Zan Christ, Putri Pendeta Jadi Mualaf karena Ingin Temukan Kedamaian Hidup

90 views


Wanita Amerika Serikat (AS) bernama Zan Christ mengisahkan perjalanan spiritualnya pindah agama Islam. Ia ternyata bukan orang sembarangan.

Zan Christ berasal dari garis keturunan pemimpin agama Kristen. Dia merupakan anak pendeta di negara tersebut.

Ayah ibu Zan Christ mempunyai latar belakang keluarga pendeta dari Norwegia dan Jerman. Ia tumbuh dari keluarga yang menyebarkan ajaran kristiani.

Mengutip Hops.id–jaringan Suara.com, Zan Christ sejak kecil aktif dalam komunitas Kristen. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi guru agama Kristen tiap hari Minggu di usianya yang masih belia dan biasa menyanyi solo lagu rohani di gereja.

Jadi, terlibat dengan aktivitas keagamaan Kristen telah ada dalam dirinya khususnya saat ia kecil hingga beranjak dewasa.

Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai mempertanyakan imannya. Ada konsep dalam agama Kristen yang tidak rasional.

Kemudian ia memilih meninggalkan kampung halamannya untuk kuliah dan akhirnya belajar agama-agama besar dunia. Ia secara khusus mengambil kelas agama Islam karena masih banyak yang belum ia tahu.

Awalnya ia berpikir belajar tentang Islam dan agama-agama di dunia hanya bertujuan untuk menyelesaikan kuliahnya saja. Tetapi ternyata ia sangat menikmati jurusannya dan merasa bahwa keputusan mengambil jurusan mempelajari agama adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Akhirnya, Zan Christ melanjutkan karier pendidikannya dan melanjutkan ke pascasarjana untuk belajar lebih dalam lagi.

Adapun di tahun pertamanya saat S-2, ia bertemu dengan teman kelas yang berasal dari berbagai latar belakang internasional. Ia berteman dengan teman muslim yang berasal dari Pakistan dan Somalia.

Zan Christ penasaran mengapa teman-teman muslimnya senantiasa mempunyai kedamaian dan kebahagiaan batin dalam dirinya. Tak hanya itu, mereka sangat ramah dan murah hati padanya.

Sudah sejak lama Zan Christ juga mendambakan kedamaian dan kebahagiaan batin yang serupa. Ia pun lebih mendalami Islam bukan sebagai pendekatan kuliah lagi, melainkan sebagai keyakinan. Akhirnya, ia merasa Islam adalah agama yang benar baginya.

Di saat yang bersamaan, ia juga mendapatkan banyak kesulitan di perkuliahannya. Pada suatu malam, ia mencoba berbicara pada Allah SWT dan ia merasakan perasaan yang luar biasa.

Itu adalah momen paling bahagia dalam hidupnya. Akhirnya di tahun kedua kuliah S-2, Zan Christ memilih untuk menjadi mualaf.

Kini, ia senantiasa meluangkan waktunya untuk menyebarkan Islam dengan menjadi daiyah dan memberi pidato tentang Islam dan budaya muslim.

Dalam pidatonya, Zan Christ selalu menebarkan bahwa Islam adalah agama positif yang mana di Amerika sering ditemukan sentiment negatif terkait Islam.

Miris! Wanita ini mualaf dan milih Islam, tapi malah mau dipolisikan keluarga

Tantangan terbesar bagi seorang mualaf adalah keluarga. Hal ini turut dirasakan oleh Khansa yang kini memilih masuk Islam.

Sejak SMA dia mempelajari Islam secara diam-diam untuk menjadi seorang mualaf. Dia belajar dari berbagai sumber, seperti buku-buku.

Upayanya untuk belajar tentang Islam terus dilakukan sampai dia ketahuan oleh pamannya. Kebetulan dia bersekolah di Jawa Barat dan tinggal bersama keluarga paman.

Lalu, apa yang terjadi? Bagaimana Khansa mengatasinya? Simak ulasannya berikut ini!

Kabur dari rumah

Khansa merupakan wanita penurut yang sangat menyayangi keluarganya. Dia selalu didorong oleh ibunya untuk belajar secara serius.

Namun, dia tidak menduga jika niatnya belajar tentang Islam justru ditentang habis-habisan. Dia disidang oleh sang paman. Di hadapannya terdapat Iqro’ dan Alquran yang disimpannya baik-baik.

“Waduh bahaya banget nih!” tuturnya mengulangi apa yang dia katakan saat dia mengalaminya.

Saat itu juga Khansa harus hadapi kemarahan, kekerasan, dan pertanyaan dari paman. “Siapa yang ngajarin kamu kayak gini? Kasih tahu sama paman!”

Tidak tahan mengalami kekerasan, Khansa kabur dari rumah dan menginap di rumah temannya selama seminggu.

Dia terus dicariin oleh keluarganya. Khansa sampai diancam jika tidak pulang akan dilaporkan ke polisi. Demi menjaga nama baik keluarga, akhirnya Khansa pulang.

Anehnya meski sudah ditentang untuk pelajari Islam, Khansa tidak pernah jera. Justru makin sering dilarang, pikirannya mulai terbentuk.

“Pasti ada sesuatu nih di agama ini yang harus aku tahu,” kata Khansa, seperti dikutip Hops.ID dari kanal YouTube Viral Muallaf pada 20 April 2022.

Pada tahun terakhirnya di kelas 12, masalah yang dihadapinya makin banyak. Dia merasa tidak tenang di rumah dan takut mati karena belum masuk Islam.

Hidayah benar-benar datang dari Alquran

Temannya menyarankannya untuk membaca Alquran, minimal terjemahannya. Setiap malam Khansa membacanya hingga menemukan salah satu ayat dalam surah Ali Imran.

Intinya adalah hanya Islam agama yang diridhoi Allah. Saat itu juga Khansa menangis. “Ya Allah, selama 17 tahun aku beragama, tapi kalau nggak Allah ridhoi, buat apa?”

“Saya capek-capek hidup di dunia, sudah di dunia sengsara banyak cobaan, masa nanti juga di akhirat sengsara?” katanya.

Oleh sebab itu, Khansa sampaikan bahwa dia tidak ingin masuk neraka yang menjadi kehidupan abadinya kelak. Sejak itu dia bertekad untuk menjadi mualaf.

“Gak mungkin saya lebih memilih kalian (keluarga) daripada yang ciptain saya (Allah),” tutur Khansa.

Dia sampaikan kekhawatirannya jika harus bertanggung jawab di akhirat, sedangkan tidak ada satu pun dari keluarganya yang bisa menolong.

Wanita itu lalu pergi ke pondok An Naba dan mengucapkan syahadat. Saat itulah dia mulai masuk Islam. Meski harus hadapi caci maki dari keluarganya, dia tidak pikirkan.

Hanya satu yang menerima keislamannya dengan lapang dada, yaitu sang ibu. Khansa menuturkan satu syarat dari ibu, belajar Islam harus benar-benar serius.

Pesan untuk teman-teman seperjuangan

Bagi semua mualaf yang masih ditentang oleh keluarga, Khansa memberi pesan khusus.

“Sekalipun taruhannya keluarga, jangan pernah takut. Karena kan dunia ini sementara. Sedangkan (kehidupan) akhirat kekal.”

Lebih lanjut, dia menjelaskan kehidupan di neraka untuk selamanya tidak enak, lebih baik masuk surga. Jika memang harus hadapi ujian berat, “Minta ke Allah agar Allah kuatkan kita,” katanya.

Kemudian dia meniru ucapan Ustaz Nababan, “Semua (ujian) pasti bisa dilewati dengan ikhtiar dan doa,” tuturnya.***