Sudah Tidak Perawan, Tapi Tidak Memberitahu Suami Saat Nikah, Bagaimanakah Hukumnya ?


Pertanyaan:

Jika ada seorang wanita yang akan menikah, namun sudah tidak perawan lagi dikarenakan pernah, apakah wajib hukumnya dalam Islam bagi dia memberitahukan hal tersebut kepada calon suaminya?

Jawaban:

Dikutip dari islamqa.ca., fitnah syahwat yang paling besar adalah laki-laki yang terkena fitnah wanita dan wanita yang terkena fitnah laki-laki.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, rahimahullah, berkata, “Bercampurnya dua jenis manusia ini merupakan sebab fitnah. Seorang laki-laki yang bercampur baur dengan wanita, ibarat bercampurnya api dengan kayu bakar.” Demikianlah halnya api, dia membuat keduanya menyala, kemudian sang laki-laki meninggalkan setelah merenggutnya dan mencari wanita selainnya.

Kejadian yang selalu berulang-ulang. Sang laki-laki menariknya pelan-pelan, kemudian merenggut kegadisannya, setelah itu dia tinggalkan dan mencari wanita lain sebagai isteri dan keluarganya yang dia merasa aman kepadanya.
Akan tetapi siapa yang menyadari pelajaran ini dan mengetahui hakikat tipu daya sebelum segala sesuatunya terlambat. Sebelum menyesal dan sebelum tidak berguna lagi penyesalan.

Kami mohon kepada Allah agar dia bertaubat dan bagi siapa saja yang telah bermaksiat, serta dapat belajar dari pelajaran yang keras dan pahit tersebut. Bagaimana jika Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan petunjuk dan istiqomah, sedangkan setan dan para pendukungnya menghendaki kesesatan dan penyimpangan.

Allah Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ () وَاللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

 

“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran),” (QS. An-Nisa: 26-27).

Sekarang, yang terjadi telah terjadi. Maka kewajiban yang paling utama bagi wanita pelaku ini adalah bertaubat dengan sebenarnya (taubatan nasuha) serta menyesali apa yang telah dilakukan dan menyadari bagaimana pengaruh setan dalam menyesatkannya. Semoga Allah menerima taubatnya dan menutup aibnya dengan serapat-serapatnya.

Adapun mengenai lamarannya, hendaknya dia meneruskannya selama yang dia harap adalah pemuda yang baik dan saleh. Dia tidak perlu menjahit selaput daranya yang hilang akibat perbuatan zina, karena itu termasuk penipuan.

Tapi juga dia tidak perlu membuka aib dirinya. Tetapi tetap saja meneruskan rencana tersebut sesuai kehendak Allah. Semoga Allah menutup aib yang ada padanya.

Jika sang suami tidak menyadari hal tersebut setelah pernikahan dan Allah menutup semua rahasia itu, maka teruskan pernikahan apa adanya.

Tapi jika ternyata sang suami mengetahui permasalahan tersebut, maka mungkin pihak istri memberikan isyarat bahwa kegadisannya hilang akibat kecelakaan, atau semacamnya dengan bahasa isyarat.

Karena sering terjadi kegadisan seseorang dapat hilang dengan kejadian semacam itu. Semoga, jika dia telah berusaha, sang suami menutup aibnya.

Apabila hal tersebut tidak mungkin dan sang suami telah mengetahui bahwa kegadisannya telah hilang, maka sang suami boleh membatalkan pernikahannya jika dia menginginkan hal tersebut serta minta dikembalikan apa yang telah dia berikan kepada isterinya tersebut, baik mahar atau biaya perkawinan.

Semoga dengan dibatalkannya pernikahan tersebut, walau seteleh pernikahan yang sesaat, lebih baik baginya dan lebih menutup aibnya. Sebab setelah itu, dia akan tergolong sebagai janda. Dan jika dia menikah lagi setelah itu, dia dapat menikah sebagaimana seorang janda.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah ke jalan yang lurus.

======

Suami Meninggal, Istri Menikah Lagi, Siapa Pasangan di Akhirat? Ini Penjelasannya

Ketika seorang istri ditinggal untuk selama-lamanya oleh sang suami, jelas beban kehidupan ke depan akan semakin berat. Terlebih jika suami yang dipanggil Allah itu meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Di tengah ujian berat tersebut, banyak istri yang memilih untuk menikah lagi setelah suaminya meninggal.

Bagaimana islam memandang perkara tersebut?

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa perempuan memiliki masa idah (masa tunggu perempuan setelah bercerai hidup/mati dengan suaminya). Ketika ditinggal wafat suaminya dalam keadaan hamil, maka masa idahnya adalah sampai ia melahirkan.

Sedangkan ketika seorang istri ditinggal wafat suaminya dalam keadaan tidak hamil, maka masa idahnya adalah 4 bulan 10 hari. Oleh sebab itu, ketika masa idah belum selesai, maka seorang perempuan dilarang membiina rumah tangga baru. Setelah masa idah selesai dilalui, barulah ia diperbolehkan menikah lagi.

Perihal pernikahan, Islam memandang bahwa ikatan janji suci tersebut tidak hanya sehidup semati, tetapi sampai ke akhirat kelak. Maka, tidak heran jika banyak kalangan yang mempertanyakan akan dengan suami yang mana di akhirat kelak ketika seorang istri di dunia menikah lagi.

Terkait dengan hal ini, banyak perbedaan pendapat di antara para ulama.

Pertama, seorang istri yang menikah lagi setelah suaminya wafat, maka di akhirat kelak akan bersama suaminya yang terakhir.

Hal tersebut disandarkan pada sebuah riwayat dari Hudzaifah Ibnul Yaman yang berkata kepada istrinya, “Apabila engkau ingin aku menjadi suamimu di surga nanti, janganlah engkau menikah lagi sepeninggalku karena perempuan di surga adalah bagian dari suaminya yang terakhir di dunia.”

Apa yang dikatakan Hudzaifah di atas, sebagaimana yang pernah dikatakan Nabi Muhammad saw suatu ketika.
Dari Abu Darda’ ra, Rasulullah saw bersabda, “Perempuan mana pun yang ditinggal mati suaminya, kemudian perempuan itu menikah lagi, maka ia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir.” (HR. Thabrani)

Oleh karena itu, semua istri Nabi Muhammad saw sepeninggal beliau tidak ada yang menikah lagi karena tidak mungkin ada yang lebih sempurna dari Nabi Muhammad saw.

Kedua, perempuan yang menikah lagi setelah suaminya meninggal, maka ia akan bersama suami yang paling baik akhlaknya di dunia.

Dalam sebuah hadis Ummu Habibah pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasul, seorang perempuan memiliki dua suami di dunia. Keduanya wafat dan berkumpul di akhirat. Siapakah yang akan menjadi suami perempuan itu?”

Rasulullah menjawab, “Perempuan itu akan menjadi istri laki-laki yang paling baik akhlaknya terhadap perempuan itu saat di dunia.”

Rasul lalu melanjutkan, “Wahai Ummu Habibah, laki-laki dengan akhlak yang baik pergi membawa kebaikan dunia dan akhirat.” (HR. At-Thabrani dan Al-Bazzar)

Wallahu a’lam.

======

Perut Suami Buncit Setelah Menikah Itu Karena Istri Pandai Masak

Coba deh lihat papa, om, pakde, mas kamu yang tadinya punya perut rata, tapi tiba-tiba berubah jadi gembul setelah menikah. Pernah nggak bertanya-tanya kenapa kebanyakan cowok setelah menikah biasanya diikuti dengan perubahaan fisik yang adalah perut yang lebih buncit?

Sebelum kamu menyimak cara membasminya, ini nih hipotesis versi lucu-lucuan kami di Hipwee Wedding, kenapa hal semacam itu bisa terjadi.

Kalau kata orang-orang mah, cowok yang sudah menikah perutnya semakin buncit karena “susunya pas”

Yah, jangan diartikan secara harafiah juga sih ya. “Pas susunya” bisa juga mengacu pada kehidupan yang dirasa sudah “pas” dan nyaman. Rasa nyaman bisa muncul dari kebahagiaan yang ditimbulkan oleh sang Istri, di dalam dan di luar kamar pengantin ;). Memiliki pasangan hidup saja pasti rasanya sudah melengkapi kehidupan, apalagi jika disertai dengan kehidupan s*ks yang sehat.

Mungkin juga si suami sudah merasa nyaman dengan keadaan hidupnya secara umum di rumah dan di kantor. Inilah yang kemudian membuat perut si suami menjadi buncit setelah menikah.

Mungkin juga karena setelah menikah, segala macamnya sudah ada yang meladeni, gerak fisik jadi semakin minim
Bisa juga perut seorang pria menjadi semakin buncit karena gerak fisik yang semakin minim setelah menikah. Gimana nggak minim gerak kalau segala macamnya sudah disediakan oleh sang istri tercinta. Dulu waktu masih bujang mah masak sendiri, nyuci sendiri, setrika sendiri, bersih-bersih kos sendiri, dan segala macamnya.

Setelah menikah, mau pakai baju saja sudah langsung disiapkan oleh sang istri hingga ke benda-benda kecil seperti celana dalam dan kaos kaki. Wajar sih kalau pria perutnya semakin buncit setelah menikah.

Ketika bujang, hampir semua pria pasti lebih memperhatikan tampilannya demi menarik pasangan. Tentunya hal tersebut akan dilupakan oleh para pria setelah mendapatkan seorang istri. Buat apa sih tampil terlalu menarik, toh nggak ada yang coba ditarik lagi di luar sana. Sedikit salah kaprah sih sifat pria yang satu ini, tapi memang begitu kenyataannya kok bagi sebagian besar pria.

Faktor umur juga bisa sih, semakin tua metabolisme tubuh semakin rendah. Gendut deh!

Nggak cuma untuk pria saja, tapi metabolisme semua orang pasti akan semakin menurun sembari bertambahnya umur. Kebanyakan pria pastinya menikah di umur yang mapan, yaitu di akhir 20an hingga awal 30an. Di masa-masa ini juga lah pria biasanya mengalami penuruan kadar metabolisme.

Bahkan menurut penelitian, pria biasanya mengalami penuruan kadar metabolisme di umur yang cukup muda yaitu 25 tahun. Turunnya kadar metabolisme membuat tubuh semakin lambat dalam memproses lemak dan menumbuhkan otot, sehingga perut buncit pun mudah terbentuk.

Tapi, mentang-mentang sudah menikah bukan berarti perut buncit boleh dibiarkan saja lho!

Meskipun perut buncit bukan masalah bagi sebagian besar pria, tentunya perut yang rata dan sehat akan lebih baik bagi dirimu dan istrimu. Ketika kamu mengharapakan istri yang selalu tampil cantik dan merawat penampilannya, tentunya kamu juga wajib merawat dirimu sebaik mungkin.

Selain ini, menjaga agar perut tidak buncit juga bisa membawah banyak dampak positif dalam hidupmu seperti hidup yang lebih sehat, minim resiko serang jantung, hingga hal-hal kecil seperti lebih mudah dalam memilih baju.

Intinya, hidup yang sudah semakin nyaman setelah menikah menjadikan faktor utama kenapa banyak pria yang kemudian berperut buncit. Meskipun begitu, alangkah baiknya jika kamu mencegah timbulnya perut buncit agar hidup tidak saja nyaman tapi juga sehat.

Tags: #dihargai oleh siapapun #siapa pasangan di akhirat #suami meninggal istri menikah lagi #sudah tidak perawan #tidak memberitahu saat nikah