Untuk yang Suka Menitipkan Anak Kepada Orang Tua, Ketahuilah! Ini Dosanya

781 views


Di zaman saat ini ini, tak sedikit para ibu yang punyai pekerjaan di luar tempat tinggal menitipkan anaknya kepada kakek atau neneknya, entah semata-mata memberi sebagai bentuk bakti atau serupa gaji karena anak dititipi. (foto cover: ilustrasi)

Tak dapat disangkal bahwa kewajiban mendidik anak adalah tanggungjawab utama orangtua kandung, karena mereka adalah amanat mulia yang dititipkan Allah pada kita dan insyaallah bisa menjadi investasi amal kebajikan di kemudian hari.

Namun, alih-alih memanfaatkan kesempatan menanamkan buah kebajikan pada anak, banyak orangtua yang mengalihkan sebagian besar waktu penjagaan kepada orang lain khususnya kepada ibu sendiri atau ibu mertua. Salah satu alasannya adalah demi mengejar karir.

Dalam masalah ini, cobalah kita bertanya pada diri kita sendiri dengan nurani. Apakah perbuatan kita tersebut bisa dikatakan benar dan bisa dibenarkan secara syariat atau tak?

Pertama, tanyakan dalam hati sanubari kita, apa sebenarnya yang melandasi perbuatan tersebut? Apakah karena orangtua kita lebih baik dalam mendidik anak-anak kita Atau hanya demi mengejar karir?

Kedua, pastikan apakah orangtua kita merasa terhibur dengan kehadiran cucu-cucu di rumahnya setiap hari? Atau malah mengganggu kesibukan mereka, orangtua kita dengan usianya yang semakin senja dan tubuh yang tak seoptimal dahulu malah merasa kelelahan dan terbebani.

Apalagi jika kita tak memberikan bakti berupa uang lagi setelah orangtua kita berhenti menjaga anak-anak kita. takkah hal itu akan membuat orangtua merasa bahwa mereka hanya digaji karena menjaga anak-anak kita?

Perhatikanlah, jika niat kita hanya meraih jenjang karir yang tinggi kemudian orangtua terbebani maka perbuatan kita termasuk dzalim dan hal itu merupakan dosa.

Dosa karena telah mengesampingkan kewajiban mendidik anak sekaligus mendzalimi orangtua kita. Naudzubillah min dzalik.

Hukum menitipkan anak kepada orangtua

Menitipkan anak kepada orang tua bukanlah tindakan yang tepat apalagi mengasuh dan menjaga cucu, bukanlah pekerjaan ringan maka jika hal ini dilakukan justru menjadi kezaliman kepada orang tua.Apakah bijak membebani orang tua yang sudah uzur dengan tanggung jawab yang membutuhkan kekuatan fisik dan mental seperti itu?

Orang tua yang sudah sepuh sudah seharusnya diperlakukan dengan baik dan lemah lembut. Sebagaimana yang dipesankan allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al Israa’: 23)

Ayat ini menegaskan bahwa orang tua yang sudah berusia lanjut memerlukan perlakuan khusus, berkata-kata pun harus berhati-hati agar tidak melukai perasaan mereka.

Orangtua yang lanjut usia fisiknya tidak bagus

Orang lanjut usia pastinya mengalami berbagai perubahan mulai dari fisik hingga psikologi.

Akan tetapi jika menitipkan anak-anak kepada kakek dan neneknya itu bersifat insidentil atau sesekali dan itu pun hanya sebentar sehingga tidak menyusahkan bahkan membuat senang hati kakek dan neneknya maka tentu saja hal ini bisa menjadi amal shalih karena bagian dari menyenangkan orang tua. Wallahu’alam.

Maafkan Aku Ayah, Karena Hisabmu di Akhirat Akan Semakin Berat

Ayah, bagaimana kabarmu hari ini? inilah kabar dariku, putrimu yang sungguh tak tahu diri. Mengapa aku berkata seperti itu wahai ayah? Maaf karena diriku, engkau bisa saja terjerumus ke dalam dosa yang besar. Ya, karenaku, si wanita yang selalu engkau manjakan layaknya seorang putri di istana. Dirimu telah mengajarkan hitam dan putih dalam hidupku, aku pun berterima kasih akan hal itu, namun aku tak yakin mampu membebaskanmu dari dosa yang aku buat.

Ayah, maafkan aku. Aku telah memperberat hisabmu di akhirat. Padahal aku tau bahwa setiap pemimpin akan di mintai pertanggung jawaban. Kau adalah pemimpin keluarga, sedangkan aku masih saja berbuat dosa serta tak taat padamu dan ibunda. Ayah maafkan aku, telah membuatmu berat menjawab jika Allah bertanya, “Wahai hambaku, bagaimana kabar anakmu. Mengapa dia tidak taat kepadaKu?”

Ayah, aku sungguh minta maaf. Karena aku berkata mencintaimu. Tapi aku tak menghiraukan hisabmu nanti di akhirat. Padahal kau telah susah payah membesarkanku. Dan kau susah payah mencari nafkah untukku. Sedangkan aku masih saja terlena oleh maksiat kepadaNya.

Sungguh terlalu hati ini. Hati seorang anak yang tak peduli terhadap nasib ayahnya di akhirat.

Saat Allah perintahkan menutup aurat, kenapa diri ini malah enggan?

Saat Allah perintahkan untuk sholat, kenapa diri ini masih malas-malasan?

Dan saat Allah melarang pacaran, mengapa diri ini malah menentang?

Maaf Ayah, Karena Diriku Hisabmu di Akhirat Akan Semakin Berat

Kita terlena oleh nafsu syaitan, sedangkan kelak ayah kita tertatih dalam hisab yang Allah tetapkan.

Kita tertawa bersama kelalaian dunia, sedangkan ayah kita mungkin menangis sebab kau belum bertaqwa.

Ya Allah, kekalkan hidayahmu kedalam hati hamba. Jadikan ia pelita dalam gelapnya nafsu syaitan. Dan jadikan ia payung dalam hujannya fitnah dunia yang hina ini.

Ayah, semoga aku dapat menjadi penyejukmu di akhirat kelak.

Dan maaf ayah, jika selamat ini aku telah memberatkan hisabmu di akhirat nanti. Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi wahai ayah, dimana mampu membuatmu mendapatkan tempat yang layak jika nanti kita berpisah dan pada akhirnya, aku, dirimu, dan juga ibu akan bersama kembali dalam ridha-Nya.

Suami, Jangan Katakan 6 Kalimat Ini Saat Istrimu Sedang Menangis

Banyak yang bilang senjata andalan wanita itu air mata, dan banyak pula pria yang bingung harus bagaimana ketika harus menghadapi istrinya yang sedang menangis.

Menurut beberapa pengalaman perempuan sendiri, ada beberapa reaksi suami ketika mendapati atau menghapi istri yang sedang menangis, ada yang bikin wanitanya lega tapi ada pula yang bikin sikap suami semakin membuat istri sedih.

Dibawah ini ada beberapa tips yang seharusnya tidak boleh suami katakan kepada istrinya yang sedang menangis:

1. “Sudahlah, Lupakan Saja”
Ini adalah perkataan paling kejam yang dilontarkan pada wanita ketika dia sedang menangis.

Wanita tidak perlu diberitahu kapan mereka harus melupakan kesedihannya. Setiap orang mengatasi kesedihan dan rasa dukanya dengan cara yang berbeda. Ada yang bisa dengan cepat melupakan masalah, tapi ada juga yang baru bisa melupakannya setelah berminggu-minggu.

Lama atau pun cepat, rasa sedih itu pun akan berangsur-angsur hilang. Mengatakan hal seperti diatas hanya akan membuatnya kesal dan justru lebih sulit rasa sedihnya itu hilang.

2. “Masalahnya Tidak Seburuk Itu” atau “Itu Bisa Saja Lebih Buruk dari Ini”
Wanita menangis karena ada hal sangat buruk yang menimpanya saat itu. Meskipun mungkin masalah tersebut terlihat sepele di mata pria atau orang lain.

Jika wanita sampai menangis pastilah karena kejadian yang tidak menyenangkan. Mengatakan kalau masalahnya tidak terlalu buruk akan terkesan seperti meremehkan, padahal mungkin itu adalah hal yang sangat penting baginya.

3. “Aku Mengerti Perasaanmu”
Faktanya, tidak ada orang yang benar-benar tahu apa yang dirasakan wanita saat dia menangis.

Kalimat tersebut memang bisa menunjukkan simpati, tapi akan terkesan ‘palsu’ terutama jika diucapkan oleh pria yang sudah menyakiti hatinya. Menepuk bahu atau merangkul akan lebih efektif membuat perasaan wanita lebih baik daripada mengucapkan kata-kata tersebut.

4. “Kamu Lagi Datang Bulan Ya?”
Perasaan wanita memang lebih sensitif dan sentimentil saat datang bulan, tapi bukan berarti mereka bisa terima jika dikatakan seperti itu saat menangis.

Perkataan tersebut terkesan menyama-ratakan dan merendahkan gendernya sebagai wanita. Mereka akan merasa tangisannya dianggap remeh dan tidak berarti : terjadi karena siklus bulanan.

5. “Tolong Jangan Menangis”
Melarang wanita menangis saat dia merasa sangat sedih bukanlah ide yang baik.

Solusi terbaik menghadapi situasi tersebut adalah membiarkan dia meluapkan perasaannya. Memintanya berhenti menangis sama saja dengan mengatakan kalau: dirinya sangat tidak stabil dan tangisannya itu mengganggu.

Memintanya berhenti menangis justru akan membuatnya semakin berlinang air mata. Cara terbaik menghadapi wanita menangis adalah membiarkannya hingga berhenti dan mendengar curhatan setelahnya.

6. “Reaksi Kamu Terlalu Berlebihan”
Bahasa kasarnya: “Kamu Lebay”

Bukan pilihan kata yang tepat untuk diungkapkan kepada wanita yang sedih atau putus asa. Di dalam pikiran wanita, dia tidak pernah merasa reaksinya terlalu berlebihan terhadap apapun.

Jika dia sampai menangis, memang ada sesuatu yang sangat sentimentil baginya. Mengatakan reaksinya berlebihan akan membuatnya merasa dianggap bermasalah dengan kondisi mental.

Jadi Harus Bagaimana Kalau Istri Anda Menangis di Samping Anda?
Ada beberapa hal yang dapat suami lakukan (hal sederhana) untuk meredam tangisan sang istri tercinta, diantaranya:

  • Membiarkan dia meluapkan perasaannya.
  • Membiarkannya hingga berhenti dan mendengar curhatan setelahnya.
  • Menepuk bahu atau merangkul, akan lebih efektif membuat perasaan wanita lebih baik.
  • Terakhir, anda suami tidak perlu ngomong apa-apa lagi saat istri anda sedang menangis, cukup dampingin dia untuk meluapkan semua kesedihannya.

Nanti, tangisnya akan berhenti sendiri. Baru setelah itu suami tanya lagi ke dia (istri) ada masalah apa? Dan biasanya wanita baru akan cerita setelah selesai menangis.

Tags: #hisab ayah bisa berat karena anak #jangan menitipkan anak pada orangtua #kalimat yang tidak ingin didengar istri #kalimat yang tidak ingin didengar istri saat menangis #menitipkan anak pada orang tua bisa dosa