian atas keperawanan wanita. Wanita berharga karena nilai dan kemampuan yang dimilikinya, bukan karena ‘keperawanannya’.

Ribetnya mau jadi istri TNI, syaratnya berjubel, sampai tes keperawanan

Sebagian wanita mungkin menganggap, pria yang berprofesi sebagai prajurit TNI merupakan sosok suami idaman. Kendati indah dalam bayangan, namun untuk menjadi istri mereka sejatinya tak mudah. Sebab, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi.

Saat sudah menikah, istri para prajurit TNI itu bakal tergabung dalam organisasi bernama Persatuan Istri Tentara atau Persit Kartika Chandra Kirana untuk TNI AD, Persit Pia Ardhya Garini untuk TNI AU, dan Persit Jalasenastri untuk TNI AL.

Selain mendampingi sang suami, sebagai bagian dari keluarga angkatan, mereka juga bertugas untuk mengamalkan sapta marga TNI. Salah satunya, membela ideologi bangsa.

Seperti yang telah disinggung di awal, sebelum menjadi pendamping hidup prajurit TNI, ada serangkaian tes yang harus dijalani. Selain itu, calon istri juga harus memenuhi 16 syarat wajib. Lantas, apa saja? Berikut kami hadirkan daftar lengkapnya, dikutip dari Tribun, Jumat 3 Juli 2020.

1. Surat permohonan izin menikah. Surat ini harus diurus calon suami sebagai anggota TNI yang ditandatangani komandan kompi. Surat ini harus diperbanyak sebanyak sepuluh lembar.

2. Surat kesanggupan calon istri. Surat ini harus ditandatangani calon istri serta diberi materai 6.000 dan diketahui aparat desa setempat.

3. Surat persetujuan orang tua atau wali calon istri yang ditandatangani oleh orang tua. Surat ini juga harus diketahui aparat desa domisili orang tua atau wali calon istri.

4. Surat keterangan belum menikah. Surat ini diketahui aparat desa setempat atau KUA setempat.

5. Surat keterangan menetap orang tua dan orang tua calon istri. Surat ini diketahui oleh aparat desa dari domisili orang tua atau wali.

6. Surat bentuk sampul D. Surat ini bisa didapatkan dari kodim atau koramil di domisili calon istri dan orang tua. Surat ini ditujukan untuk Komandan Kodim, Pasi Intel, Pasi Ter, dan Danramil. Surat ini diperlukan untuk mencari tahu apakah calon istri atau calon mertua pernah mengikuti gerakan atau organisasi yag melanggar NKRI.

7. Dokumen N1 untuk menyatakan surat akan menikah yang ditandatangani orangtua dan istri serta diketahui oleh aparat desa.

8. Dokumen N2 untuk menyatakan asal–usul calon istri dan orangtua yang diketahui aparat desa setempat.

9. Dokumen N4 untuk menyatakan keterangan tentang orangtua calon istri yang diketahui oleh aparat desa setempat.

10. Surat Pernyataan dari calon istri dan calon suami yang diketahui aparat desa setempat.

11. SKCK calon istri dan kedua orang tua.

12. Ijazah pendidikan terakhir calon istri.

13. Akta kelahiran calon suami dan calon istri.

14. Fotokopi KTP calon istri dan kedua orang tua calon istri.

15. Pas foto gandeng 6×9 menggunakan pakaian PDH dan Persit tanpa lencana berlatar biru sebanyak 12 lembar.

16. Pas foto calon istri 4×6 menggunakan pakaian Persit sebanyak lima lembar.

Tahap lanjutan

Jika kalian berpikir pernikahan bisa diselenggarakan setelah sang wanita memenuhi 16 syarat di atas, maka kalian salah besar. Sebab, ada beberapa tahap lanjutan yang sama pentingnya. Bahkan, yang ini terbilang lebih rumit.

Pemeriksaan Penelitian Khusus (Litsus)

Pada tahap ini, calon istri bakal diuji mengenai kemampuan umum di bidang kenegaraan serta pandangan tentang organisasi ilegal yang mengancam NKRI.

Pemeriksaan Kesehatan (Rikes)

Di tahap kedua ini, baik calon istri dan suami, tubuhnya bakal dicek secara menyeluruh atau medical checkup. Tujuan untuk memastikan, bahwa keduanya dalam kondisi sehat.

Pembinaan Mental (Bintal)

Kedua calon mempelai akan menghadap ke Disbintal TNI untuk mendapatkan pembinaan sebelum menikah. Mereka akan diberikan sejumlah pertanyaan soal kepribadian masing-masing hingga diuji pengetahuan agamanya.

Selain itu, mereka juga bakal dibekali nasehat yang berkaitan dengan tips membina rumah tangga.

Menghadap ke Pejabat Kesatuan

Setelah semua tes dijalani, keduanya harus melaporkan hal tersebut ke pejabat kesatuan tempat calon suami bekerja.

Menikah Secara Catatan Sipil

Barulah ketika seluruh syaratnya terpenuhi, keduanya bisa menikah secara catatan sipil.

Desas-desus mengenai tes keperawanan

Berdasarkan laporan yang sama, ada desas-desus yang mengatakan, bahwa calon istri TNI diharuskan masih perawan. Bahkan, di tahap Rikes atau pemeriksaan kesehatan, mereka harus melalui sederet pengecekan keperawanan. Ada yang benar-benar sampai diuji, namun tak sedikit juga yang hanya sekadar ditanya-tanya.

Hingga saat ini, kebenaran mengenai hal tersebut masih dipertanyakan. Lantas menurut kalian, perlu dan pantaskah praktik sejenis dilakukan? (re2)