‘Selamat Jalan Suamiku’, Kisah Pilu Perjuangan Melawan Kanker Lidah yang Semula Disangka Sariawan


Kisah pasangan ini berjuang melawan penyakit kanker lidah jadi peringatan ke banyak orang tentang pentingnya menjaga kesehatan.

Rezy Selvia Dewi kehilangan suaminya karena kanker stadium 4 yang mendera. Awalnya penyakit itu diduga hanya sariawan.

Kisah ini sudah dibagikan 191.372 kali dan dikomentari sebanyak 92 ribu kali.

Netizen tak kuasa menahan haru mendengar kisah keluarga kecil yang berjuang sekuat tenaga untuk sembuh.Simak ceritanya berikut ini, seperti dikutip Okezone, Selasa (8/8/2017).
“SELAMAT JALAN SUAMIKU”

“Mii, abbi sariawan nih lg g enak makan,,” sepulang kerja, suamiku menolak makan masakanku saat itu, padahal aku memasak ayam goreng kremes kesukaannya,, “besok2 masak sayur az ya mi ” aku hanya mengangguk tanda meng iyakan” ..

Setiap hari suami selalu mengeluhkan sariawan di lidah nya yang g sembuh2,, sudah 2 minggu lebih,, tapi aku tak terlalu menghiraukan keluhannya, aku pikir itu hanya sariawan biasa seperti pada umumnya.

“Mii, td di kantor ada medical chekup,, ini hasilnya.. ” sambil menyodorkan selembar kertas hasil pemeriksaan,, aku ingat betul saat itu bulan april 2016.

“kesehatan abbi g ada masalah mi, cuman kata dokter, abbi kurang nutrisi, abbi kurang gizi nih g diperhatiin ummi, ummi nya sibuk terus sama zuma, hehe” canda suamiku saat itu. memang anakku baru usia 1 tahun, sebagai ibu, aku berasa jd orang yg paling repot karena anakku yang mulai aktif.

Aku memang terlalu sibuk,, sampai tak memperhatikan suami, aku diam saja ketika suami merokok terus2an, aku tak pernah marah ketika suami menolak sarapan pagi yg sudah disiapkan,

aku tak pernah marah ketika suami begadang terus2an karena ngobrol di pos ronda dengan bapak2 komplek,, dan akupun tak pernah tau, makanan apa yang dia makan saat di kantor,, makanan sehat kah? Atau bukan… ya.. itulah kesalahan terbesarku…

“Abbi olahraga gih biar sehat,, jalan2 keliling komplek,,”
“Enggak ah mi, abbi lg g enak badan, kepala sakit” saat itu memang weekend, dan suami lebih memilih tiduran seharian sambil nonton tv,,”huh pemalas banget nih suami, disuruh olahraga juga susah”

======

Bolehkah Bayi Mengonsumsi Jamur?

Jamur merupakan salah satu bahan makanan yang cukup populer di Indonesia. Selain nikmat disantap, jamur juga mengandung beragam nutrisi yang baik untuk kesehatan. Akan tetapi, apakah jamur bisa dikonsumsi oleh bayi?

Jamur memiliki bentuk dan tekstur yang sangat beragam. Bahan makanan ini mudah diolah dan kerap dikombinasikan dengan hidangan lainnya, seperti sup, tumis sayuran, atau pasta. Rasanya yang gurih dan lezat membuat jamur juga sering digunakan sebagai kaldu masakan.

Keamanan Konsumsi Jamur pada Bayi

Nikmatnya jamur juga bisa dirasakan oleh bayi, lho, Bun. Bunda dapat mengolah bahan makanan yang kaya nutrisi ini sebagai menu MPASI. Namun, Bunda harus menunggu sampai Si Kecil berusia 10–12 bulan terlebih dahulu sebelum menyajikan jamur, ya.

Jamur kaya akan kalium. Nutrisi ini dapat mendukung perkembangan otot, menutrisi sel saraf otak, dan menjaga irama jantung Si Kecil. Kalium juga berperan dalam mengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh sehingga dapat menjaga tekanan darah tetap stabil.

Memberikan MPASI dengan menu makanan tinggi kalium juga dapat mengurangi risiko Si Kecil mengalami masalah kesehatan di kemudian hari, seperti batu ginjal dan osteoporosis.

Beberapa jenis jamur juga merupakan sumber vitamin D yang baik. Vitamin ini memiliki peran yang penting untuk membangun tulang dan gigi yang kuat. Kekurangan vitamin D dapat meningkatkan risiko terjadinya rakitis yang dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang.

Selain kandungan tersebut, jamur juga mengandung nutrisi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang bayi, seperti zat besi, selenium, dan serat.

Tips Mengolah Jamur sebagai MPASI

Jamur bisa dengan mudah Bunda temui di pasar tradisional atau toko swalayan. Ada banyak jenis jamur yang dijual, mulai dari jamur kancing, jamur shitake, jamur maitake, jamur tiram, jamur portobello, hingga jamur enoki.

Namun, sebelum membeli dan mengolah jamur sebagai MPASI, Bunda perlu memerhatikan hal-hal berikut ini:

  • Pilih jamur yang masih utuh dan bersih. Hindari membeli jamur yang lembap, basah, berlendir, atau keras.
  • Cuci tangan Bunda sebelum mengolah jamur.
  • Cuci jamur sampai bersih dengan air yang mengalir.
  • Olah jamur dengan cara ditumis atau dihaluskan. Tambahkan minyak zaitun, bawang putih, dan sedikit garam untuk menambah cita rasa.
  • Pastikan memasak jamur hingga matang.
  • Hidangkan jamur bersama bayam, kacang hijau, kentang, atau makanan sehat lainnya.
  • Simpan jamur yang belum diolah pada wadah tertutup dan masukkan ke dalam lemari es maksimal selama 5 hari.

Jamur bisa menjadi salah satu pilihan menu MPASI yang baik untuk kesehatan bayi. Akan tetapi, pastikan juga Bunda tetap memberikan Si Kecil makanan sehat lainnya dan ASI, agar kebutuhan gizinya tercukupi.

Selain itu, perlu diketahui bahwa jamur bisa memicu alergi pada sebagian anak. Jika setelah mengonsumsi jamur Si Kecil mengalami gejala alergi, seperti ruam, gatal-gatal, bibir dan wajah bengkak, batuk, diare, hingga sulit bernapas, segera bawa ia ke dokter, ya, Bun.

======

Berbagai Efek Samping Kopi yang Penting Diketahui

Kopi sering kali dikonsumsi sebagai solusi untuk menghilangkan kantuk dan meningkatkan konsentrasi. Namun, ada beberapa efek samping kopi yang perlu diwaspadai, terlebih jika Anda berlebihan dalam mengonsumsinya.

Berbagai penelitian telah membuktikan manfaat kopi bagi tubuh, mulai dari meningkatkan suasana hati dan metabolisme tubuh hingga menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, penyakit Parkinson, asam urat, dan kanker.

Jika dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai, yaitu tidak lebih dari 2–3 cangkir per hari, kopi umumnya aman bagi orang dewasa dan tidak merugikan kesehatan. Namun, efek samping kopi dapat muncul jika kopi dikonsumsi dalam jumlah yang berlebih, yaitu lebih dari 4 cangkir kopi per hari.

Macam-Macam Efek Samping Kopi

Terlalu banyak atau terlalu sering mengonsumsi kafein, lama-kelamaan dapat menimbulkan efek samping yang disebut caffeinism. Secara umum, efek samping kopi yang sering kali terjadi meliputi:

1. Insomnia

Kafein dapat membuat Anda tetap terjaga, mengatasi ngantuk, dan meningkatkan konsentrasi. Namun, asupan kafein yang berlebihan dapat mengurangi waktu tidur dan membuat tubuh tidak dapat tidur dengan nyenyak. Hal ini bisa membuat Anda mengalami gangguan tidur, seperti insomnia.

2. Sering buang air kecil

Peningkatan frekuensi buang air kecil adalah efek samping kopi yang umum terjadi. Kopi mengandung kafein yang bersifat diuretik sehingga dapat merangsang pembuangan urine dan membuat Anda lebih sering buang air kecil. Hal inilah yang membuat Anda akan lebih sering ke toilet setelah mengonsumsi kopi.

3. Gelisah

Kafein memang dapat meningkatkan kewaspadaan karena memiliki efek stimulan. Meski demikian, efek samping kopi juga bisa membuat Anda menjadi gelisah dan cemas. Efek ini bahkan bisa menimbulkan serangan panik dan kambuhnya gejala gangguan cemas.

4. Denyut jantung menjadi cepat

Terlalu banyak minum kopi juga dapat menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan irama detak jantung menjadi berubah (fibrilasi atrium). Apabila Anda mengalami hal ini setelah minum kopi, pertimbangkan untuk mengurangi asupan kopi Anda.

5. Gangguan pencernaan

Apakah Anda menjadi lebih sering buang air besar setelah mengonsumsi kopi? Jika iya, ini disebabkan oleh efek pencahar pada kopi. Efek samping kopi ini dapat membuat usus menjadi lebih aktif, sehingga pergerakan usus menjadi lebih cepat.

Tak hanya itu, konsumsi kopi berlebihan juga bisa menyebabkan efek samping lain, seperti diare, sakit maag, dan kambuhnya penyakit GERD.

6. Caffeine withdrawal

Caffeine withdrawal merupakan efek samping kopi yang muncul ketika seseorang sudah terbiasa rutin minum kopi, lalu tiba-tiba berhenti mengonsumsinya.

Ketika mengalami efek samping kopi yang satu ini, Anda dapat merasa sakit kepala, pusing, mual, cepat lelah, sulit konsentrasi, hingga suasana hati yang cepat berubah.

Selain berbagai kondisi di atas, terlalu banyak minum kopi dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan efek samping lain, seperti tekanan darah tinggi dan rhabdomyolysis.

Siapa yang Harus Mengurangi atau Menghindari Kopi?

Tidak semua orang aman mengonsumsi kopi. Oleh karena itu, Anda sebaiknya membatasi atau bahkan menghindari kopi jika mengalami beberapa kondisi atau penyakit tertentu, seperti:

  • Gangguan mental, misalnya gangguan kecemasan, gangguan bipolar, atau depresi
  • Gangguan pencernaan, termasuk penyakit asam lambung atau GERD dan irritable bowel syndrome
  • Asam urat
  • Diabetes
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, misalnya antibiotik, antidepresan, atau obat asma
  • Selain beberapa kondisi di atas, wanita hamil juga dianjurkan untuk membatasi konsumsi kopi karena dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, dan berat badan lahir bayi rendah.

Ibu menyusui pun disarankan untuk mengurangi kopi. Hal ini karena kandungan kafein dapat terserap ke dalam ASI, sehingga bayi yang diberi ASI bisa menjadi lebih rewel, susah tidur, dan berisiko mengalami kolik.

Efek samping kopi biasanya muncul ketika seseorang mengonsumsi kopi dalam jumlah banyak atau dalam jangka panjang. Namun, pada orang yang sensitif terhadap kafein, efek samping kopi bisa muncul meski hanya mengonsumsi kopi dalam jumlah sedikit.

Apabila Anda sering mengalami efek samping kopi dan sulit mengatasinya, cobalah untuk berkonsultasi ke dokter.

Tags: #bayi mengkonsumsi jamur #efek samping minum kopi #kisah pilu melawan kanker lidah