Wanita Hamil Alami Kondisi Aneh, Wajah Bengkak dan Keriput Mirip Nenek-Nenek

316 views


Bukan main ujian yang harus ditanggung oleh wanita asal Johor, Malaysia, ini ketika hamil anak keduanya.

Selain pendarahan hebat dan penurunan berat badan, dia menderita alergi aneh sejak mengandung anak kedua.

Alergi aneh tersebut membuat kulit wajahnya mengalami perubahan hingga tampak tua seperti nenek-nenek. Selain bengkak, wajahnya juga berkeriput.

Sejak Hamil 2 Bulan, Wajah Penuh Kerutan Mirip Wanita Tua

Wanita yang hanya mau dikenal sebagai Ain ini mengatakan kulit wajahnya tiba-tiba berubah saat usia kandungan hampir mencapai tiga bulan.

” Awal kejadian ketika saya bangun tidur, wajah seperti sembab. Di bagian dahi timbul kerutan. Saya positif saja sebab berpikir itu mungkin karena stres.

” Tapi lama-lama kulit wajah seperti berminyak. Kalau pakai jilbab berbahan chiffon, terlihat kentara kesan minyaknya. Setelah itu muncul biji halus mirip jerawat pasir,” kata wanita asal Kota Tinggi ini.

Tak Sangka Mengalami Kondisi yang Sama

Meski ada perubahan pada wajahnya, Ain masih berpikiran positif. Dia pikir itu mungkin perubahan hormon yang sebentar juga hilang.

Ain kemudian mengambil inisiatif untuk mengganti sabun pencuci mukanya. Tapi ternyata mukanya tetap seperti itu saja.

Kandungan masuk lima bulan, kerutan di wajahnya makin parah, hingga makin tampak tua. Bukan itu saja, jerawat pun tumbuh di badannya.

” Memang wajah berubah sepenuhnya. Saya pernah baca pengalaman wanita yang kulitnya berkeriput ketika hamil tahun lalu. Saat itu saya merasa kasihan, tak sangka ternyata saya juga kena. Bawaan bayi memang nyata,” kata wanita berusia 28 tahun ini.

Baru Hilang Setelah Masa Nifas

Menurut Ain, dia sempat mendatangi klinik spesialis kulit sebagai ikhtiar untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.

” Tapi dokter ragu, takut obat yang diberi akan berdampak pada bayi. Hampir enam bulan wajah saya seperti itu hingga bersalin.

” Hanya setelah melahirkan dan selesai nifas pada Juni lalu, dokter klinik spesialis kulit minta saya minum obat.

” Alhamdulillah, keadaan wajah perlahan-lahan berubah kembali normal,” kata Ain.

Ibu dua anak berusia delapan tahun dan empat bulan ini mengakui, emosinya mudah turun naik karena perubahan wajahnya. Apalagi jika berhadapan dengan orang yang kurang sensitif.

” Saya teringat waktu pergi bazar Ramadan. Ada teman di depan orang ramai dia bilang ‘Ain, muka kau kecelakaan kah?’.

” Saya cuma bisa tertunduk.. rasa macam mau nangis. Suami langsung ajak pulang. Saya sudah menangis… suami tenangkan jangan diambil hati,” katanya.

Ain sangat bersyukur suaminya termasuk orang yang sabar dan pandai menenangkan dirinya. Padahal, Ain sempat memintanya kawin lagi tapi suaminya menolak.

” Dia tetap bilang saya cantik, sebab dia tahu bagaimana wajah saya sebelum ini. Saya pernah suruh suami kawin lain tapi dia menolak,” kata Ain.

Ain mengunggah foto dan kisahnya saat hamil anak kedua hanya untuk membagikan pengalamannya agar bisa jadi pelajaran buat ibu-ibu hamil di luar sana.

” Bagi yang senasib, kita pikirkan diri sendiri dan orang terdekat saja. Jangan pedulikan kata-kata orang lain.

” Buat para suami, kalau istri mengalami hal semacam ini, harus bersabar dan selalu mendukungnya dari belakang,” pungkasnya.

======

Kapasitas Paru-paru dan Kaitannya dengan Kesehatan

Kapasitas paru-paru adalah kemampuan paru-paru dalam menampung udara saat bernapas. Penurunan dan peningkatan kapasitas paru-paru dapat memberi dampak terhadap kondisi kesehatan Anda. Simak penjelasan selengkapnya dalam artikel berikut ini!

Dalam keadaan normal, kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak 6 liter. Seiring dengan pertambahan usia, kapasitas paru-paru dan fungsinya akan mengalami penurunan, terutama setelah memasuki usia 35 tahun.

Namun, kapasitas paru-paru juga bisa berkurang pada orang yang berusia lebih muda, khususnya pada orang yang memiliki penyakit tertentu.

Kondisi Terkait Penurunan Kapasitas Paru-paru

Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan kapasitas paru-paru berkurang, di antaranya:

Usia

Penuaan dapat membuat otot diafragma menjadi lebih lemah sehingga mengurangi elastisitas jaringan paru-paru dan otot dada yang berperan dalam proses pernapasan. Hal ini membuat penuaan kerap menjadi salah satu faktor yang memicu berkurangnya kapasitas paru-paru.

Penyakit paru restriktif

Penyakit paru restriktif merupakan kondisi ketika paru-paru tidak bisa menyimpan udara terlalu banyak. Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan penurunan kapasitas paru-paru, antara lain:

  • Pneumonia
  • Efusi pleura
  • Fibrosis paru idiopatik
  • Riwayat operasi paru
  • Obesitas
  • Pembengkakan paru
  • Kerusakan saraf pada otot pernapasan
  • Penyakit paru interstisial
  • Skoliosis

Berbagai kondisi medis di atas membuat penderitanya lebih sulit menarik napas. Hal ini disebabkan oleh kerusakan jaringan paru-paru atau adanya masalah pada otot pernapasan, sehingga tubuh tidak mampu menarik napas dengan maksimal.

Kondisi Terkait Peningkatan Kapasitas Paru-paru

Kapasitas paru-paru juga bisa mengalami peningkatan. Beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan peningkatan kapasitas paru-paru adalah:

  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  • Asma
  • Bronkiektasis
  • Cystic fibrosis

Kondisi-kondisi tersebut membuat udara yang bergerak ke luar organ paru lebih lambat dari biasanya, sehingga penderita akan merasa lebih sulit untuk mengembuskan napas. Penderita kondisi tersebut juga kerap mengalami sesak napas saat menjalani aktivitas berat.

Mengukur Kapasitas Paru-Paru

Untuk mengetahui jumlah kapasitas paru-paru, metode yang sering digunakan adalah spirometri. Spirometri adalah tes untuk mengukur berapa banyak udara yang dapat dihembuskan secara maksimal dalam satu kali napas. Tes ini dilakukan oleh dokter dengan menggunakan alat spirometer.

Spirometri juga dapat digunakan untuk berbagai kepentingan berikut ini:

  • Membantu dokter mendiagnosis gejala atau penyakit pada paru-paru, seperti batuk atau sesak napas yang tak kunjung sembuh
  • Memeriksa kesehatan paru-paru pada pasien usia di atas 35 tahun dan perokok
  • Memeriksa tingkat keparahan kondisi atau melihat perkembangan kondisi pasien setelah menjalani pengobatan
  • Memantau kondisi paru-parU pasien yang akan melakukan operasi

Cara Menjaga Kapasitas Paru-paru

Penurunan fungsi paru-paru merupakan bagian normal dari proses penuaan. Meski demikian, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mempertahankan kapasitas paru-paru dan menjaga kesehatan sistem pernapasan, di antaranya:

  • Berolahraga secara rutin dan melakukan berbagai latihan untuk memperkuat fungsi dan kapasitas paru-paru, seperti latihan pernapasan otot diafragma dan yoga
  • Berhenti merokok serta menghindari paparan asap rokok
  • Menerapkan pola makan sehat, termasuk memperbanyak asupan makanan yang kaya akan antioksidan
  • Meningkatkan kualitas udara dalam ruangan menggunakan alat penyaring udara
  • Melengkapi imunisasi untuk mencegah infeksi paru-paru, misalnya dengan mandapatkan vaksin flu dan vaksin pneumonia

Meski penurunan kapasitas paru-paru bisa dipengaruhi oleh faktor usia, Anda harus tetap waspada jika merasa sulit bernapas atau sesak napas disertai batuk lama dan tidak kunjung sembuh.

Bila Anda mengalami masalah atau gejala pada pernapasan yang menjadi indikasi dari penurunan atau peningkatan kapasitas paru-paru, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar dapat diberikan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat .

======

Memahami Proses Penyembuhan Luka

Proses penyembuhan luka yang dialami setiap orang berbeda-beda. Luka ringan umumnya dapat sembuh dengan sendirinya melalui perawatan luka yang baik. Namun, pada kasus tertentu, luka bisa sulit sembuh akibat cedera hebat atau penyakit tertentu.

Setiap orang pasti pernah mengalami luka, baik dalam bentuk goresan, sayatan, tusukan, luka bakar, atau bekas jahitan operasi.

Luka biasanya menimbulkan rasa sakit akibat rusaknya jaringan tubuh. Namun, berat atau ringannya rasa sakit yang muncul dan lamanya proses penyembuhan tergantung pada lokasi, jenis luka, dan tingkat keparahannya.

Bagaimana Proses Penyembuhan Luka?

Saat Anda terluka, ada beberapa tahap dalam proses penyembuhan luka, di antaranya:

Tahap hemostasis (pembekuan darah)

Tahap pertama dalam proses penyembuhan luka adalah tahap pembekuan darah. Darah biasanya akan keluar saat kulit tersayat, tergores, atau tertusuk.

Beberapa detik atau menit setelah mengalami luka, darah akan menggumpal untuk menutup dan menyembuhkan luka, serta mencegah tubuh kehilangan darah terlalu banyak. Gumpalan darah ini kemudian akan berubah menjadi keropeng saat mengering.

Tahap inflamasi (peradangan)

Setelah perdarahan berhenti, pembuluh darah akan melebar untuk mengalirkan darah segar ke area tubuh yang terluka. Darah segar dibutuhkan untuk membantu proses penyembuhan luka. Inilah alasan mengapa luka bisa terasa hangat, membengkak, dan kemerahan selama beberapa waktu.

Pada tahap inflamasi, sel darah putih akan menghancurkan kuman di area luka. Hal ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk mencegah infeksi. Sel darah putih juga memproduksi senyawa kimia yang dapat memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Selanjutnya, sel-sel kulit baru akan tumbuh dan menutup area luka.

Tahap proliferatif (pembentukan jaringan baru)

Tahap ini merupakan tahap pembentukan jaringan parut setelah luka. Pada tahap ini, kolagen mulai tumbuh di dalam luka. Kolagen merupakan serat protein yang memberikan kekuatan dan tekstur yang elastis pada kulit.

Keberadaan kolagen mendorong tepi luka untuk menyusut dan menutup. Selanjutnya, pembuluh darah kecil atau kapiler terbentuk di luka untuk memberi asupan darah pada kulit yang baru terbentuk.

Tahap pematangan atau penguatan jaringan

Proses pematangan jaringan bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Inilah alasan mengapa semakin lama usia bekas luka, akan semakin memudar pula tampilannya.

Setelah jaringan yang rusak benar-benar pulih, kulit akan menjadi sama kuatnya seperti sebelum mengalami luka.

Meski demikian, penampilan bekas luka mungkin akan berbeda dengan kulit normal. Hal ini karena kulit tersusun dari dua protein, yaitu kolagen yang memberi kekuatan kulit dan elastin yang memberi kelenturan kulit.

Pada bekas luka, kulit tidak dapat memproduksi elastin baru sehingga bekas luka seluruhnya terbuat dari kolagen. Kulit baru yang terbentuk pada bekas luka ini kuat, tetapi kurang lentur dibandingkan kulit di sekitarnya.

Berbagai Kondisi yang Menyebabkan Luka Sulit Sembuh

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan luka sulit sembuh, di antaranya:

1. Infeksi

Infeksi dapat menyebabkan luka semakin melebar atau membesar, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Infeksi dapat terjadi bila luka tidak dirawat dengan baik.

2. Aliran darah tidak lancar

Darah mengandung oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan luka. Oleh karena itu, aliran darah yang tidak lancar dapat menghambat proses penyembuhan luka. Gangguan pada aliran darah dapat disebabkan oleh penyumbatan atau varises.

3. Usia

Proses penyembuhan luka pada lansia umumnya berlangsung lebih lama. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya aliran darah kurang lancar, berkurangnya jumlah kolagen akibat proses penuaan, atau penyakit kronis, seperti diabetes.

4. Stres

Stres dapat menyebabkan nafsu makan hilang dan kurang tidur. Bahkan, sebagian orang mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebih sebagai cara untuk melepas stres. Berbagai kondisi tersebut dapat mengganggu proses penyembuhan luka.

5. Efek samping obat-obatan

Proses penyembuhan luka bisa terganggu akibat konsumsi obat-obatan tertentu, misalnya kortikosteroid, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan obat kemoterapi. Namun, untuk mengurangi rasa nyeri akibat luka, penggunaan obat paracetamol dalam jangka pendek, masih aman bagi proses penyembuhan luka.

6. Kekurangan nutrisi

Kekurangan nutrisi seperti vitamin A dan C, protein, zinc, serta zat besi, dapat menghambat proses penyembuhan luka. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk mencukupi asupan nutrisi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang guna mendukung pemulihan luka.

7. Merokok

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa proses penyembuhan luka pada perokok aktif berlangsung lebih lama dan tidak sempurna dibandingkan orang yang tidak merokok. Hal ini diduga berkaitan dengan efek merokok yang dapat mengganggu aliran darah dan kinerja sel darah putih, serta tingginya kadar racun dalam darah.

8. Menderita penyakit tertentu

Penyakit tertentu, misalnya diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi (hipertensi), dan gangguan pembuluh darah, juga dapat memperlambat proses penyembuhan luka. Ini dikarenakan penyakit tersebut dapat mengganggu kelancaran aliran darah yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka.

Waktu yang dibutuhkan luka untuk benar-benar pulih tergantung pada kondisi luka. Semakin besar dan dalam kondisi luka, semakin lama pula proses penyembuhan luka. Untuk mendukung proses penyembuhan luka, Anda juga perlu merawat luka dengan baik, banyak beristirahat, dan mengonsumsi makanan bergizi, misalnya makanan yang mengandung asam amino.

Ada riset yang menyebutkan bahwa pemakaian bahan alami, seperti madu, lidah buaya, daun pegagan, atau argan oil dapat membantu mendukung proses penyembuhan luka. Namun, hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Jika mengalami luka serius atau perdarahan yang tak kunjung berhenti, Anda disarankan untuk segera ke dokter atau rumah sakit terdekat agar penanganan yang tepat dapat dilakukan.

Tags: #kapasitas paru-paru dan kesehatan #proses penyembuhan luka #saat hamil wajah bengkak dan keriput