Suami Baik dan Shaleh, tapi Jarang Beri Nafkah Batin, Bagaimana?

443 views


PERTANYAAN: Saya ini sangat memalukan, tapi saya tidak tahu kepada siapa lagi saya bertanya tentang ini. Tentang nafkah batin dari suami.

Suami saya sangat baik dan shaleh, dan saya tidak punya alasan untuk tidak percaya padanya. Tapi masalahnya, dia sangat sering tidak memberikan saya hak nafkah batin di tempat tidur. Apakah diperbolehkan bagi saya untuk meminta cerai, atau akan saya menjadi salah satu dari orang-orang yang tidak akan mencium wangi surga?

JAWABAN: Jika seorang suami menjalankan tuntutan Islam pada istrinya, tidak diperbolehkan bagi sang istri untuk meminta cerai.

Karena Nabi ﷺ mengatakan: “Jika seorang wanita setiap meminta suaminya untuk bercerai tanpa alasan kuat, dia tidak akan mencium wanginya surga,” (HR Imam Ahmad, 21874, dan Ibnu Majah, 2055).

Arti dari kalimat “tanpa alasan kuat” adalah segala sesuatu yang memberinya motif yang kuat untuk mencari perceraian. (Syarah Ibn Majah ‘ala al-Sanadi).

Adapun nafkah batin alias hubungan di tempat tidur, jika tuntutan istri lebih besar daripada seharusnya, tidak diperbolehkan bagi sang istri untuk meminta cerai.

Kata “seharusnya” mengacu pada apa yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan, seperti seminggu sekali atau sekali setiap sepuluh hari dan seterusnya, dan orang-orang berbeda dalam kapasitas mereka dalam hal ini).

Jika suami memiliki cacat atau sakit yang mencegah dia dari melakukan kewajibannya memberikan nafkah batin, yaitu hubungan (misalnya dia impoten), maka diperbolehkan bagi istrinya untuk minta cerai. Wallahu a’lam.

Suami Istri, Ini 2 Waktu Terbaik untuk Jima

SOAL hubungan suami istri, tak lagi hanya urusan syahwat semata. Lebih jauh, ia bahkan bernilai ibadah di mata sang Pencipta. Tahukah Anda, ternyata ada waktu-waktu terbaik untuk berhubungan badan atau jima. Kapan itu?

Pertama, ada kondisi dimana suami dianjurkan untuk mendatangi istrinya untuk jima. Keadaan itu adalah ketika suami tidak sengaja melihat seorang wanita dan dia terpikat dengannya.

“Wanita itu, ketika dilihat seperti setan (punya kekuatan menggoda). Karena itu, jika ada lelaki melihat wanita yang membuatnya terpikat, hendaknya dia segera mendatangi istrinya. Karena apa yang ada pada istrinya juga ada pada wanita itu.” (HR. Turmudzi 1158, Ibnu Hibban 5572, ad-Darimi dalam Sunannya 2261, dan yang lainnya. Sanad hadis ini dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Kedua, berdasarkan beberapa riwayat berikut beberapa kebiasaan orang soleh di masa silam untuk melakukan hubungan badan atau jima.

Tiga waktu aurat
Tiga waktu aurat adalah sebelum subuh, siang hari waktu dzuhur, dan setelah isya.

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di waktu dzuhur dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga waktu aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.” (QS. An-Nur: 58).

”Dulu para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka terbiasa melakukan hubungan badan atau jima dengan istri mereka di tiga waktu tersebut. Kemudian mereka mandi dan berangkat shalat. Kemudian Allah perintahkan agar mereka mendidik para budak dan anak yang belum baligh, untuk tidak masuk ke kamar pribadi mereka di tiga waktu tersebut, tanpa izin.” (Tafsir Ibn Katsir, 6/83).

Setelah Tahajud
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di awal malam, kemudian bangun tahajud. Jika sudah memasuki waktu sahur, beliau shalat witir. Kemudian kembali ke tempat tidur. Jika beliau ada keinginan, beliau mendatangi istrinya. Apabila beliau mendengar adzan, beliau langsung bangun. Jika dalam kondisi junub, beliau mandi besar. Jika tidak junub, beliau hanya berwudhu kemudian keluar menuju shalat jamaah. (HR. an-Nasai 1680 dan dishahihkan al-Albani).

Ini Ketika Berhubungan Suami Istri Jadi Wajib, Sunnah, Makruh, dan Haram

ISLAM sudah mengatur segala sesuatu di dunia ini dengan takaran yang pas. Termasuk juga soal hubungan suami istri.

Dalam Islam, hubungan yang sangat pribadi bisa menjadi perbuatan wajib, sunnah, mubah, maupun haram. Ketika bagaimana?

Menjadi wajib apabila seorang suami atau istri sedang mengalami kondisi menginginkan yang memuncak.

Dikhawatirkan padanya kalau tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan halalnya akan jatuh pada perbuatan maksiat / zina. Maka ketika suami mengajak istrinya berhubungan, istri diharuskan memenuhinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tidak mendatanginya, hingga dia (suaminya –ed) bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seharusnya yang dialkukan istri adalah memenuhi ajakan suaminya ketika dirinya diajak berhubungan suami istri.

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ

“Jika seorang laki-laki mengajak istrinya untuk menyalurkan hajatnya, maka hendaklah ia mendatangi suaminya, meskipun dia sedang berada di tungku perapian.” (HR. Ibnu Syaibah, at-Tirmidzi, ath-Thabarani dan berkata at-Tirmidzi Hadits Hasan Gharib, dan dishahihkan Ibnu Hibban no 4165)

Berkata al-Imam Syaukani rahimahullah, tentang hadits diatas: “Kalau dalam keadaan seperti itu saja tidak boleh seorang istri menyelisihi suami, tidak boleh tidak memenuhi ajakan suami sedangkan dia dalam keadaan seperti itu, maka bagaimana dibolehkan untuk menyelisihi suami selain dari kondisi itu.” (Silahkan Lihat Nailul Authaar:269/231)

Menjadi Sunnah secara umum ketika rutin melalukan diniatkan mencapai beberapa tujuan utama dari dari berhubunga antara lain:

1. Dipeliharanya nasab (keturunan), sehingga mencapai jumlah yang ditetapkan menurut takdir Allah
2. Mengeluarkan air yang dapat mengganggu kesehatan badan jika ditahan terus
3. Mencapai maksud dan merasakan kenikmatan, sebagaimana kelak di surga
4. Menundukkan pandangan, menahan nafsu,
5. menguatkan jiwa dan agar tidak berbuat serong bagi kedua pasangan

Dihukumi makruh ketika melakukan hubungan seksual di dalam kamar mandi. Makruh juga hukumnya menceritakan detail proses hubungan intim yang dilakukan suami istri kepada orang lain tanpa kepentingan yang besar di dalamnya.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: ”Dan dalam hadits ini (”Sesungguhnya yang termasuk manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang menggauli istrinya lalau dia menceritakan rahasianya (jima’ tersebut).”(HR Muslim) ada pengharaman bagi seorang laki-laki menyebarluaskan apa yang terjadi antara dia dengan istrinya berupa jima’, dan menceritakan secara detail hal itu dan apa yang terjadi dengan perempuan pada kejadian itu (jima’) berupa ucapan (desahan) maupun perbuatan dan yang lainnya. Adapun sekedar menyebutkan kata jima’, apabila tidak ada faidah dan keperluan di dalamnya maka hal itu makruh karena bertentangan dengan muru’ah (kehormatan diri)

Menjadi haram atau berdosa ketika istri sedang haid, suami memaksa melakukan hubungan. Atau ketika istri sedang nifas termasuk melakukan hubungan seksual di dubur (anal s3ks).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih” (Al Majmu’, 2: 359). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 624)

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-

“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Al Muhamili dalam Al Majmu’ (2: 359) menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”

Tags: #hukum berhubungan suami istri #suami jarang beri nafkah batin #suami shaleh dan baik #waktu aurat #waktu terbaik untuk jima'