Sujud Terakhir, CCTV Rekam Detik-Detik Akhir Pria M*ninggal Dunia saat Sholat


Kematian yang dicemburui, itulah yang pantas disematkan untuk menggambarkan pria di video ini.

Pasti banyak di antara kita yang pernah tertanya-tanya tentang kematian saat malaikat datang untuk mencabut nyawa.

Sayangnya, kapan kita mati dan bagaimana kita mati itu merupakan rahasia Allah yang tidak ada siapa pun bisa mengetahuinya.

Meski begitu, setiap Muslim pasti sangat mengidamkan kematian dalam keadaan baik, yang husnul khotimah. Seperti yang terjadi dalam sebuah video yang viral berikut ini.

Kematian yang dicemburui, itulah yang pantas disematkan untuk menggambarkan pria di video yang dibagikan melalui Twitter @AlArabiya_Ur tersebut.

Video berdurasi 47 detik itu memperlihatkan seorang pria Mesir berusia 39 tahun yang meninggal dunia saat sedang mengerjakan sholat.

Media setempat melaporkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di Smouha, Alexandria, utara Mesir pada 28 September yang lalu.

Kamera CCTV yang terpasang di toko berhasil merekam detik-detik terakhir ayah tiga anak yang bernama Ahmed Al Sayyed itu.

Terlihat dalam rekaman tersebut, Ahmed sedang menjalankan sholat di tengah jam istirahat siangnya saat menjaga toko.

Awalnya, Ahmed menjalankan sholat seperti biasanya. Namun saat sedang sujud kedua kalinya, terjadi yang hal mengejutkan.

Dia seakan tidak berdaya untuk bangun lagi. Dan tidak lama kemudian, tubuhnya langsung tersungkur di atas sajadah.

Selama beberapa menit tubuh Ahmed tergeletak di atas sajadah dalam posisi tengkurap. Terlihat tidak ada seorang pun yang datang menolongnya.

Video kematian Ahmed yang bikin cemburu itu lantas menjadi viral di media sosial. Netizen yang menonton videonya ramai-ramai mendoakan dan mengucapkan bela sungkawa.

Mereka juga berdoa agar saat dipanggil Allah kelak, bisa seperti Ahmed yang meninggal dalam kondisi sedang sholat.

======

Penyebab Benjolan di Belakang Kepala dan Kapan Harus Waspada

Benjolan di belakang kepala umumnya tidak berbahaya. Namun, Anda harus tetap waspada jika benjolan tersebut terasa sakit, keluar darah, ukurannya terus membesar, atau disertai gejala lain, seperti sakit kepala berkepanjangan, demam, dan muntah.

Benjolan di belakang kepala memiliki tekstur dan bentuk yang bervariasi, ada yang terasa lembek, keras, atau berubah bentuk ketika disentuh. Ukurannya pun bermacam-macam, mulai dari sebesar kacang polong hingga seukuran bola golf.

Benjolan yang muncul juga terkadang disertai rasa nyeri atau bahkan tidak sakit sama sekali.

Penyebab Munculnya Benjolan di Belakang Kepala

Berikut ini adalah beberapa penyebab munculnya benjolan di belakang kepala:

1. Benturan atau kecelakaan

Benjolan dapat muncul ketika kepala terbentur objek yang keras atau saat mengalami cedera kepala akibat terjatuh. Kondisi ini merupakan salah satu bentuk reaksi tubuh untuk menyembuhkan diri.

Benjolan di belakang kepala karena cedera dapat disertai memar berwarna keunguan atau hematoma pada kulit kepala. Ini adalah tanda bahwa ada perdarahan di bawah permukaan kulit. Benjolan jenis ini umumnya akan hilang dalam beberapa hari.

2. Rambut yang gagal tumbuh

Benjolan di belakang kepala juga bisa ditemukan pada orang yang suka bercukur. Kondisi ini terjadi ketika rambut yang seharusnya tumbuh menembus kulit malah masuk ke dalam kulit.

Rambut yang terjebak di dalam kulit ini umumnya menyebabkan benjolan kecil kemerahan. Meski tidak berbahaya, rambut yang tumbuh ke dalam bisa menyebabkan infeksi dan bisul.

3. Folikulitis (infeksi pada folikel rambut)

Folikulitis adalah infeksi atau peradangan pada folikel rambut yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur. Benjolan folikulitis berwarna merah atau putih dan berukuran kecil seperti jerawat.

Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tetapi dapat menimbulkan gatal, kerontokan rambut, dan kebotakan.

4. Karsinoma sel basal

Karsinoma sel basal adalah tumor yang tumbuh di lapisan terdalam kulit dan bersifat ganas. Ini merupakan jenis kanker yang paling sering ditemukan.

Warnanya bisa merah atau pink dengan bentuk seperti luka, bekas luka, atau benjolan. Karsinoma sel basal umumnya terjadi akibat paparan sinar matahari yang intens.

5. Lipoma

Lipoma merupakan tumor lemak jinak yang terasa lembek dan lembut ketika dipegang dan bisa bergeser. Lipoma terbilang jarang muncul di kepala dan lebih sering muncul di bahu dan leher.

Lipoma biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri. Namun, jika ukurannya terus membesar, dokter mungkin akan merekomendasikan operasi pengangkatan tumor.

6. Kista epidermoid

Kista epidermoid merupakan benjolan yang umumnya tumbuh di bawah kulit wajah dan kulit kepala. Ukurannya bisa besar atau kecil dan sering kali tidak menimbulkan rasa sakit.

Kista epidermoid disebabkan oleh penumpukan keratin, yaitu protein pembentuk kulit. Jika tidak mengganggu, kista ini biasanya tidak perlu diobati karena tidak berbahaya.

7. Kista pilar

Sama dengan kista epidermoid, kista pilar berbentuk benjolan dan umumnya tumbuh di kulit kepala. Kista ini juga tidak menyebabkan nyeri, tetapi bisa mengganggu penampilan apabila ukurannya besar.

8. Keratosis seboroik

Keratosis seboroik merupakan benjolan kecil mirip tahi lalat atau kutil yang biasanya tumbuh di kepala atau leher orang lanjut usia. Bentuknya agak mirip dengan kanker kulit, tetapi tergolong jinak dan tidak berbahaya.

Benjolan ini bisa dihilangkan melalui prosedur krioterapi (bedah beku) atau bedah listrik yang dikerjakan oleh dokter.

9. Pilomatriksoma

Pilomatriksoma adalah tumor di folikel rambut yang bersifat jinak. Tumor ini lebih umum terjadi pada anak-anak dan remaja. Benjolan umumnya tidak menimbulkan sakit dan muncul pada leher, wajah, atau kepala, meski bisa juga muncul di bagian tubuh lain.

10. Eksostosis

Eksostosis terjadi ketika adanya pertumbuhan tulang baru yang bersifat jinak di atas tulang normal. Kondisi ini umumnya jarang terjadi dan penyebabnya belum diketahui secara pasti. Eksostosis bisa menimbulkan rasa nyeri, tetapi bisa juga tanpa nyeri sama sekali.

Kapan Benjolan di Belakang Kepala Dikatakan Berbahaya?

Seperti telah disebutkan di atas, kebanyakan benjolan di belakang kepala tidak berbahaya. Namun, perlu diingat bahwa benjolan di belakang kepala perlu segera diperiksa dan ditangani jika disertai berbagai kondisi berikut ini:

  • Muntah
  • Penurunan kesadaran atau pingsan
  • Gangguan keseimbangan atau koordinasi tubuh
  • Hilang ingatan
  • Nyeri yang hilang timbul
  • Sakit kepala tidak membaik meski sudah minum obat pereda nyeri
  • Benjolan semakin membesar atau berubah menjadi luka terbuka

Selain beberapa kondisi di atas, Anda juga perlu memeriksakan benjolan yang muncul ke dokter bila memiliki riwayat gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, atau pernah menjalani operasi otak atau pembedahan di area kepala.

Meski tidak terasa sakit, sebaiknya konsultasikan ke dokter jika muncul benjolan di belakang kepala Anda. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya dan memberikan pengobatan yang sesuai.

======

Kawat Gigi: Jenis, Langkah Pemasangan, dan Risikonya

Kawat gigi digunakan untuk memperbaiki penampilan gigi yang tidak rata atau posisi rahang yang tidak benar. Jika Anda memutuskan untuk menggunakan kawat gigi, ketahui dulu jenis, proses pemasangan, dan risikonya.

Pemasangan kawat gigi idealnya dilakukan saat anak yang memiliki masalah pada gigi berusia 12–13 tahun. Di usia ini, mulut dan rahang masih dalam masa pertumbuhan, sehingga lebih mudah diperbaiki posisinya.

Namun, kawat gigi juga bisa dipasang pada orang dewasa meski efeknya terbatas dan membutuhkan waktu perawatan lebih lama. Secara umum, kawat gigi digunakan untuk memperbaiki berbagai kondisi berikut ini:

  • Jarak antargigi yang terlalu renggang
  • Gigi yang berdesakan atau menumpuk
  • Gigi bagian depan pada rahang atas tumbuh lebih ke depan atau ke belakang
  • Masalah pada rahang, misalnya posisi rahang kurang tepat

Jenis Kawat Gigi Sesuai Kebutuhan

Pemasangan kawat gigi umumnya dilakukan oleh ortodontis, yaitu dokter gigi yang telah menjalani pelatihan khusus untuk mendiagnosis, mencegah, serta merawat gigi dan rahang yang tidak rata. Dokter gigi spesialis ini akan menentukan jenis kawat gigi yang tepat untuk digunakan, sesuai kondisi yang Anda alami.

Berikut ini adalah beberapa jenis kawat gigi yang umum digunakan:

1. Kawat gigi permanen

Kawat gigi permanen terdiri dari kotak-kotak yang dilekatkan pada setiap gigi dan terhubung satu sama lain oleh kawat. Kawat digunakan untuk mengoreksi letak beberapa gigi sekaligus dan mencegah masalah akibat gigi tidak rata di kemudian hari.

Kawat gigi permanen umumnya mudah terlihat karena terbuat dari logam. Namun, kini banyak ditawarkan kawat yang terbuat dari keramik atau plastik tembus pandang agar terlihat lebih samar, tetapi dengan harga yang lebih mahal.

2. Kawat gigi lepas-pasang

Kawat gigi lepas-pasang berbentuk menyerupai penampang plastik yang diposisikan di beberapa gigi dan menutup langit-langit mulut. Jenis kawat gigi ini biasanya digunakan untuk mengoreksi masalah minor, misalnya gigi yang bengkok.

Kawat gigi lepas-pasang biasanya dilepas saat akan melakukan kegiatan tertentu, ketika membersihkan mulut, atau saat menggosok gigi.

3. Kawat gigi fungsional

Kawat gigi fungsional berupa sepasang kawat plastik lepas pasang yang dipadukan dan ditempatkan di gigi bagian atas dan bawah. Jenis kawat gigi ini dapat digunakan untuk menangani masalah posisi rahang atas dan rahang bawah yang tidak sejajar dengan gigi atas atau bawah.

Kawat gigi fungsional harus digunakan sepanjang waktu untuk memberikan manfaat maksimal, dan hanya dilepas saat makan atau ketika dibersihkan.

4. Headgear

Headgear adalah pengait yang tersambung dari kawat gigi dan ditempatkan di kepala untuk menarik posisi gigi depan. Pengguna jenis kawat gigi ini umumnya tidak dapat makan atau minum saat mengenakannya, sehingga sering kali hanya digunakan saat tidur.

5. Retainer

Retainer biasanya digunakan menjelang akhir masa perawatan ortodontis. Retainer berfungsi untuk menstabilkan posisi baru gigi, gusi, dan tulang, termasuk mencegah posisinya kembali seperti semula.

Alat ini dapat bersifat permanen atau lepas-pasang. Setelah berhenti menggunakan retainer, posisi gigi kemungkinan akan berubah dari waktu ke waktu secara alami.

6. Kawat gigi lingual

Kawat gigi lingual mirip dengan kawat gigi permanen, hanya saja kotak-kotaknya ditempel di belakang gigi. Kawat gigi jenis ini hampir tidak terlihat dan bekerja secepat kawat gigi permanen, tetapi harganya lebih mahal.

7. Kawat gigi tembus pandang (clear aligner)

Kawat gigi tembus pandang (clear aligner) dikhususkan bagi seseorang dengan pertumbuhan gigi dan gusi yang telah berhenti. Clear aligners digunakan seperti pelindung gigi dan dapat dicopot saat Anda makan atau membersihkan gigi.

Meski membutuhkan biaya lebih besar, produk ini banyak dipilih karena dinilai lebih praktis dan tidak mengganggu penampilan.

Langkah Pemasangan Kawat Gigi

Konsultasi dengan ortodontis merupakan langkah pertama untuk menentukan apakah pemasangan kawat gigi diperlukan. Selanjutnya, pemasangan kawat gigi dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu:

  • Ortodontis mengajukan pertanyaan seputar kesehatan Anda.
  • Anda akan menjalani pemeriksaan gigi, rahang, dan mulut.
  • Pemeriksaan tambahan juga akan dilakukan, misalnya foto Rontgen, untuk melihat posisi rahang dan gigi.
  • Anda akan diberi instruksi untuk menggigit bahan cetakan berbentuk rahang dan gigi untuk menentukan jenis perawatan apa yang tepat.
  • Pada kasus tertentu, cabut gigi mungkin diperlukan untuk mengoreksi posisi gigi dan membuat ruang agar gigi di sekitar dapat tumbuh dengan baik.
  • Pemasangan kawat gigi.

Setelah kawat terpasang, Anda harus memeriksakan diri ke dokter gigi setidaknya sebulan sekali untuk memastikan kawat gigi terpasang dengan baik. Anda juga harus segera ke dokter jika merasa sakit atau sangat tidak nyaman setelah memakai kawat gigi.

Waktu yang diperlukan untuk menggunakan kawat gigi berbeda-beda pada setiap orang, tergantung tingkat keparahan masalah, kondisi kesehatan gigi, dan kepatuhan Anda.

Rata-rata kawat gigi digunakan selama 1–3 tahun dan dilanjutkan dengan pemakaian retainer setiap saat selama 6 bulan. Jika masalah gigi sudah tertangani, Anda disarankan untuk tetap menggunakan retainer hanya saat tidur.

Beberapa Risiko Pemasangan Kawat Gigi

Berikut ini adalah beberapa risiko pemasangan kawat gigi yang perlu Anda ketahui:

Sakit atau nyeri

Setelah pemasangan kawat gigi, gigi dan rahang akan terasa sakit dan ngilu setidaknya selama seminggu. Hal ini disebabkan oleh adanya pergeseran posisi gigi. Rasa sakit juga bisa muncul setelah kawat gigi dikencangkan saat kunjungan rutin.

Untuk meredakan rasa sakit tersebut, dokter dapat meresepkan obat pereda nyeri, seperti ibuprofen atau paracetamol. Selain itu, Anda juga disarankan untuk mengonsumsi makanan lunak untuk sementara waktu.

Sisa makanan terselip di sela kawat gigi

Kawat gigi dapat memerangkap sisa makanan sehingga memicu penumpukan plak dan bakteri. Hal ini dapat menyebabkan gigi berlubang, penyakit gusi, bau mulut, dan hilangnya mineral pada lapisan luar gigi.

Akar gigi memendek

Memendeknya akar gigi terjadi saat gigi bergerak ke arah tertentu akibat tekanan kawat. Akar gigi yang memendek dapat membuat gigi menjadi tidak kokoh atau kurang stabil.

Susunan gigi kembali seperti semula

Tidak mengikuti instruksi ortodontis setelah kawat gigi dilepas, terutama saat penggunaan retainer, dapat membuat susunan gigi kembali ke posisi semula.

Pastikan Anda berkonsultasi dulu dengan dokter gigi sebelum memasang kawat gigi. Setelah kawat gigi dipasang, jangan lupa untuk membersihkannya secara rutin menggunakan sikat gigi berbulu lembut dan benang gigi, menghindari makan makanan yang manis, lengkat, dan keras, serta teratur memeriksakan gigi ke dokter gigi.

Tags: #detik mengharukan saat pria meninggal saat sholat #penyebab benjolan dibelakang kepala #resiko pemasangan kawat gigi