Suami, Berhati-hatilah Jika Istrimu Ikut Bekerja Menanggung Belanja Rumah Tangga


Pertanyaan:
Assalamualaikum.
Saya ada sedikit kekeliruan tentang nafkah. Semasa di awal perkahwinan, saya pernah memberitahu suami bahawa saya akan membantu suami mengurangkan beban suami.

Kadang-kadang saya turut mengeluarkn uang untuk membeli belanja sehari-hari.

Setelah beberapa tahun menikah, saya dapati pendapatan suami telah meningkat dan saya yakin suami sudah bisa menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan keluarga.

Masalahnya adalah, sekarang suami seolah-olah menganggap saya tetap berkewajiban menanggung beban rumah tangga.

Ketika saya memberitahu suami kalau itu adalah tanggung jawabnya sebagai suami, dia akan mengungkit-ungkit bahawa dia telah banyak mengeluarkan uang miliknya.

Apakah hak saya sebagai isteri dalam permasalahan ini? Mintak penjelasan ustaz. Terima kasih.

Jawaban:
Nafkah bagi kehidupan suami-isteri (iaitu belanja-belanja keperluan hidup untuk mereka) adalah tertanggung sepenuhnya di atas bahu suami. Ia adalah kewajiban suami yang ditetapkan Syariat. Sabda Nabi SAW;

“Wajib atas kamu (para suami) menyediakan untuk mereka (yakni isteri-isteri kamu) rezki mereka dan pakaian mereka mengikut kebiasaannya” (Soheh Muslim; 1218. Abu Daud; 1905, dari Jabir bin Abdullah RA).

Menurut ulamak; maksud rezki dalam hadis ialah nafkah hidup merangkumi makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Hukumnya adalah wajib atas suami.

Berkata Imam an-Nawawi yang terkandung dalam hadis ini, kewajiban (suami) menafkahi isteri dan menyediakan pakaian untuk mereka. Hukum ini telah diijmakkan oleh ulamak”.

Dianjurkan isteri membantu suami, namun itu bukan kewajiban. Para suami perlu menyedari hakikat ini. Tidak harus mereka memaksa isteri untuk turut sama menanggung nafkah keluarga.

Isteri yang ingkar kepada arahan suami dalam perkara tersebut tidak dianggap sebagai nusyuz di sisi Syariat. Dalam hal ini suami tidak boleh memaksa istri untuk ikut bekerja.

Isteri pula jangan keberatan membantu keuangan suami selagi mampu, kerana uang/harta yang dibelanjakan untuk suami dan keluarga akan diberi dua pahala/ganjaran oleh Allah; pahala sedekah dan pahala qarabah. Ini sebagaimana sabda Nabi SAW

“Tatkala baginda ditanya berkenaan isteri yang membelanjai suami dan anak-anaknya; ‘Untuknya dua pahala; pahala qarabah (mengeratkan ikatan keluarga) dan pahala sedekah’.” (Soheh al-Bukhari; 1466. Muslim; 1000).

Apabila suami mengizinkan isteri untuk keluar berkerja, pendapatan isteri adalah milik penuhnya. Tidak harus diambil suami melainkan dengan persetujuannya.

Kecuali jika suami mengsyaratkan sebahagian pendapatan hendaklah digunakan untuk belanja rumah tangga sebagai tukaran kepada keizinan yang diberinya untuk keluar berkerja, ketika itu isteri terikat dengan syarat tersebut. Nabi SAW bersabda;

“Orang Islam terikat dengan syarat (yang dipersetujui) sesama mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi; 11430, dari ‘Amru bin ‘Auf al-Muzani RA).

Tanpa syarat tersebut, kewajiban nafkah keluarga sepenuhnya ditanggung suami.

Wallahu a’lam.

======

5 Manfaat Jambu Biji untuk Kesehatan Anak

Ada banyak manfaat jambu biji untuk kesehatan anak. Karena kandungan nutrisinya yang melimpah, jambu biji bisa memperkuat sistem imun hingga melancarkan pencernaan anak, Bun. Selain dimakan langsung, jambu biji bisa diolah menjadi jus atau dijadikan campuran es buah.

Di dalam 100 gram jambu biji terkandung sekitar 70 kalori dan aneka nutrisi lainnya, seperti karbohidrat, air, protein, serat, dan gula. Di samping itu, buah ini menyimpan banyak vitamin dan mineral yang sangat baik untuk proses tumbuh kembang anak, meliputi vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin E, vitamin K, kalsium, magnesium, fosfor, kalium, zinc, folat, dan kolin. Jambu biji juga banyak mengandung antioksidan, seperti flavonoid dan polifenol.

Daftar Manfaat Jambu Biji untuk Kesehatan Anak

Berkat kandungan nutrisinya tersebut, mengonsumsi jambu biji bisa memberikan manfaat luar biasa untuk kesehatan anak, di antaranya:

1. Memperkuat imun

Manfaat jambu biji untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak bisa diperoleh berkat tingginya kandungan antioksidan, vitamin A, vitamin C, vitamin E, dan likopen dalam buah ini. Dengan daya tahan tubuh yang kuat, Si Kecil akan berisiko lebih rendah untuk terkena infeksi virus dan bakteri, termasuk virus Corona.

2. Mendukung kesehatan dan fungsi sistem pencernaan

Kandungan serat, air, serta aneka vitamin dan mineral pada jambu biji dapat mendukung kesehatan sistem saluran cerna anak. Dengan tercukupinya asupan serat dan cairan tubuh, sistem pencernaan Si Kecil akan bekerja lebih optimal, sehingga ia bisa terhindar dari sembelit.

Tak hanya itu, serat pangan dari sayur dan buah, termasuk jambu biji, juga dapat memberikan efek prebiotik sehingga bisa menjaga keseimbangan jumlah bakteri baik dalam sistem pencernaan anak.

3. Memelihara kesehatan kulit

Antioksidan dan beragam vitamin, seperti vitamin C dan vitamin E, yang ada dalam jambu biji bermanfaat untuk memelihara kesehatan kulit anak. Terutama antioksidan, selain bisa menangkal efek radikal bebas yang masuk ke tubuh Si Kecil, zat ini juga bisa melindungi kulitnya dari kerusakan akibat paparan sinar matahari atau polusi.

4. Mengontrol kenaikan berat badan

Bagi anak-anak yang mengalami obesitas atau berat badan berlebih, jambu biji bisa menjadi pilihan yang baik untuk dijadikan camilan sehat, Bun. Buah yang memiliki nama lain guava ini kaya akan serat dan nutrisi, tetapi tergolong rendah kalori.

Konsumsi serat juga bisa membuat Si Kecil merasa kenyang lebih lama, sehingga nafsu makannya bisa lebih terkendali. Dengan demikian, dorongan untuk ngemil makanan tidak sehat pun bisa dikurangi. Dengan mengonsumsi buah-buahan, termasuk jambu biji, berat badan anak bisa lebih mudah dikontrol.

5. Mencegah hipertensi pada anak

Tekanan darah tinggi atau hipertensi juga bisa dialami anak-anak, lho. Ada banyak faktor yang bisa membuat anak berisiko mengalami penyakit ini, mulai dari faktor keturunan, stres berlebih, obesitas, hingga pola makan tidak sehat.

Nah, untuk mencegah Si Kecil mengalami tekanan darah tinggi, Bunda dianjurkan untuk membiasakannya mengonsumsi makanan sehat, seperti sayudan dan buah. Buah jambu biji mengandung antioksidan dan kalium yang tinggi. Nutrisi tersebut diketahui baik untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah terjadinya hipertensi.

Bunda bisa memberikan jambu biji sejak anak berusia 6 bulan atau sudah mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI). Namun, tekstur jambu biji harus disesuaikan dengan usia anak, ya, Bun. Jika hendak memberikan jambu biji pada bayi, Bunda bisa mengolahnya menjadi bubur saring atau puree.

Melihat banyaknya manfaat jambu biji bagi kesehatan anak, mulai sekarang Bunda bisa memasukkan buah ini ke dalam menu harian Si Kecil. Untuk mendapatkan manfaatnya secara optimal, pilihlah buah jambu biji yang dalam kondisi segar.

Sebelum memberikannya kepada Si Kecil, Bunda pun harus mencuci buah ini terlebih dahulu. Selanjutnya, potonglah jambu biji menjadi beberapa bagian dan buang bijinya. Hal ini penting agar ia tidak tersedak ketika memakannya, Bun.

Bila Si Kecil tidak suka makan jambu biji secara langsung, Bunda bisa mengolahnya menjadi jus segar, rujak buah, es krim, smoothies, campuran jelly atau agar-agar, bahkan salad buah.

Walau jarang terjadi, sebagian anak bisa mengalami reaksi alergi terhadap jambu biji. Jika setelah mengonsumsi jambu biji timbul gejala alergi pada Si Kecil, seperti bentol dan ruam di kulit, gatal-gatal, sakit perut, atau diare, Bunda sebaiknya menghentikan pemberian jambu biji dan periksakan kondisi Si Kecil ke dokter.

======

Cara Mencegah Usus Buntu yang Perlu Diketahui

Ada beragam cara mencegah usus buntu. Salah satu cara yang paling mudah adalah memenuhi kebutuhan cairan tubuh, yaitu dengan minum air putih yang cukup setiap hari. Selain itu, ada cara-cara lain yang juga mudah dilakukan, tetapi efektif untuk mencegah usus buntu.

Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah penyakit yang terjadi ketika terdapat peradangan pada usus buntu (apendiks). Kondisi ini dapat terjadi pada semua usia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun, penyakit ini paling sering terjadi pada usia 10–30 tahun.

Penyakit usus buntu umumnya terjadi ketika adanya penyumbatan pada lapisan usus buntu yang mengakibatkan infeksi. Kondisi ini membuat bakteri berkembang biak dengan cepat, sehingga membuat usus buntu meradang, bengkak, hingga bernanah.

Hingga saat ini, penyebab terjadinya radang usus buntu masih belum diketahui dengan jelas, tetapi faktor tertentu, seperti riwayat usus buntu di keluarga dan pola makan kurang sehat diduga bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit tersebut.

Berbagai Cara Mencegah Usus Buntu

Penyakit usus buntu tidak bisa dicegah sepenuhnya. Penyakit ini bisa terjadi pada siapa pun dan kapan saja. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko Anda untuk terkena penyakit usus buntu, di antaranya:

1. Konsumsi makanan berserat

Serat merupakan asupan yang penting untuk melancarkan pencernaan dan menjaganya tetap sehat. Dengan mengonsumsi makanan berserat dalam jumlah yang cukup, pencernaan Anda akan lebih lancar dan aktif sehingga memudahkan proses pembuangan tinja. Hal ini baik untuk mencegah terjadinya usus buntu.

Anda bisa mencukupi asupan serat dengan mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti sayuran, buah-buahan, gandum utuh, oatmeal, biji-bijian, serta kacang-kacangan.

2. Minum air putih yang cukup

Selain untuk mencegah dehidrasi, konsumsi air putih yang cukup juga penting untuk memaksimalkan kinerja usus dalam mencerna makanan dan menghasilkan tinja. Sebaliknya, bila Anda kurang minum, usus akan menyerap cairan dari sisa makanan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Hal tersebut bisa membuat Anda susah buang air besar atau sembelit dan berisiko menimbulkan penumpukan tinja yang dapat memicu radang usus buntu. Oleh karena itu, untuk membantu mencegah usus buntu, pastikan Anda cukup minum air putih setiap hari setidaknya 8 gelas per hari.

3. Konsumsi makanan mengandung probiotik

Makanan dan minuman yang mengandung probiotik baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan. Bakteri baik dalam probiotik diketahui dapat menekan pertumbuhan bakteri jahat dalam tubuh, termasuk bakteri yang dapat menyebabkan peradangan atau infeksi usus buntu.

Anda bisa mendapatkan probiotik dari berbagai sumber, seperti yogurt, tempe, kefir, kombucha, atau kimchi. Agar manfaat tersebut bisa diperoleh dengan maksimal, Anda juga dianjurkan untuk mengonsumsi asupan serat, misalnya dari gandum utuh, apel, pisang, bawang putih, atau artichoke.

Meski demikian, sayangnya, efektivitas probiotik dalam mencegah usus buntu masih perlu diteliti lebih lanjut.

4. Makan dengan tenang dan perlahan

Meski terdengar sepele, makan dengan tenang justru membawa banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Salah satunya adalah dapat membantu tubuh menyerap nutrisi dengan baik dan mendukung proses pencernaan.

Hal tersebut bisa terjadi karena orang yang makan lambat akan mengunyah makanannya hingga benar-benar halus saat ditelan, sehingga cenderung mudah dicerna. Begitu sebaliknya, orang yang terbiasa makan cepat cenderung lebih sering menyantap makanan dalam potongan besar dan tidak mengunyahnya sampai halus.

Alhasil, potongan makanan tersebut bisa membuat proses penernaan menjadi lambat dan berisiko menimbulkan penyumbatan di usus buntu.

5. Rutin cek kesehatan ke dokter

Dalam beberapa kasus, penyakit usus buntu terkadang bisa lebih sering terjadi pada orang yang pernah mengalami cedera di perut dan memiliki riwayat penyakit yang sama di keluarganya.

Kelompok orang yang berisiko ini tentu harus rutin cek kesehatan ke dokter guna memantau perkembangan usus buntu serta menerima perawatan medis yang sesuai. Degan begitu, risiko terjadinya radang usus buntu juga dapat dicegah sedini mungkin.

Pada dasarnya, memang tidak ada cara yang bisa 100% mencegah usus buntu. Namun, dengan menerapkan beberapa cara di atas, risiko Anda untuk terkena penyakit usus buntu bisa berkurang.

Selain mengetahui cara mencegah usus buntu, Anda juga perlu mewaspadai gejala dan komplikasi usus buntu yang mungkin timbul. Jika Anda mengalami nyeri perut di bagian kanan bawah, apalagi disertai gejala perut kembung, mual dan muntah, diare, hingga demam, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Tags: #cara mencegah usus buntu #istri bekerja menanggung beban rumah tangga #manfaat jambu biji untuk kesehatan anak