Terungkap hukum tidur saat di bulan puasa ternyata begini, Adi Hidayat beberkan fakta, Ternyata Selama Ini Kita Salah


Jika sebelumnya banyak ahli agama menyebutkan tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah yang mendapatkan pahala bagi yang melakukan. Sayangnya pernyataan tersebut, dinilai Ustaz Adi Hidayat sebagai suatu anjuran yang tidak bisa dibenarkan.

menurutnya, orang yang tidur seharian selama Ramadhan 2022 nanti, dia akan berdalih bahwa dia tetap mendapat pahala karena tidur saat puasa karena mengutip hadir palsu.

Dia juga menjelaskan, hadis yang berisi “Tidurnya orang yang puasa itu ibadah” merupakan hadis palsu. Sebab, jika tidur seharian, dia tidak akan mengerjakan amal ibadah lainnya pada Ramadhan 2022.

“Jika tidurnya itu wajar, tidak masalah. Namun, jika tidur seharian, itu beda lagi,” ujar Ustaz Adi Hidayat, sebagaimana dikutip Hops.ID dari kanal YouTube Sahabat Yamima Channel.

Ketika semua orang berlomba-lomba untuk beribadah, seperti mengaji dan salat sunah, orang yang tidur itu tidak mengerjakannya. Padahal Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda saat Ramadhan.

Ustaz Adi Hidayat juga menjelaskan orang-orang yang bekerja di kantor. Orang yang bekerja mungkin tidak bisa beribadah sebanyak itu.

Namun, mereka bisa melakukan satu hal. “Yang harus Anda lakukan saat puasa itu introspeksi diri,” ujarnya, sebagaimana dikutip Hops.ID dari kanal YouTube Audio Dakwah.

Lebih lanjut, Ustaz Adi Hidayat juga menjelaskan kapan saja waktu untuk melakukan introspeksi diri. Kegiatan ini bisa dilakukan sejak kita melakukan perjalanan ke kantor.

Menghadapi macet, berapa kali memaki. Saat lampu merah, berapa kali mengumpat. Umpatan dan makian ini merupakan jenis maksiat. “Itu maksiat dan akan bersaksi di akhirat,” ujarnya.

Selain itu, Ustaz Adi Hidayat juga mengilustrasikan kegiatan lain. Saat berada di kantor, berapa kali berbuat keliru? Berapa kali komputer kerja ini digunakan untuk kepentingan pribadi?

Seberapa sering mobil kantor digunakan untuk kepentingan sendiri? Hal itu juga bisa dijadikan introspeksi.

Makin sering introspeksi diri, akan makin banyak istigfar yang diucapkan. Karena itu, semua dosa maksiatnya akan diampuni oleh Allah.

“Tidak ada waktu dalam setahun itu yang siang malamnya menghadirkan ampunan seketika dari semua dosa, kecuali Ramadhan,” jelasnya.

Dengan demikian, pada saat Ramadhan, dosa yang dilakukan di siang hari digugurkan, dan dosa di malam hari juga akan diampuni.***

Malam bulan syaban diperintahkan banyak beribadah, UAH; Awas ada yang shahih dan palsu

Menjelang bulan Ramadhan, setiap tahunnya umat Muslim akan memperingati malam Nisfu Syaban yang merupakan hari kelima belas di bulan Syaban.

Pada malam Nisfu Syaban, dikatakan Ustadz Adi Hidayat terdapat amalan-amalan yang disunnahkan dan keutamaan luar biasa apabila melakukan ibadah sepanjang malam.

Karena banyak keterangan hadist yang menyebar seputar keutamaan Nisfu Syaban, Ustadz Adi Hidayat menekankan ada satu yang kualitasnya shahih dan sisanya palsu.

Untuk memperingati malam Nisfu Syaban dengan melakukan ibadah sebanyak-banyaknya, perlu diketahui terlebih dahulu hadist-hadistnya mana yang shahih dan palsu.

Dilansir Hops.ID dari kanal YouTube Batas Narasi pada Kamis, 17 Maret 2022, Ustadz Adi Hidayat memberikan contoh hadist soal keutamaan malam Nisfu Syaban dari yang shahih hingga yang palsu.

“Jika telah tiba malam pertengahan bulan Syaban, maka hidupkan malamnya dengan banyak menunaikan shalat, dan siangnya lakukan dengan puasa, maka siapapun yang memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah; dinilai palsu)

Ustadz Adi Hidayat mengatakan dalam ceramahnya bahwa Ibnu Abi Syaibah adalah orang yang dinilai sering memalsukan hadist oleh para ulama hadist.

Sedangkan hadist yang statusnya shahih adalah riwayat Abu Musa Al-Asyari yang bisa ditemukan dalam silsilah Al-Hadist Ash-Shahih.

Dalam hadist tersebut Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa Allah SWT mengamati hambanya di malam pertengahan Syaban dan mengampuni yang memohon ampunan sekalipun sebanyak bulu domba di suku Kalb.

Berbeda dengan keutamaan malam-malam biasa, pada malam Syaban amalannya dimulai di malamnya, sedangkan pada malam-malam biasa itu di penghujung malam atau ketika tahajud.

Untuk amalan khusus pada malam Nisfu Syaban, kata Ustadz Adi Hidayat nabi tidak menyebutkan secara spesifik.

“Para sahabat saat itu banyak beramal saja, ada yang kemudian shalat qiyamul lail, tahajud, ada yang banyak beristigfar, nah jadi tidak ada amalan-amalan spesifik, kalau ada amalan-amalan spesifik di malam Nisfu Syaban itu sesungguhnya hadist-hadist yang disepakati oleh para ulama itu hadist palsu,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

Jadi, apabila ingin menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah-ibadah sunnah dipersilahkan dengan melaksanakan shalat qiyamul lail, tahajud, baca qur’an, istigfar dan siangnya puasa.

Akan tetapi ini merupakan amalan umum yang sifatnya sunnah dan bukan spesifik dari suatu hadist.***