Selama Ini Dikenal Salihah, Pakaian Ketat yang Dikenakan Umi Pipik Banjir Kritikan, Istri Mendiang Uje Beri Jawaban Menohok


istri mendiang Ustaz Jefri Al Buchori, dulunya model kini jadi pendakwah.

Umi Pipik dikenal sebagai seorang pendakwah sekaligus figur publik yang cukup populer di kalangan muslimah.

Ia merupakan istri dari mendiang Ustaz Jefri Al Buchori.

Umi Pipik memiliki nama lengkap Pipik Dian Irawati Popon.

Ia lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 26 November 1977.

Tahun 2022 ini ia genap menginjak usia 45 tahun.

Pipik Dian Irawati mendapatkan banyak teguran lantaran penampilannya yang berbeda.

Istri mendiang ustaz Jefri Al Buchori itu memang selalu dikenal berpenampilan tertutup dengan kesan agamis.

Terlebih seusai sang suami meninggal dunia, penampilan Umi Pipik semakin berubah dengan cadar yang ikut menutupi mukannya.

Lantaran dikenal dengan wanita yang menutup aurat dari kepala hingga kakinya, perbedaan sedikit dari ibu Adiba ini menuai banyak kritikan.

Ia tiba-tiba memberikan penampilan dengan pakaian ketat yang membuat warganet ikut kaget.

Kala itu, Umi Pipik diketahui sedang melakukan sesi olahraga bersama kerabat terdekatnya.

Kemudian ia ikut membagikan momen dengan mengunggah olahraga sepedanya ke media sosial Instagram.

Bahkan dalam keterangan fotonya, ia menambahkan tagar ‘Muslimah Bikers’ yang menjelaskan kegiatannya kala itu.

Namun, netizen kala itu malah fokus ke penampilan Umi Pipik memang terlihat menggunakan celana ketat dengan outer berwarna cerah.

Dalam postingan Instagram, Umi Pipik memperlihatkan potret dirinya bersepeda bersama teman-teman.

Melansir SajianSedap.com, ibunda Abidzar Al Ghifari ini mengenakan outer warna merah muda dengan celana ketat yang kembali ditutupi dengan rok panjang.

Meski menuai pujian, tapi ada beberapa warganet yang mengkritik lekuk aurat betis Umi Pipik yang masih terlihat.

Supaya Umi Pipik menggunakan celana kain yang tidak ketat pun dianjurkan olehnya.

Masya Allah..Afwan Ummi cuman mau ngasih tau lekuk aurat betisnya masih nampak itu gamisnya nggak panjang.

Bagusnya untuk dalaman pakai celana kain yang gombrang, kata netizen tersebut.

Alih-alih marah, Umi Pipik menjawab bijak kritik netizen tersebut.

Menurutnya, dia sudah memakai pakaian seharusnya yang sudah disesuaikan dengan kegiatan yang sedang dilakukan.

Pasalnya, bila dia berpakaian sangat longgar di kala bersepeda dikhawatirkan akan mencelakakan diri sendiri.

Disesuaikan aja say, namanya juga lagi sepedahan asal hari-hari gak terlihat lekuk tubuh.

Karena kalau panjang nyangkut ke rantai justru membahayakan diri itu namanya bawa mudharat n dzolim sama diri, balas Umi Pipik.

Meski demikian, banyak warganet yang memuji penampilan Umi Pipik saat bersepeda.

Gaya hidup sehat yang dilakukan Umi Pipik pun banyak membuat mereka salut.

Terlebih usai hampir 8 tahun sejak kepergian Ustaz Jefri Al Buchori, Pipik Dian Irawati atau Ummi Pipik, nampaknya harus menghadapi kehidupan yang keras.

Meski kerap diterpa gosip tak sedap soal nikah sirinya dengan Sunu Ex Matta, namun nampaknya Ummi Pipik tetap tegar.

Ia terus berusaha menghadapi hatter yang menyebutnya sebagai pelakor syar’i.

Ummi pipik yang kini hidup bersama keempat anaknya juga harus bertahan hidup sebagai single parent.

Hal ini tentunya tidaklah mudah, namun Ummi Pipik ternyata memiliki cara lain untuk bertahan hidup.

Hukum Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga

Salah satu permasalahan yang kerap terjadi terhadap pasangan suami istri pada kehidupan setelah menikah adalah keterlibatan mertua dalam rumah tangga mereka. (foto cover: ilustrasi, sumber:shutterstock)

Hal ini memang sulit dihindari. Sekalipun memutuskan ngontrak atau membeli rumah sendiri, tapi itu tak menjadi jaminan. Mertua tetap bisa mengawasi. Bahkan berusaha selalu terlibat dalam setiap masalah yang terjadi.

Nah, kira-kira bagaimana islam memandang hal tersebut? Sebenarnya bolehkah mertua ikut campur dalam rumah tangga ataukah tidak diperbolehkan? Berikut ulasannya.

Sebelum memutuskan boleh atau tidaknya, hendaknya kita mengkaji dulu tentang masalahnya. Mengapa mertua tersebut ikut campur? Apakah untuk kebaikan atau malah berunsur kebencian?

Terkadang keterlibatan mertua dalam rumah tangga bisa diartikan menjadi nasehat, bisapula sebagai rasa iri. Ini bergantung pada presepsi masing-masing.

Apabila mertua ikut campur dalam hal kebaikan, misalnya:

Menasehati menantunya tentang ilmu agama

Mengajari cara memasak atau mengurus anak

Menjelasakan tentang kewajiban suami terhadap istri dalam Islam tanpa menggurui

Menjelaskan peran wanita dalam Islam, fungsi ibu rumah tangga dalam Islam dan kewajiban wanita setelah menikah.

Sekedar memberikan saran atas masalah yang terjadi, tapi tidak memaksa

Serta menjadi tempat keluh kesah

Maka tindakan-tindakan tersebut diperbolehkan. Sebab pasangan yang baru menikah juga belum terlalu mengerti tentang kehidupan rumah tangga, jadi mereka butuh bimbingan untuk menghindari perceraian.

Sebaliknya, jika mertua ikut campur secara berlebihan. Misalnya saja setiap hari datang ker rumah anaknya, merasa berkuasa atas anaknya, merendahkan dan menganggap menantunya tidak becus, atau bahkan selalu terlibat dalam setiap masalah maka itu hukumnya tidak diperbolehkan.

Di dalam ajaran islam, pasangan yang telah menikah lebih dianjurkan untuk tinggal di rumah sendiri guna menghindari konflik dengan mertua. Tidak apa-apa walau hanya ngontrak rumah kecil, yang terpenting istri tidak tertekan.

Dengan ngontrak rumah maka pasangan bisa belajar hidup mandiri, berjuang dari awal secara bersama-sama dan menciptakan kehidupan yang islami. Tapi demikian anak tetap wajib berbakti pada orang tua.

Jadi walau telah menikah tidak boleh melupakan orang tua. kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah dan kewajiban anak perempuan terhadap orang tua setelah menikah adalah tetap harus sering mengunjungi dan memperhatikan kedua orang tuanya ataupun mertua.

Kenapa Anak Masih Bandel ? Mungkin Bunda Belum Terapkan 5 M*ntra Ajaib Agar Anak Mau Mendengarkan Perkataan Anda

Kenapa Anak Masih Bandel ? Mungkin Bunda Belum Terapkan 5 Mantra Ajaib Agar Anak Mau Mendengarkan Perkataan Anda

Memasuki usia 3 tahun, anak akan memiliki kempuan baru yang sedikit banyak akan memusingkan Mama. Di usia ini ia sudah mulai bisa memilih apa yang disukai dan tidak disukainya, termasuk dalam urusan mainan, pakaian sampai pada perkataan yang Anda sampaikan padanya.

Jika sudah seperti ini, rumah akan berubah menjadi arena pertempuran antara orang tua dan anak. Ia bisa dengan mudah menolak atau bahkan pura-pura tidak mendengar apa yang Anda katakan jika ia tidak menginginkannya.

Contoh kecilnya, ketika hari sudah larut Anda mulai memintanya untuk merapikan mainan dan bersiap tidur. Jika dalam bayangan Anda si kecil akan langsung menuruti perkataan Anda, mulai usia 3 tahun ini akan jarang terjadi. Faktanya Anda harus memaksanya melepaskan mainan atau bahkan mengejarnya untuk menuruti perkataan Anda. Semakin keras memaksa, akan semakin keras pula si kecil menolak.

Mengapa demikian? Ternyata ada komponen yang Anda lewatkan terutama dalam hal memilih kata yang dapat membuat ikatan antara Anda dan anak. Bagaimana membangun ikatan ketika anak mulai “berperang” melawan Anda.

Seperti yang dilansir dari ParentingINA, berikut ini 5 kata yang dapat membantu orang tua membangun ikatan dan membuat anak mau mendengarkan perkataan Anda:

1. “Kamu mau, kamu bisa…”

Contoh:

Ketika anak lebih memilih bermain dari pada tidur.

Yang harus Anda lakukan:

Dekati dia dan katakan “Kalau kamu mau bermain sepanjang malam kamu bisa, tapi nanti kamu tidak akan punya waktu untuk tidur”

Saat Anda mendekatinya, maka terjalinlah ikatan yang membuat Anda dan si kecil saling mengerti. Ia akan tahu konsekuensi yang ia dapatkan jika memilih terus bermain sepanjang malam. Dengan mengatakan “Kamu berharap kamu bisa……..” membuat si kecil mau mendengarkan Anda melalui pemahaman dan alasan yang Anda berikan.

2. “Ini berat untukmu….”

Contoh:

Ketika anak tidak mau pergi ke sekolah.

Yang harus Anda lakukan:

Berusahalah untuk memberikan empati pada hal yang diinginkan si kecil dengan mengatakan “Mama tahu ini berat untuk kamu. Kamu tidak ingin pergi sekolah karena sedang ingin bersama Mama seharian. Menyebalkan ya kalau ada hal yang tidak sesuai keinginanmu”.

Mendengar perkataan Anda, si kecil akan mulai luluh dan memutuskan untuk pergi sekolah meski dengan wajah cemberut. Dengan mengatakan hal itu pula Anda akan terhindar dari “drama” pagi hari.

3. “Lakukan apa yang kamu mau”

Contohnya:

Ketika upaya Anda menyuruh anak tidak berhasil dan justru ia malah menangis sejadinya.

Yang harus Anda lakukan:

Biarkan ia melakukan hal yang diinginkannya dan katakan “Tidak apa-apa kalau tidak mau tidur, tapi coba tenangkan diri kamu. Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau yang asal setelahnya kamu bisa tidur”

Cara ini akan berhasil terutama saat anak selesai tantrum. Bantu si kecil setiap kali ia mencoba mengendalikan dirinya dengan menyuruhnya tarik napas dalam-dalam.

4. “Kamu bisa atasi ini!”

Contoh:

Saat Anda menjemput si kecil di sekolah dan melihat ekpresi wajahnya sangat berbeda dengan pagi hari, kini ia sudah ceria.

Yang harus Anda lakukan:

Jangan lantas diam karena mood si kecil sudah kembali membaik, tapi cobalah menambah semangatnya sekolah esok hari dengan katakana, “Nah, kamu bisa atasi ini kan? Tadi pagi kamu cemberut, tidak mau sekolah, tapi sekarang Mama lihat kamu sangat ceria. Mama tahu seberat apapun masalah yang kamu punya kamu pasti bisa menghadapinya.”

Perhatian dan perkatan yang Anda berikan akan membuat si kecil lebih percaya diri jka suatu hari permasalahan yang sama kembali terulang.

5. “Kendalikan dirimu”

Contoh:

Saat anak mengamuk sejadinya sampai ia memukul-mukul atau bahkan ingin menggit Anda.

Yang harus Anda lakukan:

Tarik napas dalam dan tahanlah emosi Anda, Ma. Kondisi ini pasti sangat memicu amarah, namun tangisan si kecil tidak akan berhenti jika Anda hanya terus berteriak padanya. Coba katakan ”Kamu tidak boleh begini. Walaupun kamu marah kamu tidak boleh memukul Mama. Pergilah ke kamar, kamu boleh pukul bantal sampai kesalmu hilang”.

Mengajarkan pengendalian diri pada anak adalah hal yang membutuhkan konsistensi dan banyak latihan. Keterampilan ini bukan saja baik untuk anak saat amarahnya meluap tapi juga untuk Mama dalam menyikapi perilaku si kecil.