Saat Malam Hari Dilarang Menyapu Bisa Berakibat Rezeki Seret, Fakta Atau Mitos ?


Mungkin kamu lumayan sering mendengar tentang mitos ini : jangan menyapu di malam hari, nanti rejekimu seret!

Bukan hanya mitos tentang menyapu saja mungkin ya. Berani tebakan deh, sepanjang hidupmu, kamu pasti pernah percaya minimal satu atau dua mitos yang secara turun temurun diceritakan orangtuamu. Iya apa iya?

Nah, nggak bisa dipungkiri memang ya kalau mitos ini lengket banget dengan adat dan budaya di Indonesia. Dari kecil sampai dewasa, kita sudah terbiasa dijejali dengan berbagai mitos ini dan itu. Padahal, seringkali kita nggak yakin juga kalau itu benar atau nggak sama sekali.

Karena ini kata orangtua, akhirnya banyak yang percaya- percaya saja tanpa mencari tahu makna sebenarnya.

Mitos Klasik tentang Menyapu di Malam Hari

Salah satu mitos klasik yang paling populer di Indonesia adalah larangan untuk menyapu di malam hari. Menurut orangtua dan masyarakat, menyapu di malam hari atau saat langit sudah gelap dapat mengakibatkan rezeki seret alias kesulitan rezeki.

Dalam mitos ini, siapa pun yang melanggar larangan ini bisa mendapatkan kesialan atau mengundang nasib buruk, khususnya dalam hal rezeki. Selain itu, ada juga kalangan orang tua yang berpendapat bahwa menyapu di malam hari sama artinya dengan kita membuang rejeki yang sudah kita terima.

Dari pendapat yang menggambarkan menyapu di malam hari sama artinya dengan membuang rezeki, dapat digambarkan dalam aktifitas menyapu dimana kotoran yang akan disapukan atau dibuang itu adalah seperti rejeki yang sudah kita dapatkan selama seharian.

Nggak sampai disitu, mitos menyapu di malam hari ini juga identik dengan makhluk halus lho. Sebagai gambarannya, saat menyapu di malam hari, kita bisa saja mengganggu makhluk gaib yang tidak terlihat. Kita juga bisa secara tidak sengaja mengenai bagian tubuhnya dengan sapu. Hal ini bisa membuat mereka marah.

Ini lah yang kemudian masyarakat gambarkan sebagai salah satu hal yang dapat mengundang sial atau nasib buruk untuk pelakunya.

Menyapu di malam hari

Alasan Logis Larangan Menyapu di Malam Hari

Ilustrasi di atas kurang lebih menggambarkan tentang asal mula mitos larangan menyapu di malam hari. Nah sekarang, apakah kamu sendiri percaya dengan mitos ini?

Kalau kamu nggak percaya ada baiknya baca alasan logis pelarangan menyapu di malam hari ini ya. Dengan membaca ini, kamu bisa mendapatkan pendapat yang berimbang, biar nggak bingung lagi.

Penjelasan logis tentu saja bisa menimbulkan pro dan kontra ya. Namanya juga keyakinan, setiap orang nggak selalu sama dan bisa berlawanan. Nah, dari segi penjelasan pun sudah beda banget. Dan ini yang bisa menguji pemikiranmu untuk menentukan mana sih yang pantas kamu yakini dan mana yang tidak.

Yang pertama, alasan logis larangan menyapu di malam hari ini erat kaitannya dengan tenggat waktu. Menyapu di malam hari sudah pasti keadaannya lebih gelap dong ya? Nah, ini terkait dengan adanya gangguan penglihatan, karena melakukan aktifitas kebersihan membutuhkan penglihatan yang jelas.

Jika penglihatan terganggu, pasti tingkat kebersihan dari aktifitas yang kita lakukan jadi nggak maksimal. Bukannya tambah bersih, bisa jadi kotoran yang mau dibuang justru malah berceceran kesana kemari dan mengotori tempat yang lain. Masuk akal, kan??

Yang kedua, alasan larangan menyapu di malam hari adalah terkait kebugaran fisik. Di malam hari, kita cenderung sudah sangat lelah sehingga fokus kita untuk membersihkan jadi kurang optimal.

Selain itu, aktifitas menyapu di malam hari juga berbahaya bagi kesehatan. Misalnya kita menyapu di malam hari, bisa jadi kita tidak sengaja mengganggu binatang berbahaya yang dapat menyerang, seperti ular atau kalajengking.

Kita pun juga bisa kena masuk angin karena efek udara dingin. Nahhh.. yang ini masuk akal juga, ya??

Kesimpulannya

Berbagai mitos yang sering kita dengar, termasuk menyapu di malam hari ini memang sudah ada sejak berates- ratus tahun dahulu. Sayangnya, sampai saat ini tidak ada sumber yang pasti terkait mitos- mitos yang ada.

Bisa jadi, mitos ini adalah salah satu cara nenek moyang kita untuk melindungi kita dari bahaya. Hanya saja, untuk membuat kita memahami waktu itu, alasan membuat seret rezeki atau mendatangkan nasib buruk memang paling banyak orang jaman dahulu gunakan.

Seiring dengan perkembangan pengetahuan, kita kini dapat memahami berbagai macam bahaya itu dengan pemikiran yang logis. Jadi, meskipun mitos ini bisa jadi tidak benar sama sekali, tidak ada salahnya kita menghindari menyapu di malam hari.

Karena secara logika, aktifitas ini memang tidak baik dilakukan di malam hari. Setuju?? Bagaimana pendapatmu??

Nafkah itu HAK Istri, Jangan Malah Bilang “Bisanya Cuma Ngabisin Duit Aja”

Uang suami itu uang istri, kalau uang istri ya uangnya sendiri. Sesekali suami tanyalah pada istri apakah uang bulanan sudah habis. Uangnya itu juga dibuat keperluan sehari-hari lhoo…

Jika pernah atau bahkan sering, jangan marah sabar aja, ngabisin duit itu kan juga buat kebutuhan sehari-hari suami dan juga anak juga kan ya?​

Tapi biasanya suami tidak tau-menau dengan hal belanja-belanja, tau-tau uang bulanan udah habis, disangkanya istri ngabisin uang. Kalau ditanya harga cabai juga tak tahu, ya kan?

Kewajiban suami itu mencari dan memberi nafkah pada istri, dan diberi nafkah adalah hak istri. Maka janganlah suka mengatakan bahwa istri itu sukanya minta duit saja, karena memang itu sudah menjadi haknya.

Bila ada yang mengatakan bahwa jadi istri kok bisanya cuma menghabiskan duit suaminya saja, maka jawab saja dengan santai, “Memang sudah begitu kok. Kalau nyari duit itu tugasnya suami.”

Ingatlah, bahwa selepas ijab qabul pernikahan maka saat itu sudah terjadi perpindahan tanggung jawab seorang wanita. Dari kedua orang tuanya, kepada pundak suaminya.

Lantas apa itu nafkah? Apakah hanya uang semata?

Kerja keras suami mencari nafkah itu berpahala dan bermakna

Suami setiap pagi pergi keluar rumah, membanting tulang dan memeras otak, hanya demi mendapatkan uang untuk membelikan istri baju. Membeli kebutuhan makanan rumah. Atau untuk membeli susu anak-anaknya.

Itu bila dilakukan dengan ikhlas dan diniatkan beribadah, maka tentu akan mendapatkan pahala yang besar.

Sekali lagi, ingatlah sebuah hadits Rasulullah SAW berikut ini :

Artinya : “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56).

Nah yang perlu diperhatikan adalah Imam Al Bukhari memasukkan hadits ini pada masalah ‘setiap amalan tergantung pada niat’.

Ini menunjukkan bahwa mencari nafkah bisa menuai pahala jika diniatkan dengan ikhlas untuk meraih wajah Allah.

Namun jika itu hanya aktivitas harian semata, atau yakin itu hanya sekedar kewajiban suami, belum tentu berbuah pahala.

Tidak hanya itu, tapi harta yang diberikan untuk menafkahi anak dan istri akan semakin barakah, dan bermakna dalam bagi kehidupan keluarga.

Walau begitu, istri janganlah meminta berlebihan hingga membebani suami. Ya, sebagai seorang istri yang baik maka harus pandai-pandai pula dalam mengajukan permintaan ke suami. Janganlah meminta sesuatu yang kira-kira bisa membebani suami.

Jangan pula meminta dengan cara yang tidak baik. Tapi mintalah dengan cara yang sopan dan baik. Tapi suami juga jangan pelit sama istri.

Apabila suami istri saling menjaga, saling memahami dan mengetahui hal itu maka hubungan harmonis pun akan tetap terjaga. Suami pun bakalan lebih tenang dalam mencari nafkah di luar. Ia juga lebih tenang mempercayakan rumah dan anak-anaknya pada istrinya. Kalau hati tenang, maka ia bisa bekerja dengan lebih giat.

Maka para suami, jangan lagi berkata bahwa istri kok bisanya cuma ngabisin duit saat ia meminta haknya pada suami. Dan para istri, juga jangan meminta sesuatu yang bisa membebani suami. Semoga dengan hal itu rumah tangga bisa sakinah ma waddah ra rahmah, hingga ke surga.

Demikian yang biasa kami sampaikan semoga anda sebagai istri juga tau apa saja yang diperuntukan dan hak anda sebagai istri dari suami, mudah-mudahan aja hikmah dari artikel diatas. Terimakasih

Menurut ahli, nafkah secara bahasa berarti sesuatu yang dibelanjakan sehingga habis tidak tersisa.

Sedangkah secara istilah artinya mencukupi kebutuhan siapapun yang ditanggungnya, baik berupa makanan, minuman pakaian, atau tempat tinggal.

Hai, suami, uang yang kau nafkahkan pada keluarga itu pahalanya lebih besar dari sedekah Jangan sampai lupa bahwa memberi nafkah keluarga itu diutamakan dari bersedekah.

Ingatlah kembali hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim ini, bahwa :

Artinya : “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995).

Tags: #berakibat rezeki seret #jangan bilang hanya bisa ngabisin duit saja #menyapu malam hari #mitos atau fakta #nafkah hak istri #rezeki seret