Rumah Tangga Akan Terasa Indah Jika Suami Ikut Membantu Pekerjaan Rumah

482 views


Konsep ‘suami yang kerja dan juga istri ngurus rumah tangga’ tentu sudah jadi perihal yang universal di warga, walaupun raden ajeng kartini telah sukses memperjuangkan emansipasi perempuan.

Tetapi realitanya jati diri seseorang perempuan masih aja cuma berkutat pada kasus rumah tangga. Sebaliknya si suami bertugas mencari nafkah buat anak istri.

Ya, bisa jadi sebagian telah mengenali arti persamaan gender yang sepatutnya, tetapi apa seluruh suami ingin menolong istri melaksanakan pekerjaan rumah si istri?

Kebanyakan suami di era saat ini ini seolah – olah enggan menolong istri buat cuci piring sehabis makan malam ataupun mengepel lantai rumah yang kotor.

Dalam jiwa mereka terdapat perasaan gengsi buat ikut dan meringankan pekerjaan istrinya. Perihal tersebut bisa jadi dapat dimaklumi bila si istri tidak bekerja dan juga cuma fokus mensterilkan rumah.

Tetapi disadari ataupun tidak, pekerjaan rumah tangga yang keliatannya sepele itu nyatanya menghabiskan tenaga yang amat besar.

Oleh karna itu sudah semestinya para suami menolong meringankan pekerjaan rumah tangga si istri. Paling tidak bantulah istri buat cuci piring, memasak, mengurus anak ataupun menolong pekerjaan rumah tangga yang lain.

Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda nabi agung muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sesuatu kala, aisyah binti abu bakar radhiallahu anhumma sempat ditanya oleh salah seseorang teman.

“Apakah yang nabi jalani kala berposisi di rumah berbarengan istrinya? ” dia menanggapi, “dahulu nabi biasa menolong pekerjaan rumah keluarganya. ” (Hr. Bukhari).

Menolong pekerjaan rumah keluarganya tentu aja meliputi perihal apa aja yang boleh jadi istri perlu dorongan. Contoh simpel serupa cuci baju, menjemurkan baju, hingga pada sesi amat kecil, menyapu rumah dan juga memandikan kanak – kanak.

Perihal ini terkonfirmasi dalam hadits yang lain. Sesuatu waktu, urwah bertanya kepada bibinya aisyah, “wahai ummul mukminin, apakah yang dikerjakan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila dia bersamamu (di rumahmu) ? ”

Aisyah mengatakan, “ia melaksanakan (serupa) apa yang dicoba oleh salah seseorang dari kamu bila lagi menolong istrinya, dia membetulkan sendalnya, menjahit bajunya dan juga mengangkut air di ember. ” (Hr. Ibnu hibban).

Bila seseorang suami dapat meneladani perihal ini ketika berposisi di rumah berbarengan istrinya, hingga bukan aja karakter muslimnya hendak terus menjadi kokoh, secara psikologis, cinta istri kepada si suami pula hendak amat bertambah, sampai – sampai istri hendak merasakan ketentraman luar biasa.

Dalam suasana serupa itu, hingga keluarga sakinah hendak terus menjadi dekat dalam pencapaian, sampai – sampai keluarga betul – betul jadi tempat dimana iman dan juga taqwa terus tersuburkan, sebagaimana nabi sampaikan kalau “rumahku surgaku. ”

Namun, apakah wujud menolong istri ini sebatas apa yang tersurat di dalam hadits – hadits di atas? Tentu aja tidak, namun merata, dimana ukuran tersirat yang tercantunm wajib terus digali dan juga diupayakan para suami kepada istri ataupun ayah kepada anak meliputi banyak perihal.

Bagaikan contoh, ketika istri merambah masa ngidam, dimana mual dan juga muntah sering menerpanya, suami wajib muncul di sisinya buat memantapkan moril dan juga menghiburnya.

Terlebih lagi, dalam momen – momen serupa itu ungkapan verbal kalau si suami menyayangi istri amat membagikan pengaruh positif untuk psikologi istri.

Pada masa istri baru melahirkan sampai anak berusia 6 bulan seseorang suami pula wajib siap tidur sampai larut malam menolong tugas istri menenangkan balita. Mulai dari menimang – nimang sampai mengubah popok bayinya di tengah malam.

Jelas ini pekerjaan tidak gampang, terlebih untuk bapak muda yang baru dikaruniai balita. Seseorang teman menceritakan tentang pengalamannya menolong istri ngurus balita di malam hari.

“yang seruunya buat mata nyeri seperti kena gas air mata waktu ubah popok jam 1 – 4 malaam, ” ucapnya sambil tertawa senang karna dia sanggup lewat masa tersebut dengan sukses.

Terlebih lagi para suami tidak butuh terasa risih menolong aktivitas istri, tatkala pendampingnya itu benar dalam kondisi padat pekerjaan. Terlebih lagi sekadar cuci piring, memasak air, membikin telor dadar, sudah turut meringankan bebannya.

Tetapi demikian, islam senantiasa mengendalikan gimana seluruh dapat berjalan secara sepadan. Jangan hingga atas dalih menolong istri, ibadah terhambat.

“rasulullah, biasa melayani keperluan keluarganya, lalu kala waktu sholat datang, dia berangkat meninggalkan sholat. “ (Hr. Bukhari).

Sederhananya, istri pula wajib turut menolong menegaskan suami buat tidak teledor dalam ibadah.

Semisal, ketika suami bangun di tengah malam karna menolong mengurus balita dan juga ketika adzan shubuh datang, karna keletihan suami tidak terbangun, amat baik bila istri membantunya buat bangun dan juga bersegera mendirikan sholat.

Di mari mampu diambil catatan berarti kalau sekalipun rasulullah meneladankan dan juga menyarankan kalangan ayah menolong pekerjaan istri di rumah, tidak berarti setelah itu istri berharap terlebih mengandalkan dorongan suami.
Karena bagaimanapun suami memiliki tugas dan juga kewajiban yang dia tidak boleh lalai dalam melakukannya, paling utama dalam perihal urusan sholat.

Tidak hanya itu, keadaan tiap suami tidak sama. Terdapat suami yang benar cakap dalam pekerjaan – pekerjaan teknis, sampai – sampai permasalahan whatever di dalam rumah, serupa langit – langit rusak, genting rumah tergeser, dapat ditanganinya seorang diri.

Namun, terdapat pula suami yang tidak mempunyai kapasitas serupa itu, hingga tidak sepatutnya seseorang istri menuntut dorongan serupa mereka yang dikaruniai allah keahlian tersebut.

Disinilah suami istri itu diucap berpasangan, karna yang istri tidak sanggup, suami muncul menolong. Dan juga, apa yang suami tidak miliki, istri tidak padat jadwal menuntut dan juga menggerutu karenanya.

Dan juga, yang tidak kalah berarti merupakan gimana bila keduanya fokus pada kewajiban tiap – tiap, suami padat jadwal gimana supaya dapat menolong istri, dan juga istri padat jadwal gimana taat dan juga hormat kepada si suami.

Tentu rumah tangga hendak merasa indah dan juga kehidupan senang dunia – akhirat betul – betul dapat dialami di dalam rumah seorang diri.

Catatan terakhir untuk para suami alias ayah, rasulullah berpesan, “sebaik – baik kamu merupakan yang tersadu kepada keluarganya dan juga saya merupakan orang yang amat baik di antara kamu untuk keluargaku. ” (Hr. Abu dawud).

Menolong pekerjaan istri tidaklah perihal memalukan dan juga merendahkan wibawa suami. Kebalikannya kian memantapkan jalinan dan juga romantisme. Mudah – mudahan Allah bimbing kita (para suami) mampu berbuat baik kepada keluarga.

Wallahu a’lam.

Istri Harus Taat Suami Atau Orang Tua? Ini Penjelasannya

Suatu saat, dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA dikisahkan—sebagian ahli hadis menyebut sanadnya lemah—, tatkala sahabat bepergian untuk berjihad, ia meminta istrinya agar tidak keluar rumah sampai ia pulang dari misi suci itu. Di saat bersamaan, ayah anda istri sedang sakit. Lantaran telah berjanji taat kepada titah suami, istri tidak berani menjenguk ayahnya.

Merasa memiliki beban moral kepada orang tua, ia pun mengutus seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Beliau menjawab, “Taatilah suami kamu.”

Sampai sang ayah menemui ajalnya dan dimakamkan, ia juga belum berani berkunjung. Untuk kali kedua, ia menanyakan perihal kondisi nya itu kepada Nabi SAW.

Jawaban yang sama ia peroleh dari Rasulullah, “Taatilah suami kamu.” Selang berapa lama, Rasulullah mengutus utusan kepada sang istri tersebut agar memberitahukan Allah telah mengampuni dosa ayahnya berkat ketaatannya pada suami.

Kisah yang dinukil oleh at-Thabrani dan divonis lemah itu, setidaknya menggambarkan tentang bagaimana seorang istri bersikap.

Manakah hak yang lebih didahulukan antara hak orang tua dan hak suami, tatkala perempuan sudah menikah. Bagi pasangan suami istri, ‘dialektika’ kedua hak itu kerap memicu kebingungan dan dilema.

Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam buku Al Jami’ fi Fiqh An Nisaa’ mengatakan seorang perempuan, sebagaimana laki-laki, mempunyai kewajiban sama berbakti terhadap orang tua.

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA menguatkan hal itu. Penghormatan terhadap ibu dan ayah sangat ditekankan oleh Rasulullah.

Mengomentari hadis itu, Imam Nawawi mengatakan hadis yang disepakati kesahihannya itu memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat. Dan, yang paling berhak mendapatkannya adalah ibu, lalu bapak. Kemudian disusul kerabat lainnya.

Namun, menurut Syekh Yusuf al- Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum di Fatawa Mu’ashirah bahwa memang benar, taat kepada orang tua bagi seorang perempuan hukumnya wajib.

Tetapi, kewajiban tersebut dibatasi selama yang bersangkutan belum menikah. Bila sudah berkeluarga, seorang istri diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami. Selama ke taatan itu masih berada di koridor syariat dan tak melanggar perintah agama.

Oleh karena itu, imbuhnya, kedua orang tua tidak diperkenankan mengintervensi kehidupan rumah tangga putrinya. Termasuk memberikan perintah apa pun padanya.

Bila hal itu terjadi, merupakan kesalahan besar. Pasca menikah maka saat itu juga, anaknya telah me ma suki babak baru, bukan lagi di bawah tanggungan orang tua, melain kan menjadi tanggung jawab suami. Allah SWT berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan se ba hagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).” (QS an-Nisaa’ [4]: 34).

Meski demikian, kewajiban menaati suami bukan berarti harus memutus tali silaturahim kepada orang tua atau mendurhakai mereka. Seorang suami dituntut mampu menjaga hubungan baik antara istri dan keluarganya.

Ikhtiar itu kini—dengan kemajuan teknologi—bisa diupayakan sangat mudah. Menyambung komunikasi dan hubungan istri dan keluarga bisa lewat telepon, misalnya.

Alqaradhawi menambahkan, di antara hikmah di balik kemandirian sebuah rumah tangga ialah meneruskan estafet garis keturunan. Artinya, keluarga dibentuk sebagai satu kesatuan yang utuh tanpa ada intervensi pihak luar.

Bila selalu ada campur tangan, laju keluarga itu akan tersendat. Sekaligus menghubungkan dua keluarga besar dari ikatan pernikahan. Allah SWT berfirman,

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Mahakuasa.” (QS al-Furqan [25]: 54).

Ia menyebutkan beberapa hadis lain yang menguatkan tentang pentingnya mendahulukan ketaatan istri kepada suami dibandingkan orang tua. Di antara hadis tersebut, yaitu hadis yang diriwa yatkan oleh al-Hakim dan ditashih oleh al-Bazzar.

Konon, Aisyah pernah berta nya kepada Rasulullah, hak siapakah yang harus diutamakan oleh istri? Rasulullah menjawab, “(hak) suaminya.” Lalu, Aisyah kembali bertanya, sedang kan bagi suami hak siapakah yang lebih utama? Beliau menjawab, “(Hak) ibunya.”

Tags: #istri harus taat orang tua #istri harus taat suami #rumah tanggga terasa indah #rumah tanggga terasa indah jika suami ikut membantu